Hukum-hukum yang Terkait dengan ‘iddah

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 234

0
289

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 234. Menerangkan tentang hukum-hukum yang terkait dengan ‘iddah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tidak ada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah : 234)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ladzīna yutawaffauna mingkum (dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian), yakni laki-laki yang meninggal di antara kalian.

Wa yadzarūna azwājan (serta meninggalkan istri-istri) sesudah kematiannya.

Yatarabbash-na ([hendaklah para istri itu] menangguhkan), yakni menunggu.

Bi aηfusihinna (diri mereka), yakni pada masa ‘iddah.

Arba‘ata asyhuriw wa ‘asyran fa idzā balaghna ajalahunna (empat bulan sepuluh hari kemudian bila mereka sampai pada batas waktu mereka), yakni apabila masa ‘iddah mereka sudah habis.

Fa lā junāha ‘alaikum (maka tiada dosa bagi kalian), yakni bagi para wali si mayat, ketika membiarkan mereka.

Fī mā fa‘alna fī aηfusihinna (ihwal apa yang mereka lakukan atas diri mereka), yakni berhias.

Bil ma‘rūf (dengan cara yang makruf), yakni untuk menikah (lagi).

Wallāhu bimā ta‘malūna khabīr (dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian perbuat), baik kebaikan maupun keburukan.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu (ber’iddah)[8] empat bulan sepuluh hari[9]. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tidak ada dosa bagimu (para wali)[10] membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[11] menurut cara yang patut[12]. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan[13].

[8] Yaitu dengan tidak keluar dari rumah suaminya, tidak berhias dan tidak menikah. Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya si istri berihdad (berkabung) selama masa ‘iddah karena ditinggal wafat suaminya, tidak karena perceraian dan perpisahan lainnya.

[9] Keumuman ini ditakhshis dengan hamil, yakni wanita yang ditinggal wafat suaminya, jika ia hamil, maka ‘iddahnya sampai melahirkan. Menjalani masa ‘iddah selama empat bulan sepuluh hari adalah bagi wanita merdeka, adapun bagi wanita budak, maka ‘iddahnya separuhnya, yaitu dua bulan lima hari.

[10] Ayat ini menunjukkan bahwa hendaknya wali memperhatikan urusan si wanita, melarangnya dari mengerjakan perbuatan yang dilarang dan menekannya untuk menjalankan perbuatan yang wajib dilakukan serta membiarkan perkara yang dibolehkan oleh syari’at.

[11] Berhias, bepergian atau menerima pinangan.

[12] Sesuai syari’at; atau tidak haram dan tidak makruh.

[13] Dia mengetahui amalan yang kamu kerjakan baik nampak maupun tersembunyi, jelas maupun samar dan Dia akan memberikan balasan terhadapnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang wafat) atau meninggal dunia (di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri, maka mereka menangguhkan), artinya hendaklah para istri itu menahan (diri mereka) untuk kawin setelah suami mereka yang meninggal itu (selama empat bulan dan sepuluh), maksudnya hari. Ini adalah mengenai wanita-wanita yang tidak hamil. Mengenai yang hamil, maka ‘iddah mereka sampai melahirkan kandungannya berdatsarkan ayat At-Thalaq, sedangkan bagi wanita budak adalah setengah dari yang demikian itu, menurut hadits. (Apabila waktu mereka telah sampai), artinya habis masa ‘iddahnya, (mereka tiada dosa bagi kamu) hai para wali (membiarkan mereka berbuat pada diri mereka), misalnya bersolek dan menyiapkan diri untuk menerima pinangan (secara baik-baik), yakni menurut agama. (Dan Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu lakukan), baik yang lahir maupun yang batin.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Hal ini merupakan perintah dari Allah yang ditujukan kepada wanita-wanita yang ditinggal mati oleh suami mereka, yaitu mereka harus melakukan ‘iddahnya selama empat bulan sepuluh hari. Hukum ini mengenai pula pada istri-istri yang telah digauli oleh suaminya, juga istri-istri yang belum sempat digauli suaminya. Demikianlah menurut kesepakatan para ulama. Dalil yang dijadikan sandaran bagi wanita yang masih belum digauli ialah makna umum yang terkandung di dalam ayat ini. Hadits berikut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para pemilik kitab sunnah dan dinilai sahih oleh Imam Turmuzi, yaitu: Bahwa Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai masalah seorang lelaki yang mengawini seorang wanita, lalu si lelaki itu meninggal dunia sebelum sempat menggaulinya dan belum pula memastikan jumlah maskawinnya kepada istrinya itu. Lalu mereka (yang bertanya) itu bolak-balik kepada Ibnu Mas’ud berkali-kali menanyakan masalah ini. Pada akhirnya Ibnu Mas’ud berkata, Aku akan memutuskan masalah ini dengan rayu (pendapat)ku sendiri. Jika jawaban ini benar, maka dari Allah; dan jika keliru, maka dariku dan dari setan, sedangkan Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari jawaban ini. Si wanita mendapat maskawinnya dengan penuh menurut riwayat yang lain disebutkan mendapat mahar misilnya tanpa ada pengurangan dan penggelapan, dan diwajibkan atas diri si wanita melakukan ‘iddahnya, serta ia dapat mewaris (dari peninggalan suaminya). Lalu berdirilah Ma’qal ibnu Yatsar Al-Asyja’i dan mengatakan, Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ memutuskan hal yang sama terhadap Buru’ binti Wasyiq. Mendengar hal itu hati Abdullah ibnu Mas’ud sangat gembira.

