Menulis dan Menyajikan Teks Cerita Inspiratif

0
128

Bagian akhir kegiatan pembelajaran tentang cerita inspiratif adalah peserta didik dapat menulis dan menyajikan teks cerita inspiratif dengan memperhatikan struktur cerita dan aspek kebahasaan.

Bahan bacaan yang terdapat pada bagian ini diperuntukkan demi kepentingan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang dipilih dalam Buku Siswa dan Buku Guru Kurikulum 2013 yang disesuaikan dengan permendikbud No. 37 Tahun 2018 yaitu 4.12 Mengungkapkan rasa simpati, empati, kepedulian, dan perasaan dalam bentuk cerita inspiratif dengan memperhatikan struktur cerita dan aspek kebahasaan.

Bercerita dan mendengarkan cerita adalah kegiatan yang hampir disukai semua orang. Di banyak kesempatan, di mana saja, siapa saja jika sudah berkumpul pasti ada cerita yang disampaikan. Sekarang bercerita sudah menembus batas ruang dan waktu. Bercerita dapat dilakukan di media sosial di dunia maya.

Cerita inspiratif merupakan bentuk narasi yang lebih bertujuan memberi inspirasi kebaikan kepada banyak orang. Cerita yang baik dapat menggugah perasaan, memberi kesan yang mendalam bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi mampu membuat seseorang berjanji pada dirinya untuk menjadi seperti yang dibacanya. Cerita yang menginspirasi seseorang berbuat lebih baik, lebih peduli, dan lebih berempati terhadap orang lain.

Lihat: LKPD Menulis Teks Cerita Inspiratif

Cara Menyusun Cerita Inspiratif

Menyusun cerita inspiratif sama saja dengan cerita pendek lainnya. Kamu sering menyusun cerita saat berbincang dengan teman-teman. Cerita tentang saat pergi liburan bersama, saat syukuran di rumah teman, cerita yang berkaitan dengan susahnya soal ujian, dan pesta. Kita hampir selalu bercerita tentang apa saja. Jadi, menulis cerita harusnya tidaklah begitu sulit.

Bagaimana menulis cerita inspiratif?

Cerita dapat menggugah perasaan jika:

  1. membawakan momen “aha” kepada pembaca;
  2. menyentak langsung hati dan pikiran pembaca/pendengar agar tetap semangat, menjadi lebih baik, berbuat lebih tulus dalam hidup;
  3. cerita mudah dipahami meski bermakna mendalam. Menulis cerita inspiratif selain bermanfaat bagi orang lain juga bermanfaat untuk pengembangan diri sendiri.

Ada yang ingin diceritakan/disampaikan, inilah kunci atau tema cerita. Tentunya sesuatu yang menginspirasi. Cerita inspirasimu bisa saja berasal dari pengalaman nyata yang pernah kamu alami, atau cerita motivasi tentang orang lain yang telah memengaruhimu secara positif, misalnya gurumu yang penuh perhatian. Mungkin juga ceritamu bukan tentang orang, tetapi tentang hewan yang penuh kasih sayang, atau hasil imajinasi.

Ada banyak yang dapat menjadi sumber ide ceritamu. Tulis ceritamu sebagaimana kamu berbincang dengan temanmu dengan bahasa yang sederhana. Tidak perlu kata-kata bergaya atau menggunakan semua aturan tata bahasa yang rumit. Sederhana saja, sampaikan pesan dan emosimu sebagaimana kamu lihat dan rasakan. Hal ini akan membuat ceritamu alami dengan gayamu sendiri dan terkesan akrab.

Cerita inspiratif umumnya bertema “kepahlawanan” Tema kepahlawanan cukup beragam, mulai dari cerita semacam Si Pitung, Pangeran Diponegoro, Sang Pencerah, Sukarno, Superman, hingga Neil Armstrong yang berjalan di bulan. ”Perjalanan Sang Pahlawan” secara jelas terbagi atas tiga bagian wajib cerita inspiratif (lihat model) sebagai berikut.

