Ambillah Empat Ekor Burung, Lalu Cincanglah Olehmu

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 260

0
33

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 260. Kisah Ibrahim ‘alaihis salam dan pembangkitan orang-orang yang telah mati, hal ini agar ia bertambah tenang; Allah berfirman: Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum percayakah kamu? Ibrahim menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Allah berfirman: Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah : 260)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Qāla fa khudz arba‘atam minath thairi (Allah berfirman, [Kalau begitu] ambillah empat ekor burung) yang berbeda jenis, seperti: unggas, ayam, burung gagak, bebek, dan burung merak.

Fa shurhunna (lalu cincanglah semuanya), potong-potonglah semua unggas tersebut.

Ilaika tsummaj‘al (kemudian jadikanlah olehmu), yakni letakkanlah olehmu.

‘Alā kulli jabalin (di atas tiap-tiap bukit), yakni di atas empat buah bukit.

Minhunna juz-an tsummad‘uhunna (satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka) dengan nama mereka.

Ya’tīnaka sa‘yā (niscaya mereka datang menuju kepadamu) dengan berjalan.

Wa‘ lam (dan ketahuilah), hai Ibrahim.

Annallāha ‘azīzun (bahwa Allah Maha Perkasa) menimpakan siksa kepada siapa saja yang tidak meyakini bahwa (Allah Berkuasa) menghidupkan yang mati.

Hakīm (lagi Maha Bijaksana) dengan mengumpulkan tulang-belulang orang-orang yang mati dan yang hidup, seperti halnya Allah mengumpulkan unggas-unggas tersebut.  Kemudian Allah berfirman menerangkan tentang infak kaum Mukminin di jalan-Nya.

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Allah berfirman: Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah[24] olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit[25] satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa[26] lagi Maha Bijaksana[27].

[24] Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hanya memegang potongan kepalanya, lalu Ibrahim memanggil burung-burung yang telah terpotong-potong itu, sehingga bagian-bagian itu berterbangan menyatu dengan bagiannya yang lain sehingga sempurna, kemudian terbang menuju kepalanya yang ada di sisi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

[25] Yakni bukit yang dekat dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

[26] Dia memiliki kekuatan yang besar untuk menundukkan semua makhluk, dan tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Namun demikian, tindakan-Nya di atas kebijaksanaan.

[27] Baik dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, syari’at yang dibuat-Nya maupun taqdir-Nya. Oleh karena itu, Dia tidaklah bertindak main-main atau kosong dari hikmah.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Firman-Nya, Ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah kepadamu) dengan ‘shad’ yang baris di bawah dan baris di depan yang berarti jinakkanlah olehmu, lalu potong-potonglah hingga daging dan bulunya bercampur baur. (Kemudian letakkanlah di setiap bukit) yang terletak di negerimu (sebagian darinya, setelah itu panggillah ia) kepadamu (niscaya mereka akan mendatangimu dengan cepat) atau segera. (Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Tangguh.) dalam perbuatan-Nya. Maka diambilnya burung merak, burung elang, gagak dan ayam jantan, masing-masing satu ekor, lalu ia melakukan apa yang diperintahkan sambil memegang kepala masing-masing, kemudian dipanggilnya hingga beterbangan potongan-potongan burung itu menemui kelompoknya hingga lengkap, lalu menuju kepalanya yang berada di tangannya.
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ

Allah berfirman, (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu potong-potonglah burung-burung itu olehmu. (Al-Baqarah: 260)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai jenis keempat burung itu, sekalipun tiada faedahnya menentukan jenis-jenisnya; karena seandainya hal ini penting, niscaya Al-Qur’an akan menycbutkannya dengan keterangan yang jelas.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah mengatakan, Keempat burung tersebut terdiri atas burung Garnuq, burung merak, ayam jago, dan burung merpati.

Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Ibrahim mengambil angsa, anak burung unta, ayam jago, dan burung merak.

Mujahid dan Ikrimah mengatakan bahwa keempat burung tersebut adalah merpati, ayam jago, burung merak, dan burung gagak.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَصُرْهُنَّ إِلَيْك

Dan potong-potonglah burung-burung itu olehmu. (Al-Baqarah: 260)

Yakni memotong-motongnya (sesudah menyembelihnya). Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Abu Malik, Abul Aswad Ad-Duali, Wahb ibnu Munabbih, Al-Hasan, As-Saddi, serta lain-lainnya.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan ikatlah burung-burung itu olehmu. (Al-Baqarah: 260) Setelah burung-burung itu diikat, maka Nabi Ibrahim menyembelihnya, kemudian menjadikan tiap bagian dari burung-burung itu pada tiap bukit.

