Anna Syi’tum Ialah Subyeknya Satu

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 223

0
68

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 223. Ketika kaum Muhajirin datang di Madinah, mereka ada yang menikah dengan wanita Ansar, lalu mereka mendatanginya dari arah belakang, tetapi tiada seorang pun yang menaati suaminya dan mengatakan, Jangan dulu kamu lakukan sebelum aku tanyakan kepada Rasulullah ﷺ mengenai cara ini. Lalu wanita Ansar itu datang kepada Ummu Salamah dan menemuinya serta menceritakan kepadanya hal tersebut. Ummu Salamah menjawab, Duduklah dahulu hingga Rasulullah ﷺ tiba. Ketika Rasulullah ﷺ datang, tiba-tiba wanita Ansar itu merasa malu mengemukakan pertanyaannya. Oleh karena itu, ia keluar. Lalu Ummu Salamahlah yang menanyakannya kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ bersabda, Panggillah wanita Ansar tadi. Ummu Salamah segera memanggil wanita Ansar tadi. Setelah wanita itu datang, maka Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya ayat berikut, yaitu firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Yang dimaksud dengan anna syi’tum ialah subyeknya satu, yaitu satu liang (liang kemaluan).

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi, dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Abu Khaisam dengan lafaz yang sama, dan ia mengatakan bahwa hadits ini berpredikat hasan.

Sebelumnya: Istri-istrimu Adalah Ladang Bagimu

Menurut kami, hadits ini diriwayatkan pula melalui jalur Hammad ibnu Abu Hanifah, dari ayahnya, dari Ibnu Khaisam, dari Yusuf ibnu Mahik, dari Hafsah Ummul Muminin, bahwa ada seorang wanita datang kepadanya, lalu bertanya, Sesungguhnya suamiku suka mendatangiku dari arah belakang dan arah depan, maka aku tidak suka dengan cara itu. Ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau menjawab:

لَا بَأْسَ إِذَا كَانَ فِي صِمَامٍ وَاحِدٍ

Tidak mengapa jika yang dimasukinya adalah satu liang (liang farjinya).

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ -يَعْنِي القَمي -عَنْ جَعْفَرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكْتُ! قَالَ: مَا الَّذِي أَهْلَكَكَ؟  قَالَ: حَوَّلْتُ رَحْلَيِ الْبَارِحَةَ! قَالَ: فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا. قَالَ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ أَقْبِلْ وَأَدْبِرْ، وَاتَّقِ الدُّبُرَ وَالْحَيْضَةَ

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub (yakni Al-Qummi), dari Ja’far, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa sahabat Umar ibnul Khattab datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, Wahai Rasulullah, aku telah binasa. Rasulullah ﷺ bertanya, Apakah yang menyebabkan kamu binasa? Umar menjawab, Tadi malam aku membalikkan pelanaku (istriku). Rasulullah ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya, yaitu ayat berikut: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Datangilah dari depan dan dari belakang, tetapi jauhilah liang dubur dan masa haid.

Imam Turmuzi meriwayatkan dari Abdu ibnu Humaid, dari Hasan ibnu Musa Al-Asyyab dengan lafaz yang sama. Hasan mengatakan bahwa hadits ini berpredikat garib.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa’d, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki di masa Rasulullah ﷺ mendatangi istrinya pada bagian belakangnya. Mereka mengatakan, Si Fulan telah mendatangi istrinya pada bagian belakangnya. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223)

Imam Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Yahya Abul Asbag yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad (yakni Ibnu Salamah), dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Aban ibnu Saleh, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Ibnu Umar semoga Allah mengampuninya telah menduga bahwa sesungguhnya kaum Ansar pada mulanya adalah Ahli Wasani, sedangkan golongan lainnya adalah orang-orang Yahudi yang merupakan Ahli Kitab. Orang-orang Ansar berpandangan bahwa orang-orang Yahudi mempunyai keutamaan lebih dari mereka dalam hal ilmu. Oleh sebab itu, dalam kebanyakan hal orang-orang Ansar mengikuti cara mereka. Tersebutlah bahwa termasuk perkara Ahli Kitab ialah mereka tidak mendatangi istri-istrinya melainkan hanya dengan satu posisi saja; cara yang demikian lebih rnenutupi tubuh si istri. Lalu orang-orang Ansar meniru jejak mereka dalam hal tersebut. Sedangkan kebiasaan orang-orang Quraisy dalam mendatangi istrinya memakai berbagai macam cara dan posisi yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Ansar. Mereka menikmati persetubuhannya dengan istri-istri mereka secara maksimal, baik dari arah depan, belakang, cara telentang, dan lain sebagainya. Ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah, lalu seseorang dari mereka kawin dengan seorang wanita dari kalangan Ansar. Selanjutnya si lelaki itu melakukan terhadapnya sebagaimana ia biasa melakukannya dengan berbagai macam posisi, tetapi istrinya yang Ansar itu menolak dan mengatakan, Sesungguhnya kebiasaan yang berlaku di kalangan kami, kami biasa d-datangi dari arah depan saja. Maka lakukanlah itu. Jika kamu tidak mau, menjauhlah dariku. Kemudian perihal keduanya tersebar. Akhirnya sampailah berita itu kepada Rasulullah ﷺ Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Yakni boleh dengan cara dari ‘belakang, dari depan, dan cara telentang, yang dimaksud ialah pada farjinya.

