Sikap Ahli Kitab Terhadap Kaum Muslimin

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 69-72

0
146

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 69-72. Sikap Ahli Kitab terhadap kaum muslimin dan tipu daya mereka kepada kaum muslimin dengan melakukan penipuan, pemalsuan, penyesatan dsb. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (٦٩) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (٧٠) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٧١) وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٧٢)

Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadari. 

Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)? 

Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? 

Segolongan Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada awal siang dan ingkarilah di akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran). (Q.S. Ali Imran : 69-72)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Waddath thā-ifatum min ahlil kitābi lau yudlillūnakum (segolongan ahli kitab ingin menyesatkan kalian), yakni ingin menyesatkan kalian dari agama Islam.

Wa mā yudlillūna (padahal [sebenarnya] tidaklah mereka menyesatkan) dari Agama Allah Ta‘ala.

Illā aηfusahum wa mā yasy‘urūn (melainkan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari) hal itu. Menurut satu pendapat, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah Ta‘ala telah mengabarkan hal tersebut kepada Nabi-Nya.

Ya ahlal kitābi lima takfurūna bi āyātillāhi (wahai ahli kitab, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah), yakni Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa aηtum tasyhadūn (padahal kalian mengetahui [kebenarannya]) dari kitab kalian, bahwa Muhammad adalah seorang nabi dan rasul.

Yā ahlal kitābi lima talbisūnal haqqa bil bāthili (wahai ahli kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil), yakni mengapa kalian membaurkan antara yang hak dengan yang batil, berkenaan dengan sifat dan gambaran Nabi Muhammad ﷺ yang termaktub dalam kitab kalian.

Wa taktumūnal haqqa (dan menyembunyikan kebenaran), yakni mengapa pula kalian menutup-nutupi sifat dan gambaran Nabi Muhammad ﷺ yang tertulis dalam kitab kalian, yang menerangkan bahwa beliau adalah seorang nabi dan rasul.

Wa aηtum ta‘lamūn (padahal kalian mengetahui) bahwa hal tersebut tertulis dalam kitab kalian.

Selanjutnya Allah Ta‘ala mengungkapkan perkataan Ka‘b dan kawan-kawannya sehubungan dengan pemindahan arah kiblat. Dia berfirman:

Wa qālath thā-ifatum min ahlil kitābi (segolongan ahli kitab berkata), yakni para pemimpin ahli kitab, seperti Ka‘b dan kawan-kawannya, berkata kepada para pengikutnya.

Āminū bil ladzī uηzila ‘alal ladzīna āmanū (perlihatkanlah [seolah-olah] kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman), yakni beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wajhan nahāri (pada permulaan siang), yakni pada awal siang, tepatnya ketika subuh.

Wak furū ākhirahū (dan ingkarilah ia pada akhirnya), yakni ketika zuhur. Tegasnya mereka berkata kepada para pengikutnya, berimanlah kalian pada saat shalat Subuh, kepada kiblat yang digunakan Muhammad dan shahabat-shahabatnya sebagai arah shalat, dan ingkarilah pada saat shalat Zuhur dengan menggunakan arah kiblat lain yang semestinya kalian menghadap ke arahnya.

La‘allahum yarji‘ūn (supaya mereka [orang-orang Mukmin] kembali [pada kekafiran]), yakni supaya banyak di antara mereka yang kembali pada agama dan kiblat kalian.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu[14], padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri[15], tetapi mereka tidak menyadari.

[14] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala: Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…dst. (Terj. Al Baqarah: 109)

[15] Usaha mereka menyesatkan kaum mukmin, tidaklah menimpa selain kepada diri mereka sendiri, membuat mereka semakin sesat dan bertambah azabnya. Allah Ta’ala berfirman: Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (Terj. An Nahl: 88)

  1. Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah[16], padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?[17]

[16] Yakni ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

[17] Maksudnya: Apa yang menyebabkan kamu wahai Ahli Kitab, berbuat kafir kepada ayat-ayat Allah padahal kamu mengetahui bahwa pendirian kamu adalah batil, dan yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ itulah yang benar?. Ayat ini merupakan larangan kepada mereka untuk menyesatkan diri mereka sendiri, dan pada ayat selanjutnya tedapat larangan bagi mereka menyesatkan orang lain.

  1. Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan[18], dan kamu menyembunyikan kebenaran[19], padahal kamu mengetahui?

[18] Yaitu menutupi firman-firman Allah yang tertulis dalam Taurat dan Injil dan mengganti dengan perkataan yang dibuat-buat mereka (Ahli Kitab). Orang-orang berilmu yang mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran membuat kebenaran menjadi samar dan kebatilan menjadi dianggap benar, akibatnya orang-orang awam tidak dapat mengambil petunjuk. Padahal yang diinginkan dari ahli ilmu adalah menerangkan kebenaran kepada manusia, memilah mana yang hak dan mana yang batil, mana yang halal dan mana yang haram, mana aqidah yang benar dan mana aqidah yang salah agar manusia dapat mengambil petunjuk dan hujjah menjadi tegak bagi orang-orang yang tetap mengingkari. Oleh karena itu, mereka yang menyembunyikan yang hak memperoleh laknat dari Allah, malaikat dan manusia semuanya sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah: 159. Di samping itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga telah mengambil perjanjian dari mereka agar mereka menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya sebagaimana dalam surat Ali Imran: 187.

