Mereka Tidak Akan Mengikuti Kiblatmu

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 145

0
23

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 145. Menerangkan tentang pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dalam shalat, sikap orang-orang Yahudi terhadapnya, sikap mereka sudah datang lebih dahulu sebelum terjadi pemindahan Kiblat sebagai mukjizat untuk Nabi Muhammad ﷺ; mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) semua ayat (keterangan dan bukti), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya kamu termasuk orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah : 145)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa la in ātaital ladzīna ūtul kitāba (dan sungguh jika kamu datang kepada orang-orang [Yahudi dan Nasrani] yang diberi Al-Kitab [Taurat dan Injil]), yakni menemui orang-orang yang diberi Al-Kitab.

Bi kulli āyatin (dengan membawa semua ayat), yakni semua tanda (bukti wahyu tentang pemindahan arah kiblat) yang mereka pinta darimu.

Mā tabi‘ū qiblataka (mereka tetap tidak akan mengikuti kiblatmu), yakni tetap tidak akan shalat menghadap kiblatmu dan tidak akan memeluk agamamu.

Wa mā aηta bi tābi‘in (dan kamu pun tidak akan mengikuti), yakni kamu pun tidak akan shalat menghadap ke arah ….

Qiblatahum (kiblat mereka), yakni kiblat kaum Yahudi dan Nasrani.

Wa mā ba‘dluhum bi tābi‘in (dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti), yakni tidak akan shalat ke arah ….

Qiblata ba‘dl (kiblat sebagian lainnya), yakni kaum Yahudi dan Nasrani.

Wa la inittaba‘ta ahwā-ahum (dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka) setelah Kami Melarangmu, dan tetap shalat ke arah kiblat mereka.

Mim ba‘di mā jā-aka minal ‘ilmi (setelah ilmu datang kepadamu), yakni setelah datang keterangan bahwa Masjidil Haram adalah kiblat Ibrahim.

Innaka idzan (sesungguhnya kalau begitu kamu), yakni jika kamu tetap melakukan hal itu (berkiblat ke Baitul Maqdis).

La minazh zhālimīn (benar-benar termasuk orang-orang yang zalim), yang memudaratkan diri sendiri.  Selanjutnya Allah Ta‘ala mengungkapkan perihal orang Mukmin dari golongan ahli kitab.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

145.[17] Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) semua ayat (keterangan dan bukti), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain[18]. Sesungguhnya jika kamu[19] mengikuti keinginan mereka[20] setelah sampai ilmu kepadamu[21], niscaya kamu termasuk orang-orang yang zalim.

[17] Nabi ﷺ karena tingginya harapan Beliau agar orang lain mendapatlkan hidayah telah mencurahkan segala tenaga dan mencari cara agar mereka memperoleh hidayah. Beliau berlemah lembut dalam berdakwah dan bersedih ketika orang yang didakwahinya itu tidak mau mengikuti. Di antara kaum kafir banyak yang tetap keras tidak mau mengikuti bahkan bersikap sombong terhadap Beliau, mereka ini orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka kafir kepada Beliau bukan karena kebodohan tetapi karena yakin terhadap kebenarannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan bahwa meskipun bukti dan dalil dibawakan Beliau kepada mereka, niscaya mereka tetap tidak mau mengikuti. Mereka tidak mau mengikuti karena keadaan mereka yang mu’anidun, yakni mengetahui yang hak, tetapi malah meninggalkannya, padahal ayat dan dalil hanyalah akan bermanfa’at bagi mereka yang mencari yang hak namun masih samar, kepadanyalah bukti dan dalil diperlukan. Adapun orang yang bersikeras untuk tidak mau mengikuti kebenaran, maka tidak perlu mencari-cari terus jalan keluarnya. Dari sini kita mengetahui, apabila kita telah menerangkan kebenaran dengan dalil-dalilnya yang yakin kepada orang lain, ternyata ia menolak, maka kita tidak mesti membawakan lagi bukti-bukti lagi, karena tidak ada ujung-ujungnya.

