Hukum-hukum Tentang Khamr dan Judi

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 219

0
43

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 219. Hukum-hukum tentang khamr dan judi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan, (Q.S. Al-Baqarah : 219)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yas-alūnaka ‘anil khamri wal maisir (mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi). Ayat ini diturunkan berhubungan dengan ‘Umar bin al-Khath-thab yang berdoa, Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami titah-Mu tentang khamar. Maka Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, Yas-alūnaka ‘anil khamri wal maisir. Yakni mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.

Qul (katakanlah), hai Muhammad!

Fīhimā itsmung kabīrun (pada keduanya terdapat dosa besar) setelah diharamkan.

Wa manāfi‘u lin nāsi (dan ada beberapa manfaat bagi manusia), yakni ada manfaat dari memperdagangkannya sebelum ia diharamkan.

Wa itsmuhumā (tetapi dosa keduanya) setelah diharamkan.

Akbaru min naf‘ihimā (lebih besar daripada manfaatnya) sebelum diharamkan. Sesudah itu, Allah Ta‘ala mengharamkan keduanya.

Wa yas-alūnaka mādzā yuηfiqūn (dan mereka bertanya kepadamu, apa yang [harus] mereka infakkan). Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ‘Amr bin al-Jamuh yang bertanya kepada Nabi ﷺ, Apa yang seyogianya kami sedekahkan dari harta kami? Maka Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya,

Wa yas-alū-naka mādzā yuηfiqūn. Yakni dan mereka bertanya kepadamu, apa yang (harus) mereka infakkan.

Qulil ‘afw (katakanlah, Yang lebih dari keperluan), yakni selebihnya dari keperluan keluarga dan makanan. Tetapi untuk selanjutnya ketentuan ini dinasakh oleh ayat zakat.

Kadzālika (demikianlah), yakni seperti itulah.

Yubayyinullāhu lakumul āyāti (Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian), yakni menerangkan perintah dan larangan-Nya di dunia.

La‘allakum tatafakkarūn (supaya kalian berpikir) pada hari kiamat.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

219.[1] Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[2] dan judi[3]. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia[4]. Tetapi dosa[5] keduanya lebih besar[6] daripada manfaatnya[7]. Dan mereka bertanya kepadamu tentang apa yang (harus) mereka infakkan[8]. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan[9]. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,

[1] Imam Ahmad meriwayatkan dari Amr bin Syurahbil Abu Maisarah dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Ketika turun ayat tentang pengharaman khamr, Umar berkata, Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang memuaskan, maka turunlah ayat yang berada di surah Al Baqarah ini, Yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri, qul fiihimaa itsmun kabiir, maka Umar pun dipanggil dan dibacakan keadanya ayat ini. Umar berkata lagi, Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang memuaskan, maka turunlah ayat yang disebutkan dalam surah An Nisaa’, Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa taqrabush shalaata wa antum sukaaraa. Ketika itu, muazin Rasulullah ﷺ apabila shalat hendak dilaksanakan, ia menyerukan, Orang yang mabuk janganlah mendekati shalat. Maka Umar dipanggil dan dibacakan kepadanya ayat tersebut. Umar berkata lagi, Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang memuaskan, maka turunlah ayat yang disebutkan dalam surah Al Maa’idah, lalu Umar dipanggil dan dibacakan kepadanya ayat tersebut. Ketika telah sampai pada ayat, Fa hal antum muntahuun, maka Umar berkata, Kami berhenti, kami berhenti.

Abu Zur’ah berkata, Amr bin Syurahbil tidak mendengar hadits dari Umar…dst. Namun Bukhari mengatakan, bahwa ‘Amr bin Syurahbil Abu Maisarah Al Kufiy mendengar hadits dari Umar dan Ibnu Mas’ud. Pengarang Al Jarh wa Ta’dil (6/237) juga berpendapat bahwa ‘Amr bin Syurahbil mendengar hadits Umar dan Ibnu Mas’ud, oleh karenanya yang menetapkan bahwa ‘Amr bin Syurahbil mendengar hadits dari Umar dan Ibnu Mas’ud lebih didahulukan.

[2] Yakni mengkonsumsi khamr (segala makanan dan minuman yang memabukkan atau menghilangkan akal), menjual dan membelinya.

[3] Pekerjaan haram untuk menghasilkan uang dengan cara taruhan; tanpa bekerja.

[4] Dalam khamr seseorang merasakan kenikmatan dan kesenangan, sedangkan dalam judi seseorang memperoleh harta tanpa bekerja keras. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan nabinya untuk menerangkan manfaat dan madharat khamr danjudi sebagai pengantar terhadap larangan yang akan datang dan agar mereka siap meninggalkannya.

[5] Yakni mafsadat atau bahaya yang ditimbulkan dari keduanya lebih besar daripada manfaatnya.