[19] Maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad ﷺ atau sifat-sifat Beliau yang disebutkan dalam Taurat dan Injil.

  1. Segolongan Ahli Kitab[20] berkata (kepada sesamanya), Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada awal siang dan ingkarilah di akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran)[21].

[20] Yakni orang-orang Yahudi.

[21] Yakni agar kaum mukmin meragukan kebenaran agama mereka, sehingga mereka mengatakan Jika memang agama ini benar, tentu mereka tidak akan murtad daripadanya, akhirnya mereka mau kembali kafir.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Segolongan Ahli Kitab hendak menyesatkan kamu padahal mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri) karena dosa kesesatan mereka tertimpa atas mereka, sedangkan orang-orang beriman tak mau menaati mereka (dan mereka tidak menyadari) demikian itu.
  2. (Hai Ahli Kitab! Kenapakah kamu mengingkari ayat-ayat Allah) maksudnya kitab mereka yang memuat sifat-sifat dan ciriciri Muhammad (padahal kamu menyaksikan) artinya mengetahui bahwa hal itu benar.
  3. (Hai Ahli Kitab! Kenapa kamu mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil) yakni dengan mengubah-ubah dan memalsukan isi Kitab kalian (dan kamu sembunyikan kebenaran) ciri-ciri Muhammad itu (padahal kamu mengetahui) bahwa hal itu benar.
  4. (Segolongan dari Ahli Kitab berkata) segolongan Yahudi kepada golongan Yahudi lainnya (berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan atas orang-orang beriman) kepada Al-Qur’an (di awal siang) atau permulaannya (dan kafirlah) kepadanya (di akhirnya, semoga mereka) yakni orang-orang yang beriman (kembali) kafir dari agama mereka, karena mereka niscaya akan mengatakan bahwa orang-orang itu mungkin keluar dari Islam setelah memasukinya sedangkan mereka ahli-ahli ilmu, mengetahui ketidakbenarannya, dan kata mereka pula:
Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan perihal kedengkian orang-orang Yahudi kepada kaum mukmin dan mereka selalu menginginkan agar kaum mukmin menjadi sesat. Allah memberitakan pula bahwa perbuatan mereka itu justru menjadi senjata makan tuan, sedangkan mereka tidak merasakan bahwa tipu daya diri mereka justru akibat buruknya menimpa diri mereka sendiri.

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kalian menyaksikan. (Ali Imran: 70).

Yakni kalian mengetahui kebenarannya dan menyaksikan bahwa itu adalah perkara yang hak.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahui? (Ali Imran: 71).

Yaitu kalian telah menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad yang terdapat di dalam kitab-kitab kalian, padahal kalian mengetahui dan menyaksikan kebenarannya.

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنزلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ

Segolongan dari Ahli Kitab berkata, Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada permulaan siang hari dan ingkarilah ia pada akhirnya. (Ali Imran: 72), hingga akhir ayat.

Hal ini merupakan tipu daya yang mereka lancarkan untuk mengelabui kalangan du’afa (orang-orang yang lemah) dari kalangan kaum muslim terhadap perkara agama mereka. Mereka melakukan musyawarah di antara sesamanya dan memutuskan agar menyusup ke dalam tubuh kaum muslim dengan menampakkan seakan-akan mereka beriman pada permulaan siang harinya dan shalat Subuh bersama-sama kaum muslim. Tetapi apabila hari telah petang, mereka harus kembali kepada agama mereka sendiri. Tujuannya ialah agar orang-orang yang lemah akalnya dari kalangan kaum muslim mengatakan bahwa sesungguhnya mereka kembali lagi ke agamanya tiada lain karena mereka telah melihat adanya suatu kekurangan atau suatu keaiban pada agama kaum muslim. Karena itu, disebutkan di dalam akhir ayat ini:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (Ali Imran: 72)

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menceritakan perihal orang-orang Yahudi dalam ayat ini, bahwa orang-orang Yahudi ada yang ikut shalat Subuh bersama Nabi ﷺ, lalu mereka kembali kafir pada akhir siang harinya. Hal tersebut sebagai pengelabuan agar orang-orang melihat telah tampak adanya kesesatan bagi mereka dalam agama Nabi ﷺ setelah mereka mengikutinya.

Ayat berikutnya: Sesungguhnya Karunia Itu di Tangan Allah

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa segolongan orang dari Ahli Kitab mengatakan, Apabila kalian bersua dengan sahabat-sahabat Muhammad pada permulaan siang hari, tampakkanlah diri kalian seolah-olah kalian beriman. Apabila sore hari, lakukanlah kebaktian kalian sebagaimana biasanya, supaya mereka mengatakan, ‘Mereka itu Ahli Kitab, mereka lebih alim daripada kita’. Hal yang sama diriwayatkan oleh Qatadah, As-Saddi,Ar-Rabi’, dan Abu Malik.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaRPP Bahasa Indonesia Kelas VII Menulis Surat Dinas
Berita berikutnyaHakikat Agama Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here