Menyimpulkan Unsur Intrinsik Teks Cerita Pendek

0
1586

Dalam bagian ini dibahas tentang menyimpulkan unsur intrinsik teks cerita pendek berupa karakteristik tokoh, latar, alur, sudut pandang, dan amanat.

Bahan bacaan yang terdapat pada bagian ini diperuntukkan demi kepentingan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang dipilih dalam Buku Siswa dan Buku Guru Kurikulum 2013 yang disesuaikan dengan permendikbud No. 37 Tahun 2018 yaitu 4.5 Menyimpulkan unsur-unsur pembangun karya sastra dengan bukti yang mendukung dari cerita pendek yang dibaca atau didengar.

Lihat: LKPD Menyimpulkan Unsur Intrinsik Cerita Pendek

Bahan Bacaan

Cerita pendek (cerpen) mengangkat persoalan kehidupan manusia secara khusus. Tema cerpen berasal dari persoalan keseharian hingga ke renungan filosofis yang dipotret dari kehidupan nyata. Tokoh dan latar bisa saja direkayasa demi kepentingan keindahan cerita dan sekaligus membedakannya dengan teks cerita pengalaman nyata.

Ciri cerpen juga ditandai dengan jumlah karakter yang relatif kecil mencakup satu tindakan tunggal dengan satu fokus tematik. Unsur yang ada pada cerpen adalah latar, sudut pandang penceritaan, karakter (tokoh), dan alur/plot/struktur.

Cerpen ditulis pengarang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari yang dialaminya. Pengalaman hidup ini kemudian diekspresikan ke dalam cerpen. Proses penciptaannya bukan semata-mata menggambarkan kehidupan nyata itu, melainkan didasari oleh pandangan pengarang. Pandangan inilah yang menggambarkan nilai dalam suatu cerpen.

Seperti halnya sebuah kisah tentunya cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil sebagai contoh, antara lain:

  • Nilai agama. Berkaitan dengan pelajaran agama yang dapat dipetik dalam teks cerpen.
  • Nilai Sosial. Berkaitan dengan pelajaran yang dapat dipetik dari interaksi sosial antara para tokoh dan lingkungan masyarakat dalam teks cerpen.
  • Nilai moral. Nilai ini berkaitan dengan nilai yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. Dalam cerpen nilai moral bisa berupa nilai moral negatif (buruk) atau nilai moral positif (baik).
  • Nilai budaya. Nilai yang berkaitan erat dengan kebudayaan, kebiasaan, serta tradisi adat istiadat.

Untuk memahami teks cerpen kita perlu memahami unsur-unsur yang ada pada cerpen yaitu unsur instrinsik cerita pendek selain tentu harus memahami pula unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerita tersebut.

Mari kita cermati kembali cerpen “Pohon Keramat” dan kita simpulkan berdasarkan unsur instrinsik cerita yang ada di dalamnya. Perhatikan kata yang bercetak miring pada Kutipan cerpen berikut!

1.  Latar tempat

Kutipan cerpen

  • Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar.
  • Tidak jarang saya mandi di pancuran sawah.
  • Setiap melihat dedaunan yang bergoyangan, saya sering melamun melihat Jayasakti shalat di atas daun pisang.
  • Mata air yang berada di kaki gunung mengalirkan sungai yang lumayan besar.
  • Anak-anak seluruh kampung mengalihkan tempat bermain ke sawah.
  • Pulang dari mengontrol sawah, saya diajak Kakek jalan-jalan ke pasar yang buka seminggu sekali.
  • dst.

2.  Latar waktu

Kutipan cerpen

  • Saat pendudukan Belanda, di kampung saya ada seorang tokoh yang melawan Belanda dan berjuang sendirian tanpa pasukan.
  • Bertahun-tahun pasukan Belanda dan centeng-centeng demang mengepung Gunung Beser.
  • Dahulu ada beberapa orang pencari kayu bakar nekat masuk ke dalam.
  • Tiap malam tertentu, katanya, dari Gunung Beser keluar cahaya yang begitu menyejukkan.
  • Sejak umur 5 tahun saya sering tidur di rumah Kakek.
  • Setiap subuh Kakek membangunkan saya dan mengajak pergi ke masjid kecil di pinggir sawah.
  • Selesai shalat, Kakek biasa mengontrol air sawah.
  • Bila panen tiba, setiap petani yang punya sawah luas akan mengadakan syukuran.
  • Kami mandi sore di pancuran sawah. Setiap sore, kecuali hari Jumat, anak-anak belajar mengaji di masjid.
  • dst.

