Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 255. Ayat Kursi

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 255

0
42

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 255. Ayat kursi, di sana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyifati Diri-Nya dengan sifat kesempurnaan dan menyucikan Diri-Nya dari segala sifat kekurangan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٢٥٥)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Maha yang hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah : 255)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Allah berfirman memuji Diri-Nya:

Allāhu lā ilāha illā huwal hayyu (Allah, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, yang hidup kekal), yang tidak mati.

Alqayyūmu (yang senantiasa mengurus [makhluk-Nya]), yakni yang mengurus dan tidak ada yang mengurus-Nya.

Lā ta’khudzuhū sinatuw wa lā naūm (tidak mengantuk dan tidak tidur), yakni Dia tidak terlelap tidur sehingga lalai dari mengurus makhluk-Nya.

Lahū mā fis samāwāti (kepunyaan-Nya apa yang ada di langit), yakni para malaikat.

Wa mā fil ardl (dan apa yang ada di bumi), yakni seluruh makhluk.

Maη dzal ladzī yasyfa‘u ‘iηdahū (tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah), maksudnya tak satu pun penghuni langit dan bumi yang dapat memberi syafaat pada hari kiamat.

Illā bi idznih (kecuali atas izin-Nya), yakni atas perintah-Nya.

Ya‘lamu mā baina aidīhim (Allah mengetahui apa pun yang ada di hadapan mereka), yakni persoalan akhirat yang ada di hadapan para malaikat ihwal kepunyaan siapa syafaat itu.

Wa mā khalfahum (dan apa-apa yang di belakang mereka) berupa persoalan dunia.

Wa lā yuhī-thūna bi syai-im min ‘ilmihī illā bimā syā-a (dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang Dikehendaki-Nya). Maksudnya, tak secuil pun persoalan dunia dan akhirat yang diketahui para malaikat selain hal-hal yang telah Dia ajarkan-Nya. …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

255.[11] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Maha yang hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya) [12], tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[13]. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya[14]. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka[15], dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki[16]. …

[11] Ayat ini merupakan ayat yang paling agung, paling utama dan paling mulia karena mengandung perkara-perkara besar dan sifat-sifat Allah yang mulia. Oleh karena itulah, banyak hadits-hadits yang menganjurkan kita untuk membacanya dan menjadikannya wirid harian yang dibaca di pagi dan sore hari, sebelum tidur dan sehabis shalat lima waktu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan pada ayat tersebut tentang Diri-nya, bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Dia, karena kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya serta banyaknya nikmat yang dikaruniakan-Nya. Di samping itu, karena keadaan seorang hamba yang memang berhak menjadi hamba Allah Tuhannya dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua sesembahan yang disembah selain Allah adalah batil, hal itu karena selain Allah adalah makhluk, memiliki kekurangan, diatur dan bergantung dengan sesuatu sehingga tidak pantas disembah.

[12] Al Hayyu dan Al Qayyum adalah dua nama yang mulia, yang menunjukkan kepada semua Asma’ul Husna baik menunjukkan secara muthabaqah (bersamaan), tadhammun (terkandung di dalamnya) maupun iltizam (menghendaki adanya). Al Hayyu (Maha Hidup) adalah Yang memiliki hidup secara sempurna; menghendaki semua sifat pada zat-Nya seperti sifat mendengar, melihat, mengetahui, berkuasa, dsb. Sedangkan Al Qayyum adalah yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Nama-Nya Al Qayyum menghendaki adanya perbuatan pada Allah Subhaanahu wa Ta’aala sesuai kehendak-Nya, seperti istiwa’ (bersemayam), turun ke langit dunia, berbicara, mencipta, memberi rezeki, mematikan dan menghidupkan serta semua bentuk tadbir (mengurus) lainnya; semua itu termasuk ke dalam sifat qayyumiyyah Allah. Oleh karrena itu, para pentahqiq mengatakan bahwa keduanya adalah Al Ismul A’zham (nama teragung), di mana apabila seseorang berdo’a dengan nama itu akan dikabulkan Allah dan apabila diminta dengan nama itu akan diberikan. Di antara sempurnanya hidup dan qayyumiyyyah (kepengurusan) Allah adalah bahwa Dia tidak mengantuk dan tidak tidur.

[13] Allah-lah pemilik apa saja yang ada di langit dan di bumi, sedangkan selain-Nya milik-Nya. Allah-lah Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur, sedangkan selain-Nya dicipta, diberi rezeki dan diatur.

[14] Tidak ada seorang yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Syafa’at itu semuanya milik Allah. Akan tetapi, Allah subhaanahu wa Ta’ala apabila hendak merahmati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, Dia mengizinkan kepada orang yang hendak dimuliakan-Nya untuk memberi syafa’at, dan yang akan memberi syafa’at tidak memulai memberi syafa’at sebelum mendapat izin-Nya.

[15] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui segala yang terjadi baik di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang besar maupun yang kecil, secara garis besar maupun secara tafshil (rinci), zhahir maupun batin, yang ghaib maupun yang nampak.

[16] Misalnya melalui berita-berita yang disampaikan oleh para rasul.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Allah, tak ada Tuhan), artinya tak ada ma`bud atau sembahan yang sebenarnya di alam wujud ini, (melainkan Dia Yang Maha Hidup), artinya Kekal lagi Abadi (dan senantiasa mengatur), maksudnya terus-menerus mengatur makhluk-Nya (tidak mengantuk) atau terlena, (dan tidak pula tidur. Milik-Nyalah segala yang terdapat di langit dan di bumi) sebagai kepunyaan, ciptaan dan hamba-Nya. (Siapakah yang dapat), maksudnya tidak ada yang dapat (memberi syafaat di sisi-Nya, kecuali dengan izin-Nya) dalam hal itu terhadapnya. (Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka), maksudnya di hadapan makhluk (dan apa yang di belakang mereka), artinya urusan dunia atau soal akhirat, (sedangkan mereka tidak mengetahui suatu pun dari ilmu-Nya), artinya manusia tidak tahu sedikit pun dari apa yang diketahui oleh Allah itu, (melainkan sekadar yang dikehendaki-Nya) untuk mereka ketahui melalui pemberitaan dari para Rasul. …
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Ayat Kursi mengandung sepuluh kalimat yang menyendiri.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ

Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. (Al-Baqarah: 255)

Pemberitahuan yang menyatakan bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Esa bagi semua makhluk.

الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). (Al-Baqarah: 255)

Berikutnya: Firman-Nya: Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur

Yakni Dia adalah Zat Yang Hidup kekal, tidak mati selama-lamanya, lagi terus-menerus mengurus selain-Nya. Sahabat Umar membacanya qiyamun dengan pengertian bahwa semua makhluk berhajat kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Kaya dari semua makhluk. Dengan kata lain, segala sesuatu tidak akan berujud tanpa perintah dari-Nya. Perihalnya sama dengan makna yang ada dalam firman-Nya:

أَنْ تَقُومَ السَّماءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ

Dan di antara  tanda-tanda kekuasaan-Nya  ialah  berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. (Ar-Rum: 25)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaFirman-Nya: Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur
Berita berikutnyaKeutamaan Ayat Kursi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here