Semuanya Datang dari Sisi Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 78

0
10

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 78. Semuanya datang dari sisi Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, Ini datangnya dari kamu (Muhammad). Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (Q.S. An-Nisaa’ : 78)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Wa iη tushibhum (dan jika mereka memperoleh), yakni kaum munafik dan orang-orang Yahudi.

Hasanatun (kebaikan), yakni kurma-kurma berbuah lebat, turunnya harga, dan tahun-tahun yang penuh kesuburan.

Yaqūlū hādzihī min ‘iηdillāhi (mereka mengatakan, Ini adalah dari sisi Allah) karena Dia tahu bahwa kita memiliki keutamaan.

Wa iη tushibhum sayyi-atun (tetapi jika mereka ditimpa keburukan), yakni musim paceklik, kekeringan, bencana, dan kenaikan harga.

Yaqūlū hādzihī min ‘iηdik (mereka mengatakan, Ini adalah gara-gara kamu [Muhammad]), yakni karena kesialan yang dibawa Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya.

Qul (katakanlah), hai Muhammad kepada kaum munafik dan orang-orang Yahudi!

Kullun (Semua), baik bencana maupun kenikmatan.

Min ‘iηdillāh, fa māli hā-ulā-il qaumi ([datang] dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu), yakni kaum munafik dan orang-orang Yahudi.

Lā yakādūna yafqahūna hadītsā (hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan), yakni ucapan yang menegaskan bahwa kenikmatan dan kesulitan datang dari Allah Ta‘ala. Kemudian Dia menerangkan, mengapa kenikmatan dan kesulitan itu bisa menimpa mereka.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Jika mereka[13] memperoleh kebaikan[14], mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan[15] mereka mengatakan, Ini datangnya dari kamu (Muhammad)[16]. Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[17] sedikitpun?

[13] Yakni orang-orang yang berpaling dari apa yang dibawa rasul lagi menentangnya, seperti halnya orang-orang Yahudi.

[14] Seperti tumbuh suburnya tanaman dan tumbuhan, melimpah ruahnya harta, banyak anak dengan kondisi sehat.

[15] Seperti kekeringan, kemiskinan, sakit, meninggalnya anak-anak dan orang yang dicintainya serta musibah lainnya.

[16] Ucapan seperti ini sama seperti ucapan yang dilontarkan Fir’aun kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: Itu adalah karena (usaha) kami. dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Terj. Al A’raaf: 131), demikian juga seperti ucapan kaum Tsamud kepada Nabi Shalih ‘alaihis salam, Mereka menjawab: Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu. Shaleh berkata: Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji (Terj. An Naml: 47)

Karena hati mereka sama-sama dalam kekafiran, maka ucapan dan amalan mereka juga sama. Termasuk ke dalam hal ini pula orang-orang yang menisbatkan terjadinya musibah atau hilangnya kebaikan kepada syari’at yang dibawa rasul atau sebagiannya, maka ia tergolong mereka; tergolong orang yang mendapat celaan ini.

[17] Pelajaran dan nasehat-nasehat yang disampaikan. Dalam ayat ini terdapat pujian bagi orang yang memahami apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya (mendalami fiqh), dorongan untuk memahaminya dan dorongan untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu ke arahnya seperti memperhatikan firman-Nya, mentadabburinya dan menempuh semua jalan yang bisa mengarah kepadanya. Jika mereka memahami apa yang datang dari Allah, tentu mereka mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan semuanya dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya; tidak keluar daripadanya. Demikian juga bahwa para rasul ‘alaihimus shalaatu was salam bukanlah sebab terhadap keburukan yang ada, baik mereka maupun apa yang mereka bawa, karena mereka tidaklah diutus kecuali untuk memperbaiki dunia dan agama.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (Dan jika mereka ditimpa) yakni orang-orang Yahudi (oleh kebaikan) misalnya kesuburan dan keluasan (mereka berkata, Ini dari Allah. Dan jika mereka ditimpa oleh keburukan) misalnya kekeringan dan bencana seperti yang mereka alami sewaktu kedatangan Nabi ﷺ ke Madinah (mereka berkata, Ini dari sisimu,) hai Muhammad artinya ini karena kesialanmu! (Katakanlah) kepada mereka (Semuanya) baik kebaikan atau keburukan (dari sisi Allah) berasal daripada-Nya. (Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan) yang disampaikan kepada Nabi mereka. Mengapa pertanyaan disertai keheranan, melihat kebodohan mereka yang amat sangat. Dan ungkapan hampir-hampir tidak memahami lebih berat lagi dari tidak memahaminya sama sekali.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ

Dan jika mereka memperoleh kebaikan. (An-Nisaa’: 78)

Yaitu kemakmuran dan rezeki yang berlimpah berupa buah-buahan, hasil pertanian, banyak anak, dan lain-lainnya berupa rezeki. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas Abul Aliyah, dan As-Saddi.

يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ

Mereka mengatakan, Ini adalah dari sisi Allah, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana. (An-Nisaa’: 78)

Berupa paceklik, kekeringan, dan rezeki yang kering, atau tertimpa kematian anak atau tidak mempunyai penghasilan atau lain-lainnya yang merupakan bencana. Demikianlah menurut pendapat Abul Aliyah dan As-Saddi.

يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ

Mereka mengatakan, Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad). (An-Nisaa’: 78)

Yakni dari sisi kamu, disebabkan kami mengikuti kamu dan memasuki agamamu. Seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya yang menceritakan perihal kaum Fir’aun, yaitu:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, Ini adalah karena (usaha) kami. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang mengikutinya. (Al-A’raf: 131)

Juga semakna dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلى حَرْفٍ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. (Al-Hajj: 11), hingga akhir ayat.

