Tidak Ada Paksaan dalam Menganut Agama Islam

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 256

0
44

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 256. Kelapangan Islam dan Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 256)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lā ikrāha fid dīn (tidak ada paksaan dalam beragama), yakni setelah bangsa Arab menganut Islam, seorang ahli kitab dan majusi tidak boleh dipaksa untuk menganut ajaran tauhid.

Qad tabayyanar rusydu minal ghayyi (sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat), keimanan dari kekafiran, serta yang hak dari yang batil. Penggalan ayat selanjutnya berkaitan dengan Mundzir bin Sawi at-Tamimi. …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

256.[1] Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)[2], sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat[3]. …

[1] Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Ada seorang wanita yang miqlaat (yakni wanita yang nampak tidak mungkin bisa hidup lagi seorang anak), ia pun bernadzar jika masih bisa hidup seorang anak di sisinya, maka ia akan menjadikannya Yahudi. Ketika Bani Nadhir diusir, dan di sana terdapat anak-anak orang Anshar. Mereka berkata, Kami tidak akan membiarkan anak-anak kami, maka Allah menurunkan ayat, Laa ikraaha fid diin, qat tabayyanar rusydu minal ghayy. (Hadits ini diriwayatkan oleh para perawi kitab shahih, diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, dan As Suyuthi dalam Lubaabunnuqul menyandarkan kepada Nasa’i. Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam Mawaariduz Zham’aan hal. 427)

[2] Syaikh As Sa’diy berkata: Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa tidak ada paksaan dalam menganut agama karena memang tidak butuh adanya pemaksaan. Hal itu, karena memaksa tidaklah dilakukan kecuali dalam hal yang masih samar tandanya, masih tersembunyi hasilnya atau dalam hal yang memang dibenci oleh jiwa. Adapun agama dan jalan yang lurus ini, maka telah jelas tanda-tanda (kebenarannya) oleh akal, telah jelas jalannya dan telah nampak perkaranya, telah diketahui petunjuknya dan bukan kesesatan. Oleh karena itu, orang yang memperoleh taufiq apabila memperhatikan agama ini meskipun sebentar, niscaya dia akan mendahulukan dan memilihnya. Sedangkan orang yang buruk niatnya, rusak pilihannya dan buruk jiwanya, maka ketika melihat yang hak, dia lebih memilih yang batil, saat ia melihat yang bagus, maka ia lebih memilih yang jelek. Orang seperti ini, Allah tidak butuh memaksanya menganut agama ini karena tidak ada nilai dan faedahnya. Di samping itu, orang yang dipaksa imannya tidaklah sah. Namun demikian, ayat ini tidaklah menunjukkan agar kita tidak memerangi orang-orang kafir harbiy (yang memerangi Islam). Tetapi maksudnya, bahwa hakikat agama ini sesungguhnya menghendaki untuk diterima oleh setiap orang yang adil, yang tujuannya mencari yang hak. Adapun masalah memerangi atau tidaknya, tidaklah ditunjukkan olehnya. Bahkan, kewajiban berperang diambil dari nash-nash yang lain. Akan tetapi dari ayat yang mulia ini, dapat dipakai dalil diterimanya jizyah (pajak) dari selain ahlul kitab sebagaimana hal itu merupakan pendapat kebanyakan ulama.

[3] Yakni telah jelas berdasarkan ayat-ayat yang begitu jelas bahwa iman adalah petunjuk dan kekafiran adalah kesesatan. Ayat ini turun berkenaan tentang sebagian orang Anshar yang memiliki anak, di mana dia hendak memaksa mereka masuk Islam.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidak ada paksaan dalam agama), maksudnya untuk memasukinya. (Sesungguhnya telah nyata jalan yang benar dari jalan yang salah), artinya telah jelas dengan adanya bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang kuat bahwa keimanan itu berarti kebenaran dan kekafiran itu adalah kesesatan. Ayat ini turun mengenai seorang Ansar yang mempunyai anak-anak yang hendak dipaksakan masuk Islam. …
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Tidak ada paksaan  untuk  (memasuki)  agama  (Islam).  (Al-Baqarah: 256)

Yakni janganlah kalian memaksa seseorang untuk masuk agama Islam, karena sesungguhnya agama Islam itu sudah jelas, terang, dan gamblang dalil-dalil dan bukti-buktinya. Untuk itu, tidak perlu memaksakan seseorang agar memeluknya. Bahkan Allah-lah yang memberinya hidayah untuk masuk Islam, melapangkan dadanya, dan menerangi hatinya hingga ia masuk Islam dengan suka rela dan penuh kesadaran. Barang siapa yang hatinya dibutakan oleh Allah, pendengaran dan pandangannya dikunci mati oleh-Nya, sesungguhnya tidak ada gunanya bila mendesaknya untuk masuk Islam secara paksa.

