Siapakah yang Lebih Baik Shibghahnya Daripada Allah?

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 138

0
15

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 138. Siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

(Peganglah) Shibghah Allah, siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan (katakanlah) hanya kepada-Nya Kami menyembah. (Q.S. Al-Baqarah : 138)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Shibghatallāhi (Shibghah Allah), yakni hendaklah kalian mengikuti agama Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Wa man ahsanu minallāhi shib-ghatan (dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah), yakni daripada agama-Nya.

Wa nahnu lahū ‘ābidūn (dan hanya kepada-Nya-lah kami beribadah), yakni katakanlah bahwa kami adalah orang-orang yang mengkhususkan ibadah dan tauhid kepada-Nya semata.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. (Peganglah) Shibghah Allah[15], siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan (katakanlah) hanya kepada-Nya Kami menyembah[16].

[15] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan, bisa juga diartikan fitrah atau agama Allah, yakni Peganglah agama Allah, di mana Dia menciptakan kalian di atasnya. Memegang agama Allah ini menghendaki untuk melaksanakan ajaran Islam baik amalan tersebut terkait dengan zhahir maupun batin serta memegang ‘aqidah Islam di setiap waktu sehingga hal itu menjadi shibghah dan sifat yang melekat pada diri seseorang. Jika sudah melekat, tentu kita akan senantiasa tunduk kepada perintah-Nya dengan sikap rela, cinta dan sebagai pilihan bukan karena terpaksa. Pengamalan ajaran Islam pun menjadi tabi’at dirinya seperti celupan yang merubah warna pakaian sebelumnya. Dirinya akan memiliki akhlak mulia, amalan yang indah dan mendahulukan perkara utama. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman dengan rasa takjub yang membuat orang-orang yang berakal terpesona, siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? yakni tidak ada yang dapat merubah orang lain sehingga menjadi indah dipandang selain syari’at Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Untuk mengetahui kehebatan shibghah Allah, cobalah bandingkan antara seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, tentu akan membekas dalam dirinya rasa tunduk baik dari hati maupun anggota badannya kepada Allah, ia senantiasa memiliki sifat mulia, seperti jujur lisannya, banyak kebaikannya, sedikit bicara, banyak berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak berlebihan dalam sesuatu selain dalam hal yang memberinya manfa’at seperti ibadah, berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram, tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan wajah yang senang dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya. Kemudian bandingkan dengan seorang yang jauh dari syari’at Allah; akhlaknya buruk seperti suka berdusta, khianat, suka menipu, buruk ucapan dan tindakannya, tidak ikhlas kepada Allah dan tidak suka berbuat ihsan kepada orang lain.

[16] Ayat ini menerangkan tentang bagaimana memperoleh shibghah ini, yaitu dengan melaksanakan dua asas; ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah ﷺ). Mengapa diambil kesimpulan demikian? Hal itu, karena ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya berupa ucapan dan amalan yang nampak maupun tersembunyi, dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali dengan mengikuti contoh Rasulullah ﷺ. Sedangkan arti ikhlas adalah tujuan seorang hamba dalam melakukan semua itu untuk mencari keridhaan Allah dan Inilah ibadah.

Pada ayat tersebut ada penggunaan isim fa’il (pelaku), yaitu ‘aabiduun yang menunjukkan tetapnya mereka di atas ibadah tersebut, di atas sifat itu dan hal itu sudah menjadi shibghah (melekat) pada diri mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Celupan Allah) ‘mashdar’ yang memperkuat ‘kami beriman’ tadi. Mendapat baris di atas sebagai maf`ul muthlak dari fi`il yang tersembunyi yang diperkirakan berbunyi ‘Shabaghanallaahu shibghah’, artinya Allah mencelup kami suatu celupan. Sedang maksudnya ialah agama-Nya yang telah difitrahkan-Nya atas manusia dengan pengaruh dan bekasnya yang menonjol, tak ubah bagai celupan terhadap kain. (Dan siapakah) maksudnya tidak seorang pun (yang lebih baik celupannya dari Allah) shibghah di sini menjadi ‘tamyiz’ (dan hanya kepada-Nya kami menyembah).
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sibgah Allah. Menurut Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan saibgah ialah agama Allah. Hal yang semakna telah diriwayatkan pula dari Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Ibrahim, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Abdullah ibnu Kor, Atiyyah Al-Aufi, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan As-Saddi.

Lafaz sibgah dibaca nasab, yakni sibgatallahi, adakalanya karena sebagai igra’ (anjuran), seperti pengertian yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:

(Tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar-Rum: 30)

Dengan demikian, berarti makna sibgatallahi ialah tetaplah kalian pada sibgah (agama) Allah itu.

Ulama yang lain mengatakan bahwa lafaz sibgah dibaca nasab karena berkedudukan sebagai badal dari firman-Nya:

(Kami mengikuti) agama Ibrahim. (Al-Baqarah: 135)

Sedangkan Sibawaih mengemukakan kata itu merupakan mashdar yang ditekankan dan berfungsi memberikan keterangan bagi firman Allah sebelumnya:

Kami beriman kepada Allah. (Al-Baqarah: 136)

Perihalnya sama dengan firman-Nya:

Allah telah membuat suatu janji. (An-Nisa: 122)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan kepada Nabi-Nya ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik Shibghah-nya daripada Allah? (Al-Baqarah: 138)

Ayat berikutnya: Bagi Kami Amalan Kami dan Bagi Kamu Amalan Kamu

Demikianlah menurut apa yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Murdawaih secara marfu’ , sedangkan sanad ini menurut riwayat Ibnu Abu Hatim berpredikat mauquf, tetapi sanad Ibnu Abu Hatim lebih dekat kepada predikat marfu’ jika sanadnya sahih.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBagi Kami Amalan Kami dan Bagi Kamu Amalan Kamu
Berita berikutnyaOrang-orang yang Mendapat Petunjuk