Rumah Ibadah Pertama yang Dibangun untuk Manusia

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 96

0
35

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 96. Menerangkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, pembangunannya terhadap Ka’bah, bantahan terhadap pengakuan Ahli Kitab tentang rumah ibadah yang pertama dan menetapkan kewajiban haji dalam Islam; Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, ialah Baitullah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (Q.S. Ali Imran : 96)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Inna awwala baitin (sesungguhnya rumah yang pertama kali), yakni masjid yang pertama kali.

Wudli‘a lin nāsi (dibangun untuk manusia), yakni yang dibangun untuk kaum mukminin.

Lal ladzī bi bakkata (adalah yang ada di Bakkah), yakni Baitullah yang ada di Mekah, tempat Ka‘bah berada. Disebut Bakkah, karena pada saat berdesak-desakkan dalam thawaf, orang-orang banyak yang menangis .

Mubārakan (yang diberkahi), yakni di tempat Ka‘bah berada terdapat magfirah dan rahmat.

Wa hudal lil ‘ālamīn (dan menjadi petunjuk bagi semua manusia), yakni merupakan kiblat bagi setiap nabi, rasul, orang yang mecintai kebenaran, dan orang yang beriman.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

96.[12] Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam[13].

[12] Ayat ini turun ketika Ahli Kitab mengatakan, bahwa kiblat mereka lebih dulu dibangun sebelum kiblat kaum muslimin. Maka Allah membantahnya, yakni bahwa rumah ibadah yang pertama kali dibangun adalah Ka’bah, baru kemudian Al Aqsha. Jarak antara keduanya sebagaimana dalam hadits adalah 40 tahun.

[13] Yakni kiblat mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun) untuk tempat ibadah (bagi manusia) di muka bumi (ialah yang terdapat di Bakkah) dengan ba sebagai nama lain dari Mekah. Dinamakan demikian karena Kakbah mematahkan leher orang-orang durhaka lagi aniaya. Baitullah ini dibina oleh malaikat sebelum diciptakannya Adam dan setelah itu baru dibangun pula Masjidilaksa dan jarak di antara keduanya 40 tahun sebagai tersebut dalam kedua hadits sahih. Pada sebuah hadits lain disebutkan pula bahwa Kakbahlah yang mula-mula muncul di permukaan air ketika langit dan bumi ini diciptakan sebagai buih yang putih, maka dihamparkanlah tanah dari bawahnya (diberi berkah) hal dari alladzii tadi (dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam) karena ia merupakan kiblat mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, yakni untuk tempat ibadah dan manasik mereka, di mana mereka melakukan tawaf dan shalat serta ber-i’tikaf padanya.

لَلَّذِي بِبَكَّةَ

Ialah Baitullah yang di Bakkah. (Ali Imran: 96)

Yakni Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam yang diklaim oleh masing-masing dari dua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani; bahwa mereka berada di dalam agama Nabi Ibrahim dan tuntunannya, tetapi mereka tidak mau ber-haji ke Baitullah yang dibangun olehnya atas perintah Allah untuk tujuan itu, padahal Nabi Ibrahim telah menyerukan kepada manusia untuk melakukan haji ke Baitullah. Seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

مُبَارَكًا

Yang diberkahi. (Ali Imran: 96)

Yaitu diberkahi sejak awal pembangunannya.

وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Yang menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali Imran: 96)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْميّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ذَر، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ قلتُ: يَا رسولَ اللَّهِ، أيُّ مَسجِد وُضِع فِي الْأَرْضِ أوَّلُ؟ قَالَ: الْمسْجِدُ الْحَرَامُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْمسجِدُ الأقْصَى  قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أرْبَعُونَ سَنَةً. قلتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: ثُم حَيْثُ أدْرَكْت الصَلاةَ فَصَلِّ، فَكُلُّهَا مَسْجِدٌ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Zar radiyallahu ‘anhu yang telah menceritakan: Aku bertanya, Wahai Rasulullah, masjid manakah yang mula-mula dibangun? Nabi ﷺ menjawab, Masjidil Haram. Aku bertanya, Sesudah itu mana lagi? Nabi ﷺ menjawab, Masjidil Aqsa. Aku bertanya, Berapa lama jarak di antara keduanya? Nabi ﷺ menjawab. Empat puluh tahun. Aku bertanya, Kemudian masjid apa lagi? Nabi ﷺ bersabda, Kemudian tempat di mana kamu mengalami waklu shalat, maka shalatlah padanya, karena semuanya adalah masjid.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadits Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, dari Syarik, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dari Ali radiyallahu ‘anhu sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi. (Ali Imran: 96) Memang banyak rumah yang dibangun sebelum Masjidil Haram, tetapi Baitullah adalah rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah.

