Hukum-hukum yang Terkait dengan Haid

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 222

0
72

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 222. Hukum-hukum yang terkait dengan Haid. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang Haid. Katakanlah: Haid adalah suatu kotoran. Oleh karena itu, jauhilah istri pada waktu Haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (Q.S. Al-Baqarah : 222)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa yas-alūnaka ‘anil mahīdl (mereka bertanya kepadamu tentang haid). Ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abud Dahdah yang menanyakan perihal haid kepada Nabi ﷺ. Kemudian Allah Ta‘ala berfirman kepada NabiNya, Wa yas-alūnaka ‘anil mahīdl …., yakni mereka menanyakan kepadamu tentang menyetubuhi wanita yang tengah haid.

Qul (katakanlah), hai Muhammad!

Huwa adzan (Haid itu kotoran), yakni kotoran yang terlarang.

Fa‘ tazilun nisā-a fil mahīdi (karenanya hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita yang tengah haid), yakni hindarilah bersetubuh dengan wanita yang tengah haid.

Wa lā taqrabūhunna (dan janganlah kalian mendekati mereka) untuk berjimak.

Hattā yathhurna (sehingga mereka suci) dari haid.

Fa idzā tathahharna (maka apabila mereka telah suci) dan telah mandi.

Fa’ tūhunna (maka gaulilah mereka), yakni kalian boleh menyetubuhi mereka.

Min haitsu amarakumullāh (dari mana Allah perintahkan kepada kalian), yakni melalui tempat yang telah Allah Ta‘ala perbolehkan sebelumnya kepada kalian, yaitu farji.

Innallāha yuhibbut tawwābīna (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat), yakni orang-orang yang kembali dari dosa.

Wa yuhibbul mutathahhirīn (dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri) dari segala dosa dan kotoran.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [20] Mereka bertanya kepadamu tentang Haid. Katakanlah: Haid adalah suatu kotoran. Oleh karena itu, jauhilah[21] istri pada waktu Haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci[22]. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu[23]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betobat dan menyukai orang yang menyucikan diri[24].

[20] Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa orang-orang Yahudi apabila istri mereka Haid, mereka tidak makan bersama istrinya dan tidak bergaul dengannya. Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu, maka Allah menurunkan ayat, Wayas-aluunaka ‘anil mahiidh, qul huwa adzan fa’tazilun nisaa’ fil mahiidh, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, Berbuatlah apa saja selain jima’. Kemudian berita itu sampai kepada orang-orang Yahudi, lalu mereka berkata, Apa yang diinginkan orang ini (yakni Nabi Muhammad ﷺ) ketika meninggalkan salah satu kebiasaan kita, lantas kemudian menyelisihi. Maka Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr datang (kepada Rasulullah) dan berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata begini dan begitu. Oleh karena itu, kami tidak bergaul dengan mereka (para istri). Maka wajah Rasulullah ﷺ berubah (marah) sehingga kami mengira bahwa Beliau akan marah kepada keduanya, maka keduanya keluar, lalu ketika keluar tiba-tiba ada hadiah susu yang diberikan kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ kemudian mengirimkan seseorang untuk mencari mereka berdua (untuk memberikan minuman), maka mereka pun mengetahui bahwa Nabi ﷺ tidak marah kepada mereka berdua.

[21] Maksudnya jangan bercampur dengan wanita di waktu Haid, adapun selain jima’, maka bersenang-senang dengan istri di waktu Haid diperbolehkan.

[22] Maksudnya sesudah mandi. Ada pula yang menafsirkan sesudah darah berhenti keluar.

[23] Yaitu di qubul, bukan di dubur.

