Pemah Shalat Menghadap ke Arah Baitul Maqdis

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 142

0
15

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 142. lbnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Atiyyah, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pemah shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, sedangkan hati beliau ﷺ lebih suka bila diarahkan menghadap ke Ka’bah, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (Al Baqarah:144)

Sebelumnya: Pemindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah

Al-Barra melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Nabi ﷺ menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Maka berkatalah orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia, yaitu orang-orang Yahudi, yang disitir oleh firman-Nya:

Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? (Al Baqarah:142)

Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman Nya:

Katakanlah: Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (Al Baqarah:142)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas. bahwa ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah. Allah memerintahkannya agar menghadap ke arah Baitul Maqdis (dalam shalatnya). Maka orangorang Yahudi gembira melihatnya, dan Rasulullah ﷺ menghadap kepadanya selama belasan bulan. padahal di dalam hati beliau ﷺ sendiri lehih suka bila menghadap ke arah kiblat Nabi Ibrahim. Untuk itu beliau ﷺ selalu herdoa kepada Allah serta sering menengadalikan pandangannya ke langit. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Palingkanlah mukamu ke arahnya. (Al-Baqarah: 144)

Orang-orang Yahudi merasa curiga akan hal tersebut, lalu mereka mengatakan:

وَلَّاهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu  mereka telah

berkiblat kepadanya? (Al-Baqarah: 142)

Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala mneurunkan firman Nya:

Katakanlah: Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (142)

Banyak hadis yang menerangkan masalah ini, yang pada garis besarnya menyatakan bahwa pada mulanya Rasulullah ﷺ menghadap kearah Sakhrah di Baitul Maqdis. Beliau ﷺ ketika di Mekah shalat di antara dua rukun yang menghadap ke arah Baitul Maqdis. Dengan demikian, di hadapannya ada Ka’bah; sedangkan is menghadap ke arah Sakhrah di Baitul Maqdis (Yerussalem). Ketika beliau ﷺ hijrah ke Madinah, beliau tidak dapat menghimpun kedua kiblat itu; maka Allah memerintahkannya agar langsung menghadap ke arah Baitul Maqdis.

Demikianlah menurut Ibnu Abbas dan jumhur ulama. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat mengenai perintah Allah kepadanya untuk menghadap ke arah Baitul Maqdis, apakah melalui Al-Qur’an atau lainnya? Ada dua pendapat mengenainya.

Imam Qurtubi di dalam kitab tafsimya meriwayatkan dad Ikrimah Abul Aliyah dan Al-Hasan bahwa menghadap ke Baitul Maqdis adalah berdasarkan ijtihad Nabi ﷺ scndiri. Yang dimaksudkan dengan menghadap ke Baitul Maqdis ialah setelah beliau ﷺ tiba di Madinah. Hal tersebut dilakukan oleh Nabi ﷺ selama belasan bulan, dan selama itu beliau memperbanyak doa dan ibtihal kcpada Allah serta memohon kepada-Nya agar dihadapkan ke arah Ka’bah yang merupakan kiblat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Hal tersebut diperkenankan oleh Allah, lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkannya agar menghadap ke arah Baitul Atiq. Lalu Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada orang-orang dan memberitahukan pemindahan tersebut kepada mereka. Shalat pertama yang bcliau lakukan menghadap ke arah Ka’bah adalah shalat Asar, seperti yang telah disebutkan di atas di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-Barra radiyallahu ‘anhu

Akan tetapi, di dalam kitab Imam Nasai melalui riwayat Abu Sa’id ibnul Ma’la disebutkan bahwa shalat tersebut (yang pertama kali dilakukannya menghadap ke arah Ka’bah) adalah shalat Lohor. Abu Sa’id ibnul Ma’la mengatakan, dia dan kedua temannya termasuk orang-orang yang mula-mula shalat menghadap ke arah Ka’bah.

Bukan hanya seorang dari kalangan Mufassirin dan lain-lainnya menyebutkan bahwa pemindahan kiblat diturunkan kepada Rasulullah  ﷺ ketika beliau ﷺ shalat dua rakaat dari shalat Lohor, turunnya wahyu ini terjadi ketika beliau sedang shalat di masjid Bani Salimah, kemudian masjid itu dinamakan Masjid Qiblatain.Di dalam hadis Nuwailah binti Muslim disebutkan, telah datang kepada mereka berita pemindahan kiblat itu ketika mereka dalam salat Lohor. Nuwailah binti Muslim melanjutkan kisahnya, Setelah  ada berita itu, maka kaum laki-laki beralih menduduki tempat kaum wanita dan kaum wanita menduduki tempat kaum laki-laki. Demikianlah menurut apa yang dituturkan oleh Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar An-Namiri.

