Syariat Tayammum Sebagai Ganti dari Wudhu

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43

0
87

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43. Kemudahan Islam dalam mensyariatkan tayammum sebagai ganti dari Wudhu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu menghampiri masjid) ketika kamu dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi. Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (Q.S. An-Nisaa’ : 43)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Wa ing kuηtum mardlā (dan jika kalian sakit), yakni terluka.

Au ‘alā safarin au jā-a ahadum mingkum minal ghā-ithi (atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air).

Au lāmastumun nisā-a (atau kalian telah menyentuh perempuan), yakni atau kalian telah bersetubuh dengan istri kalian.

Fa lam tajidū mā-aη fa tayammamū sha‘īdaη thayyiban (kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik), yakni bertayamumlah kalian dengan debu yang suci.

Famsahū bi wujūhikum (maka usaplah muka kalian) pada usapan yang pertama.

Wa aidīkum (dan tangan kalian) pada usapan yang kedua.

Innallāha kāna ‘afuwwan (sesungguhnya Allah Maha Pemaaf), yakni mengutamakan keleluasaan bagi kalian.

Ghafūrā (lagi Maha Pengampun) kekurangan kalian.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Adapun jika kamu sakit[12] atau sedang dalam perjalanan[13] atau sehabis buang air[14] atau kamu telah menyentuh perempuan[15], sedangkan kamu tidak mendapatkan air[16], maka bertayammumlah kamu[17] dengan debu yang baik (suci)[18]; usaplah wajahmu dan tanganmu[19] dengan (debu) itu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun[20].

[12] Yang berbahaya jika menggunakan air atau akan bertambah parah sakitnya atau membuat lama sembuhnya meskipun ada air.

[13] Kemudian tertimpa junub atau berhadats, di mana ketika safar biasanya tidak ada air atau ada air namun untuk keperluannya di tengah perjalanan, seperti untuk minum dsb. jika ia meminum air tersebut, ia akan kehausan.

[14] Yakni berhadats.

[15] Imam Syafi’i berdalih dengan ayat ini bahwa menyentuh wanita dapat membatalkan Wudhu, namun menurut Ibnu Abbas maksud menyentuh di ayat ini adalah berjima’. Ulama lain berpendapat bahwa menyentuh wanita yang membatalkan wudu’ adalah menyentuh karena syahwat, di mana hal itu berkemungkinan besar keluarnya madzi. Di antara pendapat-pendapat tersebut, yang rajih adalah pendapat Ibnu Abb’alaihis salam wallahu a’lam.

[16] Untuk bersuci dengannya setelah berusaha mencarinya. Ayat ini menunjukkan adanya usaha mencari air.

[17] Berdasarkan keterangan di at’alaihis salam bahwa Allah Ta’ala membolehkan tayammum dalam dua keadaan:

  • Ketika tidak ada air, hal ini berlaku mutlak baik ketika safar maupun tidak.
  • Ketika kesulitan memakai air, seperti karena sakit atau karena lumpuh dan di sana tidak ada orang mengambilkan air untuknya dsb.

[18] Sha’id di ayat tersebut adalah sesuatu yang nampak di atas permukaan bumi, baik ada debunya maupun tidak. Namun ada yang berpendapat bahwa tayammum harus ada debunya, berdasarkan ayat Fam sahuu biwujuuhikum wa aydiikum minh (maka usaplah muka dan tanganmu daripadanya), karena jika tidak ada debunya bagaimana mungkin mengusapnya.

[19] Yakni sampai pergelangan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih, dan memukulkan telapak tangan ke tanah cukup sekali saja sebagaimana diterangkan dalam hadits Ammar; untuk muka dan telapak tangan.

Faedah/catatan:

Perlu diketahui, bahwa kaidah kedokteran berjalan di atas tiga perkara:

  • Menjaga kesehatan dari segala sesuatu yang membahayakan.
  • Menjaga diri dari bahaya
  • Menghilangkan bahaya

Ketiga hal ini telah diisyaratkan dalam Al-Qu’ran .

Menjaga kesehatan dan menjaga diri dari hal yang membahayakan, misalnya dengan adanya perintah makan dan minum serta tidak berlebih-lebihan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga telah membolehkan berbuka puasa bagi musafir dan orang yang sakit untuk menjaga kesehatannya.

