Kursi-Nya Meliputi Langit dan Bumi

Surah Al-Baqarah ayat 255

0
44

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 255. Ayat kursi, di sana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyifati Diri-Nya dengan sifat kesempurnaan dan menyucikan Diri-Nya dari segala sifat kekurangan; Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Maha yang hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah : 255)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Wasi‘a kursiyyuhus samāwāti wal ardla (Kursi Allah meliputi langit dan bumi), maksudnya Kursi Allah lebih luas dari seluruh langit dan bumi.

Wa lā ya-ūduhū hifzhuhumā (dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya), yakni tidak merasa berat menjaga Arasy dan Kursi meski tanpa malaikat.

Wa huwal ‘aliyyu (dan Dia Maha Tinggi) dan lebih luhur dari segala sesuatu.

Al‘azhīm (lagi Maha Besar) dan lebih agung dari segala sesuatu.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Kursi-Nya[17] meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi[18] lagi Maha Besar[19].

[17] Ibnu Abbas mengartikan kursi dengan, Tempat Allah meletakkan kedua kaki-Nya- dan tidak ada yang mengetahui kaifiyat(bagaimana)nya selain Dia. Hal ini menunjukkan sempurnanya keagungan Allah dan luasnya kekuasaan-Nya; kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Kursi bukanlah makhluk Allah yang terbesar, bahkan di sana masih ada lagi yang lebih besar, yaitu ‘Arsy, di mana tidak ada yang mengetahui besarnya selain Dia. Jika makhluk-Nya sudah sedemikian besarnya, lalu bagaimana dengan Penciptanya, yaitu Allah, yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap tanpa lelah, Allahu akbar.

[18] Allah Maha Tinggi zat-Nya di atas ‘arsyi-Nya, Maha Tinggi dengan kekuasaan-Nya di atas semua makhluk dan Maha Tinggi kedudukan-Nya karena sempurna sifat-Nya.

[19] Dia Maha Besar, di mana semua pembesar dan raja kecil di hadapan-Nya. Maha Suci Allah yang memiliki keagungan yang besar, keperkasaan dan mampu mengalahkan segala sesuatu.

Ayat kursi ini mengandung beberapa hal, di antaranya:

  • Tauhid uluhiyyah (keberhakan Allah untuk diibadati), tauhid rububiyyah (Allah Pengurus alam semesta), dan mengandung tauhid asma’ wa shifat (nama-nama Allah dan sifat-Nya).
  • Kerajaan Allah, ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu.
  • Kebesaran, keagungan dan ketinggian-Nya di atas semua makhluk-Nya.
  • Mengandung ‘aqidah tentang asma wa shifat.
Sebelumnya: Firman-Nya: Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur

Tafsir Jalalain

  1. … (Kursinya meliputi langit dan bumi) ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah ilmu-Nya, ada pula yang mengatakan kekuasaan-Nya, dan ada pula Kursi itu sendiri yang mencakup langit dan bumi, karena kebesaran-Nya, berdasarkan sebuah hadits, Tidaklah langit yang tujuh pada kursi itu, kecuali seperti tujuh buah uang dirham yang dicampakkan ke dalam sebuah pasukan besar (Dan tidaklah berat bagi-Nya memelihara keduanya), artinya memelihara langit dan bumi itu (dan Dia Maha Tinggi) sehingga menguasai semua makhluk-Nya, (lagi Maha Besar).
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. (Al-Baqarah: 255)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dari Mutarrif, dari Tarif, dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini. Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan ‘Kursi-Nya’ ialah ilmu-Nya.

Hal yang sama telah diriwayatkan Ibnu Jarir melalui hadits Abdullah ibnu Idris dan Hasyim, keduanya dari Mutarrif ibnu Tarif dengan lafaz yang sama. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan pula dari Sa’id ibnu Jubair hal yang semisal.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, Yang dimaksud dengan Kursi ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya). Kemudian ia meriwayatkannya dari Abu Musa, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan Muslim Al-Batin.

Syuja’ ibnu Makhlad mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, dari Sufyan, dari Ammar Az-Zahabi, dari Muslim Al-Batin, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Kursi Allah meliputi langit dan bumi. (Al-Baqarah: 255) Maka beliau ﷺ menjawab:

كُرْسِيُّهُ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Kursi Allah ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya), sedangkan Arasy tiada yang dapat menaksir luasnya kecuali hanya Allah Subhaanahu wa Ta’aala sendiri.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadits ini melalui jalur Syuja’ ibnu Makhlad Al-Fallas yang menceritakan hadits ini, tetapi ke-marfu’-an hadits ini adalah suatu kekeliruan. Karena Waki’ meriwayatkannya pula di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ammar Az-Zahabi, dari Muslim Al-Batin, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Kursi adalah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan)-Nya; dan Arasy, tidak ada seorang pun yang dapat menaksir luasnya.

Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, dari Abul Abbas (yaitu Muhammad ibnu Ahmad Al-Mahbubi), dari Muhammad ibnu Mu’az, dari Abu Asim, dari Sufyan (yaitu As-Sauri) berikut sanadnya, dari Ibnu Abbas, tetapi mauquf sampai kepada Ibnu Abbas saja (dan tidak marfu’ sampai kepada Nabi ﷺ). Selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkan asar ini.

Ibnu Murdawaih meriwayakan pula melalui jalur Al-Hakim ibnu Zahir Al-Fazzari Al-Kufi yang dikenal haditsnya tak terpakai, dari As-Saddi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfu’, tetapi tidak sahih predikatnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Abu Malik bahwa Kursi terletak di bawah Arasy.

As-Saddi sendiri mengatakan bahwa langit dan bumi berada di dalam Kursi, sedangkan Kursi berada di hadapan Arasy.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Seandainya langit dan bumi yang masing-masingnya terdiri atas tujuh lapis dihamparkan, kemudian satu sama lainnya disambungkan, maka semuanya itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan luasnya Kursi, melainkan hanya seperti suatu halqah (sekerumunan manusia) yang berada di tengah-tengah padang pasir.

Hal ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, bahwa Ibnu Zaid pernah mengatakan, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

ما السموات السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ

Tiadalah langit yang tujuh (bila) diletakkan di dalam Kursi, melainkan seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas sebuah tameng.

Disebutkan pula, Abu Zar radiyallahu ‘anhu pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

مَا الْكُرْسِيُّ فِي الْعَرْشِ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ أُلْقِيَتْ بَيْنَ ظَهْرَيْ فَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ

Tiadalah Kursi itu (bila) diletakkan di dalam Arasy melainkan seperti sebuah halqah (lingkaran) besi yang dilemparkan di tengah-tengah sebuah padang pasir dari bumi.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan:

أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وُهَيْبٍ الغزي أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيّ الْعَسْقَلَانِيُّ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ  التَّمِيمِيُّ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانَيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ، أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكُرْسِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: والذي نفسي بيده ما السموات السَّبْعُ وَالْأَرْضُونَ السَّبْعُ عِنْدَ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wuhaib Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abul Yusri Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah At-Tamimi, dari Al-Qasim ibnu Muhammad As-Saqafi, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar Al-Gifari, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Kursi. Maka beliau ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiadalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh lapis bila diletakkan pada Kursi melainkan seperti sebuah lingkaran (besi) yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir. Dan sesungguhnya keutamaan Arasy atas Kursi sama dengan keutamaan padang pasir atas lingkaran itu.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab Musnad-nya:

حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي بُكَيْر حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلِيفَةَ عَنْ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتِ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ. قَالَ: فَعَظَّمَ الرَّبَّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَالَ: إن كرسيه وسع السموات وَالْأَرْضَ وَإِنَّ لَهُ أَطِيطًا كَأَطِيطِ الرَّحل الْجَدِيدِ مِنْ ثِقَلِهِ

Telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Khalifah, dari Umar radiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa ada seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, Doakanlah kepada Allah, semoga Dia memasukkan diriku ke dalam surga. Sahabat Umar melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi ﷺ menyebutkan asma Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi, lalu bersabda: Sesungguhnya Kursi Allah meliputi semua langit dan bumi, dan sesungguhnya Kursi Allah mengeluarkan suara seperti suara pelana besi karena beratnya.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya yang terkenal, juga Abdu Humaid serta Ibnu Jarir di dalam kitab tafsir masing-masing, Imam Tabrani dan Ibnu Abu Asim di dalam kitab sunnah masing-masing; Al-Hafiz Ad-Diya di dalam kitabnya yang berjudul Al-Mukhtar melalui hadits Ishaq As-Subai’i, dari Abdullah ibnu Khalifah. Akan tetapi, hal tersebut tidak menjamin hadits ini menjadi masyhur, sedangkan mengenai mendengarnya Abdullah ibnu Khalifah dari sahabat Umar masih perlu dipertimbangkan.

Kemudian di antara mereka ada orang yang meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Khalifah, dari Umar radiyallahu ‘anhu secara mauquf (hanya sampai pada dia). Di antara mereka ada yang meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Khalifah secara mursal. Ada yang menambahkan pada matannya dengan tambahan yang garib (aneh), dan ada pula yang membuangnya. Hal yang lebih aneh daripada kisah di atas ialah hadits yang diceritakan oleh Jabir ibnu Mut’im mengenai sifat (gambaran) Arasy, seperti hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud di dalam kitab sunnahnya.

Ibnu Murdawaih dan lain-lainnya meriwayatkan banyak hadits dari Buraidah, Jabir, dan selain keduanya yang isinya mengisahkan bahwa kelak di hari kiamat Kursi akan diletakkan untuk menyelesaikan masalah peradilan. Tetapi menurut makna lahiriahnya, hal tersebut tidak disebut di dalam ayat ini (Al-Baqarah: 255).

Sebagian ahli ilmu filsafat mengenai astrologi dari kalangan orang-orang Islam mengatakan bahwa Kursi menurut mereka adalah falak yang jumlahnya ada delapan, yaitu falak yang bersifat tetap; di atasnya terdapat falak lain yang kesembilan, yaitu falak asir yang dikenal dengan sebutan atlas. Akan tetapi, pendapat mereka di-sanggah oleh golongan yang lain.

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui jalur Juwaibir, dari Al-Hasan Al-Basri, ia pernah mengatakan bahwa Kursi adalah Arasy. Tetapi menurut pendapat yang benar, Kursi itu lain dengan Arasy; Arasy jauh lebih besar daripada Kursi, seperti yang ditunjukkan oleh banyak asar dan hadits. Dalam hal ini Ibnu Jarir berpegang kepada hadits Abdullah ibnu Khalifah, dari Umar. Menurut kami, kesahihan asar tersebut masih perlu dipertimbangkan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya.   (Al-Baqarah: 255)

Maksudnya, tidak memberatkan-Nya dan tidak mengganggu-Nya sama sekali memelihara langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya, bahkan hal tersebut mudah dan sangat ringan bagi-Nya. Dialah yang mengatur semua jiwa beserta semua apa yang diperbuatnya, Dialah yang mengawasi segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari-Nya, dan tiada sesuatu pun yang gaib bagi-Nya. Segala sesuatu seluruhnya hina di hadapan-Nya dalam keadaan tunduk dan patuh bila dibandingkan dengan-Nya, lagi berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji, Maha melakukan semua yang dikehendaki-Nya, tidak dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dilakukan-Nya, sedangkan mereka dimintai pertanggungjawaban. Dia Mahamenang atas segala sesuatu, Maha Menghitung atas segala sesuatu, Maha Mengawasi (Waspada), Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ayat berikutnya: Tidak Ada Paksaan dalam Menganut Agama Islam

Firman-Nya:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255)

Sama maknanya dengan firman-Nya:

الْكَبِيرُ الْمُتَعالِ

Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. (Ar-Ra’d: 9)

Cara memahami ayat-ayat ini dan hadits-hadits sahih yang semakna dengannya lebih baik memakai metode yang dilakukan oleh ulama Salaf yang saleh dan dianjurkan oleh mereka, yaitu tidak serupa dan tidak mirip dengan apa yang digambarkan dalam teksnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaTidak Ada Paksaan dalam Menganut Agama Islam
Berita berikutnyaFirman-Nya: Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here