Mengenai ahli Quba, berita pemindahan itu barn sampai kepada mereka pada shalat Subuh di hari keduanya, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) dari Ibnu

Umar radiyallahu ‘anhu yang menceritakan:

Ketika orang-orang sedang melakukan shalat Subuh di Masud Quba, tiba-tiba datanglah kepada mereka seseorang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menerima wahyu tadi malam yang memerintahkan agar menghadap ke arah Ka’bah. Karena itu, menghadaplah kalian ke Ka’bah. Saat itu wajah mereka menghadap ke arah negeri Syam, lalu mereka berputar ke arah Ka’ bah.

Di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa hukum yang ditetapkan oleh nasikh masih beIum wajib diikuti kecuali setelah mengetahuinya, sekalipun turun dan penyampaiannya telah berlalu. Karena temyata mereka tidak diperintahkan untuk menguIangi   shalat Asar, Magrib, dan Isya.

Setelah hal ini terjadi, maka sebagian orang dari kalangan kaum munafik, orang-orang, yang raga dan Ahli Kitab merasa curiga, dan keraguan menguasai diri mereka terhadap hidayah. Lain mereka mengatakan seperti yang disitir  oleh firman-Nya:

مَا وَلَّاهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?

Dengan kata lain, mereka bermaksud `mengapa kaum muslim itu sesekali menghadap ke anu dan sesekali yang lain menghadap ke anu. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya sebagai jawaban terhadap mereka:

Katakanlah, Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. (Al-Baqarah: 142)

Yakni Dialah yang mengatur dan yang menentukan semuanya, dan semua perintah itu hanya di tangan kekuasaan Allah belaka.

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah. (Al-Baqarah: 115)

Adapun firman-Nya:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah. (Al-Baqarah: 177)

Dengan kata lain, semua perkara itu dinilai sebagai kebaktian bilamana didasari demi mengerjakan perintah-perintah Allah. Untuk itu ke mana pun kita dihadapkan, maka kita harus menghadap. Taat yang sesungguhnya hanyalah dalam mengerjakan perintah-Nya, sekalipun setiap hari kita diperintahkan untuk mcnghadap ke berbagai arah. Kita adalah hamba-hamba-Nya dan berada dalam pengaturan-Nya, kita adalah pelayan-pelayan-Nya; ke mana pun Dia mengarahkan kita, maka kita hams menghadap ke arah yang diperintahkan-Nya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mempunyai perhatian yang besar kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya. Hal ini ditunjukkan melalui petunjuk yang diberikan-Nya kepada dia untuk menghadap ke arah kiblat Nabi Ibrahim kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu menghadap ke arah Ka’bah yang dibangun atas nama Allah Subhaanahu wa Ta’aala semata,tiada sekutu bagi-Nya. Ka’bah merupakan rumah Allah yang paling terhormat di muka bumi ini, mengingat is dibangun oleh kekasih Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Karena itu, di dalam firman-Nya disebutkan:

قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Katakanlah, Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah: 142)

Ayat berikutnya: Allah Telah Menjadikan Umat Islam; Umat Pertengahan

Imam Ahmad meriwayatkan dari All ibnu Asim, dari Husain ibnu Abdur Rahman, dari Amr ibnu Qais, dari Muhammad ibnul Asy ‘alaihis salam, dari Siti Aisyah radiyallahu ‘anha yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan kaum Ahli Kitab:

Sesungguhnya mereka belum pernah merasa dengki terhadap sesuatu sebagaimana kedengkian mereka kepada kita atas hari Jumat yang ditunjukkan oleh Allah kepada kita, sedangkan mereka sesat darinya; dan atas kiblat yang telah ditunjukkan oleh Allah kepada kita, sedangkan mereka sesat darinya, serta atas ucapan kita aamiin di belakang imam.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu katsir

Berita sebelumyaAllah Telah Menjadikan Umat Islam; Umat Pertengahan
Berita berikutnyaPemindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah