Wasiat Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 131-132

0
51

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 131-132. Menerangkan tentang agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, wasiat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (١٣١) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٣٢)

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Q.S. Al-Baqarah : 131-132)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Idz qāla lahū rabbuhū (ketika Rabb-nya berfirman kepada Ibrahim), yakni ketika Ibrahim ‘alaihis salam keluar dari tempat penggembalaan.

Aslim (Berserah dirilah), yakni ulangilah ucapanmu dan katakan lā ilāha illal lāh.

Qāla aslamtu li rabbil ‘ālamīn (Ibrahim berkata, Aku berserah diri kepada Rabb semesta alam), yakni aku pun mengulangi ucapanku kepada Rabb semesta alam. Ada yang berpendapat, Rabb berfirman kepada Ibrahim ‘alaihis salam pada saat dia mengajak kaumnya agar bertauhid, Aslim  (berserah dirilah), yakni ikhlaskanlah agama dan amalmu karena Allah Ta‘ala semata. Ibrahim ‘alaihis salam berkata, aslamtu  (aku berserah diri), yakni aku mengikhlaskan agama dan amalku karena Allah, Rabb semesta alam. Ada juga yang berpendapat, Rabb berfirman kepada Ibrahim ‘alaihis salam pada saat dia dilemparkan ke dalam api, Aslim  (berserah dirilah), yakni pasrahkanlah dirimu kepada-Ku. Ibrahim ‘alaihis salam berkata, Aslamtu  (aku berserah diri), yakni aku pasrahkan diriku kepada Rabb semesta alam.

Wa wash-shā bihā ibrāhīmu (dan Ibrahim telah mewasiatkannya), yakni mewasiatkan lā ilāha illallāh.

Banīhi (kepada anak-anaknya) menjelang ajal.

Wa ya‘qūb (dan juga Ya‘qub), yakni begitu juga Ya‘qub ‘alaihis salam mewasiatkan lā ilāha illallāh kepada anak-anaknya.

Yā baniyya innallāhash-thafā lakumud dīna (Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian), yakni memilih agama Islam untuk kalian.

Fa lā tamūtunna illā wa aηtum muslimūn (oleh karena itu, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim), yakni hendaklah kalian kukuh dalam Islam, hingga kalian mati sebagai muslim yang mengikhlaskan tauhid dan ibadah hanya kepada Allah Ta‘ala semata.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Ketika[4] Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam[5].

[4] Sebab Ibrahim dipilih oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah karena sikapnya yang segera tunduk dan patuh tanpa ragu-ragu.

[5] Yakni ketundukan dengan sikap ikhlas, mentauhidkan-Nya, mencintai dan kembali kepada-Nya.

  1. Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini[6] untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim[7].

[6] Yakni agama Islam sebagai rahmat dan ihsan-Nya kepada kita. Dari ayat ini kita mengetahui bahwa agama para nabi semuanya adalah Islam. Hal itu, karena Islam bila dimaknakan secara umum adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan menjauhi sesembahan selain Allah sesuai syari’at rasul yang diutus. Oleh karena itulah, agama para nabi adalah Islam. Orang-orang yang mengikuti rasul di zaman rasul tersebut diutus adalah orang Islam (muslim). Orang-orang Yahudi adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihis salaam diutus dan orang-orang Nasrani adalah muslim di zaman Nabi Isa ‘alaihis salaam diutus, adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, maka orang muslim adalah orang yang mengikuti (memeluk) agama Beliau ﷺ, sedangkan yang tidak mau memeluk agama Beliau adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Ya’qub adalah Islam, bukan agama Yahudi atau Nasrani.

[7] Orang yang hidup di atas sesuatu, biasanya meninggal di atasnya, dan jika meninggal di atasnya, maka ia akan dibangkitkan di atas itu pula. Nabi Ibrahim dan Ya’qub ‘alaihimas salam mewasiatkan kepada anak-anaknya agar mereka hidup di atas Islam dan meninggal di atas Islam agar nanti dibangkitkan di atasnya pula.

.

Tafsir Jalalain

  1. Ingatlah! (Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, Tunduk dan berserah dirilah kamu!) maksudnya Tunduklah kepada Allah dan bulatkan pengabdianmu kepada-Nya! (Jawab Ibrahim, Aku tunduk dan berserah diri kepada Tuhan semesta alam.)
  2. (Dan Ibrahim telah mewasiatkan) maksudnya agama itu. Menurut suatu qiraat ‘aushaa’, (kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub) kepada anak-anaknya, katanya, (Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu) yakni agama Islam, (maka janganlah kamu mati kecuali dalam menganut agama Islam!) Artinya ia melarang mereka meninggalkan agama Islam dan menyuruh mereka agar memegang teguh agama itu sampai nyawa berpisah dari badan.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab, Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (Al-Baqarah: 131)

Yakni Allah memerintahkannya untuk berikhlas kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya; dan ternyata Ibrahim ‘alaihis salam menunaikan perintah Allah ini seperti apa yang telah dikehendaki oleh-Nya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Al-Baqarah: 132)

Yaitu Ibrahim mewasiatkan agama yang mengajarkan tunduk patuh kepada Allah ini kepada anak-anaknya; atau damir yang terkandung di dalam lafaz biha kembali kepada ucapan Nabi Ibrahim yang disebutkan oleh firman selanjutnya, yaitu:

Ibrahim menjawab, Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (Al-Baqarah: 131)

Demikian itu karena keteguhan mereka dan kecintaan mereka kepada agama ini. Mereka tetap berpegang teguh kepadanya hingga meninggal dunia, dan bahkan sebelum itu mereka mewasiatkan kepada anakanaknya agar berpegang teguh kepada agama ini sesudah mereka. Pe-rihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid ini kalimat yang kekal pada keturunannya. (Az-Zukhruf: 28)

Sebagian ulama Salaf membaca lafaz Ya’qub dengan bacaan Ya’ quba karena di-‘ataf-kan kepada lafaz banihi, seakan-akan Ibrahim mewasiatkannya kepada anak-anaknya, juga kepada cucunya (yaitu Ya’qub ibnu Ishaq) yang pada saat itu memang Ya’qub menghadirinya.

