Allah Berkuasa Membangkitkan Manusia yang Telah Mati

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 259

0
39

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 259. Kisah orang yang melewati kampung yang roboh, dan di sana terdapat dalil bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berkuasa membangkitkan manusia yang telah mati. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau (tidakkah kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata: Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur? Lalu Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapa lama kamu tinggal (di sini)? Dia menjawab: Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari. Allah berfirman: Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum beubah; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka ketika telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata, Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah : 259)

.

Tafsir Ibnu Abbas

…Fa amātahullāhu (maka Allah mematikan orang itu) di tempat tersebut. Sehingga ‘Aziz pun mati.

Mi-ata ‘āmiη tsumma ba‘atsah (seratus tahun, kemudian Dia menghidupkannya kembali), yakni Allah menghidupkan ‘Aziz pada penghujung siang.

Qāla (Dia berkata), yakni Allah.

Kam labits-t (berapa lama kamu menetap di sini), yakni berapa lama kamu tinggal, hai ‘Aziz?

Qāla labits-tu (orang itu menjawab, saya telah menetap di sini), yakni saya tinggal di sini ….

Yauman (sehari), kemudian dia melihat ke arah matahari yang sedikit masih kelihatan, lalu berkata ….

Au ba‘dla yaūm, qāla (atau sebagian hari. Dia berfirman), yakni Allah.

Bal labits-ta (sebenarnya kamu telah menetap di sini), yakni tinggal sebagai mayat.

Mi-ata ‘āmiη faηzhur ilā tha‘āmika (selama seratus tahun. Lihatlah makananmu), yaitu buah tin dan anggur.

Wa syarābika (dan minumanmu), yaitu sari buah.

Lam yatasannah waηzhur ilā himārik (yang belum berubah, dan lihat juga keledaimu), yakni tulang-belulang keledaimu, bagaimana tulang-belulang keledai itu tampak putih.

Wa li naj‘alaka (dan Kami akan menjadikanmu), yakni agar Kami menjadikan kamu.

Āyatal lin nāsi (sebagai bukti [Kekuasaan Kami] bagi manusia) dalam hal menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Mereka akan dihidupkan kembali sebagaimana keadaan mereka saat dimatikan. Karena ‘Aziz dimatikan pada saat masih muda, maka dia pun dibangkitkan kembali sebagai pemuda. Ada yang berpendapat, sebagai pelajaran bagi manusia. ‘Aziz berusia empat puluh tahun, sedangkan anaknya telah berusia seratus dua puluh tahun.

Waη zhur ilal ‘izhāmi (dan lihatlah tulang-belulang itu), yakni tulang-belulang keledai. Kaifa nuηsyizuhā (bagaimana Kami Menyusunnya kembali), yakni bagaimana Kami merangkainya satu sama lain. Jika lafazh nuηsyizu dibaca nuηsyiru, maka berarti bagaimana Kami menghidupkannya.

Tsumma naksūhā lahmā (kemudian Kami membungkusnya dengan daging), yakni setelah menyusun kembali tulang-belulang orang itu, Kami menumbuhkan urat saraf, pembuluh darah, kulit, rambut, dan selanjutnya Kami Memasukkan roh kepadanya.

Fa lammā tabayyana lahū (maka tatkala sudah jelas baginya), bagaimana Allah mengumpulkan tulang-belulang orang-orang yang telah mati.

Qāla a‘lamu (dia pun berkata, Saya tahu), yakni saya benar-benar tahu.

Annallāha ‘alā kulli syai-ing qadīr (bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu), baik yang berkenaan dengan kehidupan maupun kematian.

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Lalu Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapa lama kamu tinggal (di sini)? Dia menjawab: Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari[18]. Allah berfirman: Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum beubah[19]; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia[20]. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka ketika telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata, Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[18] Kata-kata ini diucapkan karena ia tidur di pagi hari lalu dicabut nyawanya, kemudian dihidupkan kembali menjelang matahari tenggelam, walahu a’lam.

[19] Meskipun sudah bertahun-tahun. Pada yang demikian itu terdapat dalil yang jelas keMaha Kuasaan Allah, yang mampu menjaga makanan itu sehingga tidak berubah meskipun telah berlalu masa yang lama, padahal makanan merupakan sesuatu yang paling cepat berubah menjadi basi dan tidak bisa dimakan lagi.

[20] Yakni bukti atas keMaha Kuasaan Allah untuk membangkitkan manusia yang telah mati.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Maka Allah pun mematikan orang itu) dan membiarkannya dalam kematian (selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya). Untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana caranya demikian itu. (Allah berfirman) kepadanya, (Berapa lamanya kamu tinggal di sini?) (Jawabnya, Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari) karena ia mulai tidur dari waktu pagi, lalu dimatikan dan dihidupkan lagi di waktu Magrib, hingga menurut sangkanya tentulah ia tidur sepanjang hari itu. (Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala, Sebenarnya sudah seratus tahun lamanya kamu tinggal; lihatlah makanan dan minumanmu itu) buah tin dan perasan anggur (yang belum berubah) artinya belum lagi basi walaupun waktunya sudah sekian lama. ‘Ha’ pada ‘yatasannah’ ada yang mengatakan huruf asli pada ‘sanaha’, ada pula yang mengatakannya sebagai huruf saktah, sedangkan menurut satu qiraat, tidak pakai ‘ha’ sama sekali (dan lihatlah keledaimu) bagaimana keadaannya. Maka dilihatnya telah menjadi bangkai sementara tulang belulangnya telah putih dan berkeping-keping. Kami lakukan itu agar kamu tahu, (dan akan Kami jadikan kamu sebagai tanda) menghidupkan kembali (bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang) keledaimu itu (bagaimana Kami menghidupkannya) dibaca dengan nun baris di depan. Ada pula yang membacanya dengan baris di atas kata ‘nasyara’, sedang menurut qiraat dengan baris di depan berikut zai ‘nunsyizuha’ yang berarti Kami gerakkan dan Kami susun, (kemudian Kami tutup dengan daging) dan ketika dilihatnya tulang-belulang itu sudah tertutup dengan daging, bahkan telah ditiupkan kepadanya roh hingga meringkik. (Maka setelah nyata kepadanya) demikian itu dengan kesaksian mata (ia pun berkata, Saya yakin) berdasar penglihatan saya (bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Menurut satu qiraat ‘i`lam’ atau ‘ketahuilah’ yang berarti perintah dari Allah kepadanya supaya menyadari.
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَه

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. (Al-Baqarah: 259)

Menurut suatu pendapat, negeri tersebut diramaikan kembali setelah tujuh puluh tahun kematian lelaki itu, penduduknya lengkap seperti semula, dan kaum Bani Israil kembali lagi ke negeri itu. Ketika Allah membangkitkannya sesudah ia mati, maka anggota tubuhnya yang mula-mula dihidupkan oleh Allah adalah kedua matanya. Dengan demikian, maka ia dapat menyaksikan perbuatan Allah, bagaimana Allah menghidupkan kembali dirinya. Setelah seluruh tubuh lelaki itu hidup seperti sediakala, maka Allah berfirman kepadanya melalui malaikat:

كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْم

Berapakah lamanya kamu tinggal? Ia menjawab, Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari. (Al-Baqarah: 259)

Dia merasakan bahwa dirinya mati pada permulaan siang hari, kemudian dihidupkan kembali pada petang harinya. Akan tetapi, ketika ia melihat matahari masih tetap ada, ia menduga bahwa ia dibangkitkan dalam hari yang sama. Karena itulah ia berkata, Atau setengah hari. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjawab dengan melalui firman-Nya:

أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ

Allah berfirman, Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah. (Al-Baqarah: 259)

Demikian itu karena menurut kisahnya disebutkan bahwa lelaki itu membawa buah anggur, buah tin, dan minuman jus. Maka ia melihatnya masih utuh seperti semula, tiada sesuatu pun yang berubah; minuman jusnya tidak berubah, buah tinnya tidak masam dan tidak busuk, serta buah anggurnya tidak berkurang barang sedikit pun.

وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِك

Dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang). (Al-Baqarah: 259)

Yakni bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghidupkannya kembali dengan disaksikan oleh kedua matamu.

وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ

Kami  akan  menjadikan kamu tanda  kekuasaan Kami bagi manusia. (Al-Baqarah: 259)

Yaitu sebagai dalil yang membuktikan adanya hari berbangkit.

وَانْظُرْ إِلَى الْعِظامِ كَيْفَ نُنْشِزُها

Dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali. (Al-Baqarah: 259)

Maksudnya, bagaimana Kami mengangkatnya dan menyusun sebagian darinya atas sebagian yang lain hingga seperti bentuk semula.

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadits Nafi’ ibnu Abu Na’im, dari Ismail ibnu Hakim, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ membaca kaifa nunsyizuha dengan memakai huruf za. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Menurut pendapat yang lain dibaca nunsyiruha (dengan memakai huruf ra), artinya ‘Kami menghidupkannya kembali’. Demikianlah menurut Mujahid.

ثُمَّ نَكْسُوها لَحْماً

Kemudian Kami menutupinya dengan daging. (Al-Baqarah: 259)

As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa tulang-belulang keledainya telah bercerai-berai di sebelah kanan dan kirinya. Lalu ia memandang ke tulang-belulang itu yang berkilauan karena putihnya. Kemudian Allah mengirimkan angin, lalu angin itu menghimpun kembali tulang-belulang itu ke tempat semula. Kemudian masing-masing tulang tersusun pada tempatnya masing-masing, hingga jadilah seekor keledai yang berdiri berbentuk rangka tulang tanpa daging. Selanjutnya Allah memakaikan kepadanya daging, otot, urat, dan kulit, lalu Allah mengirim malaikat yang ditugaskan untuk meniupkan roh ke dalam tubuh keledai itu melalui kedua lubang hidungnya. Maka dengan serta merta keledai itu meringkik dan hidup kembali dengan seizin Allah Subhaanahu wa Ta’aala Semuanya itu terjadi di hadapan pandangan mata Uzair. Setelah ia menyaksikan hal itu dengan jelas dan kini ia mengerti, maka ia berkata yang perkataannya disitir oleh firman-Nya:

قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dia berkata, Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 259)

Ayat berikutnya: Bagaimana Allah Menghidupkan Orang Mati?

Yakni saya yakin akan hal ini karena saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, dan saya adalah orang yang paling mengetahui hal ini di antara semua manusia yang hidup di zaman saya.

Menurut ulama yang lain, ayat ini dibaca i’lam yang artinya ‘ketahuilah’, sebagai perintah buat dia untuk mengetahuinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBagaimana Allah Menghidupkan Orang Mati?
Berita berikutnyaKisah Orang yang Melewati Kampung yang Roboh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here