Agar Menyembah Kepada Allah Semata

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 133

0
55

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 133. Agar menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Apakah kamu hadir ketika Ya’qub hendak dijemput oleh maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah : 133)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Allah Ta‘ala menjelaskan bantahan-Nya terhadap kaum Yahudi tentang agama Ibrahim.

Am kuηtum syuhadā-a (adakah kalian hadir), yakni apakah kalian hadir, wahai orang-orang Yahudi.

Idz hadlara ya‘qūbal mautu (saat [tanda-tanda] kematian menjemput Ya‘qub), apakah agama Yahudi ataukah agama Islam yang ia wasiatkan kepada anak-anaknya?

Idz qāla li banīhi mā ta‘budūna mim ba‘dī (ketika dia berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kalian ibadahi sesudahku), yakni sepeninggalku.

Qālū na‘budu ilāhaka (mereka menjawab, Kami akan beribadah kepada Tuhanmu) yang engkau ibadahi.

Wa ilāha ābā-ika ibrāhīma wa ismā‘īla wa is-hāqa ilāhaw wāhidan (dan Tuhan para leluhurmu: Ibrahim,

Isma‘il, dan Is-haq, [yaitu] Tuhan Yang Maha Esa), yakni kami beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Wa nahnu lahū muslimūn (dan hanya kepada-Nya kami berserah diri), yakni mengikrarkan ibadah dan tauhid hanya kepada Allah Ta‘ala semata.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [8] Apakah kamu hadir ketika Ya’qub hendak dijemput oleh maut[9], ketika dia berkata kepada anak-anaknya[10], Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya[11].

[8] Ketika orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka di atas agama Ibrahim dan agama Nabi Ya’qub ‘alaihimas salam, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingkari mereka dengan firman-Nya di atas.

[9] Saat telah tiba tanda-tanda akan wafatnya.

[10] Dengan maksud menguji mereka dan agar hatinya tenteram.

[11] Pada kata-kata mereka ini terdapat penggabungan antara tauhid dan amal. Tauhid diambil dari kata-kata mereka Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa, sedangkan amal, diambil dari kata-kata mereka, Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. Inilah arti Islam secara istilah, yakni menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya dengan ta’at serta berlepas diri dari syirk dan pelakunya.

.

Tafsir Jalalain

  1. Tatkala orang-orang Yahudi mengatakan kepada Nabi ﷺ, Apakah kamu tidak tahu bahwa ketika akan mati itu Yakub memesankan kepada putra-putranya supaya memegang teguh agama Yahudi, maka turunlah ayat, (Apakah kalian menyaksikan) atau turut hadir (ketika tanda-tanda kematian telah datang kepada Yakub, yakni ketika) menjadi ‘bada’ atau huruf pengganti bagi ‘idz’ yang sebelumnya, (ia menanyakan kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?) yakni setelah aku meninggal? (Jawab mereka, Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishak). Ismail dianggap sebagai ‘bapak’ berdasarkan taghlib atau pukul rata, karena kedudukan paman sama dengan bapak (yakni Tuhan Yang Maha Esa) merupakan ‘badal’ atau kata pengganti dari ‘Tuhanmu’, (dan kami tunduk serta berserah diri kepada-Nya.) Kata ‘am’ atau ‘apakah’ di atas berarti penolakan, artinya kalian tidak hadir ketika ia wafat, maka betapa kalian berani menyatakan dan mengucapkan kepadanya perkataan yang tidak-tidak!
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat-ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala membantah orang-orang musyrik Arab dari kalangan anak-anak Ismail dan orang-orang kafir dari kalangan Baru Israil (yaitu Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim ‘alaihis salam), bahwa Ya’qub ketika menjelang kematiannya berwasiat kepada anak-anaknya agar menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Untuk itu ia berkata seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Apa yang kalian sembah sesudahku? Mereka menjawab, Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan lshaq. (Al-Baqarah: 133)

Penyebutan Nabi Ismail yang dimasukkan ke dalam kategori ayah dari Nabi Ya’qub termasuk ke dalam ungkapan taglib (prioritas), mengingat Nabi Ismail adalah paman Nabi Ya’qub. An-Nahhas mengatakan, orang-orang Arab biasa menyebut paman dengan sebutan ayah. Demikianlah menurut apa yang dinukil oleh Imam Qurtubi.

Ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang menjadikan kakek sama kedudukannya dengan ayah, dan kakek dapat menghalangi hak warisan saudara-saudara, seperti pendapat yang dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari darinya melalui jalur Ibnu Abbas dan Ibnuz Zubair. Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa pendapat ini tidal( diperselisihkan. Siti Aisyah Ummul Mu-minin sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq ini. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri, Tawus, dan Ma. Pendapat inilah yang dianut oleh mazhab Hanafi dan bukan hanya seorang ulama dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.

Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad menurut pendapat yang terkenal di kalangan mazhabnya mengatakan bahwa kakek bermuqasamah (berbagi-bagi warisan) dengan saudara-saudara si mayat. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar, Usman, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid ibnu Sabit, dan sejumlah ulama dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf. Pendapat inilah yang dipilih oleh dua murid terkemuka Imam Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad ibnul Hasan. Penjelasan dari masalah ini akan dikemukakan di lain pembahasan dalam ayat yang menyangkut pembagian warisan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan, Ilahan wahidan, artinya kami mengesakan-Nya sebagai Tuhan kami, dan kami tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya di samping Dia.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan, Wanahnu lahu Muslimuun

artinya kami tunduk patuh kepada-Nya. Pengertian ini sama dengan apa yang terkandung di dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83)

Ayat berikutnya: Masing-masing Orang Akan Dibalas Sesuai Amalnya

Pada garis besamya Islam merupakan agama semua para nabi, sekalipun syariatnya bermacam-macam dan tuntunannya berbeda-beda, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku. (Al-Anbiya: 25)

Ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengutarakan makna ini banyak jumlahnya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Kami para nabi adalah anak-anak dari ibu yang berbeda-beda, agama kami satu (sama, yakni Islam).

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakMasing-masing Orang Akan Dibalas Sesuai Amalnya
Artikulli tjetërWasiat Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam