Tidak Mengiringi Apa yang Dia Infakkan

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 262

0
28

Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 262. Dorongan untuk berinfak di jalan Allah, penjelasan tentang adabnya dan bersikap lembut baik dalam ucapan maupun perbuatan, tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah : 262)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Alladzīna yuηfiqūna amwālahum fī sabīlillāhi (orang-orang yang menginfakkan hartanya di Jalan Allah). Turunnya ayat ini berhubungan dengan ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Tsumma lā yutbi‘ūna mā aηfaqū (kemudian mereka tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu), yakni setelah memberikan infak tersebut.

Mannan (dengan mengungkit-ungkit pemberiannya) atas nama Allah.

Wa lā adzan (dan tidak pula menyakiti [perasaan]) penerimanya.

Lahum ajruhum (niscaya mereka memperoleh pahala) dan ganjarannya.

‘Iηda rabbihim (pada sisi Rabb mereka) di dalam surga.

Wa lā khaufun ‘alaihim (tidak ada kekhawatiran atas mereka), yakni mereka tidak khawatir akan ditimpa azab.

Wa lā hum yahzanūn (dan tidak pula mereka akan bersedih hati) atas apa yang mereka tinggalkan setelah kematiannya.

.

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah[6], kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya[7] dan menyakiti (perasaan si penerima)[8], mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka[9] dan mereka tidak pula bersedih hati[10].

[6] Misalnya untuk jihad dan protek-proyek kebaikan lainnya.

[7] Yakni menyebut-nyebut pemberiannya seperti mengatakan Saya telah berbuat baik kepadamu dan telah menutupi kekuranganmu atau menghitung-hitung pemberiannya, atau meminta orang yang diberi sedekah untuk menyebutkan pemberiannya atau bersikap sombong terhadap penerima karena pemberiannya.

[8] Yakni terkesan bahwa orang yang diberi itu telah berhutang budi kepadanya. Menyebut-nyebut dilarang bahkan merusak sedekah adalah karena sesungguhnya nikmat yang ada adalah pemberian Allah Ta’ala, demikian juga ihsannya.

[9] Terhadap hal yang akan datang di akhirat nanti.

[10] Terhadap sesuatu yang telah luput di dunia.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan cercaan) terhadap orang yang diberi, misalnya dengan mengatakan, Saya telah berbuat baik kepadamu dan telah menutupi keperluanmu (atau menyakiti perasaan) yang bersangkutan, misalnya dengan menyebutkan soal itu kepada pihak yang tidak perlu mengetahuinya dan sebagainya (mereka memperoleh pahala) sebagai ganjaran nafkah mereka (di sisi Tuhan mereka. Tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka berduka cita) yakni di akhirat kelak.
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi kebaikan dan sedekah yang telah mereka infakkan dengan menyebut-nyebutnya kepada orang yang telah mereka beri. Dengan kata lain, mereka tidak menyebutkan amal infaknya itu kepada seorang pun dan tidak pula mengungkapkannya, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَلا أَذًى

Dan (tidak pula) menyakiti (perasaan si penerima). (Al-Baqarah: 262)

Dengan kata lain, mereka tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai terhadap orang yang telah mereka santuni, yang akibatnya kebaikan mereka menjadi terhapuskan pahalanya karena perbuatan tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjanjikan kepada mereka pahala yang berlimpah atas perbuatan yang baik tanpa menyakiti hati si penerima itu, melalui firman-Nya:

لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. (Al-Baqarah: 262)

Yakni pahala mereka atas tanggungan Allah, bukan atas tanggungan seseorang selain-Nya.

وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ

Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Baqarah: 262)

Maksudnya, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dalam menghadapi masa mendatang, yaitu kengerian di hari kiamat.

Ayat berikutnya: Perkataan yang Baik dan Pemberian Maaf

وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah: 262)

Yaitu tidak bersedih hati atas sanak keluarga yang mereka tinggalkan, tidak pula atas kesenangan dunia dan gemerlapannya yang terluputkan. Sama sekali mereka tidak menyesalinya, karena mereka telah beralih kepada keadaan yang jauh lebih baik bagi mereka daripada semuanya itu.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPerkataan yang Baik dan Pemberian Maaf
Berita berikutnyaAllah Melipatgandakan Pahala Orang yang Berinfak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here