Orang-orang yang Dilaknat Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 52

0
118

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 52. Orang-orang yang dilaknat Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا

Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Barang siapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya. (Q.S. An-Nisaa’ : 52)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Ulā-ikal ladzīna la‘anahumullāh (mereka adalah orang-orang yang dilaknat Allah), yakni Allah Ta‘ala mengazab mereka dengan mengenakan jizyah (pajak).

Wa may yal‘anillāhu (dan barangsiapa yang dilaknat Allah), yakni barangsiapa yang diazab Allah Ta‘ala di dunia dan akhirat.

Fa laη tajida lahū (niscaya sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan baginya), hai Muhammad!

Nashīrā (seorang penolong pun) yang dapat menghalanginya dari azab Allah.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Barang siapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya[16].

[16] Yang membantunya kepada hal yang bermaslahat, menjaganya dari sesuatu yang membahayakan serta menyelamatkannya dari siksa Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka itulah orang-orang yang dikutuk oleh Allah dan siapa yang dikutuk) oleh (Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolongnya) yang akan melindunginya dari azab siksa-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Dawud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ketika Ka’b ibnul Asyraf tiba di Mekah, maka orang-orang Quraisy berkata, Bagaimanakah menurutmu si miskin yang diasingkan oleh kaumnya ini? Dia menduga bahwa dirinya lebih baik daripada kami, padahal kami adalah ahli jamaah haji dan ahli yang mengurus Ka’bah serta ahli siqayah. Ka’b ibnul Asyraf menjawab, Kalian lebih baik. Maka turunlah firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kausar: 3) Turun pula firman-Nya yang mengatakan: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? (An-Nisaa’: 51) sampai dengan firman-Nya: niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. (An-Nisaa’: 52)

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang yang membantu pasukan golongan bersekutu ialah dari kabilah Quraisy, Gatafan, Bani Quraisah, Huyay ibnu Akhtab, Salam ibnu Abul Haqiq, Abu Rafi, Ar-Rabi’ ibnu Abul Haniq, Abu Amir, Wahuh ibnu Amir, dan Haudah ibnu Qais. Wahuh dan Abu Amir serta Haudah berasal dari Bani Wail, sedangkan sisanya dari kalangan Bani Nadir. Ketika mereka tiba di kalangan orang-orang Quraisy, maka orang-orang Quraisy berkata, Mereka adalah para rahib Yahudi dan ahli ilmu tentang kitab-kitab terdahulu. Maka tanyakanlah kepada mereka, apakah agama kalian yang lebih baik, ataukah agama Muhammad? Lalu mereka bertanya kepada orang-orang Yahudi tersebut, dan para rahib Yahudi itu menjawab, Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan jalan kalian lebih benar daripada dia dan orang-orang yang mengikutinya. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? (An-Nisaa’: 51) sampai dengan firman-Nya: dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (An-Nisaa’: 54)

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hal ini merupakan laknat Allah bagi mereka, sekaligus sebagai pemberitahuan bahwa mereka tidak akan memperoleh penolong di dunia, tidak pula di akhirat. Mereka berangkat menuju Mekah yang sebenarnya untuk meminta pertolongan dari kaum musyrik Mekah, dan sesungguhnya mereka mengatakan demikian untuk mendapatkan simpati dari kaum musyrik agar mereka mau membantunya. Ternyata kaum musyrik mau membantu mereka dan datang bersama mereka dalam Perang Ahzab, hingga memaksa Nabi ﷺ dan para sahabatnya untuk menggali parit di sekitar Madinah sebagai pertahanannya. Akhirnya Allah menolak kejahatan mereka, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنالُوا خَيْراً وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتالَ وَكانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزاً

Ayat berikutnya: Janganlah Mendekati Shalat Ketika dalam Keadaan Mabuk

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu. yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-Ahzab: 25)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaJanganlah Mendekati Shalat Ketika dalam Keadaan Mabuk
Berita berikutnyaPercaya Kepada Jibt dan Thaghut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here