Persetubuhan atau Persentuhan ?

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43

0
66

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43. Lamastum (لمستم) dan laamastum (لامستم). Firman-Nya:

أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ

Atau kalian telah menyentuh perempuan. (An-Nisaa’: 43)

Ada yang membacanya lamastum (لمستم), dan ada pula yang membacanya lamastum (لامستم). Ulama tafsir dan para imam berbeda pendapat mengenai maknanya.

Pertama mengatakan bahwa hal tersebut adalah kata kinayah (sindiran) mengenai persetubuhan, karena berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang lainnya, yaitu:

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ

Jika kalian menceraikan istri-istri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kalian sudah menentukan maharnya, maka bayarlah separo dari mahar yang telah kalian tentukan itu. (Al-Baqarah: 237)

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah berfirman pula:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِناتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَما لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَها

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kalian ceraikan mereka sebelum kalian mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagi kalian yang kalian minta menyempurnakannya. (Al-Ahzab: 49)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: atau kalian telah menyentuh perempuan. (An-Nisaa’: 43) bahwa yang dimaksud dengan lamastum dalam ayat ini adalah persetubuhan.

Telah diriwayatkan dari Ali, Ubay ibnu Ka’b, Mujahid, Tawus, Al-Hasan, Ubaid ibnu Umair, Sa’id ibnu Jubair, Asy-Sya’bi, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Humaid ibnu Mas’adah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa mereka membicarakan masalah al-lams, maka sebagian orang dari kalangan bekas-bekas budak mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bukan persetubuhan (tetapi persentuhan). Sejumlah orang dari kalangan orang-orang Arab mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah persetubuhan.

Sa’id ibnu Jubair melanjutkan kisahnya, Setelah itu aku menjumpai Ibnu Abb’alaihis salam dan kukatakan kepadanya bahwa orang-orang dari kalangan Mawali dan orang-orang Arab berselisih pendapat mengenai makna al-lams. Para Mawali mengatakan bahwa hal itu bukan persetubuhan, sedangkan orang-orang Arab mengatakannya persetubuhan.

Ibnu Abbas bertanya, Kalau kamu berasal dari golongan yang mana di antara kedua golongan itu? Aku menjawab, Aku berasal dari Mawali. Ibnu Abbas berkata, Kelompok Mawali kalah, sesungguhnya lams dan mass serta muhasyarah artinya persetubuhan. Allah sengaja mengungkapkannya dengan kata-kata sindiran menurut apa yang dikehendaki-Nya.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Ibnu Basysyar, dari Gundar, dari Syu’bah dengan makna yang semisal.

Kemudian ia meriwayatkannya pula melalui jalur lainnya dari Sa’id ibnu Jubair dengan lafaz yang semisal.

Hal yang semisal disebutkannya bahwa telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim yang mengatakan bahwa Abu Bisyr pernah berkata, Telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa al-lams, al-mass, dan al-mubasyarah artinya persetubuhan, tetapi Allah mengungkapkannya dengan kata sindiran menurut apa yang disukai-Nya.

Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Bayan, telah menceritakan kepada kami Ishaq Al-Azraq, dari Sufyan, dari Asim Al-Ahwal, dari Bikr ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa al-imilamasah artinya jimak; tetapi Allah Maha Mulia, Dia mengungkapkannya dengan kata sindiran menurut apa yang dikehendaki-Nya.

Menurut riwayat yang dinilai sahih, telah disebutkan hal tersebut dari Ibnu Abbas melalui berbagai jalur periwayatan. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari salah seorang yang dikemukakan oleh Ibnu Abu Hatim dari mereka.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala  bermaksud menggunakan ungkapan tersebut ditujukan kepada setiap orang yang menyentuh dengan tangannya atau dengan anggota lainnya. Diwajibkan pula atas setiap orang yang menyentuhkan salah satu anggota tubuhnya kepada anggota tubuh perempuan secara langsung (tanpa penghalang).

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mukhariq, dari Tariq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa al-lams ialah melakukan kontak tubuh dengan perempuan selain persetubuhan.

Diriwayatkan dari berbagai jalur bersumber dari Ibnu Mas’ud dengan lafaz yang semisal.

Diriwayatkan melalui hadits Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa ciuman termasuk al-massu, pelakunya diwajibkan berwudu.

