Sekiranya Bukan Karena Karunia dan Rahmat Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 83

0
11

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 83. Menerangkan penekanan untuk menaati Rasulullah ﷺ, Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu). (Q.S. An-Nisaa’ : 83)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idzā jā-ahum amrum minal amni (dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan), yakni informasi tentang keadaan pasukan, kemenangan, atau ghanimah. Mereka berusaha mencuri informasi itu karena dorongan hasud yang ada dalam diri mereka.

Awil khaufi (atau ketakutan), yakni dan seandainya datang pula informasi yang menakutkan, pembunuhan, atau kekalahan.

Adzā‘ū bih (mereka pun menyebarkannya), yakni menyebarkan berita itu.

Wa lau raddūhu (dan kalaulah mereka mengembalikannya), yakni seandainya mereka membiarkan informasi tentang pasukan.

Ilar rasūli (kepada rasul), yakni sampai Rasulullah ﷺ sendiri yang mengabarkannya kepada mereka.

Wa ilā ulil amri minhum (dan kepada ulil amri di antara mereka), yakni kepada orang-orang yang memiliki akal pikiran di antara kaum mukminin, yaitu Abu Bakr dan teman-temannya.

La ‘alimahu (tentulah dapat mengetahuinya), yakni mengetahui informasi yang benar.

Alladzīna yastambithūnahū (orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya), yakni orang-orang yang mencari informasi.

Minhum (dari mereka), yakni dari Abu Bakr dan teman-temannya.

Wa lau lā fadl-lullāhi (kalaulah tidak karena karunia Allah), yakni karunia dari Allah Ta‘ala.

‘Alaikum wa rahmatuhū (kepada kalian dan rahmat-Nya) berupa limpahan taufik dan perlindungan-Nya.

Lat taba‘tumusy syaithāna (niscaya kalian mengikuti setan), yakni kalian semua.

Illā qalīlā (kecuali sebagian kecil saja) di antara mereka, yaitu orang-orang yang hanya menyebarluaskan informasi yang baik. Kemudian Allah Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya untuk berjihad fisabilillah ke Badr ash-Shughrā.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

83.[10] [11] Dan apabila sampai kepada mereka[12] suatu berita[13] tentang keamanan[14] ataupun ketakutan[15], mereka langsung menyiarkannya[16]. Padahal apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[17] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu[18], tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)[19].

[10] Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khaththab, ia berkata, Ketika Nabi ﷺ menjauhi istri-istrinya, aku pun masuk ke masjid ternyata orang-orang sedang melempari kerikil dan berkata, Rasulullah ﷺ telah mentalak istri-istrinya. Hal itu terjadi ketika mereka belum diperintahkan berhijab. Umar berkata, Saya akan beritahukan hal itu hari ini. Maka saya menemui Aisyah dan berkata, Wahai puteri Abu Bakar, apakah engkau sampai menyakiti Rasulullah ﷺ? Aisyah menjawab, Apa urusanmu terhadapku wahai Ibnul Khaththab, urusilah aibmu sendiri. Umar berkata, Maka saya menemui Hafshah binti Umar dan berkata kepadanya, Wahai Hafshah! Apakah engkau sampai menyakiti Rasulullah ﷺ. Demi Allah, sesungguhnya saya tahu bahwa Rasulullah ﷺ tidak menyukaimu. Kalau bukan karena saya, tentu Rasulullah ﷺ sudah mentalakmu. Hafshah pun menangis dengan tangisan yang begitu serius. Saya pun bertanya kepadanya, Di mana Rasulullah ﷺ? Ia menjawab, Dia sedang berada di dekat lemarinya di kamar. Saya pun masuk, ternyata saya menemui Ribah pelayan Rasulullah ﷺ sedang duduk di palang (kayu bawah) pintu kamar sambil memanjangkan kakinya di atas kayu berlubang, yaitu batang pohon kurma yang dipakai tangga oleh Rasulullah ﷺ untuk naik dan turun. Ribah melihat ke kamar, lalu melihatku dan tidak berkata apa-apa, kemudian saya keraskan suara sambil berkata, Wahai Ribah, izinkan saya di bersamamu untuk menghadap Rasulullah ﷺ, karena saya mengira bahwa Rasulullah ﷺ mengira bahwa saya datang karena Hafshah. Demi Allah, jika Rasulullah ﷺ memerintahkan aku memenggal lehernya, tentu saya penggal lehernya. Saya keraskan suara saya. Ia pun berisyarat kepadaku agar masuk kepadanya, maka saya masuk menemui Rasulullah ﷺ, ternyata Beliau sedang berbaring di atas tikar, saya pun duduk, lalu Beliau mendekatkan kainnya dan Beliau tidak mengenakan apa-apa selain itu. Ketika itu, tikarnya membekas pada rusuk Beliau. Saya melihat dengan mata saya lemari Rasulullah ﷺ, ternyata di sana terdapat segenggam gandum seukuran satu shaa’ (4 mud/kaupan), demikian juga daun salam di pojok kamar serta ada kulit yang digantungkan. Saya pun meneteskan air mata, lalu Beliau bertanya, Apa yang membuatmu menangis, wahai Ibnul Khaththab? Aku menjawab, Wahai Nabi Allah, mengapa saya tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas pada rusukmu. Sedangkan lemarimu tidak menyimpan apa-apa selain yang saya lihat. Berbeda dengan Kaisar dan Kisra yang memperoleh banyak buah dan berada di dekat sungai yang mengalir. Sedangkan engkau utusan Allah dan pilihan-Nya dengan keadaan lemari seperti ini. Beliau bersabda, Wahai Ibnul Khaththab, tidakkah kamu ridha, untuk kita akhirat dan untuk mereka dunia? Saya menjawab, Ya. Ketika saya masuk menemuinya, saya melihat tampak marah di mukanya, maka saya berkata, Wahai Rasulullah, para istri tidak akan menyusahkan dirimu. Jika engkau mentalak mereka, maka sesungguhnya Allah bersamamu, demikian pula, malaikat-Nya, Jibril, Mikail, saya, Abu Bakar, dan kaum mukmin bersamamu.  Saya tidaklah berbicara ‘wal hamdulillah’ kecuali saya berharap agar dibenarkan oleh Allah. Ketika itu turunlah ayat takhyir (pemberian pilihan),

Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. —Jika Nabi menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh,…dst.(Terj. At Tahrim: 4-5)

Ketika itu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah saling bantu-membantu menyusahkan Nabi ﷺ terhadap istri-istri yang lain. Saya pun berkata, Wahai Rasulullah, apakah engkau mentalak mereka? Beliau menjawab, Tidak. Saya berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya masuk ke masjid sedangkan kaum muslimin sedang melempari kerikil sambil berkata, Rasulullah ﷺ mentalak istri-istrinya. Bolehkah saya turun agar saya memberitahukan mereka bahwa Engkau tidak mentalak mereka? Beliau menjawab, Ya, jika engkau mau. Saya senantiasa berbicara dengan Beliau sampai hilang marah dari mukanya dan sampai Beliau memperlihatkan giginya dan tersenyum, dan Beliau adalah orang yang paling bagus giginya. Nabi Allah pun turun dan aku turun bersandar dengan batang tersebut. Rasulullah ﷺ turun tampak seperti berjalan di tanah, di mana Beliau tidak menyentuhnya (batang tersebut) dengan tangannya, lalu saya berkata, Wahai Rasulullah, Engkau berada di kamar hanya 29 hari? Beliau bersabda, Sesungguhnya sebulan itu 29 hari. Saya pun berdiri di pintu masjid dan menyeru dengan suara kerasRasulullah ﷺ tidak mentalak istri-istrinya. Ketika itu turunlah ayat, Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)…dst. Sayalah yang mengetahui perkara itu, dan Allah menurunkan ayat takhyir (pilihan).

[11] Ayat ini merupakan pengajaran adab dari Allah kepada hamba-hamba-Nya terhadap perbuatan yang tidak patut mereka lakukan, dan sepatutnya bagi mereka ketika sampai masalah-masalah penting yang terkait dengan masalah umum, seperti terkait dengan keamanan, kegembiraan dan kekhawatiran yang di sana terdapat musibah bagi mereka untuk menahan diri dengan tidak segera menyampaikan berita itu, bahkan menyampaikan terlebih dulu kepada rasul dan ulil amri (para ulama dari kalangan sahabat atau orang yang memiliki pandangan tepat), di mana mereka mengetahui hal yang lebih bermaslahat. Mereka (rasul dan ulil amri) nanti akan memperhatikan berita itu, apakah jika disebarluaskan ada maslahatnya dan dapat menyemangatkan kaum muslimin serta menggembirakan mereka ataukah tidak ada maslahatnya, atau ada maslahatnya namun madharatnya lebih besar daripada maslahatnya, sehingga berita itu tidak disebarluaskan.

