Pengutusan Rasul-Nya dan Penurunan kitab-Nya

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 87

0
12

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 87. Pengutusan Rasul-Nya dan penurunan kitab-Nya, dan bagaimana sikap mereka terhadap para rasul dan kitab-kitab yang Allah turunkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

Dan sungguh, Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran (mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Rūhul Qudus. Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh? (Q.S. Al-Baqarah : 87)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad ātainā (dan sungguh Kami telah mendatangkan), yakni Kami telah memberikan.

Mūsal kitāba (kepada Musa Al-Kitab), yakni Taurat.

Wa qaffainā (dan Kami telah menyusulkan), yakni Kami telah mengikutkan.

Mim ba‘dihī bir rusuli wa ātainā (sesudahnya dengan rasul-rasul. Kami pun telah mendatangkan), yakni Kami pun telah memberikan.

‘Īsabna maryamal bayyināti (bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam) berupa perintah, larangan, mukjizat-mukjizat, dan tanda-tanda.

Wa ayyadnāhu (dan Kami pun meneguhkannya), yakni Kami memperkuat dan membantunya.

Bi rūhil qudus (dengan Rūhul Qudus), yakni dengan malaikat Jibril yang disucikan.

A fa kullamā jā-akum (apakah setiap kali datang kepada kalian) hai segenap kaum Yahudi!

Rasūlum bimā lā tahwā aηfusukum (seorang rasul membawa sesuatu [ajaran] yang tidak sesuai dengan keinginan kalian), yakni yang tidak sejalan dengan hati dan agama kalian.

Istakbartum (kalian pun sombong), yakni kalian bersikap angkuh untuk beriman kepadanya?

Fa farīqang kadz-dzabtum (lalu sebagian [rasul-rasul itu] kalian dustakan), yakni kalian mendustakan sebagian (rasul), yaitu Muhammad ﷺ dan Isa ‘alaihis salam.

Wa farīqaη taqtulūn (dan sebagian lagi kalian bunuh), yakni kalian membunuh sebagian (rasul), yaitu Yahya ‘alaihis salam dan Zakariyya ‘alaihis salam

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan sungguh, Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul[12], dan Kami telah berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran (mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Rūhul Qudus[13]. Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan[14], kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh?

[12] Oleh karena itu, banyak sekali para nabi yang berasal dari Bani Israil. Nabi terakhirnya dari kalangan Bani Israil adalah Nabi Isa putera Maryam ‘alahis salam.

[13] Menurut Jumhur (mayoritas) mufassir, maksud Rūhul Qudus adalah malaikat Jibril, namun ada yang mengatakan bahwa Rūhul Qudus adalah keimanan yang dijadikan Allah untuk menguatkan hamba-hamba-Nya.

[14] Yakni tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka lebih mengedepankan hawa nafsu daripada petunjuk dan lebih mengedepankan dunia daripada akhirat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab kepada Musa) yakni Taurat, (lalu Kami susul setelah itu dengan para rasul) secara berturut-turut, artinya Kami kirim seorang rasul sesudah yang lain, (dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran) yakni mukjizat menghidupkan mayat, menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit kusta. (Dan Kami perkuat ia dengan Rūhul Qudus) merupakan ‘idhafat maushuf pada sifat’ maksudnya ialah Roh yang disucikan yakni Jibril, sehingga karena kesuciannya ikut mengiringkannya ke mana pergi. Namun kamu tidak juga hendak mengikuti jalan yang benar! (Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak diingini) atau disukai (dirimu) berupa kebenaran (kamu menjadi takabur) atau menyombongkan diri, tak mau mengikutinya. Kalimat ini merupakan jawaban bagi ‘setiap’, dan dialah yang menjadi sasaran pertanyaan, sedangkan tujuannya tidak lain dari celaan dan kecaman, (maka sebagian) di antara mereka (kamu dustakan) seperti Nabi Isa (dan sebagian lagi kamu bunuh) kata kerja ‘mudhari” atau masa sekarang untuk menunjukkan peristiwa di masa lampau, artinya telah kamu bunuh Zakaria dan Yahya.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengecap kaum Bani Israil sebagai orang-orang yang takabur, pengingkar, penentang, dan sombong terhadap para nabi; dan bahwa mereka hanyalah memperturutkan hawa nafsu mereka sendiri. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa Dia telah memberikan kepada Musa sebuah kitab (yakni kitab Taurat), tetapi mereka mengubah dan menggantinya serta menentang perintah-perintah yang terkandung di dalamnya serta menakwilkannya dengan takwil yang lain. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengirimkan para rasul dan para nabi sesudah Musa ‘alaihis salam yang menjalankan hukum dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (Al-Maidah: 44), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul. (Al-Baqarah: 87)