3.  Latar Suasana

Kutipan cerpen

  • Mereka akan bergidik hanya membayangkan keangkerannya.
  • Tubuhnya menjadi pohon harum yang baunya dibawa angin ke sekitar gunung.
  • Saya yang kadang masih merasa ngantuk, begitu turun dari rumah selalu takjub melihat Gunung Beser berdiri kokoh.
  • Saya merasa kesegaran pagi, harum dedaunan, dan bau tanah adalah bau khas Gunung Beser.
  • Nama Gunung Beser sendiri berarti mengeluarkan air terus-terusan.
  • Selain sering dibawa Kakek ke tempat syukuran, saya senang dengan hari-hari di sawah.
  • Setiap orang di kampung saling mengenal, termasuk anak-anak.
  • dst.

4.  Sudut Pandang Penceritaan

Kutipan cerpen

  • Saat pendudukan Belanda, di kampung saya ada seorang tokoh yang melawan Belanda dan berjuang sendirian tanpa pasukan.
  • Sejak saya ingat, cerita yang diketahui seluruh penduduk kampung juga meliputi kharisma Gunung Beser.
  • Bagi saya, Gunung Beser menyimpan kenangan tersendiri.
  • Bagi sawah-sawah di kampung saya, air tidak mesti diperebutkan.
  • Saya beberapa kali melihat para petani berburu berang-berang atau tikus.
  • dst.

5.  Karakter (tokoh)

Kutipan cerpen

  • Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang, menyebutnya dengan Gunung Beser.
  • Saat pendudukan Belanda, di kampung saya ada seorang tokoh yang melawan Belanda dan berjuang sendirian tanpa pasukan. Orang tersebut bernama Jayasakti.
  • Pasukan Belanda dengan dipandu centeng-centeng demang pernah melacak Jayasakti ke dalam gunung.
  • Tidak seorang pun penduduk berani masuk ke kelebatan Gunung Beser.
  • Mereka menghormati perjuangan yang pernah dilakukan Mbah Jayasakti.
  • Para pencari kayu bakar dan penyabit rumput hanya berani sampai ke kaki gunung.
  • Ia termasuk orang yang bijaksana dan tinggi ilmunya.
  • Mbah Jayasakti, begitu penduduk kampung menyebut penghuni Gunung Beser, melindungi kampung.
  • Penduduk kampung begitu takut mengganggu ketenangan Gunung Beser.
  • Saya selalu menguntitnya dari belakang tanpa banyak bicara.
  • Saya menyukai kesegaran air dan udara itu.
  • Kakek dan para petani lain juga sering mengontrol sawah pagi-pagi.
  • Kakek awalnya mengajar, tapi akhirnya diteruskan oleh Kang Hasim.
  • dst.

6.  Alur/plot/struktur

Kutipan cerpen

  • Jayasakti lari dari kampung ke Gunung Beser dan bersembunyi agar Belanda tidak menimpakan kemarahan kepada masyarakat kampungnya.
  • Tidak seorang pun penduduk berani masuk ke kelebatan Gunung Beser.
  • Cerita yang meliputi kharisma Gunung Beser.
  • Gunung Beser menyimpan kenangan tersendiri.
  • Menguntit Kakek dari belakang mengontrol air sawah.
  • Menyaksikan bagaimana Gunung Beser yang seperti patung raksasa hitam.
  • Gunung Beser memberikan air yang melimpah.
  • Belum pernah ada berita para petani berkelahi karena berebut air.
  • Para petani berburu berang-berang atau tikus.
  • Bila panen tiba, setiap petani yang punya sawah luas akan mengadakan syukuran.
  • Bagi anak-anak, sawah adalah tempat yang paling banyak memberi kenangan.
  • Pulang dari mengontrol sawah, saya diajak Kakek jalan-jalan ke pasar.
  • dst.

7.  Amanat

Kutipan cerpen

  • Kita harus lebih dekat bersahabat dengan alam agar alam lebih bersahabat dengan kita.
  • Pohon memang keramat, harus dihargai, dihormati, dijaga dipelihara.
  • Tanpa pohon bencana akan lebih sering terjadi menimpa kita.
  • Mbah Jayasakti mestinya berubah menjadi kesadaran ilmu. Kakek benar, banyak orang cuma merasa pintar padahal tidak.

Demikian, semoga bermanfaat.

Lihat: Materi Bahasa Indonesia Kelas 9 K-13 Edisi Revisi

Sumber:

Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas IX. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-2, 2018 (Edisi Revisi)

Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas IX. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. Cetakan ke-2, 2018 (Edisi Revisi)

Paket Unit Pembelajaran Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2019.

Berita sebelumyaLKPD Gambaran Alur Cerpen “Pohon Keramat”
Berita berikutnyaLKPD Menyimpulkan Unsur Intrinsik Cerita Pendek

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here