Bagi Kami Amalan Kami dan Bagi Kamu Amalan Kamu

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 139

0
16

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 139. Bagi Kami amalan Kami dan bagi kamu amalan kamu. Firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

Katakanlah: Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. Bagi Kami amalan Kami dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami dengan tulus mengabdikan diri. (Q.S. Al-Baqarah : 139)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) wahai Muhammad, kepada kaum Yahudi dan Nasrani!

A tuhājjūnanā fillāhi (Apakah kalian mendebat kami tentang Allah), yakni apakah kalian memusuhi kami berkaitan dengan agama Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Wa huwa rabbunā wa rabbukum (sedangkan Dia adalah Rabb kami dan Rabb kalian), yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah Rabb kami dan Rabb kalian juga.

Wa lanā a‘mālunā (dan bagi kamilah amal-amal kami), yakni agama kami.

Wa lakum a‘mālukum (dan bagi kalianlah amal-amal kalian), yakni bagi kalianlah amal-amal kalian dan agama kalian.

Wa nahnu lahū mukhlishūn (dan hanya kepada-Nya kami berlaku ikhlas), yakni hanya kepada-Nya kami mengikrarkan ibadah dan tauhid.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah[17]: Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, Padahal Dia adalah Tuhan Kami dan Tuhan kamu[18]. Bagi Kami amalan Kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya Kami dengan tulus mengabdikan diri.

[17] Yakni kepada ahli kitab.

[18] Berdebat atau disebut dalam bahasa Arab muhaajjaah artinya berdebat dalam masalah yang diperselisihkan, di mana masing-masing pihak berusaha memenangkan pendapatnya dan membatalkan pendapat lawannya. Dalam hal ini, kita diperintahkan dengan cara yang baik, yakni dengan cara yang bisa menarik orang yang tersesat kepada kebenaran dan menegakkan hujjah kepada orang yang susah diajak, menerangkan yang hak dan menjelaskan yang batil. Jika keluar dari hal tersebut, maka ia bukanlah mujadalah (berdebat) tetapi sebagai miraa’ (debat kusir) yang tidak ada kebaikan di dalamnya, dan malah menimbulkan keburukan.

Orang-orang ahli kitab menganggap bahwa mereka lebih dekat dengan Allah daripada kaum muslim. Anggapan jelas membutuhkan bukti dan dalil. Padahal Tuhan semua manusia hanya satu yaitu Allah, Dia bukan Tuhan mereka saja, bahkan Tuhan kita juga. Oleh karena itu, kita dan mereka adalah sama, karena membedakan antara hal yang sama tanpa ada sesuatu pembeda adalah batil. Bahkan berbedanya antara yang satu dengan yang lain hanyalah tergantung pengikhlasan amal untuk-Nya semata, dan ternyata keadaan seperti ini hanya ada pada orang-orang mukmin, maka tentu mereka lebih dekat dengan Allah dibanding yang lain. Ikhlas inilah yang membedakan antara wali Allah dengan wali setan. Dalam ayat ini, terdapat petunjuk yang halus cara berdebat dan bahwa masalah itu didasari atas menyamakan hal yang memang sama dan membedakan hal yang memang beda.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah) kepada mereka! (Apakah kamu hendak memperbantahkan) dengan kami (tentang Allah) karena Dia memilih seorang nabi dari kalangan Arab? (Padahal Dia adalah Tuhan kamu) dan berhak memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya (dan bagi kamu amalan kamu) dan kamu akan memperoleh balasannya pula dan tidak mustahil jika di antara amal-amalan kami itu ada yang patut menerima ganjaran istimewa (dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan) agama dan amalan kami; berbeda halnya dengan kamu, sehingga sepatutnyalah kami yang dipilih-Nya. ‘Hamzah’ atau ‘apakah’ di atas, maksudnya menolak, sedangkan ketiga kalimat di belakang berarti ‘hal’.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-1

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan petunjuk kepada Nabi-Nya bagaimana cara menangkis hujah orang-orang musyrik. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Katakanlah, Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah! (Al-Baqarah: 139)

Maksudnya, apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang mengesakan Allah, ikhlas kepada-Nya, taat dan mengikuti semua perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya?

Padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian. (Al-Baqarah: 139)

Yakni Dialah yang mengatur kami dan juga kalian, Dia pula yang berhak di sembah secara ikhlas sebagai Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian. (Al-Baqarah: 139)

Dengan kata lain, kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah, dan kalian berlepas diri dari kami. Makna ayat ini sama dengan apa yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, Bagiku pekerjaanku, dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan. (Yunus: 41)

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah, Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. (Ali Imran: 20), hingga akhir ayat.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melalui firman-Nya:

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah! (Al-An’am: 80), hingga akhir ayat.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman pula:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah). (Al-Baqarah: 258), hingga akhir ayat.

Di dalam ayat berikut ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Bagi kami amalan kami, dan bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati. (Al-Baqarah: 139)

Yakni ikhlas dalam ibadah dan menghadap kepada-Nya.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala membantah dakwaan mereka yang mengakui bahwa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi serta asbat yang disebutkan sesudahnya berada dalam agama mereka, yakni adakalanya agama Yahudi atau agama Nasrani.

Ayat berikutnya: Allah Tidak Lengah Terhadap Apa yang Kamu Kerjakan

Karena itulah disebutkan di dalam firman selanjutnya:

Katakanlah, Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah! (Al-Baqarah: 140)

Dengan kata lain, bahkan Allahlah yang lebih mengetahui. Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memberitahukan bahwa mereka bukanlah Yahudi, bukan pula Nasrani. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik. (Ali Imran: 67), dan ayat yang sesudahnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAllah Tidak Lengah Terhadap Apa yang Kamu Kerjakan
Berita berikutnyaSiapakah yang Lebih Baik Shibghahnya Daripada Allah?