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, tetapi banyak syahid yang mempersaksikan kesahihannya, yaitu hadits-hadits yang terdahulu tadi, terlebih lagi riwayat yang dikemukakan oleh Ummu Salamah yang mirip dengan hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani melalui jalur Muhammad ibnu Ishaq, dari Aban ibnu Saleh, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ia pernah membacakan mushaf kepada Ibnu Abbas mulai dari Fatihah hingga khatam. Ia berhenti pada tiap ayat dan menanyakan maknanya kepada Ibnu Abbas, hingga sampailah pada firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Maka Ibnu Abbas berkata, Sesungguhnya kaum Quraisy biasa mendatangi istri-istrinya dengan berbagai macam posisi di Mekah dan menikmati persetubuhannya secara maksimal, lalu Ibnu Abbas menuturkan hadits ini hingga selesai.

Perkataan Ibnu Abbas yang mengutarakan bahwa Ibnu Umar semoga Allah mengampuninya telah menduga seakan-akan ini mengisyaratkan kepada apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Yaitu telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar apabila membaca Al-Qur’an tidak pernah berbicara sebelum merampungkannya. Maka pada suatu hari aku memohon kepadanya untuk membacakannya, lalu ia membaca surah Al-Baqarah. Dan ketika bacaannya sampai pada suatu ayat, ia berkata, Tahukah kamu, berkaitan dengan masalah apakah ayat ini diturunkan? Aku menjawab, Tidak. Ibnu Umar berkata, Ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah anu dan anu, lalu ia melanjutkan bacaannya.

Abdus Samad mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya: Maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagai-mana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Ibnu Umar mengatakan, yang dimaksud ialah bila si istri didatanginya dari … (dan seterusnya). Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ditinjau dari segi ini hanya dia sendirilah yang mengetengahkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Nafi’ yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia membaca firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Ibnu Umar bertanya, Tahukah kamu berkenaan dengan masalah apakah ayat ini diturunkan? Nafi’ menjawab, Tidak. Ibnu Umar berkata, Ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah mendatangi wanita pada liang anusnya.

Telah menceritakan kepadaku Abu Qilabah, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Abdul Waris, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya: Maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagai-mana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223) Ibnu Umar mengatakan, yang dimaksud ialah pada liang anusnya. Telah diriwayatkan pula melalui hadits Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, tetapi tidak sahih.

Imam Nasai meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, dari Abu Bakar ibnu Abu Uwais, dari Sulaiman ibnu Bilal, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang lelaki mendatangi istrinya pada liang anusnya, lalu ia merasa sangat bersalah akibat perbuatannya itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki. (Al-Baqarah: 223)

Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa sekiranya hadits ini berada pada Zaid ibnu Aslam, dari Ibnu Umar, niscaya orang-orang tidak akan menilai lemah hadits Nafi’. Pendapat ini merupakan ta’lil (komentar) dari Imam Nasai terhadap hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abdullah ibnu Nafi’, dari Dawud ibnu Qais, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasart dari Ibnu Umar, lalu ia mengetengahkan hadits ini.

Hadits ini (yang mengatakan mendatangi istri dari belakang pada liang anusnya) dapat ditakwilkan seperti pengertian terdahulu, yaitu mendatangi istri dari belakang pada farjinya, bukan pada liang anusnya.

Pengertian ini berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Ali ibnu Usman An-Nafili, dari Sa’id ibnu Isa, dari Al-Fadl ibnu Fudalah, dari Abdullah ibnu Sulaiman At-Tawil, dari Ka’b ibnu Alqamah, dari Abun Nadr yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Nafi’ maula Ibnu Umar, Sesungguhnya banyak orang yang membicarakan perihalmu, bahwa kamu pernah mengatakan dari Ibnu Umar bahwa sesungguhnya Ibnu Umar pernah memfatwakan kaum wanita boleh didatangi pada liang anusnya. Nafi’ berkata, Mereka berdusta kepadaku, sekarang akan aku ceritakan kepadamu bagaimana duduk perkaranya. Sesungguhnya Ibnu Umar pada suatu hari membaca Al-Qur’an, sedangkan aku berada di sisinya, hingga bacaannya sampai pada firman-Nya: ‘Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu bagaimana saja kalian kehendaki’ (Al-Baqarah: 223). Lalu Ibnu Umar berkata, ‘Hai Nafi’, tahukah kamu perkara yang menyangkut ayat ini?’ Nafi’ menjawab, Tidak.’ Ibnu Umar mengatakan, ‘Sesungguhnya kami golongan orang-orang Quraisy biasa mendatangi istri-istri kami dari arah belakang. Ketika kami memasuki Madinah dan kami nikahi wanita-wanita Ansar, lalu kami menghendaki dari mereka seperti apa yang biasa kami lakukan sebelumnya, ternyata hal tersebut menyakitkan mereka. Mereka tidak menyukainya dan menganggapnya sebagai kesalahan yang besar. Kaum wanita Ansar bersikap demikian karena mereka meniru cara orang-orang Yahudi, yaitu mereka hanya didatangi dari arah sisi (dan depannya).’ Maka Allah menurunkan firman-Nya: ‘Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat kalian bercocok tanam itu dari arah mana saja yang kalian kehendaki’ (Al-Baqarah: 223).

Bersambung: Mendatangi Wanita pada Liang Anusnya

Hadits ini berpredikat sahih. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih, dari At-Tabrani, dari Al-Husain ibnu Ishaq, dari Zakaria ibnu Yahya Katib Al-Umra, dari Mifdal ibnu Fudalah, dari Abdullah ibnu Ayyasy, dari Ka’b ibnu Alqamah, lalu ia mengetengahkan hadits ini.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari: Tafsir Ibnu katsir

Berita sebelumyaMendatangi Wanita pada Liang Anusnya
Berita berikutnyaIstri-istrimu Adalah Ladang Bagimu