Barang Siapa yang Menukar Kitab Allah Dengan Sihir

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 102

0
27

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 102. Barang siapa yang menukar kitab Allah dengan sihir, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu melakukan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang sebelum mengatakan, Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu sesuatu yang dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. (Q.S. Al-Baqarah : 102)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad ‘alimū (sesungguhnya mereka telah mengetahui), yakni kedua malaikat itu. Menurut satu pendapat, orang-orang Yahudi (mengetahui) dari kitab mereka. Dan menurut pendapat yang lain, setan-setan.

La manisytarāhu (bahwa barangsiapa yang memilihnya), yakni siapa pun yang memilih sihir.

Mā lahū fil ākhirati (niscaya dia tidak mendapat di akhirat), yakni di surga.

Min khalāq (bagian), yakni jatah.

Wa la bi’sa mā syarau bihī aηfusahum (betapa buruk perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir), yakni perbuatan mereka memilih sihir untuk diri mereka. Mereka adalah orang-orang Yahudi.

Lau kānū ya‘lamūn (kalaulah mereka tahu), tetapi mereka tidak tahu. Menurut pendapat yang lain, sebenarnya mereka sudah mengetahui hal itu dari kitab mereka.

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat[11]. Sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya[12] dengan sihir, sekiranya mereka tahu[13].

[11] Setan membawakan sihir kepada orang-orang Yahudi, sehingga ilmu sihir menjadi ilmu yang diminati mereka, sampai-sampai kitab Allah ditinggalkan. Padahal mereka mengetahui barang siapa yang yang lebih memilih ilmu sihir dan meninggalkan kebenaran (ilmu agama), niscaya ia tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat.

[12] Yakni rela menjual imannya untuk memperoleh sihir.

[13] Yakni jika mereka memiliki ilmu (pengetahuan) yang membuahkan amal.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Dan sesungguhnya) ‘lam’ menunjukkan sumpah (mereka sebenarnya tahu) yakni orang-orang Yahudi itu sebenarnya yakin (bahwa barang siapa) ‘lam’ merupakan lam ibtida yang menghubungkan dengan kalimat sebelumnya, sedangkan ‘man’ isim maushul (yang menukarnya) atau menggantinya (sihir) dengan Kitabullah, (tiadalah baginya bagian di akhirat) atau keberuntungan dalam surga, (dan amat buruklah sesuatu) maksudnya perbuatan mereka (menjual) menukarkan (diri mereka dengannya) yakni menjual kebahagiaannya di akhirat dengan mempelajari sihir karena telah pasti akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka, (seandainya mereka menyadarinya) jika mereka benar-benar tahu atau menyadari hakikat siksaan yang akan mereka jalani di akhirat kelak, niscaya mereka tidak mau mempelajarinya.
Sebelumnya: Sihir Tidak Mencelakakan Seseorang Kecuali dengan Izin Allah

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. (Al-Baqarah: 102)

Yaitu sesungguhnya orang-orang Yahudi yang berpaling dari mengikuti Rasul ﷺ dan menggantikannya dengan mengikuti ilmu sihir, mereka telah mengetahui bahwa di akhirat kelak dia tidak memperoleh keuntungan. Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan As-Saddi, makna khalaq ialah bagian.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa takwil ayat ini ialah: Tiadalah baginya di akhirat nanti suatu perhatian pun dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala Menurut Al-Hasan, kata Abdur Razzaq artinya tiadalah baginya agama.

Sa’d meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sesungguhnya ahli kitab itu telah mengetahui (meyakini) janji Allah yang telah ditetapkan atas diri mereka, bahwa seorang penyihir itu tiadalah baginya keuntungan di akhirat.

Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala); dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih balk, kalau mereka mengetahui. (Al-Bagarah: 102-103)

Bersambung: Ilmu Sihir itu Ada Delapan Macam

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman bahwa seburuk-buruk pertukaran adalah sihir yang mereka beli sebagai ganti dari iman dan mengikuti Rasul ﷺ, kalau saja mereka mempunyai ilmu dari apa yang diperingatkan kepada mereka. Seandainya mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya pahala di sisi Allah lebih baik bagi mereka. Dengan kata lain, sesungguhnya kalau mereka beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, niscaya pahala Allah atas hal tersebut lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka pilihkan buat diri mereka dan apa yang mereka sukai itu. Makna ayat ini sama dengan apa yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih balk bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. (Al-Qashosh: 80)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakIlmu Sihir itu Ada Delapan Macam
Artikulli tjetërSihir Tidak Mencelakakan Seseorang Kecuali dengan Izin Allah