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Malik sehubungan dengan makna waqaffaina, artinya `Kami telah menyusulinya’. Sedangkan menurut yang lainnya artinya `Kami telah mengiringinya’, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. (Al-Mu’minun: 44)

hingga rasul-rasul Bani Israil ditutup dengan terutusnya Nabi Isa ibnu  Maryam. Isa ‘alaihis salam datang membawa syariat yang sebagian hukum-hukumnya bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam kitab Taurat. Karena itu, Allah memberinya berbagai jenis mukjizat untuk memperkuatnya.

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa mukjizat-mukjizat Isa ialah menghidupkan kembali orang yang telah mati, menciptakan sesuatu yang berbentuk burung dari tanah liat, lalu ia meniupnya dan jadilah sesuatu itu burung yang hidup dengan seizin Allah Subhaanahu wa Ta’aala Ia pun dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, menceritakan hal-hal gaib serta diperkuat dengan ruhul qudus, yaitu Malaikat Jibril ‘alaihis salam Semuanya itu untuk memperkuat risalah yang ia sampaikan kepada kaum Bani Israil agar mereka percaya dan beriman kepadanya. Tetapi kejadiannya justru kebalikannya, kaum Bani Israil bertambah keras mendustakannya dan dengki serta ingkar terhadapnya. Reaksi ini timbul karena apa yang didatangkannya bertentangan dengan isi kitab Taurat dalam sebagian hukum-hukumnya, seperti yang diceritakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyitir perkataan Nabi Isa ‘alaihis salam, yaitu:

Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang telah diharamkan untuk kalian dan aku datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhan kalian. (Ali Imran: 50), hingga akhir ayat.

Orang-orang Bani Israil memperlakukan para nabi dengan perlakuan paling buruk; sebagian dari mereka mendustakannya, dan sebagian yang lain membunuhnya. Hal tersebut terjadi hanya karena para nabi mendatangkan kepada mereka perkara-perkara yang bertentangan dengan hawa nafsu dan pendapat mereka. Para nabi tersebut memerintahkan mereka agar menetapi hukum-hukum kitab Taurat asli yang saat itu sudah mereka ubah untuk menentangnya. Karena itu, maka hal ini terasa amat berat bagi mereka; akhirnya mereka mendustakan para rasulnya, dan adakalanya membunuh sebagiannya. Hal ini telah disebutkan oleh firman Nya:

Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lalu kalian menyombongkan diri; maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa °rang (yang lain) kalian bunuh? (Al-Baqarah: 87)

Dalil yang menunjukkan bahwa Ruhul Qudus adalah Malaikat Jibril ialah apa yang dinaskan oleh Ibnu Mas’ud dalam tafsir ayat ini, kemudian pendapatnya itu diikuti oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b, Ismail ibnu Khalid, As-Saddi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Atiyyah AlAufi, dan Qatadah. Menurut Imam Bukhari disertai dengan tafsir ayat berikut, yakni firman-Nya:

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orangorang yang memberi peringatan. (Asy-Syu’ari: 193-194)

Ibnu Abuz Zanad meriwayatkan dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Siti Aisyah radiyallaha  ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ telah meletakkan sebuah mimbar di dalam masjid khusus buat Hassan ibnu Sabit, tempat untuk bersyair buat membela Rasulullah ﷺ; dan Rasulullah ﷺ berdoa untuknya:

Ya Allah, perkuatlah Hassan dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril), sebagaimana dia berjuang membela Nabi-Mu (melalui syair-syairnya).

