Ujian kepada tentara Thalut

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 249

0
147

Kajian Tafsir: Surah Al-Baqarah ayat 249. Ujian kepada tentara Thalut dengan sungai yang mereka lewati, menangnya mereka meskipun sedikit terhadap Jalut dan tentaranya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka ketika Thalut keluar membawa bala tentaranya, dia berkata, Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum airnya, dia bukanlah pengikutku. Dan Barang siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.  (Q.S. Al-Baqarah : 249)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lammā fashala thālūtu bil junūdi (maka tatkala Thalut keluar membawa pasukan), lalu berjalan bersama pasukannya di suatu negeri yang gersang. Di sana mereka merasa kepanasan dan kehausan yang amat sangat, sehingga mereka pun meminta air kepada Thalut.

Qāla (dia berkata), yakni Thalut berkata kepada mereka.

Innallāha mubtalīkum bi naharin (Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai), yakni akan memberi cobaan kepada kalian dengan sebuah sungai.

Fa maη syariba minhu (maka siapa saja di antara kalian yang meminum darinya), yakni dari sungai itu.

Fa laisa minnī (bukanlah ia pengikutku), yakni tidak akan bisa tetap bersamaku untuk menyerang musuh serta tidak akan dapat melewati sungai itu.

Wa mal lam yath‘amhu (dan barangsiapa tidak mencicipinya), yakni tidak meminum (air) sungai itu.

Fa innahū minnī (maka sesungguhnya ia adalah pengikutku) untuk melawan musuhku. Lalu Thalut membuat pengecualian seraya berkata ….

Illā manightarafa ghurfatam bi yadihī (kecuali orang yang menciduk seciduk tangan). Seciduk air itu cukup untuk minum mereka, kendaraan mereka, dan binatang pengangkut mereka.

Fa syaribū minhu (namun, mereka meminumnya), yakni ketika mereka tiba di sungai itu, mereka pun berdiri di pinggirnya seraya meminum airnya semau mereka.

Illā qalīlam minhum (kecuali sedikit di antara mereka), yaitu tiga ratus tiga belas orang. Mereka hanya minum sebagaimana petunjuk Allah Ta‘ala.

Fa lammā jāwazahū (maka tatkala telah menyeberanginya), yakni menyeberangi sungai itu.

Huwa (dia), yaitu Thalut.

Wal ladzīna āmanū (dan orang-orang yang beriman), yakni orang-orang yang membenarkan (Perintah Allah).

Ma‘ahū qālū (bersamanya, mereka pun [orang-orang yang minum sepuasnya] berkata) di antara mereka sendiri.

Lā thāqata lanāl yauma bi jālūta wa junūdihī qālal ladzīna yazhunnūna (Kita tidak memiliki kesanggupan pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Berkatalah orang-orang yang meyakini), yakni orang-orang yang mengetahui dan meyakini.

Annahum mulāqullāhi (bahwa mereka akan menemui Allah), yakni akan melihat Allah Ta‘ala dengan mata kepala sendiri setelah mati.

Kam miη fi-ating qalīlatin (Berapa banyak golongan yang sedikit), yakni sekelompok kecil orang-orang beriman.

Ghalabat fi-atan (mengalahkan golongan), yakni kelompok.

Katsīratan (yang banyak) dari orang-orang kafir.

Bi idznillāhi (dengan izin Allah), yakni dengan pertolongan Allah Ta‘ala.

Wallāhu ma‘ash shābirīn (dan Allah beserta orang-orang yang sabar), yakni membantu orang-orang yang sabar dalam peperangan dengan pertolongan.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka ketika Thalut keluar membawa bala tentaranya[13], dia berkata, Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai[14]. Maka barang siapa meminum airnya, dia bukanlah pengikutku[15]. Dan Barang siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka[16]. Ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah[17]. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar[18].

[13] Yakni keluar dari Baitul Maqdis dengan jumlah pasukan yang sangat besar, dan ketika itu cuaca sangat panas, mereka memerlukan air.

[14] Agar nampak jelas siapa yang taat dan siapa yang tidak taat. Sungai tersebut berada antara Yordania dan Palestina.

[15] Karena dia telah melanggar dan menunjukkan lemahnya kesabaran, keteguhan dan mudah melanggar.

[16] Sekitar tiga ratus orang lebih.

[17] Oleh karena itu, orang yang mulia adalah orang yang dimuliakan Allah dan orang yang hina adalah orang yang dihinakan Allah. Banyaknya pasukan tidaklah berguna apa-apa jika tidak mendapat pertolongan Allah, dan pasukan kecil meskipun sedikit dapat menang jika mendapat pertolongan-Nya.

