Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ Ayat 43

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43

0
151

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 43. Ibnu Abu Syaibah menuturkan sehubungan dengan asbabun nuzul surah An-Nisaa’ ayat 43 sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus’ab ibnu Sa’d menceritakan hadits berikut dari Sa’d yang mengatakan, Telah diturunkan empat buah ayat berkenaan dengan kami (orang-orang Ansar). Pada awal mulanya ada seorang lelaki dari kalangan Ansar membuat jamuan makanan, lalu ia mengundang sejumlah orang dari kalangan Muhajirin dan sejumlah orang dari kalangan Ansar untuk menghadirinya.

Maka kami makan dan minum hingga kami semua mabuk, kemudian kami saling membangga-banggakan diri. Lalu ada seorang lelaki mengambil rahang unta dan memukulkannya ke hidung Sa’d hingga hidung Sa’d terluka karenanya. Demikian itu terjadi sebelum ada pengharaman khamr. Lalu turunlah firman-Nya: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk.’ (An-Nisaa’: 43), hingga akhir ayat.

Hadits secara lengkapnya ada pada Imam Muslim melalui riwayat Syu’bah. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahlus Sunan kecuali Ibnu Majah dengan melalui berbagai jalur dari Sammak dengan lafaz yang sama.

Penyebab lain berkaitan dengan asbabun nuzul ayat ini sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdullah Ad-Dusytuki, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far, dari Ata ibnus Saib, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali ibnu Abu Talib yang menceritakan, Abdur Rahman ibnu Auf membuat suatu jamuan makanan buat kami, lalu ia mengundang kami dan memberi kami minuman khamr. Lalu khamr mulai bereaksi di kalangan sebagian dari kami, dan waktu shalat pun tiba. Kemudian mereka mengajukan si Fulan sebagai imam. Maka si Fulan membaca surah Al-Kafirun dengan bacaan seperti berikut, Katakanlah, hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kami menyembah apa yang kalian sembah (dengan bacaan yang keliru sehingga mengubah artinya secara fatal). Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat. sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan. (An-Nisaa’: 43)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Imam Turmuzi telah meriwayatkan melalui Abdu ibnu Humaid, dari Abdur Rahman Ad-Dusytuki dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi selanjutnya mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Sufyan As-Sauri, dari Ata ibnus Said. dari Abu Abdur Rahman, dari Ali. bahwa dia (Ali) dan Abdur Rahman serta seorang lelaki lainnya pernah minum khamr, lalu Abdur Rahman shalat menjadi imam mereka dan membaca surah Al-Kafirun, tetapi bacaannya itu ngawur dan keliru. Maka turunlah firman-Nya: janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk. (An-Nisaa’: 43)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Nasai melalui hadits As-Sauri dengan lafaz yang sama.

Ibnu Jarir meriwayatkan pula dari Ibnu Humaid, dari Jarir, dari Ata, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami yang menceritakan bahwa Ali bersama sejumlah sahabat pernah diundang ke rumah Abdur Rahman ibnu Auf, lalu mereka makan, dan Abdur Rahman menyajikan khamr kepada mereka, lalu mereka meminumnya. Hal ini terjadi sebelum ada pengharaman khamr. Lalu datanglah waktu shalat, maka mereka mengajukan Ali sebagai imam mereka, dan Ali membacakan kepada mereka surah Al-Kafirun, tetapi bacaannya tidak sebagaimana mestinya. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk. (An-Nisaa’: 43)

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnul Minhal, telah menceritakan kepada kami Haminad, dari Ata ibnus Saib, dari Abdur Rahman ibnu Habib (yaitu Abu Abdur Rahman As-Sulami), bahwa Abdur Rahman ibnu Auf pernah membuat suatu jamuan makanan dan minuman. Lalu ia mengundang sejumlah sahabat Nabi ﷺ Kemudian ia shalat Magrib bersama mereka, yang di dalamnya ia membacakan surah Al-Kafirun dengan bacaan seperti berikut, Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, aku menyembah yang kalian sembah dan kalian menyembah apa yang aku sembah, dan aku menyembah apa yang kalian sembah; bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami’. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan. (An-Nisaa’: 43)