[6] Karena khmar dan judi menghilangkan akal dan menghilangkan harta, menghalangi manusia dari ddzikrullah, menghalangi dari shalat, menimbulkan permusuhan dan kebencian. Ayat ini merupakan tahapan pertama pelarangan khamr.

[7] Larangan khamr di ayat ini masih belum tegas, sehingga ketika itu masih ada yang meminumnya, sedangkan sebagian lagi tidak, sampai turun ayat di surah Al Maa’idah yang dengan tegas melarangnya. Seperti inilah tasyri’ (penetapan hukum) dalam Islam, yakni adanya tadarruj (tahapan) agar masyarakat siap.

[8] Yakni berapa ukuran seseorang perlu bersedekah dan bertabarrtu’ (memberikan santunan sunat).

[9] Oleh karena itu, kita jangan mengeluarkan harta ketika diri kita butuh terhadapnya, misalnya ketika kita bersedekah, maka kita akan kelaparan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka menanyakan kepadamu tentang minuman keras dan berjudi) apakah hukumnya? (Katakanlah kepada mereka) (pada keduanya) maksudnya pada minuman keras dan berjudi itu terdapat (dosa besar). Menurut satu qiraat dibaca katsiir (banyak) disebabkan keduanya banyak menimbulkan persengketaan, caci-mencaci, dan kata-kata yang tidak senonoh, (dan beberapa manfaat bagi manusia) dengan meminum-minuman keras akan menimbulkan rasa kenikmatan dan kegembiraan, dan dengan berjudi akan mendapatkan uang dengan tanpa susah payah, (tetapi dosa keduanya), maksudnya bencana-bencana yang timbul dari keduanya (lebih besar) artinya lebih parah (daripada manfaat keduanya). Ketika ayat ini diturunkan, sebagian sahabat masih suka meminum minuman keras, sedangkan yang lainnya sudah meninggalkannya hingga akhirnya diharamkan oleh sebuah ayat dalam surah Al-Maidah. (Dan mereka menanyakan kepadamu beberapa yang akan mereka nafkahkan), artinya berapa banyaknya. (Katakanlah), Nafkahkanlah (kelebihan) maksudnya yang lebih dari keperluan dan janganlah kamu nafkahkan apa yang kamu butuhkan dan kamu sia-siakan dirimu. Menurut satu qiraat dibaca al-`afwu sebagai khabar dari mubtada’ yang tidak disebutkan dan diperkirakan berbunyi, yaitu huwa ….. (Demikianlah), artinya sebagaimana dijelaskan-Nya kepadamu apa yang telah disebutkan itu (dijelaskan-Nya pula bagimu ayat-ayat agar kamu memikirkan).
Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي مَيْسَرَةَ، عَنْ عُمَرَ أنَّه قَالَ: لَمَّا نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ قَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّن لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانًا شَافِيًا فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ التِي فِي الْبَقَرَةِ: يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ [وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ] فدُعي عُمَرُ فقرئتْ عَلَيْهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّنْ لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانًا شَافِيًا فَنَزَلَتِ الْآيَةُ التِي فِي النِّسَاءِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى [النِّسَاءِ: 43] ، فَكَانَ مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَقَامَ الصَّلَاةَ نَادَى: أَلَّا يَقْرَبَنَّ الصَّلَاةَ سكرانُ. فدُعي عُمَرُ فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ بَيِّنْ لَنَا فِي الْخَمْرِ بَيَانًا شَافِيًا. فَنَزَلَتِ الْآيَةُ التِي فِي الْمَائِدَةِ. فَدَعِي عُمَرُ، فَقُرِئَتْ عَلَيْهِ، فَلَمَّا بَلَغَ: فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ [الْمَائِدَةِ: 91] ؟ قَالَ عُمَرُ: انْتَهَيْنَا، انْتَهَيْنَا

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Maisarah, dari Umar yang menceritakan hadits berikut: Bahwa ketika ayat pengharaman khamr diturunkan, Umar berkata, Ya Allah, berilah kami penjelasan mengenai khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan. Maka turunlah firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, Pada keduanya itu terdapat dosa besar. (Al-Baqarah: 219). Lalu Umar dipanggil dan dibacakan kepadanya ayat ini. Maka ia mengatakan, Ya Allah, berilah kami penjelasan tentang khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan. Kemudian turunlah ayat yang ada di dalam surah An-Nisa, yaitu: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk. (An-Nisa: 43). Tersebutlah bahwa juru azan Rasulullah ﷺ apabila mendirikan shalat selalu menyerukan, Orang yang mabuk tidak boleh mendekati shalat! Kemudian Umar dipanggil lagi dan dibacakan kepadanya ayat tersebut. Maka Umar berkata, Ya Allah, berilah kami penjelasan tentang khamr ini dengan penjelasan yang lebih memuaskan lagi. Lalu turunlah ayat yang ada di dalam surah Al-Maidah. Ketika bacaan ayat sampai pada firman-Nya: maka berhentilah kalian (dari mengerjakan perbuatan itu). (Al-Maidah: 91) maka Umar berkata, Kami telah berhenti, kami telah berhenti.

