Istri-istrimu Adalah Ladang Bagimu

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 223

0
78

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 223. Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu bagaimana saja yang kamu sukai. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu bagaimana saja yang kamu sukai. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira orang-orang yang beriman. (Q.S. Al-Baqarah : 223)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Nisā-ukum hartsul lakum (istri-istri kalian adalah tanah tempat kalian menanam), yakni farji istri kalian itu seumpama ladang bagi anak-anak kalian.

Fa’ tū hartsakum (maka datangilah tanah tempat kalian menanam itu), yakni datangilah ladang kalian itu.

Annā syi’tum (bagaimanapun kalian inginkan), yakni bagaimanapun kalian maui, apakah dari arah belakang ataupun dari arah depan, yang penting pada satu saluran. …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

223.[25] Istri-istrimu adalah ladang bagimu[26], maka datangilah ladangmu itu bagaimana saja yang kamu sukai[27]. …

[25] Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Orang-orang Yahudi mengatakan, bahwa jika seseorang menjima’i istrinya dari belakang, maka anaknya akan lahir dalam keadaan matanya juling, maka turunlah ayat, Nisaa’ukum hartsul lakum fa’tuu hartsakum annaa syi’tum.

[26] Yakni tempat kamu menaruh benih agar dapat membuahkan anak dengan kehendak Allah.

[27] Dengan tetap di qubul bagaimana pun caranya. Dalam ayat ini terdapat dalil haramnya menjima’i istri di dubur, karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak membolehkan mendatangi wanita kecuali di tempat yang bisa membuahkan anak.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Istri-istrimu adalah tanah persemaian bagimu), artinya tempat kamu membuat anak, (maka datangilah tanah persemaianmu), maksudnya tempatnya yaitu pada bagian kemaluan (bagaimana saja) dengan cara apa saja (kamu kehendaki) apakah sambil berdiri, duduk atau berbaring, baik dari depan atau dari belakang. Ayat ini turun untuk menolak anggapan orang-orang Yahudi yang mengatakan, Barang siapa yang mencampuri istrinya pada kemaluannya tetapi dari arah belakangnya (pinggulnya), maka anaknya akan lahir bermata juling….
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam. (Al-Baqarah: 223)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-hars ialah peranakan (kemaluan).

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223)

Yakni bagaimanapun caranya menurut kehendak kalian, baik dari depan ataupun dari belakang dengan syarat yang didatanginya adalah satu lubang, yaitu lubang kemaluan, seperti yang telah ditetapkan oleh banyak hadits.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnul Munkadir yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Jabir menceritakan hadits berikut: Dahulu orang-orang Yahudi berkeyakinan bahwa jika seseorang menyetubuhi istrinya dari arah belakang, maka kelak anaknya bermata juling. Maka turunlah firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223)

Imam Muslim meriwayatkannya begitu pula Imam Abu Dawud melalui hadits Sufyan As-Sauri dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, Ibnu Juraij, dan Suf-yan Ibnu Sa’id As-Sauri. Disebutkan bahwa Muhammad ibnul Munkadir pernah menceritakan kepada mereka bahwa. Abdullah ibnu Jabir pernah menceritakan kepadanya, orang-orang Yahudi sering berkata kepada kaum muslim, Barang siapa yang mendatangi istrinya dari arah belakang, maka kelak anaknya akan bermata juling. Lalu turunlah firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam kalian, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223)

Ibnu Juraij mengatakan, sehubungan dengan hadits ini disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مُقْبِلَةٌ وَمُدْبِرَةٌ إِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي الْفَرْجِ

Boleh dari depan dan boleh dari belakang jika yang didatanginya adalah farji.

Di dalam hadits Bahz ibnu Hakim ibnu Mu’awiyah ibnu Haidah Al-Qusyairi, dari ayahnya, dari kakeknya, disebutkan bahwa Mu’awiyah ibnu Haidah pernah bertanya, Wahai Rasulullah, sehubungan dengan istri-istri kami, bagaimanakah cara yang diperbolehkan untuk mendatanginya dan apa sajakah cara yang dilarang? Rasulullah ﷺ bersabda:

حَرْثُكَ، ائْتِ حَرْثَكَ أَنَّى شِئْتَ، غَيْرَ أَلَّا تضربَ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحَ، وَلَا تَهْجُرَ إِلَّا فِي الْمَبِيتِ . الْحَدِيثُ

Seperti lahan bercocok tanammu, maka datangilah lahan bercocok tanammu bagaimana saja kamu kehendaki, hanya kamu tidak boleh memukul wajah, dan jangan berkata buruk, jangan pula mengisolisasi(nya) kecuali di dalam rumah. Hingga akhir hadits.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan pemilik kitab-kitab sunnah.

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Amir Ibnu Yahya, dari Abdullah ibnu Hanasy, dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan: Sejumlah orang dari Himyar datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka bertanya kepadanya tentang banyak hal. Kemudian ada seorang lelaki berkata kepadanya, Sesungguhnya aku suka wanita, maka bagaimanakah yang harus kulakukan menurutmu? Maka turunlah firman-Nya, Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam kalian, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki (Al-Baqarah: 223).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Rasyidin, telah menceritakan kepadaku Al-Hasan ibnu Sauban, dari Amir ibnu Yahya Al-Magafiri, dari Hanasy, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ayat berikut, yaitu firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam kalian. (Al-Baqarah:. 223) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang dari kalangan Ansar yang datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya. Maka Nabi ﷺ menjawab:

 ائْتِهَا عَلَى كُلِّ حَالٍ إِذَا كَانَ فِي الْفَرْجِ

Datangilah ia dengan posisi apa pun selagi yang didatangi adalah farjinya.

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Abu Ja’far At-Tahawi di dalam kitabnya yang berjudul Musykilul Hadits. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Dawud ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Kasib, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Nafi’, dari Hisyam ibnu Sa’d ibnu Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Kudri, bahwa ada seorang lelaki menyetubuhi istrinya pada liang anusnya. Maka orang-orang memprotes perbuatannya itu, lalu Allah menurunkan firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam kalian. (Al-Baqarah: 223), hingga akhir ayat.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Yunus ibnu Ya’qub; juga diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Al-Haris ibnu Syuraih, dari Abdullah ibnu Nafi’ dengan lafaz yang sama.

Bersambung: Anna Syi’tum Ialah Subyeknya Satu

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dinyatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Abdullah ibnu Sabit yang menceritakan hadits berikut: Aku masuk menemui Hafsah binti Abdur Rahman ibnu Abu Bakar dan kukatakan kepadanya, Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang suatu masalah, tetapi aku malu mengemukakannya kepadamu. Hafsah menjawab, Hai keponakanku, jangan malu-malu. Kemukakanlah. Abdullah ibnu Sabit berkata, Mendatangi wanita (istri) pada liang anusnya. Hafsah berkata bahwa Ummu Salamah pernah menceritakan hadits berikut: Orang-orang Ansar suka mendatangi wanita dari arah belakang (posisi tengkurap). Sedangkan orang-orang Yahudi mengatakan bahwa barang siapa yang mendatangi istrinya dari arah belakang, maka kelak anaknya bermata juling.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAnna Syi’tum Ialah Subyeknya Satu
Berita berikutnyaMenjauhkan Diri dari Wanita di Waktu Haid