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan kisah ayat ini, bahwa sejumlah kaum lelaki datang dalam keadaan mabuk; hal ini terjadi sebelum khamr diharamkan. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk. (An-Nisaa’: 43), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal yang sama dikatakan pula oleh Abu Razin dan Mujahid.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa mereka selalu menjauhi mabuk-mabukan di saat hendak menghadapi shalat lima waktu, kemudian hal ini dimansukh dengan pengharaman khamr.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa yang dimaksud bukanlah mabuk karena khamr, melainkan mabuk karena tidur (yakni tertidur lelap sekali). Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Tetapi Ibnu Jarir memberikan komentarnya, Yang benar, makna yang dimaksud ialah mabuk karena khamr. Ibnu Jarir mengatakan bahwa larangan ini tidak ditujukan kepada mabuk yang menyebabkan orang yang bersangkutan tidak dapat memahami khitab (perintah) karena hal ini disamakan hukumnya dengan orang gila. Sesungguhnya larangan ini hanyalah ditujukan kepada mabuk yang orang yang bersangkutan masih dapat memahami taklif (kewajiban). Demikianlah kesimpulan dari komentar Ibnu Jarir.

Pendapat ini disebutkan pula bukan oleh hanya seorang dari kalangan ulama Usul Fiqh, yaitu bahwa larangan ini ditujukan kepada orang yang dapat memahami ucapan, bukan orang mabuk yang tidak mengerti apa yang diucapkan kepadanya, karena sesungguhnya pemahaman itu merupakan syarat bagi taklif.

Akan tetapi, dapat pula diinterpretasikan bahwa makna yang dimaksud ialah sindiran yang mengandung arti larangan terhadap orang yang mabuk berat, mengingat mereka diperintahkan pula untuk mela-kukan shalat lima waktu di sepanjang malam dan siang hari. Dengan demikian, si pemabuk berat selarrianya tidak dapat mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya masing-masing. Hal ini sama pengertiannya dengan makna firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  yang mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Ayat ini mengandung makna perintah yang ditujukan kepada mereka agar mereka bersiap-siap mati dalam keadaan memeluk agama Islam dan selalu menetapi ketaatan kepada Allah yang merupakan realisasi dari hal tersebut.

Dan firman-Nya:

حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

Sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan. (An-Nisaa’: 43)

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hal ini merupakan pendapat terbaik yang dikatakan sehubungan dengan definisi mabuk, yaitu orang yang bersangkutan tidak mengerti apa yang diucapkannya. sebab orang yang sedang mabuk itu bacaan Al-Qur’annya pasti akan ngawur dan tidak direnungi serta tidak ada kekhusyukan dalam bacaannya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلابةَ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي، فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيُتِمَّ حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَقُولُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Sammad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mengantuk, sedangkan ia dalam shalat, hendaklah ia bersalam, lalu tidur hingga ia mengerti (menyadari) apa yang diucapkannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid, tanpa Imam Muslim.

Berikutnya: Jangan Menghampiri Masjid Ketika dalam Keadaan Junub

Adapun Imam Muslim, dia meriwayatkannya juga Imam Nasai melalui hadits Ayyub dengan lafaz yang sama, tetapi pada sebagian lafaz hadits disebutkan:

فَلَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ

Karena barangkali ia mengucapkan istigfar, tetapi justru memaki dirinya sendiri.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dikutif dari : Tafsir Ibnu Katsir

 

Berita sebelumyaJangan Menghampiri Masjid Ketika dalam Keadaan Junub
Berita berikutnyaJanganlah Mendekati Shalat Ketika dalam Keadaan Mabuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here