Kisah Orang yang Melewati Kampung yang Roboh

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 259

0
37

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 259. Kisah orang yang melewati kampung yang roboh, dan di sana terdapat dalil bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berkuasa membangkitkan manusia yang telah mati. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau (tidakkah kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata: Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur? Lalu Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapa lama kamu tinggal (di sini)? Dia menjawab: Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari. Allah berfirman: Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum beubah; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka ketika telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata, Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah : 259)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Au kal ladzī marra ‘alā qaryatin (atau seperti orang yang melewati suatu negeri), yakni tidakkah kamu juga memperhatikan orang yang melewati suatu negeri bernama Dair Hiraqla. Orang tersebut adalah ‘Aziz bin Syarahil yang pada suatu ketika ia melewati sebuah negeri.

Wa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urūsyihā qāla annā yuhyī hādzihillāhu ba‘da mau-tihā (yang telah roboh menutupi atapnya. Orang itu berkata, Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri yang sudah hancur ini). Yakni dia berkata, Bagaimana mungkin Allah dapat menghidupkan kembali penduduk negeri yang sudah mati ini? …

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Atau (tidakkah kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri[16] yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya[17], dia berkata: Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur? …

[16] Ada yang mengatakan bahwa negeri itu adalah Baitul Maqdis dahulu, orang yang melewatinya dengan berkendaraan keledai adalah Uzair. Ia pun berkata dengan nada ta’ajjub (bingung) Bagaimana caranya Allah menghidupkan negeri yang telah hancur ini?

Namun Syaikh As Sa’diy dalam tafsirnya berpendapat bahwa orang tersebut sebelumnya adalah orang yang mengingkari adanya kebangkitan, lalu Allah menghendaki ia memperoleh kebaikan dan ingin menjadikannya sebagai bukti bagi manusia. Ia beralasan dengan tiga alasan berikut:

Pertama, perkataannya Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur? jika memang ia seorang nabi atau hamba yang shalih, tentu tidak akan mengatakan kata-kata seperti itu.

Kedua, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memperlihatkan ayat-Nya pada makanan, minuman, keledainya dan pada dirinya agar ia dapat melihat secara langsung sehingga dapat mengakui hal yang sebelumnya diingkari.

Ketiga, firman Allah  Maka ketika telah nyata kepadanya  yakni telah nyata sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya atau samar baginya. Wallahu a’lam.

Dalam kisah di atas terdapat bukti bahwa Allah mampu menghidupkan yang mati, sebagaimana Allah menghidupkan orang tersebut, menghidupkan keledainya serta menjaga makanan dan minumannya sehingga tidak berubah.

[17] Karena dirobohkan oleh raja Bukhtanasshar.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Atau) tidakkah kamu perhatikan (orang) ‘kaf’ hanya tambahan belaka (yang lewat di suatu negeri). Orang itu bernama Uzair dan lewat di Baitulmakdis dengan mengendarai keledai sambil membawa sekeranjang buah tin dan satu mangkuk perasan anggur (yang temboknya telah roboh menutupi atap-atapnya), yakni setelah dihancurkan oleh raja Bukhtanashar. (Katanya, Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah robohnya?) disebabkan kagumnya akan kekuasaan-Nya ….
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya. (Al-Baqarah: 258)

Makna firman ini dalam hal kekuatannya sama dengan pengertian Apakah engkau memperhatikan perumpamaan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya. Karena itu, dalam ayat berikutnya di-’ataf-kan kepadanya firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. (Al-Baqarah: 259)

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang yang lewat tersebut. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Isam ibnu Dawud, dari Adam ibnu Iyas, dari Israil, dari Abi Ishaq, dari Najiyah ibnu Ka’b, dari Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan bahwa orang yang disebut dalam ayat ini adalah Uzair. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Najiyah pula. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya juga dari Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan Sulaiman ibnu Buraidah. Pendapat inilah yang terkenal.

Wahb ibnu Munabbih dan Abdullah ibnu Ubaid (yaitu Armia ibnu Halqiya) mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ishaq pernah meriwayatkan dari seseorang yang tidak diragukan lagi periwayatannya dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa orang tersebut adalah Khaidir ‘alaihis salam

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar dari Sulaiman ibnu Muhammad Al-Yasari Al-Jari, seseorang dari ahli Al-Jari (yaitu anak paman Mutarrif). Ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Salman mengatakan, Sesungguhnya ada seseorang dari ulama negeri Syam mengatakan bahwa orang yang dimatikan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala selama seratus tahun, lalu sesudah itu dihidupkan lagi oleh-Nya bernama Hizqil ibnu Bawar.

Mujahid ibnu Jabr mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil.

Adapun negeri yang disebutkan dalam ayat, menurut pendapat yang terkenal mengatakan Baitul Maqdis. Orang tersebut melaluinya setelah negeri itu dihancurkan oleh Bukhtanasar dan semua penduduknya dibunuh.

وَهِيَ خَاوِيَة

Yang (temboknya) roboh menutupi atapnya. (Al-Baqarah: 259)

Khawiyah artinya kosong, tidak ada seorang pun; diambil dari perkataan mereka, Khawatid daru, yang artinya rumah itu kosong tak berpenghuni.

Ayat berikutnya: Allah Berkuasa Membangkitkan Manusia yang Telah Mati

‘Ala ‘Urusyiha, yakni tembok dan atapnya runtuh menimpa halaman negeri tersebut dan lapangannya. Maka lelaki itu berdiri seraya berpikir tentang kejadian yang menimpa negeri itu dan penduduknya, padahal sebelumnya negeri tersebut sangat ramai dan dipenuhi oleh bangunan-bangunan. Lalu ia berkata: Bagaimana Allah  menghidupkan  kembali  negeri  ini  setelah roboh? (Al-Baqarah: 259)

Dia mengatakan demikian setelah melihat kehancuran dan kerusakan negeri tersebut yang sangat parah, dan sesudah itu bagaimana cara mengembalikannya seperti semula.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAllah Berkuasa Membangkitkan Manusia yang Telah Mati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here