Lafaz hadis ini yang dari Imam Bukhari secara ta’liq. Akan tetapi, Imam Abu Dawud meriwayatkannya pula di dalam kitab Sunan-nya dari Ibnu Sirin, dan Imam Turmuii meriwayatkannya dari Ali ibnu Hujr dan Ismail ibnu Musa Al-Fazzari. Ketiga-tiganya mengetengahkan hadis ini dari Abu Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya dan Hisyam ibnu Urwah; keduanya meriwayatkan hadis ini dari Urwah, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama. Imam Turmuli mengatakan bahwa sanad hadis ini berpredikat hasan atau sahih, yakni hadis Abuz Zanad.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari hadis Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab melewati Hassan ibnu Sabit yang sedang mendendangkan syair di dalam masjid, maka Umar radiyallahu ‘anhu memelototinya, lalu Hassan berkata, Sesungguhnya aku pernah mendendangkan syair di dalam masjid ini, sedangkan di dalamnya terdapat orang yang lebih baik daripada kamu (yakni Nabi ﷺ). Kemudian Umar ibnul Khattab radiyallahu ‘anhu menoleh kepada Abu Hurairah dan berkata, Kumohon atas nama Allah, pernahkah engkau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Terkenankanlah bagiku, ya Allah, kuatkanlah dia (Hassan) dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril)?’

Maka Abu Hurairah menjawab, Allahumma, na’am (ya).

Menurut sebagian riwayat, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Hassan:

Seranglah mereka atau hinakanlah mereka dengan syairmu, semoga Jibril membantumu.

Di dalam syair Hassan terdapat ucapan berikut:

Dan Jibril utusan Allah berada bersama kami, dia adalah Ruhul Qudus yang tidak diragukan lagi.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Abu Husain Al-Makki, dari Syahr ibnu Hausyab Al-Asy ‘ari:

Bahwa ada segolongan orang-orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah ﷺ, Ceritakanlah kepada kami tentang roh. Maka beliau menjawab, Aku meminta kepada kalian, demi Allah dan demi hari-hari-Nya bersama Bani Israil, tahukah kalian bahwa Jibril yang selalu datang kepadaku adalah roh? Mereka menjawab, Ya.

Di dalam kitab Sahih Ibnu Hibban disebutkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ pemah bersabda:

Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) telah menyampaikan wahyu kepadaku, bahwa seseorang tidak akan mati sebelum menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan berlakulah dengan balk dalam mencari (meminta).

Beberapa pendapat lain sehubungan dengan makna Ruhul Qudus diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, Minjab ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Bisyr, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhalc, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, Ruhul Qudus adalah Ismul A’zam yang dibacakan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam sewaktu menghidupkan orang-orang yang telah mati.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ia pernah menceritakan sebuah riwayat dari Minjab, lalu ia menceritakan hal yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, hal yang semisal telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair. Al-Qurtubi menukil dari Ubaid ibnu Umair yang juga mengatakan bahwa Ruhul Qudus adalah Ismul A’zam.

Ibnu Abu Nujaih mengatakan, Ar-Ruh adalah Malaikat Hafazah yang menjaga para malaikat.

Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, bahwa Al-Qudus adalah Tuhan Yang Maha Suci lagi Mahatinggi. Hal ini adalah pendapat yang dikatakan oleh Ka’b.

Al-Qurtubi meriwayatkan dari Mujahid dan Al-Hasan Al-Basri, keduanya mengatakan bahwa Al-Qudus adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sedangkan Ar-Ruh adalah Malaikat Jibril.

Dengan demikian, pendapat yang terakhir ini sama kedudukannya dengan pendapat pertama tadi.

