Pemindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 142

0
13

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 142. Menerangkan tentang pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dalam shalat, sikap orang-orang Yahudi terhadapnya, bantahan terhadap mereka, dan bahwa informasi tentang sikap mereka sudah datang lebih dahulu sebelum terjadi pemindahan Kiblat sebagai mukjizat untuk Nabi Muhammad ﷺ. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka berkiblat kepadanya? Katakanlah, Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah : 142)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Sa yaqūlus sufahā-u minan nāsi (orang-orang bodoh di antara manusia akan berkata), yakni orang-orang bodoh dari kalangan Yahudi dan kaum musyrikin Arab berkata.

Mā wallāhum (apa yang memalingkan mereka [umat Islam]), yakni apa yang memindahkan mereka.

‘Ang qiblatihimul latī kānū ‘alaihā (dari kiblat mereka [Baitul Maqdis] yang dahulu mereka berkiblat kepadanya). Maksudnya tidak ada yang memindahkan mereka kecuali karena mereka ingin kembali kepada agama leluhur mereka. Menurut pendapat yang lain, mā wallāhum (Apa yang memalingkan mereka [umat Islam]), yakni alasan apa yang memindahkan mereka; ‘ang qiblatihimul latī kānū . ‘alaihā (dari kiblat mereka yang dahulu mereka berkiblat kepadanya) dan shalat menghadap ke arahnya, yaitu ke Baitul Maqdis.

Qul (katakanlah) hai Muhammad.

Lil lāhil masyriqu (Kepunyaan Allah-lah timur), yakni shalat ke arah Ka‘bah.

Wal maghribu (dan barat), yakni shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis. Keduanya (shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis dan Ka‘bah) berdasarkan perintah Allah Ta‘ala.

Yahdī may yasyā-u ilā shirāthim mustaqīm (Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus), yakni Allah Ta‘ala meneguhkan siapa saja yang Dia kehendaki untuk memeluk agama Islam dan menghadap kiblat yang lurus.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

142.[1] Orang-orang yang kurang akal[2] di antara manusia akan berkata, Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka berkiblat kepadanya? Katakanlah, Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus[3].

[1] Ketika Nabi Muhammad ﷺ berada di Mekah di tengah-tengah kaum musyirikin, Beliau berkiblat ke Baitul Maqdis, tetapi setelah 16 atau 17 bulan berada di Madinah di tengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau disuruh oleh Allah untuk menghadap ke arah ka’bah sebagai kiblat, terutama sekali untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadah shalat itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan ka’bah itu menjadi tujuan, tetapi tujuannya untuk menghadapkan diri kepada Allah, menjalankankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di antara hikmah adanya kiblat adalah untuk persatuan umat Islam.

Ibnu Ishak meriwayatkan dari Al Barraa’, ia berkata, Rasulullah ﷺ shalat menghadap Baitul Maqdis dan sering menghadap ke langit menunggu perintah Allah, maka Allah menurunkan ayat, Qad naraa taqalluba wajhika fis samaa’…dst. lalu ada beberapa orang kaum muslimin yang berkata, Kami senang sekali, jika kami mengetahui keadaan orang-orang yang wafat sebelum kami menghadap ke kiblat, maka Allah menurunkan ayat, Wa maa kaanallahu liyudhii’a iimaanakum. Kemudian orang-orang yang kurang akal di antara manusia berkata, Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka berkiblat kepadanya? Maka Allah menurunkan ayat, Sayaquulus sufahaa’ minan naas..dst..

Ayat di atas mengandung beberapa hal, di antaranya: mukjizat, hiburan bagi Nabi ﷺ, penenteraman terhadap hati kaum mukmin, adanya tindakan I’tiradh (protes) serta jawabannya, sifat orang yang memprotes dan sifat orang yang tunduk menerima hukum Allah Ta’ala.

[2] Maksudnya: orang-orang yang kurang pikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud dan hikmah pemindahan kiblat akan berkata seperti yang disebutkan di atas dengan nada mengolok-olok. Mereka disebut sufaha (kurang akal) karena tidak mengerti hal-hal yang bermaslahat terutama bagi diri mereka, mereka rela menjual keimanan dengan harga yang murah. Mereka yang akan berkata seperti ini adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan semisalnya, termasuk orang-orang yang suka memprotes hukum Allah dan syari’atnya seperti JIL (Jaringan Islam Liberal). Adapun orang-orang yang berakal dan cerdas -mereka adalah orang-orang mukmin- akan tunduk menerima hukum-hukum Tuhannya sebagaimana disebutkan dalam surah An Nisaa’: 51:

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka ialah ucapan. Kami mendengar dan kami ta’at. Mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Penyebutan sufaha untuk mereka sebenarnya terdapat bantahan terhadap perkataan mereka itu dan agar kita tidak menghiraukannya. Namun demikian, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak membiarkan syubhat ucapan mereka itu, bahkan membantahnya agar tidak lagi terlintas di hati hamba-hamba-Nya yang mukmin sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan ayat setelahnya.

