Bertayamumlah dengan Tanah yang Suci

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43

0
89

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43. Bertayamumlah dengan tanah yang suci.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً

Kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci). (An-Nisaa’: 43)

Kebanyakan ulama fiqih menyimpulkan hukum ayat ini, bahwa seseorang yang tidak menemukan air tidak boleh bertayamum kecuali setelah berupaya terlebih dahulu mencari air. Bilamana ia telah berupaya mencari air dan tidak menemukannya juga, barulah ia boleh melakukan tayamum. Mereka menyebutkan cara-cara mencari air di dalam kitab-kitab fiqih dalam Bab Tayamum.

Mengenai kebolehan bertayamum ini disebut di dalam kitab Sahihain melalui hadits Imran ibnu Husain:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا مُعْتَزِلًا لَمْ يُصَلِّ فِي الْقَوْمِ، فَقَالَ: يَا فُلَانُ، مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ الْقَوْمِ؟ أَلَسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ؟  قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَكِنْ أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ وَلَا مَاءَ. قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّعِيدِ، فَإِنَّهُ يَكْفِيكَ

Bahwa Rasulullah ﷺ melihat seorang lelaki menyendiri, tidak ikut shalat bersama kaum yang ada. Maka beliau ﷺ bertanya: Hai Fulan, apakah yang mencegahmu hingga kamu tidak shalat bersama kaum, bukankah kamu seorang muslim? Lelaki itu menjawab, Wahai Rasulullah, tidak demikian, melainkan karena aku terkena jinabah, sedangkan air tidak ada. Rasulullah bersabda: Pakailah debu olehmu, karena sesungguhnya debu itu cukup bagi (bersuci)mu.

Karena itulah maka di dalam firman-Nya disebutkan:

فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

Kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci). (An-Nisaa’: 43)

Istilah tayamum menurut bahasa artinya bertujuan. Orang-orang Arab mengatakan, Tayammamakallahu bihifzihi artinya semoga Allah berkenan memelihara dirimu, yakni bertujuan untuk melindungimu. Termasuk ke dalam pengertian ini perkataan Imru’ul Qais dalam bait-bait syairnya, yaitu:

وَلَمَّا رَأَتْ أَنَّ الْمَنِيَّةَ وِرِدُهَا … وَأَنَّ الْحَصَى من تحت أقدامها دامي

تَيَمَّمَتِ الْعَيْنَ الَّتِي عِنْدَ ضَارِجٍ … يَفِيءُ عَلَيْهَا الفيء عرمضها طام

Ketika kekasihku melihat bahwa maut pasti datang merenggutnya, dan batu-batu kerikil yang berada di bawah telapak kakinya telah penuh dengan darah(nya), maka ia menuju ke mata air yang berada di Darij untuk mencari naungan yang airnya penuh berlimpah.

As-Sa’id menurut pendapat yang lain adalah segala sesuatu yang muncul di permukaan bumi. Dengan demikian, termasuk pula ke dalam pengertiannya debu, pasir, pepohonan, bebatuan, dan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah menurut pendapat Imam Malik.

Menurut pendapat lainnya lagi, yang dimaksud dengan sa’id ialah segala sesuatu yang termasuk ke dalam jenis debu, seperti pasir, granit, dan kapur. Demikianlah menurut mazhab Imam Abu Hanifah.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang dimaksud dengan sa’id ialah debu saja. Demikianlah menurut pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad serta semua murid mereka. Mereka mengatakan demikian dengan berdalilkan firman-Nya yang mengatakan:

فَتُصْبِحَ صَعِيداً زَلَقاً

Hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. (Al-Kahfi: 40)

Yaitu debu yang licin lagi baik. Berdasarkan kepada sebuah hadits di dalam Sahih Muslim melalui Huzaifah ibnul Yaman yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ: جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا، وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

Kita diberi keutamaan di atas semua orang (umat) karena tiga perkara, yaitu saf-saf kita dijadikan seperti saf-saf para malaikat, bumi dijadikan bagi kita semua sebagai tempat untuk sujud (shalat), dan tanah dijadikan bagi kita suci lagi menyucikan jika kita tidak menemukan air.

Menurut lafaz yang lain disebutkan:

وَجُعِلَ تُرَابُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

Dan dijadikan debunya bagi kita suci lagi menyucikan bilamana kita tidak menemukan air.

Mereka mengatakan penyebutan debu dalam hadits ini sebagai sarana untuk bersuci merupakan suatu priorit’alaihis salam Seandainya ada hal lain yang dapat menggantikan fungsinya, niscaya disebutkan bersamanya. Yang dimaksud dengan istilah tayyib dalam ayat ini ialah yang halal. Menurut pendapat yang lain, yang tidak najis alias suci.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahli Sunan kecuali Ibnu Majah melalui Abu Qilabah, dari Amr ibnu Najdan, dari Abu Zar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

الصَّعِيدُ الطَّيِّبُ طَهُورُ الْمُسْلِمِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشْرَ حِجَجٍ، فَإِذَا وَجَدَهُ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ

Debu yang suci merupakan sarana bersuci orang muslim jika ia tidak menemukan air, sekalipun selama sepuluh musim haji (sepuluh tahun). Tetapi apabila ia menemukan air, hendaklah ia menyentuhkan (menggunakan)fiya ke kulitnya, karena sesungguhnya hal ini lebih baik baginya.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih, dan Imam Ibnu Hibban menilainya sahih.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya telah meriwayatkannya melalui Abu Hurairah. dan haditsnya ini dinilai sahih oleh Al-Hafiz Abul Hasan Al-Qattan.

Berikutnya: Cara Bertayamum

Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa tanah (debu) yang paling baik ialah yang dari lahan pertanian. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Murdawaih me-rafa’-kannya di dalam kitab tafsirnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari : Tafsir Ibnu Katsir

Berita sebelumyaCara Bertayamum
Berita berikutnyaPersetubuhan atau Persentuhan ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here