Sembahlah Allah dan Janganlah Mempersekutukan-Nya

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 36

0
30

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 36. Kewajiban terhadap Allah; Sembahlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan terhadap sesama manusia, perintah beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja, arahan dalam hubungan kemasyarakatan, dan perintah berinfak. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan apa yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, (Q.S. An-Nisaa’ : 36)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa‘ budullāha (dan beribadahlah kalian kepada Allah), yakni hendaklah kalian mengesakan Allah Ta‘ala.

Wa lā tusyrikū bihī syai-an (dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun) dari berhala-hala. …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun[1].

[1] Allah Ta’ala dalam ayat ini memerintahkan kita hanya menyembah kepada-Nya saja dan mengarahkan berbagai bentuk ibadah kepada-Nya, baik berdoa, meminta pertolongan dan perlindungan, ruku’ dan sujud, berkurban, bertawakkal dsb. serta masuk ke dalam pengabdian kepada-Nya, tunduk kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan rasa cinta, takut dan harap serta berbuat ikhlas dalam semua ibadah baik yang nampak (ibadah lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (ibadah hati). Allah Ta’ala juga melarang berbuat syirk, baik syirk akbar (besar) maupun syirk asghar (kecil).

Syirk Akbar (besar) adalah syirk yang biasa terjadi dalam uluhiyyah maupun rububiyyah. Syirk dalam Uluhiyyah yaitu dengan mengarahkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, misalnya berdo’a dan meminta kepada selain Allah, ruku’ dan sujud kepada selain Allah, berkurban untuk selain Allah (seperti membuat sesaji untuk jin atau penghuni kubur), bertawakkal kepada selain Allah dan mengarahkan segala bentuk penyembahan/ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala. Sedangkan syirk dalam rububiyyah yaitu menganggap bahwa di samping Allah ada juga yang ikut serta mengurus alam semesta. Syirk dalam uluhiyyah dan rububiyyah termasuk syirk akbar. Sedangkan Syirk Asghar (kecil) adalah perbuatan, ucapan atau niat yang dihukumi oleh agama Islam sebagai Syirk Asghar karena bisa mengarah kepada Syirk Akbar contohnya adalah:

  • Bersumpah dengan nama selain Allah.
  • Memakai jimat dengan keyakinan bahwa jimat tersebut sebagai sebab terhindar dari madharat (namun bila berkeyakinan bahwa jimat itu dengan sendirinya bisa menghindarkan musibah atau mendatangkan manfaat maka menjadi Syirk Akbar).
  • Meyakini bahwa bintang sebagai sebab turunnya hujan. Hal ini adalah Syirk Asghar karena ia telah menganggap sesuatu sebagai sebab tanpa dalil dari syara’, indra, kenyataan maupun akal. Dan hal itu bisa menjadi Syirk Akbar bila ia beranggapan bahwa bintang-bintanglah yang menjadikan hujan turun.
  • Riya’ (beribadah agar dipuji dan disanjung manusia). Contohnya adalah seseorang memperbagus shalat ketika ia merasakan sedang dilihat orang lain.
  • Beribadah dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia.

Thiyarah (merasa sial dengan sesuatu sehingga tidak melanjutkan keinginannya). Misalnya, ketika ia mendengar suara burung gagak ia beranggapan bahwa bila ia keluar dari rumah maka ia akan mendapat kesialan sehingga ia pun tidak jadi keluar, dsb. Pelebur dosa thiyarah adalah dengan mengucapkan,

اَللّهُمَّ لَا خَيْرَ اِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ اِلَّا طَيْرُكَ وَلاَ اِلهَ غَيْرُكَ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada nasib sial kecuali yang Engkau tentukan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.(HR. Ahmad)

Termasuk syirk juga adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut ketika menafsirkan ayat Falaa taj’aluu lillahi andaadaa … artinya: Maka janganlah kamu adakan bagi Allah tandingan-tandingan sedang kamu mengetahui (Al Baqarah: 22) :