[18] Yakni: di samping hal tersebut, mereka juga saling berselisih, masing-masing mereka tidak mengikuti kiblat yang lain.

[19] Termasuk juga kepada umat Beliau. Ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang lebih mengutamakan keridhaan manusia daripada keridhaan Allah.

[20] Di ayat ini menggunakan kata ahwaa’ahum (keinginan mereka) tidak menggunakan kata diinahum (agama mereka) karena apa yang mereka pegang selama ini hanyalah semata-mata hawa nafsu, bahkan mereka meyakini apa yang mereka pegang selama ini bukanlah agama. Oleh karena itu, orang yang meninggalkan agama yang benar, maka sebenarnya orang itu hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka, meskipun mereka menamainya sebagai agama.

[21] Maksudnya: setelah Nabi Muhammad ﷺ mengetahui bahwa dirinya di atas yang hak, sedangkan mereka di atas yang batil.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan sesungguhnya jika) lam untuk sumpah (kamu datangkan kepada orang-orang yang diberi Alkitab semua bukti) atas kebenaranmu tentang soal kiblat (mereka tidak mengikuti) maksudnya tidak akan mengikuti (kiblatmu) disebabkan keingkaran (dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka). Hal ini dipastikan Allah mengingat keinginan kuat dari Nabi agar mereka masuk Islam dan keinginan kuat mereka agar Nabi ﷺ kembali berkiblat ke Baitul Maqdis. (Dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain) maksudnya orang-orang Yahudi terhadap kiblat orang-orang Kristen dan sebaliknya orang-orang Kristen terhadap kiblat orang-orang Yahudi. (Dan sekiranya kamu mengikuti keinginan mereka) yang mereka ajukan dan tawarkan kepadamu (setelah datang ilmu kepadamu) maksudnya wahyu, (maka kalau begitu kamu) apabila kamu mengikuti mereka (termasuk golongan orang-orang yang aniaya).
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang kekufuran dan keingkaran orang-orang Yahudi serta pertentangan mereka terhadap apa yang mereka ketahui mengenai diri Rasulullah ﷺ Seandainya ditegakkan terhadap mereka semua dalil yang membuktikan kebenaran apa yang disampaikan kepada mereka, niscaya mereka tidak akan mengikutinya dan justru mereka hanya tetap mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ. وَلَوْ جاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذابَ الْأَلِيمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)

Karena itulah maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. (Al-Baqarah: 145)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. (Al-Baqarah: 145)

Ayat ini menggambarkan tentang keteguhan hati Rasulullah ﷺ dalam mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Sebagaimana beliau berpegang teguh kepada perintah Allah, maka sebaliknya mereka pun berpegang teguh pula kepada pendapat dan keinginan mereka sendiri. Nabi ﷺ akan tetap berpegang teguh kepada perintah Allah dan taat kepada-Nya serta mengikuti jalan yang di-ridai-Nya, beliau tidak akan mengikuti keinginan mereka dalam semua tindak tanduknya. Tidak sekali-kali beliau pernah menghadap ke arah Baitul Maqdis yang merupakan kiblat orang-orang Yahudi, melainkan semata-mata karena perintah Allah belaka.

Ayat berikutnya: Menyembunyikan Kebenaran dan Menyelisihi Rasulullah ﷺ

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala memperingatkan agar jangan menentang perkara yang hak yang telah diketahuinya, dengan cara mengikuti keinginan diri sendiri. Karena sesungguhnya orang yang mengetahui, jika ia salah dalam berhujah akan berbalik menyerangnya, haruslah bersikap lebih lurus daripada orang lain (yang tidak mengetahui hujah). Untuk itu Allah berfirman kepada Rasul-Nya, sedangkan yang dimaksudkan adalah umatnya, yaitu:

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 145)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakMenyembunyikan Kebenaran dan Menyelisihi Rasulullah ﷺ
Artikulli tjetërDi Mana Saja Berada, Hadapkanlah Wajahmu ke Arah Itu