Imam Tabrani meriwayatkan berikut sanadnya, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa seorang lelaki diharuskan berwudu karena melakukan persentuhan dengan perempuan, memegangnya dengan tangan, juga menciumnya. Tersebutlah bahwa Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: atau kalian telah menyentuh perempuan. (An-Nisaa’: 43) Yakni mengedipkan mata.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Umar, dari Nafi, bahwa Ibnu Umar pernah melakukan wudu karena telah mencium istrinya. ia berpendapat bahwa perbuatan tersebut mengharuskan seseorang berwudu. Menurutnya perbuatan tersebut termasuk al-lams.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan pula melalui jalur Syu’bah, dari Mukhariq, dari Tariq, dari Abdullah yang mengatakan bahwa al-lams ialah melakukan kontak tubuh dengan perempuan kecuali bersetubuh.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Umar, Ubaidah, Abu Usman An-Nahdi, Abu Ubaidah (yakni ibnu Abdullah ibnu Mas’ud), Amir Asy-Sya’bi, Sabit ibnul Hajjaj, Ibrahim An-Nakha’i, dan Zaid ibnu Aslam.

Menurut kami diriwayatkan oleh Imam Malik dari Az-Zuhri, dari Salim ibnu Abdullah ibnu Umar, dari ayahnya, bahwa ia pernah mengatakan, Ciuman seorang lelaki terhadap istrinya dan memegangnya (meremasnya) dengan tangan termasuk ke dalam pengertian mulamasah. Karena itu, barang siapa yang mencium istrinya atau memegangnya dengan tangan, maka ia harus berwudu.

Al-Hafiz Abdul Hasan Ad-Daruqutni meriwayatkan hal yang semisal di dalam kitab sunannya melalui Umar ibnul Khattab.

Akan tetapi, diriwayatkan kepada kami dari Umar ibnul Khattab melalui jalur yang lain, bahwa ia pernah mencium istrinya, kemudian langsung shalat tanpa wudu lagi.

Riwayat yang bersumber dari Umar berbeda-beda. Karena itu, dapat diinterpretasikan riwayat darinya yang mengatakan wudu, jika memang sahih bersumber darinya bahwa yang dimaksudkan adalah sunat, bukan wajib.

Pendapat yang mengatakan wajib wudu karena menyentuh perempuan adalah pendapat Imam Syafii dan semua sahabatnya serta Imam Malik, dan menurut riwayat yang terkenal dari Imam Ahmad ibnu Hambal.

Orang-orang yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa ayat ini ada yang membacanya lamastum, ada pula yang membacanya laamastum. Pengertian al-lams menurut istilah syara’ ditujukan kepada makna menyentuh atau memegang dengan tangan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَلَوْ نَزَّلْنا عَلَيْكَ كِتاباً فِي قِرْطاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ

Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kert’alaihis salam lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka. (Al-An’am: 7)

Yakni memegangnya dan menyentuhnya dengan tangan mereka.

Rasulullah ﷺ telah bersabda kepada Ma’iz tatkala ia mengaku berbuat zina, lalu Nabi ﷺ menawarkan kepadanya agar mencabut kembali pengakuannya melalui sabdanya:

لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ أَوْ لَمَسْتَ

Barangkali kamu hanya menciumnya atau memegang-megangnya.

Di dalam hadits sahih disebutkan:

وَالْيَدُ زِنَاهَا اللَّمْسُ

Zina tangan ialah meraba (wanita lain).

Siti Aisyah radiallahu ‘anha menceritakan hadits berikut, Jarang sekali kami lewatkan setiap harinya melainkan Rasulullah berkeliling mengunjungi kami (para istrinya) semua, lalu beliau mencium dan memegang (kami).

Termasuk pula ke dalam pengertian ini sebuah hadits yang telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah ﷺ melarang jual beli mulamasah (yang dipegang berarti dibeli).

Pada garis besarnya makna lafaz ini berdasarkan kedua penafsiran di atas tetap merujuk kepada pengertian memegang dengan tangan. Mereka mengatakan, Menurut istilah bahasa, lafaz al-lams ditujukan kepada pengertian memegang dengan tangan, sebagaimana ditujukan pula kepada pengertian bersetubuh. Salah seorang penyair mengatakan,

وألمستُ كَفي كفَّه أَطْلُبُ الغِنَى …

Telapak tanganku berjabatan tangan dengan telapak tangannya untuk meminta kecukupan.