الْأَنْدَادُ: هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ؛ وَهُوَ أَنْ تَقُوْلَ: وَاللهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلاَنُ وَحَيَاتِيْ، وَتَقُوْلُ: لَوْلاَ كُلَيْبَةُ هَذَا لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَلَوْلَا الْبِطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ: لَوْلَا اللهُ وَفُلاَنٌ. لاَ تَجْعَلْ فِيْهَا فُلاَناً هَذَا كُلُّهُ بِهِ شِرْكٌ    رواه ابن أبي حاتم

Tandingan-tandingan tersebut adalah perbuatan syirk, di mana ia lebih halus daripada semut di atas batu yang hitam di kegelapan malam, yaitu kamu mengatakan Demi Allah dan demi hidupmu hai fulan, Demi hidupku, juga mengatakan Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri, dan kata-kata Jika seandainya tidak ada angsa di rumah ini tentu kita kedatangan pencuri, juga pada kata-kata seseorang kepada kawannya Atas kehendak Allah dan kehendakmu, dan pada kata-kata seseorang Jika seandainya bukan karena Allah dan si fulan (tentu…), janganlah kamu tambahkan fulan padanya, semua itu syirk.

Kata-kata Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri adalah syirk jika yang dilihat hanya sebab tanpa melihat kepada yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala atau seseorang bersandar kepada sebab dan lupa kepada siapa yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Namun, tidak termasuk syirk jika seseorang menyandarkan kepada sesuatu yang memang sebagai sebab berdasarkan dalil syar’i atau hissiy (inderawi) atau pun waqi’ (kenyataan), sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang Abu Thalib, Jika seandainya bukan karena saya, tentu ia berada di lapisan neraka yang paling bawah.

Demikian pula termasuk syirk:

  • Meyakini ramalan bintang (zodiak),
  • Melakukan pelet, sihir/santet,
  • Membaca jampi-jampi syirk,
  • Mengatakan bahwa hujan turun karena bintang ini dan itu, padahal hujan itu turun karena karunia Allah dan rahmat-Nya.
  • Mengatakan Hanya Allah dan kamu saja harapanku, Aku dalam lindungan Allah dan kamu, Dengan nama Allah dan nama fulan dan kalimat lain yang terkesan menyamakan dengan Allah Ta’ala.

Perbedaan Syirk Akbar dengan Syirk Asghar adalah bahwa Syirk Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam, sedangkan Syirk Asghar tidak. Syirk Akbar menghapuskan seluruh amal sedangkan Syirk Asghar tidak, dan Syirk Akbar mengekalkan pelakunya di neraka bila pelakunya meninggal di atas perbuatan itu sedangkan Syirk Asghar tidak (yakni tahtal masyii’ah; jika Allah menghendaki, maka Dia akan menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuninya), kalau pun pelakunya disiksa, namun tidak kekal.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sembahlah olehmu Allah) dengan mengesakan-Nya (dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu pun juga.) ….
Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menyembah Dia semata, tiada sekutu bagi Dia. Karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Yang memberi nikmat, Yang memberikan karunia kepada makhluk-Nya dalam semua waktu dan keadaan. Dialah Yang berhak untuk disembah oleh mereka dengan mengesakan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Seperti yang disebutkan di dalam sabda Nabi ﷺ kepada Mu’az ibnu Jabal:

Ayat berikutnya: Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua

أتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ ؟  قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ  قَالَ: أَنْ يَعْبدُوهُ ولا  يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، ثُمَّ قَالَ: أتَدْري مَا حَقُّ العبادِ عَلَى اللهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ أَلَّا يُعَذِّبَهُم

Tahukah kamu, apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Mu’az menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi bersabda, Hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Antara lain Nabi bersabda pula: Tahukah kamu, apakah hak hamba-hamba Allah atas Allah, apabila mereka mengerjakan hal tersebut? Yaitu Dia tidak akan mengazab mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaBerbuat Baik kepada Kedua Orang Tua
Berita berikutnyaHukum-hukum Ketika Terjadi Pertengkaran Suami dan Istri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here