[18] Dengan memberikan taufiq, pertolongan dan memberikan balasan terbaik. BerdAsarkan ayat ini, cara mendatangkan pertolongan Allah adalah dengan kesabaran.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tatkala keluar) artinya berangkat (Thalut bersama tentaranya) dari Baitul Maqdis, sedang ketika itu hari amat panas hingga mereka meminta kepadanya agar diberi air, (maka jawabnya, Sesungguhnya Allah akan mencoba kamu) atau menguji kamu (dengan sebuah sungai) terletak antara Yordania dan Palestina, agar jelas siapa di antara kamu yang taat dan siapa pula yang durhaka. Maka barang siapa di antara kamu (meminumnya), maksudnya meminum airnya (maka tidaklah ia dari golonganku) bukan pengikut-pengikutku. (Barang siapa yang tidak merasainya) artinya tidak meminumnya, (kecuali orang yang hanya meneguk satu tegukan saja, maka ia adalah pengikutku) ‘ghurfah’ dengan baris di atas atau di depan (dengan tangannya) mencukupkan dengan sebanyak itu dan tidak menambahnya lagi, maka ia termasuk golonganku. (Maka mereka meminumnya) banyak-banyak ketika bertemu dengan anak sungai itu, (kecuali beberapa orang di antara mereka). Mereka ini mencukupkan satu tegukan tangan mereka, yakni untuk mereka minum dan untuk hewan-hewan mereka. Jumlah mereka tiga ratus dan beberapa belas orang (Tatkala ia telah melewati anak sungai itu, yakni Thalut dengan orang-orang yang beriman bersamanya) yakni mereka yang mencukupkan satu tegukan (mereka pun berkata) maksudnya yang minum secara banyak tadi, (Tak ada kesanggupan) atau daya dan kekuatan (kami sekarang ini untuk menghadapi Jalut dan tentaranya) maksudnya untuk berperang dengan mereka. Mereka jadi pengecut dan tidak jadi menyeberangi sungai itu. (Berkatalah orang-orang yang menyangka), artinya meyakini (bahwa mereka akan menemui Allah), yakni di hari berbangkit, mereka itulah yang berhasil menyeberangi sungai: (Berapa banyaknya), artinya amat banyak terjadi (golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah) serta kehendak-Nya (Dan Allah beserta orang-orang yang sabar) dengan bantuan dan pertolongan-Nya.
Daftar Isi Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-2

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat ini Allah menceritakan perihal Thalut Raja kaum Bani Israil ketika keluar bersama bala tentaranya dan orang-orang yang taat kepadanya dari kalangan kaum Bani Israil. Menurut apa yang dikatakan oleh As-Saddi, jumlah mereka ada delapan puluh ribu orang tentara. Thalut berkata kepada mereka yang disitir oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai, (Al-Baqarah: 249)

Yakni Allah akan menguji kesetiaan kalian dengan sebuah sungai. Menurut Ibnu Abbas, sungai tersebut terletak di antara negeri Yordania dan negeri Palestina, yaitu sebuah sungai yang dikenal dengan nama Syari’ah.

Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. (Al-Baqarah: 249)

Artinya, janganlah ia menemaniku sejak hari ini menuju ke arah ini.

Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku. (Al-Baqarah: 249)

Yakni tidak mengapa baginya.

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. (Al-Baqarah: 249)

Ibnu Juraij mengatakan, Menurut Ibnu Abbas, barang siapa yang mencedok air dari sungai itu dengan secedok tangannya, maka ia akan kenyang; dan barang siapa yang meminumnya, maka ia tidak kenyang dan tetap dahaga.

Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, dari Abu Malik,dari Ibnu Abbas; dikatakan pula oleh Qatadah dan Ibnu Syauzab.

As-Saddi mengatakan bahwa jumlah pasukan Thalut terdiri atas delapan puluh ribu orang tentara. Yang meminum air sungai itu adalah tujuh puluh enam ribu orang, sehingga yang tersisa hanyalah empat ribu orang.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Israil dan Sufyan As-Sauri serta Mis’ar ibnu Kidam, dari Abu Ishaq As-Subai’i, dari Al-Barra ibnu Azib yang menceritakan bahwa kami menceritakan sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang ikut dalam Perang Badar adalah tiga ratus lebih belasan orang, sesuai dengan jumlah sahabat Thalut yang ikut bersamanya menyeberangi sungai. Tiada yang menyeberangi sungai itu bersama Thalut melainkan hanya orang yang mukmin.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hal yang semisal dari Abdullah ibnu Raja, dari Israil ibnu Yunus, dari Abu Ishaq, dari kakeknya, dari Al-Barra.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. (Al-Baqarah: 249)

Ayat berikutnya: Doa Pasukan Thalut Ketika Melihat Musuh

Yakni mereka mengundurkan dirinya, tidak mau menghadapi musuh karena jumlah musuh itu jauh lebih banyak. Maka para ulama dan orang-orang yang ahli perang membangkitkan semangat mereka, bahwa janji Allah itu benar, dan sesungguhnya kemenangan itu dari sisi Allah, bukan karena banyaknya bilangan, bukan pula karena perlengkapan senjata. Karena itulah disebutkan di dalam firman selanjutnya:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 249)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakDoa Pasukan Thalut Ketika Melihat Musuh
Artikulli tjetërTanda Kerajaan Thalut Ialah Kembalinya Tabut