Mereka menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari kalangan Ansar, sekalipun hukum yang terkandung di dalamnya bersifat umum.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yasar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang wanita yang selalu mengalami kematian anaknya, maka ia bersumpah kepada dirinya sendiri, Jika anakku hidup kelak, aku akan menjadikannya seorang Yahudi. Ketika Bani Nadir diusir dari Madinah, di antara mereka ada anak-anak dari kalangan Ansar. Lalu mereka berkata, Kami tidak akan menyeru anak-anak kami (untuk masuk Islam). Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. (Al-Baqarah: 256)

Imam Abu Dawud dan Imam Nasai meriwayatkan pula hadits ini, kedua-duanya meriwayatkannya dari Bandar dengan lafaz yang sama. Sedangkan dari jalur-jalur yang lain diriwayatkan hal yang semakna, dari Syu’bah.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui hadits Syu’bah dengan lafaz yang sama. Hal yang sama disebutkan oleh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Asy-Sya’bi, dan Al-Hasan Al-Basri serta lain-lainnya, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad Al-Jarasyi, dari Zaid ibnu Sabit, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Al-Baqarah: 256). Ibnu Abbas menceritakan: Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki Ansar dari kalangan Bani Salim ibnu Auf yang dikenal dengan panggilan Al-Husaini. Dia mempunyai dua orang anak lelaki yang memeluk agama Nasrani, sedangkan dia sendiri adalah seorang muslim. Maka ia bertanya kepada Nabi ﷺ, Bolehkah aku memaksa keduanya (untuk masuk Islam)? Karena sesungguhnya keduanya telah membangkang dan tidak mau kecuali hanya agama Nasrani. Maka Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. As-Saddi meriwayatkan pula hal yang semakna, tetapi di dalam riwayatnya ditambahkan seperti berikut: Keduanya telah masuk agama Nasrani di tangan para pedagang yang datang dari negeri Syam membawa zabib (anggur kering). Ketika keduanya bertekad untuk ikut bersama para pedagang Syam itu, maka ayah keduanya bermaksud memaksa keduanya (untuk masuk Islam) dan meminta kepada Rasulullah ﷺ agar mengutus dirinya untuk menyusul keduanya agar pulang kembali. Maka turunlah ayat ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Auf, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Abu Hilal, dari Asbaq yang menceritakan, Pada mulanya aku memeluk agama mereka sebagai seorang Nasrani yang menjadi budak Umar ibnul Khajtab, dan ia selalu menawarkan untuk masuk Islam kepadaku, tetapi aku menolak. Maka ia membacakan firman-Nya: ‘Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).’ (Al-Baqarah: 256). Ia mengatakan, ‘Hai Asbaq, seandainya kamu masuk Islam, niscaya aku akan mengangkatmu sebagai pegawai untuk mengurusi sebagian urusan kaum muslim’.

Golongan yang cukup banyak dari kalangan ulama berpendapat bahwa ayat ini diinterpretasikan dengan pengertian tertuju kepada kaum Ahli Kitab dan orang-orang yang termasuk ke dalam kategori mereka sebelum (mengetahui adanya) pe-nasakh-an dan penggantian, tetapi dengan syarat bila mereka membayar jizyah.

Ulama lain mengatakan bahwa ayat ini di-mansukh oleh ayat qital (perang). Wajib menyeru semua umat untuk memasuki agama Al-Hanif, yaitu agama Islam. Jika ada seseorang di antara mereka menolak untuk masuk ke dalam agama Islam serta tidak mau tunduk kepada peraturannya atau tidak mau membayar jizyah, maka ia diperangi hingga titik darah penghabisan. Yang demikian itulah makna ikrah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

سَتُدْعَوْنَ إِلى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

Kalian akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kalian akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). (Al-Fath: 16)

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (At-Taubah: 73)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripada kalian; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah: 123)

Di dalam sebuah hadits sahih disebutkan:

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ

Tuhanmu kagum kepada suatu kaum yang digiring masuk ke surga dalam keadaan dirantai.

Makna yang dimaksud ialah para tawanan yang didatangkan ke negeri Islam dalam keadaan terikat oleh rantai dan belenggu. Sesudah itu mereka masuk Islam dan memperbaiki amal perbuatan serta hati mereka. Maka mereka kelak termasuk ahli surga.

Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ: أَسْلِمْ قَالَ: إِنِّي أَجِدُنِي كَارِهًا قَالَ: وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا

Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Humaid, dari sahabat Abas radiyallahu ‘anhu yang menceritakan: Bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada seorang lelaki, Masuk Islamlah kamu! Lelaki itu menjawab, Sesungguhnya masih belum menyukainya. Nabi ﷺ bersabda, Sekalipun kamu belum menyukainya.

Berikutnya: Berpegang Teguh Kepada Buhul Tali yang Sangat Kuat

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang, tetapi sahih. Hanya saja tidak termasuk ke dalam bab ini karena pada kenyataannya Nabi ﷺ tidak memaksanya untuk masuk Islam, melainkan beliau menyerunya untuk masuk Islam, lalu lelaki itu menjawab bahwa ia masih belum mau menerimanya, bahkan masih tidak suka untuk masuk Islam. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, Masuk Islamlah, sekalipun hatimu tidak suka, karena sesungguhnya Allah pasti akan menganugerahimu niat yang baik dan ikhlas.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBerpegang Teguh Kepada Buhul Tali yang Sangat Kuat
Berita berikutnyaKursi-Nya Meliputi Langit dan Bumi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here