Berpegang Teguh Kepada Buhul Tali yang Sangat Kuat

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 256

0
45

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 256. Kelapangan Islam dan Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam dan barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 256)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Fa may yakfur bith thāghūti (oleh karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut), yakni menolak perintah setan dan tidak menyembah berhala.

Wa yu’mim billāhi (dan beriman kepada Allah) serta segala keterangan yang datang dari-Nya.

Fa qadistamsaka bil ‘urwatil wuts-qā (maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada pegangan yang teramat kukuh), yakni berarti ia telah berpegang pada satu keyakinan, yaitu lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah).

Laη fishāma lahā (dan tidak akan retak), tidak akan terputus, tidak akan binasa, dan tidak akan celaka. Ada yang berpendapat, tidak akan membuat pemegangnya terputus dari kenikmatan surga, tidak akan binasa di dalam surga, dan tidak akan celaka dengan menjadi penghuni abadi neraka.

Wallāhu samī‘un (dan Allah Maha Mendengar) perkataan tersebut.

‘Alīm (lagi Maha Mengetahui) pahala dan kenikmatan berpegang teguh pada pegangan yang kukuh itu.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

256…  Barang siapa ingkar kepada Thaghut[4] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus[5]. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui[6].

[4] Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[5] Di mana tali yang dipegangnya dapat menyelamatkan dan menjaganya dari terjatuh ke dalam neraka.

[6] Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan mereka serta mengetahui niatnya, dan Dia akan memberikan balasan terhadap semua itu.

Sebelumnya: Tidak Ada Paksaan dalam Menganut Agama Islam

Tafsir Jalalain

  1. … (Maka barang siapa yang ingkar kepada thaghut), maksudnya setan atau berhala, dipakai untuk tunggal dan jamak (dan dia beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada simpul tali yang teguh kuat) ikatan tali yang kokoh (yang tidak akan putus-putus dan Allah Maha Mendengar) akan segala ucapan (Maha Mengetahui) segala perbuatan.
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 256)

Yakni barang siapa yang melepaskan semua tandingan dan berhala-berhala serta segala sesuatu yang diserukan oleh setan berupa penyembahan kepada selain Allah, lalu ia menauhidkan Allah dan menyembah-Nya semata serta bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, berarti ia seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat. (Al-Baqarah: 256)

Yaitu berarti perkaranya telah mapan dan berjalan lurus di atas tuntunan yang baik dan jalan yang lurus.

Abul Qasim Al-Bagawi meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Rauh Al-Baladi, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas (yaitu Salam ibnu Salim), dari Abu Ishaq, dari Hassan (yaitu Ibnu Qaid Al-Absi) yang menceritakan bahwa Umar radiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, Sesungguhnya al-jibt adalah sihir, dan thaghut adalah setan. Sesungguhnya sifat berani dan sifat pengecut ada di dalam diri kaum lelaki; orang yang pemberani berperang membela orang yang tidak dikenalnya, sedangkan orang yang pengecut lari tidak dapat membela ibunya sendiri. Sesungguhnya kehormatan seorang lelaki itu terletak pada agamanya, sedangkan kedudukannya terletak pada akhlaknya, sekalipun ia seorang Persia atau seorang Nabat.

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui riwayat As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Hassan ibnu Qaid Al-Abdi, dari Umar.

Makna ucapan Umar tentang thaghut bahwa thaghut adalah setan sangat kuat, karena sesungguhnya pengertian tersebut mencakup semua bentuk kejahatan yang biasa dilakukan oleh ahli Jahiliah, seperti menyembah berhala dan meminta keputusan hukum kepadanya serta membelanya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. (Al-Baqarah: 256)

Yakni sesungguhnya ia telah berpegang kepada agama dengan sarana yang sangat kuat. Hal itu diserupakan dengan buhul tali yang kuat lagi tak dapat putus. Pada kenyataannya tali tersebut dipintal dengan sangat rapi, kuat lagi halus, sedangkan ikatannya pun sangat kuat. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya: Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang . amat kuat yang tidak akan putus. (Al-Baqarah: 256)

Mujahid mengatakan bahwa al-‘urwatil wusqa artinya iman. Menurut As-Saddi artinya agama Islam, sedangkan menurut Sa’id ibnu Jubair dan Ad-Dahhak artinya ialah kalimah Tidak ada Tuhan selain Allah. ‘

Menurut sahabat Anas ibnu Malik, al-‘urwatul wusqa artinya Al-Qur’an. Menurut riwayat yang bersumber dari Salim ibnu Abul Ja’d, yang dimaksud adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Semua pendapat di atas benar, satu sama lainnya tidak bertentangan.

Sahabat Mu’az ibnu Jabal mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tidak akan putus. (Al-Baqarah: 256), Bahwa yang dimaksud dengan terputus ialah tidak dapat masuk surga.

Bersambung: Taman Islam, Tiang Islam dan Tali yang Kuat

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan pengertian yang ada di dalam firman-Nya: maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. (Al-Baqarah: 256), Kemudian membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’d: 11)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaTaman Islam, Tiang Islam dan Tali yang Kuat
Berita berikutnyaTidak Ada Paksaan dalam Menganut Agama Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here