Sehubungan dengan pengertian memegang ini mereka kemukakan pula sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ  بْنُ مَهْدِيٍّ وَأَبُو سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا زَائِدَةُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ -وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَير، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بن أبي لَيْلَى، عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا تَقُولُ فِي رَجُلٍ لَقِيَ امْرَأَةً لَا يَعْرِفُهَا، فَلَيْسَ يَأْتِي الرَّجُلُ مِنِ امرأته شيء إلا أَتَاهُ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ لَمْ يُجَامِعْهَا؟ قَالَ: فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْآيَةَ: وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ [هُودٍ: 114] قَالَ: فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَوَضَّأَ ثُمَّ صَلِّ. قَالَ مُعَاذٌ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَهُ خَاصَّةً أَمْ لِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: بَلْ لِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Mahdi dan Abu Sa’id; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zaidah, dari Abdul Malik ibnu Umair yang mengatakan bahwa Abu Sa’id mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik Ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Mu’az, bahwa sesungguhnya Rasulullah pernah kedatangan seorang lelaki, lalu lelaki itu bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu tentang seorang lelaki yang menjumpai seorang wanita yang tidak dikenalnya, lalu lelaki itu melakukan segala sesuatu terhadapnya sebagaimana terhadap istrinya sendiri, hanya saja ia tidak menyetubuhinya? Sahabat Mu’az ibnu Jabal melanjutkan kisahnya, bahwa sehubungan dengan peristiwa tersebut turunlah firman-Nya: Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. (Hud: 114), hingga akhir ayat. Mu’az melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah bersabda: Berwudulah, kemudian shalatlah! Mu’az bertanya, Apakah khusus baginya, wahai Rasulullah; ataukah untuk kaum mukmin secara umum? Rasulullah bersabda, Tidak, bahkan untuk kaum mukmin secara umum.

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadits Zaidah dengan lafaz yang sama, lalu ia mengatakan bahwa sanad hadits ini tidak muttasil.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadits Syu’bah, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila secara mursal. Mereka mengatakan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya untuk melakukan wudu, karena dia hanya menyentuh perempuan dan tidak menggaulinya. Tetapi penilaian ini disanggah dengan alasan bahwa dalam sanad hadits ini terdapat inqita antara Abu Laila dan Mu’az, karena sesungguhnya Abu Laila tidak pernah bersua dengan Mu’az ibnu Jabal.

Kemudian makna hadits ini dapat pula diinterpretasikan bahwa perintah Nabi ﷺ yang menganjurkannya melakukan wudu dan mengerjakan shalat fardu adalah sama dengan apa yang disebutkan di dalam hadits As-Siddiq (Abu Bakar) yang telah kami sebutkan jauh sebelum ini, yaitu:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

Tidak sekali-kali seseorang hamba melakukan suatu dosa. lalu ia berwudu dan melakukan shalat dua rakaat, melainkan Allah memberikan ampunan baginya. hingga akhir hadits.

Hadits ini disebutkan di dalam tafsir surah Ali Imran, yaitu pada pembahasan mengenai firman-Nya:

ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

Mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (Ali Imran: 135)

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang paling benar di antara kedua pendapat tersebut ialah pendapat orang yang mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dalam firman-Nya, Au-lamastumun nisa ialah persetubuhan, bukan makna lams lainnya. Karena ada sebuah hadits sahih dari Rasulullah yang mengatakan bahwa beliau pernah mencium salah seorang istrinya, lalu shalat tanpa wudu lagi.

Lalu Ibnu Jarir mengatakan.Hal tersebut diceritakan kepadaku oleh Ismail ibnu Musa As-Saddi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Al-A’masy, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يُقَبِّلُ، ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

‘Rasulullah pernah melakukan wudu, kemudian mencium (salah seorang istrinya), lalu langsung shalat tanpa wudu lagi’.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Habib, dari Urwah, dari Siti Aisyah: Bahwa Rasulullah mencium salah seorang istrinya, kemudian keluar rumah untuk menunaikan shalat tanpa wudu lagi. Aku (Urwah) berkata, Dia tiada lain kecuali engkau sendiri. Maka Siti Aisyah tertawa.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah, dari sejumlah guru mereka, dari Waki dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Abu Dawud mengatakan. telah diriwayatkan dari As-Sauri; ia pernah mengatakan, Habib tidak pernah menceritakan hadits kepada kami kecuali dari Urwah Al-Muzani. Yahya Al-Qattan mengatakan kepada seorang perawi, Riwayatkanlah dariku bahwa hadits ini mirip dengan bukan hadits. Imam Turmuzi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Imam Bukhari menilai daif hadits ini. Imam Turmuzi mengatakan, Habib ibnu Abu Sabit belum pernah mendengar hadits dari Urwah.