[12] Kaum munafik atau orang-orang yang lemah iman.

[13] Seperti berita tentang sariyyah (pasukan kecil) yang dikirim Nabi ﷺ.

[14] Yakni kemenangan.

[15] Yakni kekalahan.

[16] Sehingga membuat lemah hati kaum mukmin dan Nabi ﷺ sendiri merasa tersakiti.

[17] Yakni kepada Rasul dan tokoh-tokoh sahabat atau ulama di antara mereka. Dalam ayat ini terdapat dalil terhadap kaidah adab, yaitu apabila diperlukan pembahasan tentang suatu masalah, maka sepatutnya masalah tersebut diserahkan kepada ahlinya, tidak disodorkan kepada yang lain, hal itu karena yang demikian lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Demikian pula menunjukkan dilarangnya bersikap tergesa-gesa menyebarkan apa yang didengarnya dan perintah untuk memperhatikan perkara itu, apakah ada maslahatnya sehingga ia pun perlu maju atau tidak, sehingga perlu ditahan.

[18] Yakni taufiq, pengajaran adab dan ilmu yang diajarkan-Nya kepada kamu yang sebelumnya tidak kamu ketahui.

[19] Karena manusia pada tabi’atnya zalim dan jahil (bodoh), hawa nafsunya biasa menyuruh kepada keburukan. Namun apabila seseorang kembali kepada Tuhannya dan bersandar kepada-Nya, maka Allah akan berbuat lembut kepadanya, memberinya taufiq kepada semua kebaikan dan melindunginya dari godaan setan yang terkutuk.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan apabila datang kepada mereka suatu berita) mengenai hasil-hasil yang dicapai oleh ekspedisi tentara Nabi ﷺ (berupa keamanan) maksudnya kemenangan (atau ketakutan) maksudnya kekalahan (mereka lalu menyiarkannya). Ayat ini turun mengenai segolongan kaum munafik atau segolongan orang-orang mukmin yang lemah iman mereka, dan dengan perbuatan mereka itu lemahlah semangat orang-orang mukmin dan kecewalah Nabi ﷺ (Padahal kalau mereka menyerahkannya) maksudnya berita itu (kepada Rasul dan kepada Ulil amri di antara mereka) maksudnya para pembesar sahabat, jika mereka diam mengenai berita itu menunggu keputusannya (tentulah akan dapat diketahui) apakah hal itu boleh disiarkan atau tidak (oleh orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya) artinya yang mengikuti perkembangannya dan dituntut untuk mengetahuinya, mereka adalah orang-orang yang berhak menyiarkan berita itu (dari mereka) yakni Rasul dan Ulil amri (Dan kalau bukanlah karena karunia Allah kepadamu) yakni dengan agama Islam (serta rahmat-Nya) kepadamu dengan Al-Qu’ran (tentulah kamu sekalian akan mengikuti setan) untuk mengerjakan kekejian-kekejian yang diperintahkannya (kecuali sebagian kecil saja di antaramu) yang tidak.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَإِذا جاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذاعُوا بِهِ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. (An-Nisaa’: 83)

Hal ini merupakan pengingkaran terhadap orang yang tergesa-gesa dalam menanggapi berbagai urusan sebelum meneliti kebenarannya, lalu ia memberitakan dan menyiarkannya, padahal belum tentu hal itu benar.

Imam Muslim mengatakan di dalam mukadimah (pendahuluan) kitab sahihnya:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: كفى بالمرء كذبا أَنْ يُحدِّث بِكُلِّ مَا سَمِعَ

telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hafs, telah menceritakan kepada kami Syu’bah.dari Habib ibnu Abdur Rahman, dari Hafs ibnu Asim, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Cukuplah kedustaan bagi seseorang bila dia menceritakan semua apa yang didengarnya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di dalam Kitabul Adab, bagian dari kitab sunnahnya, dari Muhammad ibnul Husain ibnu Isykab, dari Ali ibnu Hafs, dari Syu’bah secara musnad.

Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui hadis Mu’az ibnu Hisyam Al-Anbari dan Abdur-Rahman ibnu Mahdi. Bcgitu juga Imam Abu Dawud, meriwayatkannya melalui hadis Hafs ibnu Amr An-Namiri. Ketiga-tiganya dari Syu’bah, dari Habib, dari Hafs ibnu Asim dengan lafaz yang sama secara mursal.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Al-Mugirah ibnu Syu’bah hadis berikut, bahwa Rasulullah ﷺ telah melarang perbuatan qil dan qal. Makna yang dimaksud ialah melarang perbuatan banyak bercerita tentang apa yang dibicarakan oleh orang-orang tanpa meneliti kebenarannya, tanpa menyeleksinya terlebih dahulu, dan tanpa membuktikannya.

Di dalam kitab Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

بِئْسَ مَطِيَّة الرَّجُلِ زَعَمُوا عَلَيْهِ

Seburuk-buruk lisan seseorang ialah (mengatakan) bahwa mereka menduga (anu dan anu).

Di dalam kitab sahih disebutkan hadis berikut, yaitu:

مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barang siapa yang menceritakan suatu kisah, sedangkan ia menganggap bahwa kisahnya itu dusta, maka dia termasuk salah seorang yang berdusta.

Dalam kesempatan ini kami ketengahkan sebuah hadis dari Umar ibnul Khattab yang telah disepakati kesahihannya:

حِينَ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَّق نِسَاءَهُ، فَجَاءَهُ مِنْ مَنْزِلِهِ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَوَجَدَ النَّاسَ يَقُولُونَ ذَلِكَ، فَلَمْ يَصْبِرْ حَتَّى اسْتَأْذَنَ عَلِيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْهَمَهُ: أَطَلَّقْتَ نِسَاءَكَ؟ قَالَ: لَا. فَقُلْتُ اللَّهُ أَكْبَرُ. وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ

Yaitu ketika ia mendengar berita bahwa Nabi menceraikan istri-istrinya. Maka ia datang dari rumahnya, lalu masuk ke dalam masjid, dan ia menjumpai banyak orang yang sedang memperbincangkan berita itu. Umar tidak sabar menunggu, lalu ia meminta izin menemui Nabi dan menanyakan kepadanya apakah memang benar beliau menceraikan semua istrinya? Ternyata jawaban Rasulullah negatif (yakni tidak). Maka ia berkata, Allahu Akbar (Allah Maha Besar), hingga akhir hadis.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim:

فَقُلْتُ: أَطَلَّقْتَهُنَّ؟ فَقَالَ: لَا فَقُمْتُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ فَنَادَيْتُ بِأَعْلَى صَوْتِي: لَمْ يُطَلِّقْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ. وَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ فَكُنْتُ أَنَا اسْتَنْبَطْتُ ذَلِكَ الْأَمْرَ

Aku (Umar) bertanya, Apakah engkau menceraikan mereka semua? Nabi menjawab, Tidak. Aku bangkit dan berdiri di pintu masjid, lalu aku berkata dengan sekeras suaraku, menyerukan bahwa Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya. Lalu turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). (An-Nisaa’: 83)

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Aku (kata Umar) termasuk salah seorang yang ingin mengetahui kebenaran perkara tersebut.

Makna (يَسْتَنْبِطُونَهُ) ialah menyimpulkannya dari sumbernya.

Dikatakan اسْتَنْبَطَ الرَّجُلُ الْعَيْنَ, yang artinya lelaki itu menggali mata air dan mengeluarkan air dari dasarnya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطانَ إِلَّا قَلِيلًا

Tentulah kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian). (An-Nisaa’: 83)

Ali ibnu Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang mukmin.

Abdur-Razzak mengatakan, dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa firman Allah berikut: Tentulah kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja ( di antara kalian). (An-Nisaa’: 83) Makna yang dimaksud ialah kalian semuanya niscaya mengikuti langkah setan.

Orang yang mendukung pendapat ini (yakni yang mengartikan semuanya) memperkuat alasannya dengan ucapan At-Tirmah ibnu Hakim dalam salah satu bait syairnya ketika memuji Yazid ibnul Muhallab, yaitu:

أشَمَّ نديّ كَثِيرَ النوادي  … قَلِيلَ الْمَثَالِبِ وَالْقَادِحَةْ

Aku mencium keharuman nama orang yang sangat dermawan, tiada cela dan tiada kekurangan baginya.

Makna yang dimaksud ialah tidak ada cela dan tidak ada kekurangannya, sekalipun diungkapkan dengan kata sedikit cela dan kekurangannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaKewajiban Berperang dan Beberapa Adab-adabnya
Berita berikutnyaSekiranya Al-Qu’ran Itu Bukan dari Allah