Demikianlah menurut riwayat Imam Abu Dawud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Israil, dari Abu Ishaq.

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih melalui jalur As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Abu Maisarah yang nama aslinya ialah Amr ibnu Syurahbil AI-Hamdani Al-Kufi, dari Umar. Amr ibnu Syurahbil tidak mempunyai hadits lain yang dari Umar selain hadits ini. Akan tetapi, menurut pendapat Abu Zar’ah disebutkan bahwa Amr ibnu Syurahbil belum pernah mendengar dari Umar.

Ali ibnul Madini mengatakan bahwa sanad hadits ini baik lagi sahih, dinilai sahih oleh Imam Turmuzi, sedangkan dalam riwayat Ibnu Abu Hatim disebutkan sesudah perkataan Umar, Kami telah berhenti, yaitu Sesungguhnya khamr itu melenyapkan harta dan menghilangkan akal.

Hadits ini diketengahkan lagi beserta hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Abu Hurairah pada tafsir firman-Nya dalam surah Al-Maidah, yaitu:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. (Al-Maidah: 90)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. (Al-Baqarah: 219)

Definisi khamr ialah seperti apa yang dikatakan oleh Amirul Muminin Umar ibnul Khattab, yaitu segala sesuatu yang menutupi akal (memabukkan), sebagaimana yang akan dijelaskan nanti dalam tafsir surah Al-Maidah. Demikian pula maisir, yakni judi.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Katakanlah, Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia’ (Al-Baqarah: 219)

Adapun mengenai dosa kedua perbuatan tersebut berdasarkan peraturan agama, sedangkan manfaat keduniawiannya jika dipandang sebagai suatu manfaat. Maka manfaatnya terhadap tubuh ialah mencernakan makanan, mengeluarkan angin, dan mengumpulkan sebagian lemak serta rasa mabuk yang memusingkan, seperti apa yang dikatakan oleh Hassan ibnu Sabit dalam masa Jahiliah:

وَنَشْرَبُهَا فَتَتْرُكُنَا مُلُوكًا … وأسْدًا لَا يُنَهْنهها اللقاءُ …

Kami meminumnya (khamr) dan khamr membuat kami bagaikan raja-raja dan juga bagaikan harimau yang tidak kuat perang (yakni menjadi pemberani).

Termasuk manfaatnya pula memperjual-belikannya dan memanfaatkan hasilnya. Sedangkan manfaat judi ialah kemenangan yang dihasilkan oleh sebagian orang yang terlibat di dalamnya, maka dari hasil itu ia dapat membelanjakannya buat dirinya sendiri dan keluarganya.

Akan tetapi, manfaat dan maslahat tersebut tidaklah sebanding dengan mudarat dan kerusakannya yang jauh lebih besar daripada manfaatnya, karena kerusakannya berkaitan dengan akal dan agama, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. (Al-Baqarah: 219)

Karena itu, ayat ini merupakan pendahuluan dari pengharaman khamr yang pasti. Di dalam ayat ini pengharaman tidak disebutkan dengan tegas, melainkan dengan cara sindiran. Karena itulah maka Umar ibnul Khattab radiyallahu ‘anhu ketika dibacakan ayat ini kepadanya mengatakan: Ya Allah, berikanlah kami penjelasan tentang khamr ini dengan penjelasan yang memuaskan.

Setelah itu barulah turun ayat yang mengharamkannya di dalam surah Al-Maidah, yaitu firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّما يُرِيدُ الشَّيْطانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَداوَةَ وَالْبَغْضاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingati Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al-Maidah: 90-91)

Dalam tafsir surah Al-Maidah nanti, masalah ini akan diterangkan dengan keterangan yang rinci.

Ibnu Umar, Asy-Sya’bi, Mujahid, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, sesungguhnya ayat ini merupakan permulaan ayat yang menerangkan pengharaman khamr, yaitu firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, Pada keduanya itu terdapat dosa besar. (Al-Baqarah: 219) Kemudian turun pula ayat yang ada di dalam surah An-Nisa, sesudah itu turun ayat yang terdapat di dalam surah Al-Maidah yang mengharamkan khamr secara tegas.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, Yang lebih dari keperluan. (Al-Baqarah: 219)

Lafaz al-‘afwa dapat pula dibaca al-‘afwu, keduanya baik dan berdekatan pengertiannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Aban, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah sampai suatu hadits kepadanya bahwa sahabat Mu’az ibnu Jabal dan Sa’labah datang menghadap Rasulullah ﷺ, lalu keduanya bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai banyak budak dan keluarganya yang semuanya itu termasuk harta kami. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya:  Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. (Al-Baqarah: 219)

Al-Hakam mengatakan dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, Yang lebih dari keperluan. (Al-Baqarah: 219) Yakni lebihan dari nafkah yang diperlukan.

