Doa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 129

0
39

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 129. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan Kami, utuslah di tengah mereka sesorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) kepada mereka serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah : 129)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Rabbanā (Rabbana), yakni wahai Rabb kami.

Wab ‘ats fīhim (utuslah kepada mereka), yakni dari keturunan Isma‘il ‘alaihis salam.

Rasūlam minhum (seorang rasul dari kalangan mereka sendiri), yakni yang berasal dari nasab mereka sendiri.

Yatlū ‘alaihim āyātika (yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu), yakni ayat-ayat Al-Qur’an.

Wa yu‘allimuhumul kitāba (dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab), yakni Al-Qur’an.

Wal hikmata (dan hikmah), yakni halal dan haram.

Wa yuzakkīhim (serta menyucikan mereka), yakni menyucikan mereka dari berbagai dosa dengan tauhid dan zakat.

Innaka aηtal ‘azīzu (sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa) memberikan siksa kepada orang yang tidak peduli terhadap Rasul-Mu.

Al-hakīm (lagi Maha Bijaksana) dalam mengutus rasul. Akhirnya, Allah Ta‘ala mengabulkan doa tersebut serta mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka.

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Ya Tuhan Kami, utuslah di tengah mereka sesorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah)[25] kepada mereka serta menyucikan mereka[26]. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa[27] lagi Maha Bijaksana[28].

[25] Ada yang mengartikan hikmah di ayat tersebut dengan tafsirnya. Diartikan dengan Sunnah juga tepat, karena Sunnah merupakan penjelas Al-Qur’an, dan di dalamnya terdapat hikmah.

[26] Dari syirk dan akhlak yang buruk. Ayat ini menjadi dalil tasfiyah dan tarbiyah dalam berdakwah, yakni dibersihkan segala yang bukan dari Islam dan dibina kaum muslimin dengan Tarbiyah Islamiyyah yang bersumber dari ajaran Islam yang murni. Tasfiyah dan Tarbiyah harus dilakukan, terlebih di zaman sekarang, zaman di mana umat Islam tidak mampu membedakan mana ajaran Islam dan mana yang bukan ajaran Islam, maka seorang da’i hendaknya dalam dakwahnya membersihkan ajaran Islam yang dicampuri oleh berbagai bid’ah serta menerangkan ajaran Islam yang sesungguhnya.

[27] Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi Allah.

[28] Bijaksana artinya tepat, yakni menempatkan sesuatu tepat sesuai dengan tempatnya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengabulkan permohonan keduanya dan mengutus setelah mereka seorang nabi yang mulia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Ya Tuhan kami! Utuslah untuk mereka) yakni Ahlulbait (seorang rasul dari kalangan mereka) ini telah dikabulkan Allah dengan dibangkitkannya kepada mereka Nabi Muhammad ﷺ (yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu) Al-Qur’an (dan mengajari mereka Al-Kitab) yakni Al-Qur’an (dan hikmah) maksudnya hukum-hukum yang terdapat di dalamnya (serta menyucikan mereka) dari kemusyrikan (sesungguhnya Engkau Maha Kuasa) sehingga mengungguli siapa pun (lagi Maha Bijaksana) dalam segala tindakan dan perbuatan.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan tentang kesempurnaan doa Nabi Ibrahim buat penduduk Tanah Suci, yaitu dia memohon kepada Allah semoga Allah mengutus untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. Dengan kata lain, dari keturunan Ibrahim sendiri. Ternyata doa yang mustajabah ini bertepatan dengan takdir Allah yang terdahulu yang telah menentukan Nabi Muhammad ﷺ sebagai seorang rasul untuk bangsa yang ummi dari kalangan mereka sendiri, juga untuk semua bangsa Ajam lainnya dari kalangan manusia dan jin.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mandi, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Sa’id ibnu Suwaid Al-Kalbi, dari Abdul A’la ibnu Hilal As-Sulami, dari AlIrbad ibnu Sariyah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya aku di sisi Allah benar-benar tercatat sebagai penutup para nabi, sedangkan Adam benar-benar masih berupa tanah liat. Dan aku akan menceritakan kepada kalian awal mula dari hal tersebut, yaitu doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenaiku, dan impian diriku yang pernah dilihat oleh ibuku, demikian pula ibu-ibu para nabi semua melihatnya.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Wahb dan Lag serta dicatat oleh Abdullah ibnu Saleh, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, kemudian diikuti oleh Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Sa’id ibnu Suwaid dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Luqman ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia pemah mendengar Abu Umamah menceritakan hadis berikut:

Aku bertanya, Wahai Rasulullah, apakah permulaan dari kejadianmu? Nabi ﷺ menjawab, Doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenaiku, dan ibuku melihat dalam mimpinya telah keluar dari tubuhnya suatu nur yang cahayanya dapat menerangi gedung-gedung negeri Syam.

