Orang-orang yang Ilmunya Mendalam

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 7

0
131

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 7. Menerangkan ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat dalam Al-Qur’an; menerangkan orang-orang yang ilmunya mendalam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal. (Q.S. Ali Imran : 7)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… War rāsikhūna fil ‘ilmi (orang-orang yang mendalam ilmunya), yakni orang-orang yang benar-benar memahami Taurat, seperti ‘Abdullah bin Salam dan teman-temannya.

Yaqūlūna āmanna bihī (berkata, Kami beriman kepadanya), yakni kepada Al-Qur’an.

Kullum min ‘iηdi rabbinā (semuanya dari hadirat Rabb kami), yakni Dia-lah yang menurunkan ayat muhkamāt dan mutasyābihāt. …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami[17].

[17] Oleh karena semua ayat tersebut berasal dari sisi Allah, maka tidak akan terjadi pertentangan, bahkan isinya sama, yang satu dengan yang lain saling membenarkan dan menguatkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (dan orang-orang yang mendalam) luas lagi kokoh (ilmunya) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya: (Berkata, Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihat) bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, (semuanya itu) baik yang muhkam maupun yang mutasyabih (dari sisi Tuhan kami)
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Di antara mereka ada yang melakukan waqaf pada firman-Nya:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7)

Pendapat ini diikuti oleh banyak ahli tafsir dan ahli Usul, dan mereka mengatakan bahwa khitab dengan memakai ungkapan yang tidak dimengerti merupakan hal yang mustahil.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah mengatakan, Aku termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu mereka yang mengetahui takwilnya.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan pula dari Mujahid, bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui takwilnya dan mereka mengatakan, Kami beriman kepadanya. Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, bahwa makna yang dimaksud ialah tidak ada seorang pun yang mengetahui makna yang dimaksud kecuali hanya Allah. Orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, Kami beriman kepada mutasyabih.

Kemudian mereka yang mendalam ilmunya dalam menakwilkan ayat-ayat yang mutasyabihat merujuk kepada apa yang telah mereka ketahui dari takwil ayat-ayat muhkamat yang semua orang mempunyai takwil yang sama mengenainya. Dengan demikian, maka semua isi Al-Qur’an serasi berkat pendapat mereka, sebagian di antaranya  membenarkan   sebagian   yang   lain;   sehingga   hujah   pun menembus sasarannya dan tiada suatu alasan pun untuk mengelak darinya, serta semua kebatilan tersisihkan dan semua kekufuran tertolak berkat Al-Qur’an. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendoakan sahabat Ibnu Abbas dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (Al-Qur’an).

Di antara ulama ada yang merincikan masalah ini, dia mengatakan bahwa takwil Al-Qur’an dimaksudkan mempunyai dua pengertian. Salah satunya ialah takwil dengan pengertian hakikat sesuatu dan merupakan kesimpulan darinya. Termasuk ke dalam pengertian ini ialah firman-Nya:

وَقالَ يا أَبَتِ هذا تَأْوِيلُ رُءْيايَ مِنْ قَبْلُ

Dan berkata Yusuf, Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu. (Yusuf: 100)

Dan firman-Nya:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu. (Al-A’raf: 53)

Yakni hakikat dari apa yang diberitakan kepada mereka menyangkut perkara akhirat, apabila yang dimaksud dengan takwil seperti di atas berarti waqaf-nya pada lafzul Jalalah. Karena hakikat dan kenyataan segala sesuatu itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dengan jelas kecuali hanya Allah Subhaanahu wa Ta’aala Dengan demikian, berarti firman-Nya: Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai mubtada. Sedangkan firman-Nya: mengatakan, Kami beriman kepadanya. (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai khabar-nya.

Adapun jika yang dimaksud dengan takwil ialah pengertian yang lain, yaitu seperti tafsir, penjelasan, dan keterangan mengenai sesuatu, seperti makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

نَبِّئْنا بِتَأْوِيلِهِ

Berikanlah kepada kami takwilnya. (Yusuf: 36)

Yakni tafsir dari mimpinya itu. Jika yang dimaksud adalah seperti ini, berarti waqaf-nya pada firman-Nya: dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7)

Karena mereka mengetahui dan memahami apa yang di-khitab-kan oleh Al-Qur’an dengan ungkapannya itu, sekalipun pengetahuan mereka tidak meliputi hakikat segala sesuatu seperti apa adanya. Berdasarkan analisis ini, berarti firman-Nya: mengatakan, Kami beriman kepadanya. (Ali Imran: 7) berkedudukan sebagai hal yang menggambarkan keadaan mereka. Hal ini memang diperbolehkan; dan ia merupakan bagian dari ma’tuf, bukan ma’tuf ‘alaih, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

لِلْفُقَراءِ الْمُهاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوالِهِمْ

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. (Al-Hasyr: 8)

sampai dengan firman-Nya:

يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنا وَلِإِخْوانِنَا

Mereka berdoa, Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami. (Al-Hasyr: 10), hingga akhir ayat.

Dan seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَجاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Dan datanglah Tuhanmu, dan (datang pula) malaikat dengan berbaris-baris. (Al-Fajr: 22)

Berikutnya: Tidak Ada yang Dapat Mengambil Pelajaran

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang memberitakan perihal mereka yang mendalam ilmunya, bahwa mereka mengatakan, Kami beriman kepadanya, yakni kepada ayat-ayat mutasyabihat itu. Semuanya yakni yang muhkam dan yang mutasyabih berasal dari sisi Tuhan kami dengan sebenarnya. Masing-masing dari keduanya membenarkan yang lainnya dan mempersaksikannya, karena semuanya berasal dari sisi Allah; Tiada sesuatu pun dari sisi Allah yang berbeda dan tidak pula berlawanan, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa: 82)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaTidak Ada yang Dapat Mengambil Pelajaran
Berita berikutnyaLKPD Menelaah Cerpen “Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here