As-Saddi mengatakan bahwa Al-Qudus adalah Al-Barakah (keberkahan).

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Al-Qudus adalah suci.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, bahwa ibnu Zaid telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. (Al-Baqarah: 87)

bahwa Allah menguatkan Isa dengan roh dalam kitab Injil sebagaimana Dia menjadikan roh dalam Al-Qur’an. Keduanya adalah Roh Allah, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. (Asy-Syura: 52)

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa takwil yang paling mendekati kepada kebenaran dari semua itu adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa Ar-Ruh dalam ayat ini bermakna Malaikat Jibril. Karena sesungguhnya Allah telah memberitakan bahwa Dia telah menguatkan Isa dengan roh tersebut, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

(Ingatlah) ketika Allah mengatakan, Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil..., hingga akhir ayat, (Al-Maidah: 110).

Maka dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa Dia telah menguatkannya dengan Ruhul Qudus. Seandainya roh yang dijadikan sebagai penguat Isa adalah kitab Injil, niscaya firman-Nya:

(Ingatlah) ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. (Al-Maidah: 110)

dan firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Tau-rat, dan Injil. (Al-Maidah: 110)

merupakan kata ulangan yang tidak mengandung arts apa pun, sedangkan Allah Maha Suci dari hal yang tidak mengandung faedah dalam ber-khitab kepada hamba-hamba-Nya.

Menurut kami, termasuk dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Ruh adalah Malaikat Jibril ialah apa yang telah ditunjukkan oleh konteks ayat sejak permulaannya.

Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa Ruhul Qudus adalah roh yang disucikan, perihalnya sama dengan perkataanmu hatimul jud (Hatim yang dermawan) dan rajulun sidqun (lelaki yang benar).

Roh ini disifati dengan Al-Qudus, seperti juga yang disebutkan di dalam firman-Nya, Waruhum minhu (dan roh daripada-Nya). Maka ungkapan sifatnya disebut secara ikhtisas dan taqrib sebagai penghormatan buatnya. Menurut pendapat yang lain, dikatakan demikian karena kejadiannya (Isa) bukan berasal dari apa yang dikeluarkan oleh sulbi (air mani) dan rahim yang mengeluarkan darah haid. Menurut pendapat yang lain, Roh di sini artinya Malaikat Jibril. Menurut pendapat yang lainnya artinya kitab Injil, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya tentang Al-Qur’an:

Wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. (Asy-Syura: 52)

Menurut pendapat lain, yang dimaksud ialah asma Allah yang teragung (Ismul A’zam) yang dipakai oleh Isa ‘alaihis salam ketika menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan mengucapkannya.

Pendapat Az-Zamakhsyari ini mengandung pengertian lain, yaitu yang dimaksud dengan roh Isa ialah jiwanya yang suci lagi bersih.

Ayat berikutnya: Allah Mengutuk Mereka Karena Keingkarannya

Az-Zamakhsyari mengatakan sehubungan dengan tafsir firmanNya:

Maka beberapa orang (di antara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh? (Al-Baqarah: 87)

Sesungguhnya dalam ayat ini tidak dikatakan wa farkan qataltum (dan beberapa orang dari para utusan itu telah kalian bunuh) hanyalah karena yang dimaksudkan mencakup pula masa mendatang. Karena ternyata mereka pun pernah berupaya untuk membunuh Nabi ﷺ dengan racun dan sihir. Rasulullah ﷺ pernah bersabda dalam keadaan sakit yang membawa kepada kewafatannya: Makanan (yang kusuap) di Khaibar masih terus mempengaruhi diriku, dan sekarang sudah tiba saat terputusnya urat nadi utamaku.

Menurut kami, hadis ini terdapat di dalam kitab Sahih Bukhari dan kitab-kitab hadis lainnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakAllah Mengutuk Mereka Karena Keingkarannya
Artikulli tjetërMereka Telah Mengingkari Perjanjian