Menurut riwayat yang lain disebutkan seperti berikut: Maka berdirilah orang-orang lelaki dari Bani Asyja’, lalu mereka mengatakan, Kami menyaksikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memutuskan hal yang sama terhadap Buru’ binti Wasyiq.

Tiada yang dikecualikan dari masa ‘iddah tersebut kecuali wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia dalam keadaan mengandung. Maka sesungguhnya ‘iddah yang harus dilakukannya ialah sampai ia melahirkan bayinya, sekalipun sesudah kematian suaminya selang waktu yang sebentar ia melahirkan bayinya. Dikatakan demikian karena mengingat keumuman makna firman-Nya yang mengatakan:

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (At-Talaq: 4)

Tersebutlah bahwa Ibnu Abbas berpendapat, Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya diharuskan melakukan masa ‘iddahnya selama masa yang paling panjang di antara kedua masa tersebut, yaitu antara masa melahirkan, atau empat bulan sepuluh hari. Pendapatnya ini merupakan kesimpulan gabungan dari kedua ayat di atas. Pendapat ini merupakan kesimpulan yang baik dan berdatsarkan penalaran yang kuat seandainya tidak ada apa yang telah ditetapkan oleh sunnah dalam hadits yang menceritakan kasus Subai’ah Al-Aslamiyyah. Hadits ini diketengahkah di dalam kitab Sahihain melalui berbagai jalur periwayatan.

Disebutkan bahwa suami Subai’ah (yaitu Sa’d ibnu Khaulah) meninggal dunia, sedangkan Subai’ah dalam keadaan hamil darinya. Tidak lama kemudian setelah kematian suaminya, Subai’ah melahirkan bayinya. Menurut riwayat yang lain, Subai’ah melahirkan bayinya selang beberapa malam sesudah kematian suaminya. Setelah Subai’ah bersih dari nifasnya, ia menghias diri untuk para pelamar. Maka masuklah Abus Sanabil ibnu Ba’kak menemuinya, dan langsung berkata kepadanya, Mengapa engkau kulihat menghiasi dirimu, barangkali kamu mengharapkan kawin? Demi Allah, kamu tidak boleh kawin sebelum kamu melewati masa empat bulan sepuluh hari. Subai’ah mengatakan, Setelah Abus Sanabil berkata demikian kepadaku, maka kupakai pakaianku pada petang harinya, lalu aku datang kepada Rasulullah ﷺ dan menanyakan kepadanya masalah tersebut. Maka beliau ﷺ memberikan jawabannya kepadaku, bahwa diriku telah halal untuk kawin lagi setelah aku melahirkan bayiku, dan beliau ﷺ memerintahkan kepadaku untuk kawin jika aku suka.

