Kekuasaan di Dunia dan Akhirat Hanya Milik Dia Semata

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 128

0
17

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 128. Renungan dan nasihat dalam perang Uhud dan Badar, dan bahwa sabar dan tawakkal kepada Allah adalah pangkal kemenangan; kekuasaan di dunia dan akhirat hanya milik Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya . Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim. (Q.S. Ali Imran : 128)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Laisa laka minal amri syai-un (tak ada sedikit pun campur tanganmu [dalam urusan mereka itu]), yakni bukanlah wewenangmu untuk menerima tobat dan memberikan azab, sekiranya kamu memanggil orang-orang yang lari pontang-panting dari medan tempur.

Au yatūba ‘alaihim (atau Allah menerima tobat mereka), yakni jika Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghendaki, Dia akan menerima tobat mereka dan mengampuni dosa mereka.

Au yu‘adz-dzibahum (atau mengazab mereka) lantaran mereka meninggalkan posisi.

Fa innahum zhālimūn (karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim) karena telah meninggalkan posisi mereka. Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan berhubungan dengan penduduk kampung ‘Ashiyyah dan Dzakwan. Nabi ﷺ melaknat mereka dalam doanya, karena mereka telah membunuh para shahabat beliau.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

128.[20] Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad)[21], apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim[22].

[20] Ayat ini turun ketika perang Uhud Nabi Muhammad ﷺ terluka, gigi Beliau pecah dan wajah Beliau terluka, maka Beliau berkata, Bagaimana suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka dan memecahkan giginya akan beruntung? (sebagaimana dalam Shahih Muslim). Beliau kemudian mendoakan kebinasaan kepada tokoh-tokoh orang musyrik seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr dan Harits bin Hisyam, maka turunlah ayat ini yang melarang Beliau mendoakan laknat kepada mereka dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Menurut hadits Anas yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan keburukan selama tiga puluh hari di waktu Subuh kepada mereka yang membunuh beberapa orang di Bi’ruma’unah. Beliau mendoakan keburukan kepada suku Ri’il, Dzakwan, Lihyan, dan ‘Ushayyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Anas berkata, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang kami baca berkenaan mereka yang membunuh beberapa orang di Bi’ruma’unah, kemudian dimansukh setelahnya. Mereka (yang mati syahid) menyampaikan, Sampaikanlah kepada kaum kami, bahwa kami telah bertemu Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya.

Ayat di atas bisa turun berkenaan semua itu karena mungkin turunnya tidak segera, dan antara masing-masing kisah tidak berjauhan terjadinya sehingga mencakup semua itu.

[21] Kewajibanmu hanyalah menyampaikan, membimbing manusia dan memberitahukan hal yang bermaslahat bagi mereka. Adapun yang demikian adalah urusan Allah, oleh karena itu bersabarlah. Jika hikmah (kebijaksanaan) Allah dan rahmat-Nya menghendaki, bisa saja Dia menerima tobat mereka dan menjadikan mereka masuk Islam, dan jika hikmah-Nya menghendaki, bisa saja membiarkan mereka di atas kekafiran sehingga mereka akan mendapat siksa.

[22] Hal ini menunjukkan keadilan Allah dan kebijaksanaan-Nya, di mana Dia meletakkan hukuman pada tempatnya, Dia tidak menzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang menzalimi dirinya sendiri.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tak ada sedikit pun hakmu untuk campur tangan dalam urusan mereka itu) tetapi semua itu urusan Allah, maka hendaklah kamu bersabar (apakah) artinya hingga (Allah menerima tobat mereka) dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam (atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang aniaya) disebabkan kekafiran mereka.
Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-4

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengalihkan khitab-Nya yang isinya menunjukkan bahwa kekuasaan di dunia dan akhirat hanya milik Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka. (Ali Imran: 128)

Yakni bahkan semua urusan itu hanyalah kembali kepada-Ku. Seperti yang diungkapkan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

فَإِنَّما عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسابُ

Karena   sesungguhnya   tugasmu   hanya   menyampaikan   saja, sedangkan Kamilah yang menghisab mereka. (Ar-Ra’d: 40)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُداهُمْ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 272)

Serta firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Al-Qashash: 56)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka. (Ali Imran: 128) Yakni tidak ada sedikit pun keputusanmu tentang hamba-hamba-Ku kecuali apa yang Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bagian yang lainnya.

Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ

Atau Allah menerima tobat mereka. (Ali Imran: 128)

Yakni mengampuni kekufuran mereka dengan cara memberi mereka petunjuk sesudah mereka sesat.

Berikutnya: Apakah Allah Menerima Tobat atau Mengazabnya?

أَوْ يُعَذِّبَهُمْ

Atau mengazab mereka. (Ali Imran: 128)

Yakni di dunia dan akhirat karena kekufuran dan dosa-dosa mereka. Karena itulah dalam penutup ayat disebutkan oleh firman-Nya:

فَإِنَّهُمْ ظالِمُونَ

Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 128)

Yakni mereka berhak untuk mendapatkannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaApakah Allah Menerima Tobat atau Mengazabnya?
Berita berikutnyaPertolongan Allah dalam Perang Badar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here