Bersegera Mencari Ampunan dari Tuhan

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 133

0
16

Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 133. Menerangkan tentang sifat orang-orang yang bertakwa, segera bertobat, menyesali dosa dan bahwa balasan untuknya adalah diampuni dosa dan masuk surga; Bersegera mencari ampunan dari Tuhan.  Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (Q.S. Ali Imran : 133)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa sāri‘ū ilā maghfiratim mir rabbikum (dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian), yakni hendaklah kalian segera bertobat dari riba dan segala dosa kalian guna menuju ampunan dari Rabb kalian.

Wa jannatin (dan surga), yakni menuju surga, dengan cara beramal saleh dan meninggalkan riba.

‘Ardluhas samāwāti wal ardlu (yang luasnya seluas langit dan bumi), jika (luas) langit dan bumi disatukan.

U‘iddat (yang disediakan), yakni yang diciptakan.

Lil muttaqīn (untuk orang-orang yang bertakwa), yakni orang-orang yang menjauhi kekufuran, kemusyrikan, perbuatan-perbuatan buruk, dan memakan riba.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan bersegeralah kamu) dengan atau tanpa wau (kepada keampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi) artinya seluas langit dan bumi bila keduanya disambung; sedangkan ‘`ardh’ artinya ialah luas (yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa) kepada Allah dengan mengerjakan taat dan meninggalkan maksiat.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menganjurkan mereka agar bersegera mengerjakan kebajikan dan berlomba untuk memperoleh derajat taqarrub. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 133)

Seperti halnya neraka, disediakan untuk orang-orang yang kafir.

Menurut suatu pendapat, makna firman-Nya Yang luasnya seluas langit dan bumi untuk mengingatkan luas panjangnya seperti yang disebutkan dalam ayat lain yang menggambarkan tentang hamparan surga (permadaninya), yaitu melalui firman-Nya:

بَطائِنُها مِنْ إِسْتَبْرَقٍ

Di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra. (Ar-Rahman: 54)

Dengan kata lain, dapat Anda bayangkan bagaimana keindahan bagian luarnya?

Menurut pendapat lain, lebar surga itu sama dengan panjangnya, mengingat bentuk surga seperti kubah yang terletak di bawah Arasy. Sedangkan sesuatu yang berbentuk seperti kubah, yakni bulat, ukuran panjang dan lebarnya sama. Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadits sahih yang mengatakan:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ وَسَقْفُهَا عَرْشُ الرَّحْمَنِ

Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah bagian yang paling tinggi dari surga dan sekaligus pertengahannya. Darinya mengalir sungai-sungai surga, dan atap surga adalah Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah.

Makna yang dikandung ayat ini sama dengan ayat lain yang ada di dalam surat Al-Hadid, yaitu firman-Nya:

سابِقُوا إِلى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُها كَعَرْضِ السَّماءِ وَالْأَرْضِ

Berlomba-lombalah kalian kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21), hingga akhir ayat.

Telah diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, bahwa Heraklius pernah menulis surat kepada Nabi ﷺ yang isinya menyatakan, Sesungguhnya engkau telah mengajakku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau demikian, di mana neraka? Maka Nabi ﷺ menjawab dengan balik bertanya:

سُبْحَانَ اللَّهِ فَأَيْنَ اللَّيْلُ إِذَا جَاءَ النَّهَارُ؟

Subhanallah (Maha suci Allah), di manakah malam bila siang hari tiba?

Ibnu Jarir meriwayatkannya. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Khaisamah, dari Sa’id ibnu Abu Rasyid, dari Ya’la ibnu Murrah yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan At-Tanukhi yang pernah menjadi utusan Heraklius kepada Rasulullah ﷺ di Himsa; dia telah berusia lanjut dan lemah sekali. Ia berkata bahwa ia datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dengan membawa surat Heraklius. Lalu surat itu diterima oleh seorang lelaki yang ada di sebelah kiri beliau. At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, lalu ia berkata, Siapakah teman kalian yang akan membaca surat ini? Mereka (para sahabat) menjawab, Mu’awiyah. Ternyata isi surat Heraklius mengatakan, Sesungguhnya engkau telah berkirim surat kepadaku, yang isinya engkau menyeruku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau begitu, di manakah nerakanya? At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah ﷺ menjawab dengan balik bertanya: Maha Suci Allah, di manakah malam hari bila siang hari datang?

Al-A’masy, Sufyan As-Sauri, dan Syu’bah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa segolongan orang-orang Yahudi pernah bertanya kepada Khalifah Umar ibnul Khattab tentang surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka? Maka Umar menjawab mereka, Bagaimanakah pendapat kalian bila siang hari datang, di manakah malam hari? Bilamana malam hari datang, di manakah siang hari? Mereka menjawab, Sesungguhnya engkau telah memetik hal yang semisal dari kitab Taurat. Asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui tiga jalur.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Barqan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnul Asam, bahwa seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab mengatakan, Mereka mengatakan bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi, maka di manakah neraka? Maka Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu menjawab, Di manakah malam hari bila siang hari tiba? Di manakah siang hari bila malam hari tiba?

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-4

Hal ini diriwayatkan pula secara marfu’. Untuk itu Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Salamah Abu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnul Asam, dari pamannya (yaitu Yazid ibnul Asam), dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mengatakan, Bagaimanakah pendapatmu mengenai firman-Nya: ‘dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi’ (Ali Imran: 133).

Maka di manakah neraka? Nabi ﷺ menjawab:

أَرَأَيْتَ اللَّيْلَ إِذَا جَاءَ لَبِسَ كُلَّ شَيْءٍ، فَأَيْنَ النَّهَارُ؟ قَالَ: حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ، قَالَ وَكَذِلَكَ النَّارُ تَكُونُ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Bagaimanakah menurutmu apabila malam tiba menyelimuti segala sesuatu, di manakah siang harinya? Lelaki itu menjawab, Di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah. Maka Nabi bersabda, Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Ayat berikutnya: Berinfak Baik di Waktu Lapang Maupun Sempit

Hadits ini mempunyai dua makna, yaitu:

Pertama, yang dimaksud ialah bahwa ketidakmampuan kita menyaksikan malam hari bila siang hari tiba bukan berarti malam itu tidak ada di suatu tempat, sekalipun kita tidak mengetahuinya. Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Pengertian ini lebih jelas, seperti yang dikemukakan oleh hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar tadi.

Kedua, mengartikah bahwa siang hari apabila menyinari alam dari belahan ini, maka malam hari berada di belahan lainnya. Demikian pula halnya surga, ia berada di tempat yang paling atas di atas langit di bawah Arasy, yang luasnya adalah seperti yang diungkapkan di dalam firman-Nya:

كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

Seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21)

Sedangkan neraka berada di tempat yang paling bawah. Dengan demikian, berarti tidaklah bertentangan antara pengertian luasnya surga yang seluas langit dan bumi dengan keberadaan neraka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBerinfak Baik di Waktu Lapang Maupun Sempit
Berita berikutnyaPeliharalah Dirimu dari Api Neraka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here