[24] Baik dari hadats matupun dari najis. Dalam ayat ini terdapat dalil disyari’atkan bersuci secara mutlak, karena Allah menyukai orang yang suci. Oleh karena itu, suci merupakan syarat sahnya shalat dan thawaf . Termasuk suci pula adalah suci maknawi, dalam arti suci dari akhlak yang buruk, sifat yang jelek dan perbuatan yang hina.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka bertanya kepadamu tentang haid), maksudnya haid atau tempatnya dan bagaimana memperlakukan wanita padanya. (Katakanlah, Haid adalah suatu kotoran) atau tempatnya kotoran, (maka jauhilah wanita-wanita), maksudnya janganlah bersetubuh dengan mereka (di waktu haid) atau pada tempatnya (dan janganlah kamu dekati mereka) dengan maksud untuk bersetubuh (sampai mereka suci). ‘Yathhurna’ dengan tha baris mati atau pakai tasydid lalu ha’, kemudian pada ta’ asalnya diidgamkan kepada tha’ dengan arti mandi setelah terhentinya. (Apabila mereka telah suci maka datangilah mereka) maksudnya campurilah mereka (di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu) jauhilah di waktu haid, dan datangilah di bagian kemaluannya dan jangan diselewengkan kepada bagian lainnya. (sesungguhnya Allah menyukai) serta memuliakan dan memberi (orang-orang yang bertobat) dari dosa (dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri) dari kotoran.
Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتِ الْمَرْأَةُ مِنْهُمْ لَمْ يُؤَاكلوها وَلَمْ يُجَامِعُوهَا فِي الْبُيُوتِ، فَسَأَلَ أصحابُ النَّبِيِّ [النبيَّ] صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ حَتَّى فَرَغَ مِنَ الْآيَةِ  فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ. فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُودَ، فَقَالُوا: مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدع مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلَّا خَالَفَنَا فِيهِ  فَجَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَير وعبَّاد بْنُ بِشْرٍ فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الْيَهُودَ قَالَتْ كَذَا وَكَذَا، أَفَلَا نُجَامِعُهُنَّ  فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ قَدْ وَجَدَ عَلَيْهِمَا، فَخَرَجَا، فَاسْتَقْبَلَتْهُمَا  هَدِيَّةٌ مِنْ لَبَنٍ إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فَأَرْسَلَ فِي آثَارِهِمَا، فَسَقَاهُمَا، فَعَرَفَا أَنْ لَمْ يَجدْ عَلَيْهِمَا

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, bahwa orang-orang Yahudi itu apabila ada seorang wanita dari mereka mengalami haid, maka mereka tidak mau makan bersamanya, tidak mau pula serumah dengan mereka. Ketika sahabat Nabi ﷺ menanyakan masalah ini kepadanya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. (Al-Baqarah: 222), hingga akhir ayat. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri yang sedang haid) kecuali nikah (bersetubuh). Ketika berita tersebut sampai kepada orang-orang Yahudi, maka mereka mengatakan, Apakah yang dikehendaki oleh lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ), tidak sekali-kali ia membiarkan suatu hal dari urusan kami, melainkan ia pasti berbeda dengan kami mengenainya. Kemudian datanglah Usaid ibnu Hudair dan Abbad ibnu Bisyr, lalu keduanya berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan anu dan anu. Maka bolehkah kami bersetubuh dengan mereka (wanita-wanita yang sedang haid)? Mendengar itu roman muka Rasulullah ﷺ berubah hingga kami menduga bahwa beliau sangat marah terhadap Usaid dan Abbad. Setelah itu keduanya pulang, dan mereka berpapasan dengan hadiah yang akan diberikan kepada Rasulullah ﷺ berupa air susu. Maka Rasulullah ﷺ memanggil keduanya untuk datang menghadap. Ketika keduanya sampai di hadapan Rasulullah ﷺ, maka beliau memberinya minum dari air susu itu. Maka keduanya mengerti bahwa Rasulullah ﷺ tidak marah terhadapnya.

Bersambung: Menjauhkan Diri dari Wanita di Waktu Haid

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadits Hammad ibnu Zaid ibnu Salamah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMenjauhkan Diri dari Wanita di Waktu Haid
Berita berikutnyaPernikahan dengan Orang-orang Musyrik