Abu Umar ibnu Abdul Bar mengatakan, sesungguhnya menurut suatu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Abbas meralat pendapatnya, lalu merujuk kepada hadits Subai’ah. Dikatakan demikian karena Ibnu Abbas sendiri membantah pendapat tersebut dengan berdalilkan hadits Subai’ah.

Abu Umar ibnu Abdul Bar mengatakan bahwa hal ini dibenarkan dengan adanya suatu riwayat darinya yang mengatakan bahwa semua temannya menekuni hadits Subai’ah, sama halnya dengan pendapat semua ahlul ilmi.

Dikecualikan dari makna ayat ini bilamana si istri adalah seorang budak wanita, karena sesungguhnya ‘iddah seorang budak wanita adalah separo dari ‘iddah wanita merdeka, yaitu dua bulan lima hari, seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama. Dikatakan demikian karena hukuman had yang di jalani oleh budak wanita adalah separo dari hukuman had yang di jalani oleh seorang wanita merdeka. Maka demikian pula dalam masalah ‘iddah, yaitu separo dari ‘iddah wanita merdeka.

Tetapi di kalangan ulama seperti Muhammad ibnu Sirin dan sebagian kalangan mazhab Zahiri dikatakan bahwa dalam masalah ‘iddah ini sama saja antara wanita merdeka dan budak wanita, mengingat keumuman makna ayat ini. Juga karena masalah ‘iddah merupakan masalah yang menyangkut pembawaan yang tidak mengenal adanya perbedaan antara seorang wanita dengan wanita lainnya.

Sa’id ibnul Musayyab dan Abul Aliyah serta selain keduanya mengatakan bahwa hikmah penentuan ‘iddah bagi wanita yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari, karena barangkali rahimnya telah terisi oleh kandungan. Untuk itu apabila si wanita yang bersangkutan menunggu dalam ‘iddahnya selama masa itu, bila ternyata kandungannya telah terisikan, niscaya akan tampak.

Di dalam hadits Ibnu Mas’ud yang ada pada kitab sahihain dan kitab lainnya disebutkan seperti berikut:

إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ

Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kalian dihimpun di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, lalu menjadi ‘alaqah dalam masa yang sama (empat puluh hari), kemudian beralih menjadi segumpal daging dalam masa yang sama, kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu malaikat itu meniupkan roh ke dalam tubuhnya.

Ketiga empat puluh hari ini sama bilangannya dengan empat bulan, adapun sepuluh hari yang sesudahnya merupakan masa cadangan karena adakalanya bilangan sebagian bulan itu ada yang kurang genap. Sesudah peniupan roh ke dalam janin, maka janin mulai bergerak menunjukkan tanda kehidupan.

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah yang pernah bertanya kepada Sa’id ibnul Musayyab, Untuk apakah yang sepuluh hari itu? Sa’id ibnul Musayyab menjawab, Di masa itu dilakukan tiupan roh ke dalam tubuh janin.

Ar-Rabi’ ibnu Anas pernah mengatakan, Aku pernah bertanya kepada Abul Aliyah, ‘Mengapa sepuluh hari ini ditambahkan kepada empat bulan?’ Abul Aliyah menjawab, ‘Karena digunakan untuk peniupan roh ke dalam tubuh janin’. Kedua atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Berangkat dari atsar ini Imam Ahmad berpendapat di dalam suatu riwayat yang bersumber darinya, bahwa ‘iddah seorang ummul walad (budak perempuan yang mempunyai anak dari hasil tuannya) sama dengan ‘iddah wanita merdeka dalam masalah ini, karena ia telah berubah status menjadi firasy (hamparan atau pendamping suaminya), sama halnya dengan wanita merdeka. Juga karena berdatsarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: dari Yazid ibnu Harun, dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Raja ibnu Haywah, dari Qubaisah ibnu Zuaib, dari Amr ibnul As yang mengatakan: Janganlah kalian mengaburkan sunnah Nabi kita kepada kita; ‘iddah ummul walad apabila ditinggal mati oleh tuannya ialah empat bulan sepuluh hari.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud, dari Qutaibah, dari Gundar, dari Ibnul Musanna ibnu Abdul A’la, sedangkan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dari Ali ibnu Muhammad, dari Ar-Rabi’; ketiga-tiganya menerima hadits ini dari Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Matar Al-Wariq, dari Raja ibnu Haywah, dari Qubaisah, dari Amr ibnul As yang menceritakan hadits ini.