Demikian pula yang dikatakan oleh orang-orang munafik, yaitu mereka yang masuk Islam lahiriahnya, sedangkan hati mereka benci terhadap Islam. Karena itulah bila mereka tertimpa bencana, maka mereka kaitkan hal itu dengan penyebab karena mengikuti Nabi ﷺ

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan jika mereka memperoleh kebaikan. (An-Nisaa’: 78) Yang dimaksud dengan al-hasanah ialah kemakmuran dan kesuburan yang membuat ternak mereka berkembang biak dengan pesatnya begitu pula ternak kuda mereka dan keadaan mereka menjadi membaik serta istri-istri mereka melahirkan anak-anaknya. mereka mengaiakan, Ini adalah dari sisi Allah, dan kalau mereka tertimpa sesuatu bencana. (An-Nisaa’: 78) Yang dimaksud dengan sayyiah ialah kekeringan (paceklik) dan bencana yang menimpa harta mereka; maka mereka melemparkan kesialan itu kepada Nabi Muhammad ﷺ, lalu mereka mengatakan, Ini gara-gara kamu.  Dengan kata lain, mereka bermaksud bahwa karena kami meninggalkan agama kami dan mengikuti Muhammad, akhirnya kami tertimpa bencana ini. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. (An-Nisaa’: 78)  Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala : Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. (An-Nisaa’:78) Maksudnya, semuanya itu adalah atas ketetapan dan takdir Allah, Dia melakukan keputusan-Nya terhadap semua orang, baik terhadap orang yang bertakwa maupun terhadap orang yang durhaka, dan baik terhadap orang mukmin maupun terhadap orang kafir, tanpa pandang bulu.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. (An-Nisaa’: 78) Yaitu kebaikan dan keburukan itu semuanya dari Allah. Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman, mengingkari mereka yang mengatakan demikian yang timbul dari keraguan dan kebimbangan mereka, minimnya pemahaman dan ilmu mereka yang diliputi dengan kebodohan dan aniaya, yaitu:

فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun. (An-Nisaa’: 78)

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Sehubungan dengan firman-Nya: Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. (An-Nisaa’: 78) terdapat sebuah hadis garib yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar.

حَدَّثَنَا السَّكن بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ حَمَّادٍ، عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّان، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَأَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فِي قَبِيلَتَيْنِ مِنَ النَّاسِ، وَقَدِ ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَجَلَسَ أَبُو بَكْرٍ قَرِيبًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ وَجَلَسَ عُمَرُ قَرِيبًا مِنْ أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِمَ ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُكُمَا؟  فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: الْحَسَنَاتُ مِنَ اللَّهِ وَالسَّيِّئَاتُ مِنْ أَنْفُسِنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا قُلْتَ يَا عُمَرُ؟  قَالَ: قُلْتُ: الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ مِنَ اللَّهِ. تَعَالَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ مَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ جِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ، فَقَالَ مِيكَائِيلُ مَقَالَتَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ، وَقَالَ جِبْرِيلُ مَقَالَتَكَ يَا عُمَرُ فَقَالَ: نَخْتَلِفُ فَيَخْتَلِفُ أَهْلُ السَّمَاءِ (3) وَإِنْ يَخْتَلِفْ أَهْلُ السَّمَاءِ يَخْتَلِفْ أَهْلُ الْأَرْضِ  فَتَحَاكَمَا إِلَى إِسْرَافِيلَ، فَقَضَى بَيْنَهُمْ أَنَّ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ مِنَ اللَّهِ  ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَقَالَ احْفَظَا قَضَائِي بَيْنَكُمَا، لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَلَّا يُعْصَى لَمْ يَخْلُقْ إِبْلِيسَ

Telah menceritakan kepada kami As-Sakan ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Hammad, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang telah menceritakan, Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, datanglah Abu Bakar bersama dua kabilah, suara mereka kedengaran amat gaduh. Lalu Abu Bakar duduk di dekat Nabi ﷺ dan Umar pun duduk di dekat Abu Bakar. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Mengapa suara kamu berdua kedengaran gaduh?’ Seorang lelaki memberikan jawaban, ‘Wahai Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa semua kebaikan dari Allah dan semua keburukan dari diri kita sendiri.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lalu apakah yang kamu katakan, hai Umar?’ Umar menjawab, ‘Aku katakan bahwa semua kebaikan dan keburukan dari Allah.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang mula-mula membicarakan masalah ini adalah Jibril dan Mikail. Mikail mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan olehmu, hai Abu Bakar. Sedangkan Jibril mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan olehmu, hai Umar.’ Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, ‘Penduduk langit pun berselisih pendapat mengenainya. Jika penduduk langit berselisih, maka penduduk bumi pun berselisih pula. Lalu keduanya mengajukan permasalahannya kepada Malaikat Israfil. Maka Israfil memutuskan di antara mereka dengan keputusan bahwa semua kebaikan dan semua keburukan berasal dari Allah.’ Kemudian Rasulullah ﷺ berpaling ke arah Abu Bakar dan Umar, lalu bersabda, ‘Ingatlah keputusanku ini olehmu berdua. Seandainya Allah berkehendak untuk tidak didurhakai, niscaya Dia tidak akan menciptakan iblis’.

Ayat berikutnya : Apa Pun yang Diperoleh, Adalah dari Sisi Allah

Syaikhul Islam Taqiyud Din Abul Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadis ini maudu’ lagi buatan, menurut kesepakatan ahli ma’rifah (para ulama).

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaApa Pun yang Diperoleh, Adalah dari Sisi Allah
Berita berikutnyaKisah Tentang Raja Al-Hadar