Hal yang sama diriwayatkan pula dari. Ibnu Umar, Mujahid, Ata, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka’b, Al-Hasan, Qata-dah, Al-Qasim, Salim, Ata Al-Khurrasani, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas serta lain-lainnya. Disebutkan bahwa mereka mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, Yang lebih dari keperluan. (Al-Baqarah: 219) Lafaz al-‘afwa di sini artinya al-fadla atau lebihan (sisa dari yang diperlukan).

Telah diriwayatkan dari Tawus bahwa makna yang dimaksud ialah segala sesuatu yang mudah.

Dari Ar-Rabi’ disebutkan pula bahwa makna yang dimaksud ialah hartamu yang paling utama dan paling baik. Akan tetapi, semua pendapat merujuk kepada pengertian lebihan dari apa yang diperlukan.

Abdu ibnu Humaid mengatakan dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Hauzah ibnu Khalifah, dari Auf, dari Al-Hasan sehubungan dengan ayat berikut: Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, Yang lebih dari keperluan. (Al-Baqarah: 219) Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan istilah al-‘afwa ialah jangan sampai nafkah itu memberatkan hartamu yang akhirnya kamu tidak punya apa-apa lagi dan meminta-minta kepada orang lain.

Pengertian ini ditunjukkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ عَجْلان، عَنِ المَقْبُريّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى نَفْسِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى أَهْلِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: أَنْفِقْهُ عَلَى وَلَدِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: فَأَنْتَ أبصَرُ

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, dari Ibnu Ajlan, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang menceritakan: Seorang lelaki bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai uang dinar.’ Nabi ﷺ menjawab, Belanjakanlah buat dirimu sendiri. Lelaki itu berkata, Aku masih memiliki yang lainnya. Nabi ﷺ bersabda, Nafkahkanlah buat keluargamu. Lelaki itu berkata, Aku masih mempunyai yang lainnya. Nabi ﷺ bersabda, Nafkahkanlah buat anakmu. Lelaki itu berkata, Aku masih mempunyai yang lainnya. Nabi ﷺ menjawab, Kamu lebih mengetahui.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim di dalam kitab sahih-nya.

Dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui Jabir radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada seorang lelaki:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَل شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضُلَ شَيْءٌ عَنْ أَهْلِكَ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فَإِنْ فَضُلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا

Mulailah dengan dirimu sendiri, bersedekahlah untuknya; jika ada lebihannya, maka buat keluarga (istri)mu. Dan jika masih ada lebihannya lagi setelah istrimu, maka berikanlah kepada kaum kerabatmu; dan jika masih ada lebihan lagi setelah kaum kerabatmu, maka berikanlah kepada ini dan itu.

Menurut Imam Muslim pula, disebutkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

خير الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْر غِنًى، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولَ

Sebaik-baik sedekah ialah yang diberikan setelah berkecukupan; tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima). Dan mulailah dengan orang yang berada dalam tanggunganmu.

Di dalam sebuah hadits lain disebutkan pula:

ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ إِنْ تبذُل الفضلَ خيرٌ لَكَ، وَإِنْ تُمْسِكْهُ شَرٌّ لَكَ، وَلَا تُلام عَلَى كَفَافٍ

Hai anakAdam, sesungguhnya jikalau kamu memberikan lebihan dari yang diperlukan adalah lebih baik bagimu dan jika kamu memegangnya, maka hal itu buruk bagimu, dan kamu tidak akan dicela karena tidak mempunyai sesuatu yang bersisa.

Ayat berikutnya: Bermu’amalah dengan Anak Yatim

Akan tetapi, menurut pendapat yang lain ayat ini di-mansukh oleh ayat zakat, seperti yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, Al-Aufi, dan Ibnu Abbas; juga yang dikatakan oleh Ata Al-Khurrasani. Menurut pendapat yang lainnya lagi, ayat ini diperjelas pengertiannya oleh ayat zakat, menurut Mujahid dan lain-lainnya. Pendapat yang terakhir ini lebih terarah (kuat).

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBermu’amalah dengan Anak Yatim
Berita berikutnyaOrang-orang yang Mengharapkan Rahmat Allah