Sesungguhnya menurut suatu riwayat yang bersumber dari Imam Ahmad, disebutkan bahwa ia mengingkari hadits ini.

Menurut suatu pendapat, Qubaisah belum pernah mendengar dari Amr. Akan tetapi, ada segolongan ulama Salaf yang berpegang kepada hadits ini, di antaranya ialah Sa’id ibnul Musayyab, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Abu Iyad, Az-Zuhri, dan Umar ibnu Abdul Aziz. Hal ini pula yang dianjurkan oleh Yazid ibnu Abdul Malik ibnu Marwan ketika ia menjabat sebagai Amirul Muminin. Hal ini pula yang dikatakan oleh Al-Auza’i, Ishaq ibnu Rahawaih, dan Imam Ahmad ibnu Hambal dalam salah satu riwayat darinya.

Sedangkan Tawus dan Qatadah mengatakan bahwa ‘iddah ummul walad apabila ditinggal mati oleh tuannya adalah setengah dari ‘iddah wanita merdeka, yaitu dua bulan lima hari.

Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta As-Sauri dan Al-Hasan ibnu Saleh ibnu Huyay mengatakan bahwa ummul walad melakukan ‘iddahnya dengan tiga kali haid. Pendapat ini berasal dari Ali radiyallahu ‘anhu, Ibnu Mas’ud, Ata, dan Ibrahim An-Nakha’i.

Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad menurut riwayat yang terkenal darinya mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah sekali haid. Pendapat inilah yang dikatakan oleh Ibnu Umar, Asy-Sya’bi, Makhul, Al-Lais, Abu Ubaid, dan Abu Saur serta jumhur ulama.

Al-Lais mengatakan, Seandainya suami ummul walad meninggal dunia, sedangkan dia dalam keadaan berhaid, maka haidnya itu sudah cukup untuk ‘iddahnya.

Imam Malik mengatakan, Seandainya ummul walad dari kalangan wanita yang tidak berhaid, maka ‘iddahnya adalah tiga bulan.

Imam Syafii dan jumhur ulama mengatakan, Hal yang paling aku sukai ialah bila ummul walad menjalani ‘iddahnya selama satu bulan tiga hari.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagi kalian (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. (Al-Baqarah: 234)

Dari makna ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa wajib hukumnya ihdad (berbelasungkawa) bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya selama ia menjalani masa ‘iddahnya, karena ada sebuah hadits di dalam kitab Sahihain yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy Ummul Muminin, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِالْلَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ، إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian melakukan ihdad (belasungkawa)nya atas mayat lebih dari tiga hari; kecuali bila yang meninggal adalah suaminya, maka selama empat bulan sepuluh hari.

Di dalam kitab Sahihain pula disebutkan sebuah hadits dari Ummu Salamah radiyallahu ‘anhu:

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَتِي تُوَفِّي عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنُهَا أَفَنَكْحُلُهَا؟ فَقَالَ لَا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ- لَا- مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا هِيَ أربعة أشهر وعشر، وقد كانت إحداكم فِي الْجَاهِلِيَّةِ تَمْكُثُ سَنَةً

Bahwa ada seorang wanita bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya, sedangkan matanya mengalami gangguan penyakit, bolehkah kami mencelakinya (mengobatinya dengan celak mata)? Nabi ﷺ menjawab, Tidak, semua pertanyaan beliau jawab dengan tidak sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau ﷺ bersabda, Sesungguhnya ‘iddah yang harus di jalaninya adalah empat bulan sepuluh hari. Sesungguhnya seseorang di antara kalian di masa Jahiliah menjalani ‘iddahnya selama satu tahun.

