Mengikuti yang Mutasyabihat untuk Menimbulkan Fitnah

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 7

0
147

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 7. Menerangkan ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat dalam Al-Qur’an; Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal. (Q.S. Ali Imran : 7)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Fa ammal ladzīna (adapun orang-orang yang). Mereka adalah orang-orang Yahudi: Ka‘b bin al-Asyraf, Huyay bin Akhthab, dan Jaddi bin Akhthab.

Fī qulūbihim zaighun (dalam hatinya condong pada kesesatan), yakni di dalam hatinya terdapat keraguan dan penyimpangan dari petunjuk.

Fa yattabi‘ūna mā tasyābaha minhu (maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyābihāt ) di antara ayat-ayat Al-Qur’an.

Ibtighā-al fitnati (untuk menimbulkan fitnah), yakni menginginkan kekafiran, kemusyrikan, dan terus-menerus dalam kesesatan.

Wab tighā-a ta’wīlihī (dan untuk mencari-cari takwilnya), yakni mengharapkan keberadaan umat Islam segera berakhir, dan kekuasaan bisa kembali lagi kepada mereka.

Wa mā ya‘lamu ta’wīlahū (padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya), yakni kesudahan umat ini.

Illallāh (kecuali Allah). Kalimat tersebut selesai sampai di sini, ….

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya[15], padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah[16]. …

[15] Orang-orang yang berpenyakit hati karena niatnya yang buruk berusaha mencari ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan syubhat di tengah manusia agar dapat menyesatkan mereka, di samping itu, mereka menta’wil ayat-ayat mutasyabihat untuk menguatkan pemahaman mereka yang batil.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah membacakan ayat di atas, Dan bersabda,

فَإِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهًمْ

Apabila kalian melihat orang-orang yang mencari ayat-ayat mutasyabihat, mereka itulah orang-orang yang disebut Allah, maka berhati-hatilah.

[16] Jumhur (mayoritas) mufassir mewaqfkan (memberhentikan) sampai ayat ini, namun yang lain menyambung dengan kata-kata wa raasikhuun…dst. Kedua-duanya masih mengandung kemungkinan benar, jika maksud ta’wil di sini adalah mengetahui hakikatnya, maka yang benar adalah waqf sampai illallah, karena yang mengetahui hakikatnya adalah Allah saja. Misalnya hakikat sifat Allah, hakikat sifat-sifat yang terjadi pada hari akhir dsb. Hal ini, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, tidak boleh bagi seseorang memberanikan diri mengkaifiyatkannya. Oleh karena itu, Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang firman Alllah Ar Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa (Allah bersemayam di atas ‘Arsy) bagaimana bersemayam-Nya? Maka ia menjawab, Bersemayam adalah kata yang sudah diketahui, bagaimananya adalah majhul (tidak diketahui), mengimaninya wajib dan menanyakannya bid’ah. Demikianlah yang harus dikatakan dalam ayat-ayat sifat, yakni bahwa sifat tersebut diketahui, namun kaifiyatnya majhul. Orang-orang yang ilmunya mendalam, mengimaninya dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.

Adapun jika arti ta’wil di ayat ini adalah tafsir, penjelasan lebih dalam, maka yang benar adalah menyambung kata-kata Ar Raasikhuun (orang-orang yang ilmunya mendalam) dengan Allah; tidak diwaqfkan. Sehingga tafsir ayat-ayat yang mutasyabihat, pengembalian kepada ayat-ayat yang muhkamat serta penyingkiran kesamaran yang ada dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala dan orang-orang yang ilmunya mendalam.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan) menyeleweng dari kebenaran, (maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah) di kalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya (dan demi untuk mencari-cari takwilnya) tafsirnya (padahal tidak ada yang tahu takwil) tafsirnya (kecuali Allah) sendiri-Nya ….
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. (Ali Imran: 7)

Yakni kesesatan dan menyimpang dari perkara yang hak, menyukai perkara yang batil.

فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشابَهَ مِنْهُ

Maka mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat darinya. (Ali Imran: 7)

Yaitu sesungguhnya mereka hanya mau mengambil yang mutasyabihnya saja, karena dengan yang mutasyabih itu memungkinkan bagi mereka untuk membelokkannya sesuai dengan tujuan-tujuan mereka yang rusak, lalu mereka mengartikannya dengan pengertian tersebut, mengingat lafaznya mirip dengan pengertian mereka yang menyimpang. Terhadap yang muhkam, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan padanya, karena yang muhkam merupakan hujah yang mematahkan alasan mereka dan dapat membungkam mereka.

Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ

Untuk menimbulkan fitnah. (Ali Imran: 7)

Yaitu untuk menyesatkan para pengikut mereka dengan cara memakai Al-Qur’an sebagai hujah mereka untuk mengelabui para pengikutnya terhadap bid’ah yang mereka lakukan. Padahal kenyataannya hal tersebut merupakan hujah yang menghantam mereka dan sama sekali bukan hujah yang mereka peralat. Perihalnya sama dengan masalah seandainya orang-orang Nasrani mengemukakan hujahnya ‘Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Isa adalah roh (ciptaan) Allah dan kalimat (perintah)-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan roh dari Allah’, tetapi mereka mengesampingkan firman-Nya yang mengatakan:

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنا عَلَيْهِ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian). (Az-Zukhruf: 59)

Berikutnya: Orang yang Dalam Hatinya Condong kepada Kesesatan

إِنَّ مَثَلَ عِيسى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرابٍ ثُمَّ قالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran: 59)

Dan ayat-ayat lainnya yang muhkam lagi jelas menunjukkan bahwa Isa adalah salah seorang dari makhluk Allah, dan merupakan seorang hamba serta seorang rasul di antara rasul-rasul Allah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaOrang yang Dalam Hatinya Condong kepada Kesesatan
Berita berikutnyaAyat-ayat yang Muhkamat dan Mutasyabihat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here