  • Awal (Seseorang memiliki tantangan atau kesulitan yang ingin atau harus diatasi)
  • Tengah (Keputusan dan tindakan diambil sang tokoh pahlawan untuk mencapai tujuan. Kesulitan demi kesulitan sering dihadapi dalam menggapai sukses)
  • Akhir (Sukses diraih dan ada hasil positif sebagai akibat keputusan dan tindakan sang tokoh)
Lihat: LKPD Menyajikan Secara Lisan Teks Cerita Inspiratif

Cermati cerita berikut!

Kentang, Telur, dan Biji Kopi

Ada seorang anak yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya menderita. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia lelah terus berjuang setiap saat. Sepertinya masalah tidak ada habisnya, silih berganti datang. Satu masalah selesai muncul lagi masalah lainnya. Sang ayah, seorang juru masak, membawanya ke dapur. Dia mengisi tiga panci dengan air dan meletakkannya di atas api. Setelah air dalam ketiga panci itu mulai mendidih, dia meletakkan kentang di panci pertama, telur di panci kedua, dan bubuk kopi di panci ketiga.

Kemudian duduk kembali dan menunggu tanpa berkata sepatahpun kepada putrinya. Sang anak menggerutu dan menunggu tidak sabar, menduga-duga yang dikerjakan ayahnya.

Setelah 20 menit dia mematikan api. Dia mengambil kentang dan meletakkannya ke dalam mangkuk. Dia mengambil telur dan meletakkannya ke dalam mangkuk. Setelah itu mengambil rebusan air kopi dan dimasukkan ke dalam cangkir. Dia menoleh ke putrinya dan bertanya.

“Nak, apa yang kamu lihat?”

“Kentang, telur, dan kopi’, dia cepat menjawab.

“Lihat lebih cermat,” kata ayahnya, “pegang kentang itu!” Sang anak melakukannya dan kentangnya sudah empuk. Kemudian dia diminta mengupas telur, dia mengamati telur rebusnya keras. Akhirnya dia diminta menghirup aroma kopi yang harum hingga membuatnya tersenyum.

“Ayah, apa maksud semua ini?” tanyanya. Sang ayah kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur, dan kopi menghadapi tantangan yang sama, air mendidih. Namun, masing-masing bereaksi berbeda.

Kentang yang keras setelah masuk ke dalam air mendidih berubah menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh yang hanya dilapisi cangkang tipis saat dimasukkan ke dalam air mendidih isi telur berubah menjadi keras. Yang unik adalah gilingan biji kopi. Setelah dimasukkan ke dalam air mendidih, mengubah air menjadi sesuatu yang baru.

“Yang mana kamu?” tanyanya kepada putrinya. “Saat tantangan dan kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana tanggapanmu? Apakah kamu kentang, telur, atau biji kopi?”

Anakku, dalam hidup ini segala sesuatu terjadi di sekitar kita. Hal-hal terjadi menimpa kita. Akan tetapi, kita lah yang menentukan akan menjadi apa, menjadi lebih lemah, lebih kuat, atau menjadi sesuatu yang baru? Kamu pilih yang mana?

Cerita di atas menyadarkan bahwa tidak ada gunanya jika sering mengeluh. Nasihat tentang orang yang sering mengeluh juga diceritakan dalam cerita “Garam dan Air”. Cerita di depan berisi kentang, telur, dan biji kopi yang dimasukkan ke dalam air mendidih, lalu menjadi berbeda hasilnya. Demikian juga dengan garam yang dimasukkan ke dalam air dengan volume berbeda (gelas, panci, danau) hasilnya juga berbeda. “Garam” diibaratkan sebagai masalah. Lemparkan garam ke dalam air di gelas, air di panci, atau air di danau adalah jenis sikap orang menghadapi masalah. Apakah sama hasilnya? Pesan moralnya jadilah danau. Nah, ide ini kamu susun menjadi cerita yang menarik.

Demikian, semoga bermanfaat!

Lihat: Materi Bahasa Indonesia Kelas 9 K-13 Edisi Revisi

Sumber:

Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-2, 2018 (Edisi Revisi)

Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas IX. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-2, 2018 (Edisi Revisi)

Paket Unit Pembelajaran Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2019.

Berita sebelumyaMengidentifikasi Informasi Teks Diskusi
Berita berikutnyaLKPD Menyajikan Secara Lisan Teks Cerita Inspiratif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here