Zainab binti Ummu Salamah mengatakan bahwa dahulu bila seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya (yakni di masa Jahiliah), maka wanita itu memasuki sebuah namah gubuk, lalu memakai pakaiannya yang paling buruk; tiada wewangian dan tiada lainnya yang ia pakai selama satu tahun. Setelah lewat satu tahun ia keluar dari gubuk itu dan diberi kotoran unta, lalu ia melempar kotoran itu. Kemudian diberikan kepadanya seekor hewan, yaitu keledai atau kambing atau burung, lalu ia mengusapkan tubuhnya ke hewan tersebut. Maka jarang sekali hewan yang diusapnya dapat bertahan hidup melainkan kebanyakan mati (karena baunya yang sangat busuk).

Dari kesimpulan makna ayat ini banyak ulama berpendapat bahwa ayat ini me-nasakh ayat sesudahnya, yaitu firman-Nya:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah. (Al-Baqarah: 240), hingga akhir ayat.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Akan tetapi, hal ini masih perlu dipertimbangkan, sebagaimana yang akan diterangkan kemudian dalam pembahasannya.

Yang dimaksud dengan istilah ihdad ialah meninggalkan perhiasan berupa wewangian dan tidak memakai pakaian yang mendorongnya untuk bergairah kawin lagi, seperti pakaian dan perhiasan serta lain-lainnya. Hal ini hukumnya wajib bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, tanpa ada yang memperselisihkannya. Tetapi sebaliknya, hal ini tidak wajib bagi wanita yang berada dalam ‘iddah talak raji’.

Akan tetapi, apakah ber-ihdad hukumnya wajib bagi wanita yang ditalak ba-in? Sehubungan dengan masalah ini ada dua pendapat.

Ber-ihdad hukumnya wajib bagi semua istri yang ditinggal oleh suami-suami mereka, baik yang masih kecil, wanita yang tidak ber-haid, wanita merdeka, maupun budak wanita yang muslimah dan yang kafir, mengingat keumuman makna ayat.

As-Sauri dan Imam Abu Hanifah beserta semua temannya mengatakan tidak ada ihdad atas wanita kafir. Hal yang sama dikatakan pula oleh Asyhab dan Ibnu Nafi’ dari kalangan teman-teman Imam Malik. Hujah yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian melakukan ihdad atas meninggalnya seseorang lebih dari tiga hari; kecuali bila ditinggal mati suaminya, maka empat bulan sepuluh hari. Mereka mengatakan bahwa hal ini merupakan masalah ta’abbud.

Imam Abu Hanifah dan teman-temannya serta As-Sauri memasukkan ke dalam pengertian ini istri yang masih kecil yang belum terkena taklif. Imam Abu Hanifah serta teman-temannya memasukkan ke dalam pengertian ini budak wanita muslimah yang tidak memiliki kemerdekaan (mengingat masalah ‘iddah adalah masalah ta’abbud). Pembahasan mengenai masalah ini secara rinci terdapat di dalam kitab-kitab yang membahas masalah hukurn dan cabang-cabangnya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ

Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya. (Al-Baqarah: 234)

Yakni masa ‘iddahnya telah habis, menurut Ad-Dahhak dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Maka tidak ada dosa bagi kalian. (Al-Baqarah: 234)

Yaitu bagi para walinya, menurut Az-Zuhri.

Membiarkan mereka berbuat. (Al-Baqarah: 234)

Maksudnya, membiarkan wanita-wanita yang telah menghabiskan masa ‘iddahnya. Al-Wunni meriwayatkan dari Ibnu Abbas, apabila seorang istri diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya, bila ia telah menghabiskan masa ‘iddahnya, maka tidak dosa atas dirinya untuk menghias diri dan mempercantik diri serta menawarkan diri untuk dikawini. Pengertian ini sudah dimaklumi. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Muqatil ibnu Hayyan.

Ayat berikutnya: Meminang Wanita dengan Sindiran

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: maka tiada dosa bagi kalian (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. (Al-Baqarah: 234) Makna yang dimaksud ialah untuk nikah yang halal lagi baik.

Telah diriwayatkan hal yang semisal dari Al-Hasan, Az-Zuhri, dan As-Saddi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakMeminang Wanita dengan Sindiran
Artikulli tjetërTerkait dengan Penyusuan dan Nafkah