Disebutkan di dalam hadits riwayat Ibnu Majah bahwa ia menerimanya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Urwah ibnuz Zubair, dari Aisyah. Lebih jelas lagi hal tersebut ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya melalui hadits Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah. Hal ini merupakan nas yang menunjukkan bahwa dia adalah Urwah ibnuz Zubair, dan yang menjadi buktinya ialah ucapannya yang mengatakan, Dia tiada lain kecuali engkau sendiri, lalu Siti Aisyah tertawa.

Akan tetapi, Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Ibrahim ibnu Makhlad, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Rauq Al-Hamdani At-Taliqani, dari Abdur Rahman ibnu Magra, dari Al-A’masy yang mengatakan, Telah menceritakan kepada kami teman-teman kami dari Urwah Al-Muzani, dari Siti Aisyah, lalu ia menuturkan hadits ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ، عَنْ شِهَابِ بْنِ عبَّاد، حَدَّثَنَا مَنْدَل بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ  وَعَنْ أَبِي رَوْق، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيمي، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَالُ مِنِّي القبلةَ بَعْدَ الْوُضُوءِ، ثُمَّ لَا يُعِيدُ الْوُضُوءَ

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid, dari Umar ibnu Unais, dari Hisyam ibnu Abbad, telah menceritakan kepada kami Musaddad ibnu Ali, dari Lais, dari Ata, dari Siti Aisyah. Juga dari Abu Rauq, dari Ibrahim At-Taimi, dari Siti Aisyah radiallahu ‘anha yang mengatakan: Dahulu Nabi pernah berkesempatan menciumku sesudah wudu, kemudian beliau tidak mengulangi wudunya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي رَوْقٍ الهمْدَاني، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Rauq Al-Hamdani, dari Ibrahim At-Taimi, dari Siti Aisyah radiallahu ‘anha yang mengatakan: Bahwa Rasulullah pernah menciumku, lalu langsung shalat tanpa wudu lagi.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Imam Abu Dawud dan Imam Kasai meriwayatkannya melalui hadits Yahya Al-Qattan, Imam Abu Dawud menambahkan Ibnu Mahdi yang kedua-duanya dari Sufyan As-Sauri, dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Abu Dawud dan Imam Nasai mengatakan bahwa Ibrahim At-Taimi belum pernah mendengar dari Siti Aisyah.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan pula:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى الْأُمَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ سِنَان، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم كَانَ يُقَبِّلُهَا وَهُوَ صَائِمٌ، ثُمَّ لَا يُفْطِرُ، وَلَا يُحْدِثُ وُضُوءًا

telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yazid, dari Sinan, dari Abdur Rahman Al-Auza’i, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah: Bahwa Rasulullah menciumnya. sedangkan beliau dalam keadaan puasa, lalu tidak berbuka dan tidak pula melakukan wudu.

Ayat berikutnya: Bertayamumlah dengan Tanah yang Suci

Ibnu Jarir mengatakan pula:

حَدَّثَنَا أَبُو كَرَيْبٍ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِياث، عَنْ حَجَّاجٍ، عَنِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ زَيْنَبَ السَّهْمِية عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ كَانَ يُقَبّل ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayy’alaihis salam dari Hajyaj, dari Amr ibnu Syu’aib, dari Zainab As-Sahmiyyah, dari Siti Aisyah, dari Nabi ﷺ: Bahwa Nabi pernah mencium (salah seorang istrinya), kemudian langsung shalat tanpa wudu lagi.

Imam Ahmad ibnu Muhammad ibnu Fudail meriwayatkannya dari Hajjaj ibnu Artah, dari Amr ibnu Syu’aib, dari Zainab As-Sahmiyyah, dari Siti Aisyah, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang sama.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari : Tafsir Ibnu Katsir

Berita sebelumyaBertayamumlah dengan Tanah yang Suci
Berita berikutnyaSyariat Tayammum Sebagai Ganti dari Wudhu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here