Makna yang dimaksud ialah, orang yang mula-mula sengaja menyebutnya dan memperkenalkannya kepada umat manusia adalah Ibrahim ‘alaihis salam Nama beliau ﷺ terus-menerus menjadi buah bibir manusia hingga namanya disebutkan dengan jelas oleh penutup nabi-nabi kalangan Bani Israil, yaitu Nabi Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam Ia berkhotbah di kalangan umat Bani Israil. Ucapannya ini disitir oleh firman-Nya:

Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). (Assaff: 6)

Karena itulah Nabi ﷺ bersabda di dalam hadis ini bahwa dia adalah doa Nabi Ibrahim dan berita gembira yang disampaikan oleh Isa ibnu Maryam.

Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan, Dan ibuku telah melihat ada sebuah nur (cahaya) keluar dari tubuhnya yang cahayanya menyinari gedung-gedung negeri Syam. Menurut suatu pendapat, hal itu terjadi di dalam mimpinya ketika ibu Nabi ﷺ sedang mengandungnya, lalu beliau menceritakannya kepada kaumnya, maka hal itu tersiar dan terkenal di kalangan mereka. Hal tersebut merupakan pendahuluan dan pengkhususan bagi negeri Syam, bahwa nur Nabi ﷺ akan menyinarinya. Hal ini merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa agama dan kenabian beliau ﷺ kelak akan menetap di negeri Syam. Karena itu, maka negeri Syam di akhir zaman kelak akan menjadi benteng bagi Islam dan pars pemeluknya. Di negeri Syam-lah kelak Nabi Isa ibnu Maryam diturunkan, yaitu di kota Damaskus, tepatnya di menara putih sebelah timur. Di dalam sebuah hadis Sahihain (Imam Bukhari dan Imam Muslim) disebutkan:

Segolongan dari umatku masih terus-menerus berjuang membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina mereka dan tidak pula orang yang menentang mereka hingga datang perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian (membela kebenaran).

Di dalam Sahih Bukhari disebutkan:

Sedangkan mereka tinggal di negeri Syam.

Abu Ja’far Ar-Razi menceritakan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, sehubungan dengan takwil firman-Nya:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka. (Al-Baprah: 129)

Yang dimaksud dengan mereka adalah umat Nabi Muhammad ﷺ Lalu dikatakan kepada Ibrahim bahwa permintaannya telah dikabulkan. Apa yang dimintanya itu terbukti di akhir zaman (yakni zaman Nabi Muhammad ﷺ). Hal yang sama dikatakan pula oleh As-Saddi dan Qatadah.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah. (Al-Baqarah: 129)

Yang dimaksud adalah kitab Al-Qur’an. Sedangkan yang dimaksud dengan al-hikmah ialah sunnah. Demikianlah menurut Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Abu-Malik serta lain-lainnya. Menurut pendapat lain, yang dimaksudkan ialah pengertian dalam agama. Akan tetapi, kedua pendapat tersebut tidaklah bertentangan.

Wayuzakkihim, menurut Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah taat kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah. (Al-Baqarah: 129)

Ayat berikutnya: Orang yang Memperbodoh Dirinya Sendiri

Bahwa yang dimaksud ialah mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan kebaikan agar mereka mengerjakannya, juga keburukan agar mereka menjauhinya, serta menyampaikan kepada mereka bahwa Allah akan rida kepada mereka jika taat kepada-Nya. Demikian itu agar mereka banyak melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi semua hal yang membuat-Nya murka, juga menjauhi perbuatan durhaka terhadap-Nya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 129)

Yakni Yang Maha Perkasa, tiada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya; dan Dia adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lagi Maha Bijaksana dalam semua firman dan perbuatan-Nya. Dia selalu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya karena pengetahuan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakOrang yang Memperbodoh Dirinya Sendiri
Artikulli tjetërDoa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan Nabi Ismail