Ketika Setiap Diri Mendapatkan Semua Kebajikan

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 30

0
264

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 30. Pada hari ketika setiap diri mendapatkan semua kebajikan dihadapkan (di depannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Pada hari ketika setiap diri mendapatkan semua kebajikan dihadapkan (di depannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali Imran : 30)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yauma (pada hari ketika), yakni pada hari kiamat.

Tajidu kullu nafsim mā ‘amilat min khairim muhdlaran (tiap-tiap jiwa mendapati segala kebaikan disodorkan ke hadapannya) tertulis dalam buku catatan amal.

Wa mā ‘amilat miη sū-in (begitu juga keburukan yang telah diperbuatnya), yakni demikian pula segala keburukan akan didapatinya tercatat dalam buku catatan amal.

Tawaddū lau anna bainahā (ia ingin kalau sekiranya antara ia), yakni antara dirinya.

Wa bainahū (dengannya), yakni dengan amal buruk itu.

Amadam ba‘īdā (terdapat masa yang jauh), yakni terdapat rentang waktu yang panjang, seperti jarak antara tempat terbit matahari dan tempat terbenamnya.

Wa yuhadz-dzirukumullāhu nafsah (dan Allah memperingatkan kalian akan diri [siksaan]-Nya), yakni memperingatkan kalian ketika berbuat maksiat.

Wallāhu raūfum bil ‘ibād (dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya), yakni kepada kaum mukminin.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Pada hari ketika setiap diri mendapatkan semua kebajikan[7] dihadapkan (di depannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya[8]. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu[9]. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya[10]. Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

[7] Kebajikan atau dalam bahasa Arab disebut Al Khair, adalah nama untuk semua perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, berupa amal-amal shalih baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang besar maupun yang kecil.

[8] Untuk diberikan balasan.

[9] Hal ini disebabkan penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Ayat ini sama seperti ayat-ayat berikut:

Supaya tidak ada ada orang yang mengatakan, Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah….dst. (Terj. Az Zumar: 56)

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah. (Terj. An Nisaa’: 42)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). (Terj. Al Furqan: 27-28)

Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat . (Terj. Az Zukhruf: 38)

Jika seseorang mengetahui hal seperti ini, tentu ia akan meninggalkan syahwat dan hawa nafsunya di dunia ini meskipun berat meninggalkannya daripada merasakan kesukaran-kesukaran dan menanggung penderitaan yang sangat berat dipikul pada hari itu. Akan tetapi, karena kezaliman dan kebodohan dalam dirinya, ia tidak melihat selain perkara yang dilihatnya langsung, ia tidak memiliki akal yang sempurna untuk memperhatikan akibat di belakang, sehingga dirinya berani berani berbuat maksiat dan meninggalkan perintah.

Ya Allah, bimbinglah kami dalam meniti hidup ini agar tetap istiqamah di atas jalan-Mu.

[10] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengulangi lagi peringatan ini karena sayang kepada kita, agar masa yang panjang tidak membuat hati kita keras dan agar kita memiliki rasa raja’ (berharap) dengan beramal shalih serta khauf (takut) sehingga meninggalkan maksiat. Kita meminta kepada Allah agar Dia mengaruniakan kepada kita rasa takut kepada siksa-Nya terus menerus, agar kita tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan murka-Nya dan meminta kepada-Nya agar mengaruniakan kepada kita rasa raja’ agar kita tidak berputus asas dari rahmat-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Pada hari itu setiap diri akan mengetahui segala yang dilakukan)nya (berupa kebaikan akan dihadapkan ke hadapannya begitu juga segala yang dilakukan)nya (berupa kejahatan) menjadi mubtada sedangkan yang menjadi khabarnya: (ia ingin sekiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh) teramat jauh hingga ia takkan pernah sampai padanya. (Dan Allah memperingatkan kamu kepada diri-Nya) diulangi untuk memperkuat (Dan Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.) Ayat berikut turun tatkala mereka mengatakan, Kami tidaklah menyembah berhala itu hanyalah karena kecintaan kami kepada Allah, Kami bermaksud agar berhala-berhala itu mendekatkan kami kepada-Nya.
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Disebutkan dalam firman-Nya:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَراً

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan yang dilakukan(nya) dihadapkan (ke hadapannya). (Ali Imran: 30)

Yakni pada hari kiamat nanti dihadapkan kepada setiap hamba semua amal perbuatannya, yang baik dan yang buruknya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

يُنَبَّؤُا الْإِنْسانُ يَوْمَئِذٍ بِما قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Al-Qiyamah: 13)

Maka apa yang ia lihat dari amal perbuatannya yang baik, hal itu sangat menggembirakannya; dan apa yang ia lihat dari amal perbuatannya yang buruk, hal itu membuatnya sedih dan kecewa; dan berharap sekiranya dia dapat berlepas diri dari dosa-dosanya itu, sekiranya antara dia dan dosa-dosanya itu jauh sekali jaraknya. Seperti yang ia katakan kepada setan yang selalu menemaninya ketika di dunia, karena setanlah yang membuatnya berani melakukan perbuatan yang berdosa:

يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Az-Zukhruf: 38)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengukuhkan hal tersebut dengan nada peringatan dan ancaman melalui firman selanjutnya, yaitu:

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 30)

Artinya, Allah memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk tidak berputus asa terhadap rahmat-Nya dan tidak berputus harapan dari belas kasihan-Nya.

وَاللَّهُ رَؤُفٌ بِالْعِبادِ

Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 30)

Ayat berikutnya: Kecintaan Allah Akan Diperoleh dengan Mengikuti Rasul-Nya

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, termasuk belas kasihan Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia memperingatkan mereka terhadap siksa-Nya. Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah Allah Maha Penyayang kepada makhluk-Nya, dan menyukai mereka bila mereka beristiqamah pada jalan-Nya yang lurus dan agama-Nya yang benar serta mengikuti Rasul-Nya yang mulia.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaRPP 1 Lembar Menelaah Kebahasaan pada Pantun
Berita berikutnyaAllah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here