Imam Qusyairi menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Qurtubi darinya menduga bahwa Ya’qub hanya dilahirkan sesudah Nabi Ibrahim wafat. Akan tetapi, pendapat ini memerlukan dalil yang sahih. Menurut pendapat yang kuat hanya Allah yang mengetahuinya Ishaq mempunyai anak Ya’qub sewaktu Nabi Ibrahim dan Sarah masih hidup, karena berita gembira yang disebutkan pada ayat berikut ditujukan kepada keduanya (Nabi Ibrahim dan Siti Sarah), yaitu firman-Nya:

Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub. (Hud: 71)

Ya’qub dapat pula dibaca nasab, yakni Ya’quba. Sekiranya Ya’qub masih belum lahir di masa keduanya masih hidup, niscaya penyebutan Ya’qub di antara anak-anak Ishaq tidak mempunyai faedah yang berarti. Lagi pula karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman di dalam surah Al-‘Ankabut, yaitu:

Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya. (Al’Ankabut: 27) hingga akhir ayat.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman di dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (dari Kami). (Al-Anbiya: 72)

Hal ini semua menunjukkan bahwa Nabi Ya’qub memang telah ada semasa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam masih hidup. Dan sesungguhnya Nabi Ibrahimlah yang mula-mula membangun Baitul Maqdis, seperti yang disebutkan oleh kitab-kitab terdahulu. Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis melalui Abu dar radiyallahu ‘anhu yang menceritakannya:

Aku bertanya, Wahai Rasulullah, masjid manakah yang mula-mula dibangun di muka bumi? Nabi ﷺ menjawab, Masjidil Haram. Aku bertanya, Kemudian masjid mana lagi? Nabi ﷺ menjawab, Baitul Magdis. Aku bertanya, Berapa lamakah jarak di antara keduanya? Nabi ﷺ menjawab, Empat puluh tahun, hingga akhir hadis.

Ibnu Hibban menduga bahwa jarak masa antara Nabi Sulaiman yang menurutnya dialah yang membangun Baitul Maqdis, padahal kenyataannya dia hanya merenovasi dan memperbaharuinya sesudah mengalarni banyak kerusakan, lalu dia menghiasinya dengan berbagai macam hiasan dengan Nabi Ibrahim adalah empat puluh tahun. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat Ibnu Hibban yang menjadi bumerang baginya, karena sesungguhnya jarak di antara Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman lebih dari ribuan tahun.

Lagi pula sesungguhnya wasiat Ya’qub kepada anak-anaknya akan disebutkan dalam ayat berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa Ya’qub adalah termasuk orang yang berwasiat (bukan orang yang menerima wasiat. Dengan kata lain, bacaan rafa’-lah yang lebih kuat, yaitu Ya’qiibu).

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Al-Baqarah: 132)

Artinya, berbuat baiklah selama kalian hidup, dan berpegang teguhlah kalian kepada agama ini agar kalian diberi rezeki wafat dengan berpegang teguh padanya; karena sesungguhnya manusia itu biasanya meninggal dunia dalam keadaan memeluk agama yang dijalankannya, dan kelak dibangkitkan berdasarkan agama yang ia bawa mati Sesungguhnya Allah telah memberlakukan kebiasaan-Nya, bahwa barang siapa yang mempunyai tujuan baik, maka Dia akan menuntunnya ke arah kebaikan itu dan memudahkan jalan baginya ke arah kebaikan. Barang siapa yang berniat melakukan kesalehan, maka Allah akan meneguhkannya dalam kesalehan itu. Hal ini tidaklah bertentangan dengan sebuah hadis sahih yang mengatakan:

Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dia dan surga hanya tinggal satu depa lagi atau satu hasta lagi; tetapi takdir menghendaki yang lain, akhirnya dia melakukan amal perbuatan ahli neraka dan masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara dia dan neraka hanya tinggal satu depa atau satu hasta lagi; tetapi takdir menghendaki yang lain, maka akhirnya dia mengamalkan amalan ahli surga dan masuklah ia ke dalam surga.

Ayat berikutnya: Agar Menyembah Kepada Allah Semata

Dikatakan tidak bertentangan karena di dalam riwayat yang lain dari hadis ini dijelaskan bahwa amal perbuatan ahli surga itu menurut apa yang tampak di mata manusia, dan amal ahli neraka tersebut menurut apa yang tampak di mata manusia.

Karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman dalam ayat lainnya, yaitu:

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mu-dah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (Al-Lail: 5-10)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakAgar Menyembah Kepada Allah Semata
Artikulli tjetërOrang yang Memperbodoh Dirinya Sendiri