Mereka menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim menangkap empat ekor burung, lalu menyembelihnya, kemudian memotong-motongnya, mencabuti bulu-bulunya, dan mencabik-cabiknya. Setelah itu sebagian dari burung-burung itu dicampuradukkan dengan sebagian yang lain. Kemudian   dibagi-bagi   menjadi   beberapa   bagian   dan   menaruh sebagian darinya pada tiap bukit. Menurut suatu pendapat adalah empat buah bukit, dan menurut pendapat yang lain tujuh buah bukit. Ibnu Abbas mengatakan, Nabi Ibrahim memegang kepala keempat burung itu pada tangannya. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kepada Ibrahim agar memanggil burung-burung itu. Maka Ibrahim memanggil burung-burung itu seperti apa yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Nabi Ibrahim melihat bulu-bulu burung-burung tersebut beterbangan ke arah bulu-bulunya, darah beterbangan ke arah darah-nya, dan daging beterbangan ke arah dagingnya; masing-masing bagian dari masing-masing burung bersatu dengan bagian lainnya, hingga masing-masing burung bangkit seperti semula, lalu datang kepada Ibrahim dengan berlari, dimaksudkan agar lebih jelas dilihat oleh orang yang meminta kejadian tersebut. Lalu masing-masing burung datang mengambil kepalanya yang ada di tangan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Apabila Nabi Ibrahim mengulurkan kepala yang bukan milik burung yang bersangkutan, burung itu menolak; dan jika Ibrahim mengulurkan kepala yang menjadi milik burung bersangkutan, maka menyatulah kepala itu dengan tubuhnya berkat kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 260)

Yakni Maha Perkasa, tiada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, dan tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi-Nya; semua yang dikehendaki-Nya pasti terjadi tanpa ada yang mencegah-Nya, karena Dia Maha Menang atas segala sesuatu, lagi Maha Bijaksana dalam semua firman, perbuatan, syariat serta kekuasaan-Nya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub sehubungan dengan firman-Nya: tetapi agar bertambah tetap hati saya. (Al-Baqarah: 260), Bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan, Tiada suatu ayat pun di dalam Al-Qur’an yang lebih aku harapkan selain darinya (Al-Baqarah: 260).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah; ia pernah mendengar Zaid ibnu Ali menceritakan asar berikut dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Abbas dan Abdullah ibnu Amr ibnul As sepakat mengadakan pertemuan, saat itu kami berusia muda. Salah seorang dari keduanya berkata yang lainnya, Ayat apakah di dalam Kitabullah yang paling diharapkan olehmu untuk umat ini? Maka Abdullah ibnu Amr membacakan firman-Nya:

يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. (Az-Zumar 53)

Ibnu Abbas berkata, Jika kamu mengatakan itu, maka aku katakan bahwa ayat yang paling kuharapkan dari Kitabullah untuk umat ini ialah ucapan Nabi Ibrahim, yaitu: Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati? Allah berfirman, Apakah kamu belum percaya? Ibrahim menjawab, Saya telah percaya, tetapi agar bertambah tetap hati saya. (Al-Baqarah: 260)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh Katib Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Salamah, dari Amr, telah menceritakan kepadaku Ibnul Munkadir, bahwa ia pernah bersua dengan Abdullah ibnu Abbas dan Abdullah ibnu Amr ibnul As. Lalu Abdullah ibnu Abbas berkata kepada Ibnu Amr ibnul As, Ayat Al-Qur’an apakah yang paling kamu harapkan menurutmu? Abdullah ibnu Amr membacakan firman-Nya: Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. (Az-Zumar: 53), hingga akhir ayat Maka Ibnu Abbas berkata, Tetapi menurutku adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab, ‘Saya telah percaya.’ (Al-Baqarah: 260), hingga akhir ayat. Allah rida kepada Ibrahim setelah dia mengatakan bala (saya telah percaya). Hal ini terjadi setelah timbul keinginan itu di dalam hatinya dan setan mengembuskan godaan kepadanya.

Ayat berikutnya: Sebutir Biji yang Menumbuhkan Tujuh Tangkai

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui Abu Abdullah, yaitu Muhammad ibnu Ya’qub ibnul Ahzam, dari Ibrahim ibnu Abdullah As-Sa’di, dari Bisyr ibnu Umar Az-Zahrani, dari Abdul Aziz ibnu Abu Salamah berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal. Selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa sanad asar ini sahih, padahal keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaSebutir Biji yang Menumbuhkan Tujuh Tangkai
Berita berikutnyaBagaimana Allah Menghidupkan Orang Mati?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here