Bagaimana Allah Menghidupkan Orang Mati?

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 260

0
35

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 260. Kisah Ibrahim ‘alaihis salam dan pembangkitan orang-orang yang telah mati, hal ini agar ia bertambah tenang. Nabi Ibrahim ingin agar pengetahuannya yang berdasarkan keyakinan itu menjadi meningkat kepada pengetahuan yang bersifat ‘ainul yaqin dan ingin menyaksikan bagaimana Allah menghidupkan orang mati dengan mata kepalanya sendiri Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum percayakah kamu? Ibrahim menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Allah berfirman: Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah : 260)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idz qāla (dan [ingatlah] ketika berkata), yakni sungguh telah berkata pula.

Ibrāhīmu rabbi arinī kaifa tuhyil mautā (Ibrahim, Rabbi, perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati), yakni bagaimana Engkau mengumpulkan kembali tulang-belulang orang-orang yang sudah mati.

Qāla a wa lam tu’min (Allah berfirman, Apakah kamu belum yakin). Yakni, apakah kamu belum yakin akan hal itu?

Qāla balā (Ibrahim menjawab, benar) saya meyakininya ….

Wa lākil li yathma-inna qalbī (akan tetapi supaya hatiku tetap mantap [dalam keimanan]), yakni supaya kegelisahan hatiku menjadi tenang, dan aku tahu bahwa aku benar-benar kekasih-Mu yang permohonannya selalu Engkau kabulkan. …

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

260.[21] Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum percayakah kamu[22]? Ibrahim menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)[23]. …

[21] Dalam ayat ini tedapat dalil hissiy (inderawi) yang menunjukkan Allah mampu menghidupkan orang yang telah mati dan memberikan balasan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang kekasih-Nya, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahwa dia pernah meminta kepada Allah agar diperlihatkan secara langsung bagaimana Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati. Hal itu, karena dia sudah yakin dengan apa yang diberitakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, akan tetapi ia ingin menyaksikan langsung dengan mata kepala agar memperoleh tingkatan ‘ainul yakin (melihat langsung yang tidak mungkin lagi dihinggapi keraguan).

[22] Yakni Apakah kamu belum percaya bahwa Aku dapat menghidupkan yang mati. Meskipun Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui keimanan yang dalam yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

[23] Yakni agar bertambah keyakinannya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) ingatlah (ketika Ibrahim berkata, Ya Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Firman Allah) kepadanya (Apakah kamu tidak percaya?) akan kekuasaan-Ku dalam menghidupkan itu? Ditanyakan Ibrahim padahal Dia mengetahui bahwa Ibrahim mempercayainya, agar Ibrahim memberikan jawaban terhadap pertanyaan- Nya, hingga para pendengar pun mengerti akan maksud-Nya. (Saya percaya, katanya) (tetapi) saya tanyakan (agar tenang) dan tenteram (hatiku) disebabkan kesaksian yang digabungkan pada pengambilan dalil ….
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Mereka menyebutkan beberapa penyebab yang mendorong Ibrahim ‘alaihis salam bertanya seperti itu; antara lain ialah ketika ia berkata kepada Namrud, yang perkataannya itu disitir oleh firman-Nya:

رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ

Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Al-Baqarah: 258)

Maka Nabi Ibrahim ingin agar pengetahuannya yang berdasarkan keyakinan itu menjadi meningkat kepada pengetahuan yang bersifat ‘ainul yaqin dan ingin menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Untuk itulah ia berkata dalam ayat ini:

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. Allah berfirman, Apakah kamu belum percaya? Ibrahim menjawab, Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya. (Al-Baqarah: 260)

Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sehubungan dengan ayat ini, yaitu:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَسَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ أَحَقُّ بِالشَّكِّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ، إِذْ قَالَ: رَبِّ أَرِنِي كيف تحيى الموتى؟ قال: أو لم تُؤْمِنْ  قَالَ: بَلَى، وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dan Sa’id dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kami lebih berhak untuk ragu ketimbang Nabi Ibrahim, ketika ia berkata, Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. Allah berfirman, Apakah kamu belum percaya? Ibrahim menjawab, Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya. (Al-Baqarah: 260)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Harmalah ibnu Yahya, dari Wahb dengan lafaz yang sama.

Yang dimaksud dengan istilah syak (ragu) dalam hadits ini bukanlah seperti apa yang dipahami oleh orang-orang yang tidak berilmu mengenainya, tanpa ada yang memperselisihkannya. Sesungguhnya pemahaman tersebut telah dijawab oleh banyak sanggahan yang mematahkan alasannya.

Sehubungan dengan pembahasan ini, pada salinan yang ada di tangan kami terdapat komentar. Dan sehubungan dengan masalah ini kami akan mengemukakan apa yang dikatakan oleh Al-Bagawi demi melengkapi pembahasan ini. Al-Bagawi mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ishaq ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Ibrahim (yaitu Ismail ibnu Yahya Al-Muzani) bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna hadits ini, sebenarnya Nabi ﷺ tidak ragu begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengenai masalah bahwa Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati. Melainkan keduanya merasa ragu apakah permohonan keduanya diperkenankan untuk hal tersebut.

Abu Sulaiman Al-Khattabi mengatakan sehubungan dengan sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: Kami lebih berhak untuk ragu ketimbang Ibrahim. Di dalam ungkapan ini tidak terkandung pengakuan keraguan atas dirinya dan tidak pula atas diri Nabi Ibrahim, melainkan justru mengandung pengertian yang menghapuskan keraguan tersebut dari keduanya. Seakan-akan Nabi ﷺ berkata, Jika aku tidak ragu tentang kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam menghidupkan kembali orang-orang mati, maka Ibrahim lebih berhak untuk tidak ragu. Nabi ﷺ mengungkapkan demikian sebagai rasa rendah diri dan sopan santunnya kepada Nabi Ibrahim.

Demikian pula sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

لو لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لَأَجَبْتُ الداعي

Seandainya aku tinggal di dalam penjara selama Nabi Yusuf tinggal di penjara, niscaya aku mau memenuhinya.

Di dalam pembahasan ini terkandung pemberitahuan bahwa masalah yang dialami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak diungkapkannya dari segi perasaan ragu, melainkan dari segi ingin menambah ilmu dengan melalui kesaksian mata. Karena sesungguhnya kesaksian mata itu dapat memberikan pengetahuan dan ketenangan hati lebih daripada pengetahuan yang didasari hanya oleh teori.

Berikutnya: Ambillah Empat Ekor Burung, Lalu Cincanglah Olehmu

Menurut suatu pendapat, ketika ayat ini (Al-Baqarah: 260) diturunkan, ada segolongan kaum yang mengatakan, Nabi Ibrahim ragu, sedangkan Nabi kita tidak ragu. Maka Rasulullah ﷺ mengucapkan sabdanya yang telah disebutkan di atas sebagai ungkapan rasa rendah diri dan bersopan santun kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sehingga beliau mendahulukan Nabi Ibrahim atas dirinya sendiri.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaAmbillah Empat Ekor Burung, Lalu Cincanglah Olehmu
Berita berikutnyaAllah Berkuasa Membangkitkan Manusia yang Telah Mati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here