Adapun menghilangkan bahaya, maka dengan adanya kebolehan dari Allah Ta’ala bagi orang yang ihram, di mana kepalanya terganggu oleh kutu dsb. untuk mencukurnya. Di sana terdapat isyarat untuk menghilangkan (membersihkan) hal yang lebih buruk lagi, yaitu kencing, tahi, muntah, dsb.

[20] Oleh karenanya, dia memberikan banyak kemudahan kepada hamba-hamba-Nya, di mana seorang hamba tidak kesulitan melakukannya. Di antara maaf dan ampunan-Nya adalah dengan mensyari’atkan kepada umat ini bersuci dengan debu (tayammum) sebagai pengganti air ketika kesulitan menggunakannya. Termasuk maaf dan ampunan-Nya juga adalah dengan membukakan pintu tobat kepada orang-orang yang berdosa dan mengajak mereka kepada-Nya. Dia pun menjanjikan untuk mengampuni mereka. Lebih dari itu, di antara maaf dan ampunan-Nya adalah jika seorang mukmin datang kepada-Nya dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka Dia akan datang dengan ampunan sepenuh bumi.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Dan jika kamu sakit) yakni mengidap penyakit yang bertambah parah jika kena air (atau dalam perjalanan) artinya dalam bepergian sedangkan kamu dalam keadaan junub atau berhadas besar (atau seseorang di antaramu datang dari tempat buang air) yakni tempat yang disediakan untuk buang hajat artinya ia berhadas (atau kamu telah menyentuh perempuan) menurut satu qiraat lamastum itu tanpa alif, dan keduanya yaitu baik pakai alif atau tidak, artinya ialah menyentuh yakni meraba dengan tangan. Hal ini dinyatakan oleh Ibnu Umar, juga merupakan pendapat Syafii. Dan dikaitkan dengannya meraba dengan kulit lainnya, sedangkan dari Ibnu Abbas diberitakan bahwa maksudnya ialah jimak atau bersetubuh (kemudian kamu tidak mendapat air) untuk bersuci buat shalat yakni setelah berusaha menyelidiki dan mencari. Dan ini tentu mengenai selain orang yang dalam keadaan sakit (maka bertayamumlah kamu) artinya ambillah setelah masuknya waktu shalat (tanah yang baik) maksudnya yang suci, lalu pukullah dengan telapak tanganmu dua kali pukulan (maka sapulah muka dan tanganmu) berikut dua sikumu. Mengenai masaha atau menyapu, maka kata-kata itu transitif dengan sendirinya atau dengan memakai huruf. (Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضى أَوْ عَلى سَفَرٍ أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً

Dan jika kalian sakit atau sedang dalam musafir atau seseorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau kalian telah menyentuh perempuan, kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci). (An-Nisaa’: 43)

Adapun mengenai sakit yang membolehkan seseorang bertayamum adalah sakit yang mengkhawatirkan akan matinya salah satu anggota tubuh, atau sakit bertambah parah, atau sembuhnya bertambah lama jika menggunakan air. Tetapi ada ulama yang membolehkan bertayamum hanya karena alasan sakit saja, berdasarkan keumuman makna ayat.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Hafs, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Dan jika kalian sakit. (An-Nisaa’: 43) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Ansar yang sedang sakit, karenanya ia tidak dapat bangkit untuk melakukan wudu, dan ia tidak mempunyai seorang pembantu pun yang menyediakan air wudu untuknya. Lalu ia menanyakan masalah tersebut kepada Nabi ﷺ Maka Allah menurunkan ayat ini. Hadits ini mursal.

Mengenai safar atau bepergian, tidak ada bedanya antara jarak yang jauh dan jarak yang dekat.

Berikutnya: Persetubuhan atau Persentuhan ?

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ

Atau seseorang di antara kalian datang dari tempat buang air. (An-Nisaa’: 43)

Yang dimaksud dengan al-gait ialah tempat yang tenang, kemudian dipinjam untuk menunjukkan pengertian tempat buang air.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaPersetubuhan atau Persentuhan ?
Berita berikutnyaJangan Menghampiri Masjid Ketika dalam Keadaan Junub

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here