[3] Yakni mengapa mereka mengatakan seperti itu padahal milik Allah-lah timur dan barat, tidak ada satu arah yang keluar dari kepemilikan-Nya. Meskipun demikian, Dia tetap membimbing orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus, di antaranya dengan menghadapkan arah kiblat ke Ka’bah, di mana hal ini termasuk ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Hal ini pun menunjukkan lebih dekatnya Nabi Muhammad ﷺ dan kaum mukmin dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dibanding orang-orang Yahudi dan Nasrani.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang bodoh, kurang akalnya, di antara manusia) yakni orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin akan mengatakan, (Apakah yang memalingkan mereka) yakni Nabi ﷺ dan kaum mukminin (dari kiblat mereka yang mereka pakai selama ini) maksudnya yang mereka tuju di waktu shalat, yaitu Baitul Maqdis. Menggunakan ‘sin’ yang menunjukkan masa depan, merupakan pemberitaan tentang peristiwa gaib. (Katakanlah, Milik Allahlah timur dan barat) maksudnya semua arah atau mata angin adalah milik Allah belaka, sehingga jika Dia menyuruh kita menghadap ke arah mana saja, maka tak ada yang akan menentang-Nya. (Dia memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya) sesuai dengan petunjuk-Nya (ke jalan yang lurus) yakni agama Islam. Termasuk dalam golongan itu ialah kamu sendiri dan sebagai buktinya ialah:
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Menurut Az-Zujaj, yang dimaksud dengan Sufaha dalam ayat ini ialah orang-orang musyrik Arab. Menurut Mujahid adalah para rahib Yahudi. Sedangkan menurut As-Saddi, mereka adalah orang-orang munafik. Akan tetapi, makna ayat bersifat umum mencakup mereka semua.

Imam Bukhari mengatakan, telah mcnceritakan kepada kami Abu Na’im; ia pemah mendengar Zubair menceritakan hal berikut dari Abu Ishaq, dari Al-Barra radiyallahu ‘anhu,bahwa Rasulullah ﷺ shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, padahal dalam hatinya beliau lebih suka bila kiblatnya menghadap ke arah Bailullah Ka’bah. Mula-mula shalat yang beliau lakukan (menghadap ke arah kiblat) adalah shalat Asar, dan ikut shalat bersamanya suatu kaum. Maka keluarlah seorang lelaki dari kalangan orang-orang yang shalat bersamanya, lalu lelaki itu berjumpa dengan jamaah suatu masjid yang sedang mengerjakan shalat (menghadap ke arah Baitul Maqdis), maka ia berkata, Aku bersaksi kepada Allah, sesungguhnya aku telah shalat bersama Nabi ﷺ menghadap ke arah Mekah (Ka’bah). Maka jamaah tersebut memutarkan tubuh mereka yang sedang shalat itu ke arah Baitullah. Tersebutlah bahwa banyak lelaki yang mennggal dunia selama shalat menghadap ke arah kiblat pertama sebelum dipindahkan ke arah Bailullah. Kami tidak mengetahui apa yang harus kami katakan mengenai mereka. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan

firman-Nya:

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Al Baqarah : 143).

Imam Bukhari menyendiri dalam mengetengahkan hadis ini melalui sanad tersebut. Imam Muslim meriwayatkannya pula, tetapi melalui jalur sanad yang lain.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abu Khalid, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan hadis berikut, bahwa pada mulanya Rasulullah ﷺ shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis dan sering menengadahkan pandangannya ke arah langit, menunggu-nunggu perintah Allah. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (Al Baqarah:144)

Lalu kaum laki-laki dad kalangan kaum muslim mengatakan, Kami ingin sekali mengetahui nasib yang dialami oleh orang-orang yang telah mati dari kalangan kami sebelum kami dipalingkan ke arah kiblat

(Ka’bah), dan bagaimana dengan shalat kami yang menghadap ke arah Baitul Maqdis. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (Al Baqarah:143)

Bersambung: Pemah Shalat Menghadap ke Arah Baitul Maqdis

Kemudian berkatalah orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia; mereka adalah Ahli Kitab, yang disitir oleh firman-Nya:

مَا وَلَّاهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? (Al Baqarah:142)

Maka Allah menurunkan firman Nya:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ

Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: (Al Baqarah:142) hingga akhir ayat.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPemah Shalat Menghadap ke Arah Baitul Maqdis
Berita berikutnyaDaftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1