(Ibnu Abu Hatim mengatakan pula) dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki berdiri, lalu menuju kepada sahabat Ali radiyallahu ‘anhu dan bertanya, Sudikah engkau menceritakan kepadaku tentang Baitullah, apakah ia merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini? Sahabat Ali menjawab, Tidak, tetapi Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun mengandung berkah, yaitu maqam Ibrahim; dan barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.

Kemudian Ibnu Abu Hatim menuturkan asar ini hingga selesai, yaitu menyangkut perihal pembangunan Baitullah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Kami mengetengahkan asar ini secara rinci di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini.

As-Saddi menduga bahwa Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini secara mutlak. Akan tetapi, pendapat Ali radiyallahu ‘anhu-lah yang benar.

Adapun mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah mengenai pembangunan Ka’bah yang ia ketengahkan melalui jalur Ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Habib, dari Abul Khair, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As secara marfu’ yaitu: Allah mengutus Jibril kepada Adam dan Hawa, membawa perintah kepada keduanya agar keduanya membangun Ka’bah. Maka Adam membangunnya, kemudian Allah memerintahkan kepadanya untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah. Dikatakan kepadanya, Engkau adalah manusia pertama (yang beribadah di Baitullah), dan ini merupakan Baitullah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia.

Maka sesungguhnya hadits ini merupakan salah satu dari mufradat (hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu orang) Ibnu Luhai’ah, sedangkan Ibnu Luhai’ah orangnya dinilai daif. Hal yang mirip kepada kebenaran hanya Allah Yang Maha Mengetahuibila hadits ini dikatakan mauquf hanya sampai kepada Abdullah ibnu Amr. Dengan demikian, berarti kisah ini termasuk ke dalam kategori kedua hadits daif lainnya yang keduanya diperoleh oleh Abdullah ibnu Amr pada saat Perang Yarmuk, yaitu diambil dari kisah Ahli Kitab.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

لَلَّذِي بِبَكَّةَ

Ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah). (Ali Imran: 96)

Bakkah merupakan salah satu nama lain dari kota Mekah yang terkenal. Menurut suatu pendapat, dinamakan demikian karena kota Mekah dapat membuat hina orang-orang yang zalim dan yang angkara murka. Dengan kata lain, mereka menjadi hina dan tunduk bila memasukinya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-4

Menurut pendapat yang lainnya lagi, dinamakan demikian karena manusia berdesak-desakan padanya. Qatadah mengatakan, sesungguhnya Allah membuat manusia berdesak-desakan di dalamnya, hingga kaum wanita dapat shalat di depan kaum laki-laki; hal seperti ini tidak boleh dilakukan selain hanya di dalam kota Mekah. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Amr ibnu Syu’aib, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Hammad ibnu Salamah meriwayatkan dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa batas Mekah mulai dari Al-Faj sampai ke Tan’im, sedangkan Bakkah batas-nya dari Baitullah sampai ke Al-Batha.

Syu’bah meriwayatkan dari Al-Mugirah, dari Ibrahim, bahwa Bakkah ialah Baitullah dan Masjidil Haram. Hal yang sama dikatakan pula oleh Az-Zuhri.

Ikrimah dalam salah satu riwayat dan Maimun ibnu Mihran mengatakan bahwa Baitullah dan sekitarnya dinamakan Bakkah, sedangkan selain itu dinamakan Mekah.

Ayat berikutnya: Maqam Ibrahim

Abu Malik, Abu Saleh, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Bakkah ialah tempat Baitullah berada, sedangkan selain itu dinamakan Mekah.

Mereka menyebutkan beberapa nama lain yang banyak bagi Mekah, yaitu Bakkah, Baitul Atiq, Baitul Haram, Baladul Amin, Al-Mamun, Ummu Rahim, Ummul Qura, Salah, Al-Arsy, Al-Qadis (karena menyucikan dosa-dosa), Al-Muqaddasah, An-Nasah, Al-Basah, Al-Balsah, Al-Hatimah, Ar-Ras, Kausa, Al-Baldah, Al-Bunyah, dan Al-Ka’bah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMaqam Ibrahim
Berita berikutnyaIkutilah Agama Ibrahim yang Lurus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here