Tidak Mendengar Selain Panggilan dan Teriakan Saja

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 171

0
53

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 171. Perumpamaan bagi penyeru orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan saja. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَعْقِلُونَ

Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan saja. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (Q.S. Al-Baqarah : 171)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa matsalul ladzīna kafarū (dan perumpamaan orang-orang kafir) dengan Nabi Muhammad ﷺ.

Ka matsalil ladzī yan‘iqu bi mā lā yasma‘u (adalah seperti orang yang berseru kepada yang tidak mendengar), yakni seperti unta dan domba yang diseru oleh si penyeru (penggembala). Si penggembala meneriakkan sesuatu kepada yang tidak dapat mendengar (tidak memahami ucapannya). Yang dimaksud adalah ucapan penggembala ketika ia berkata kepada gembalaannya, Makanlah! atau Minumlah!

Illā du‘ā-aw wa nidā’, shummun (kecuali hanya panggilan dan seruan saja. Mereka tuli) untuk mendengarkan kebenaran.

Bukmun (bisu) untuk mengatakan kebenaran.

‘Umyuη (buta) untuk mengikuti petunjuk.

Fahum lā ya‘qilūn (karenanya mereka tidak mengerti), yakni tidak memahami perintah Allah Ta‘ala dan dakwah Nabi ﷺ. Sama seperti unta dan domba yang tidak mengerti ucapan si penggembala.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan saja[11]. (Mereka) tuli[12], bisu[13] dan buta[14], maka mereka tidak mengerti[15].

[11] Penyeru orang-orang kafir adalah orang-orang yang berdakwah kepada mereka, mengajak mereka beriman dan mengikuti petunjuk. Dalam ayat ini, penyeru tersebut diumpamakan seperti penggembala, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan sebagai binatang ternak yang tidak memahami kata-kata si penggembala selain mendengar suara sebagai penegak hujjah, namun mereka tidak memahaminya.

[12] Mereka tidak mendengarkan yang hak dengan pendengaran yang membuahkan pemahaman dan sikap menerima.

[13] Bisu dari mengatakan yang hak (benar).

[14] Penglihatan mereka tidak mampu melihat bukti-bukti yang jelas.

[15] Mereka tidak mengerti nasehat yang disampaikan. Inilah sebab mereka bersikap seperti itu, yakni mereka tidak memiliki akal yang sehat, dan tidak mengerti hal-hal yang bermaslahat bagi mereka padahal penyeru itu mengajak kepada keselamatan dan agar jauh dari kesengsaraan, mengajak masuk ke dalam surga dan jauh dari neraka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan perumpamaan) menjadi sifat (orang-orang kafir) serta orang yang mengajak mereka kepada petunjuk (adalah seperti orang yang memanggil binatang) berteriak memanggil (yang tidak dapat didengarnya selain berupa panggilan dan seruan saja) artinya suara yang tidak diketahui dan dimengerti maknanya. Maksudnya dalam menerima nasihat dan tidak memikirkannya, mereka itu adalah seperti hewan yang mendengar suara penggembalanya tetapi tidak paham akan maksudnya. (Mereka tuli, bisu, dan buta sehingga mereka tidak mengerti) akan nasihat.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 171), hingga akhir ayat.

Yakni menyeru mereka yang tenggelam di dalam kesesatan, kezaliman, dan kebodohannya sama dengan menyeru hewan gembalaan yang tidak memahami apa yang diserukan kepada mereka. Bahkan apabila diserukan kepada mereka suatu seruan oleh penggembalanya untuk membimbingnya, maka mereka tidak memahami apa yang dikatakannya selain hanya suaranya saja yang didengar, tanpa memahami maksudnya.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ata, Al-Khur-rasani, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Menurut suatu pendapat, hal ini merupakan suatu perumpamaan yang dibuatkan terhadap mereka sehubungan seruan mereka kepada berhala-berhala sesembahan mereka yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak memahami apa pun. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Tetapi pendapat pertama adalah pendapat yang lebih utama, mengingat berhala-berhala itu memang tidak mendengar apa pun, tidak memahami dan tidak melihatnya, tidak bergerak dan tidak hidup.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Mereka tuli, bisu, dan buta. (Al-Baqarah: 171)

Yakni tuli tidak dapat mendengar perkara yang baik, bisu tidak mau mengutarakannya, dan buta tidak dapat melihat jalan yang hak.

Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah: 171)

Ayat berikutnya: Makanlah di Antara Rezeki yang Baik

Yakni mereka sama sekali tidak dapat memahami apa pun dan tidak dapat mengerti. Perihal mereka sama dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (Al-An’am: 39)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakMakanlah di Antara Rezeki yang Baik
Artikulli tjetërKeadaan Kaum Musyrik Karena Tidak Mau Beriman