Sekiranya Al-Qu’ran Itu Bukan dari Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 82

0
8

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 82. Menerangkan penekanan untuk menaati Rasulullah ﷺ, Sekiranya Al-Qu’ran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Maka tidakkah mereka menghayati(merenungi) Al-Qu’ran? Sekiranya Al-Qu’ran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. (Q.S. An-Nisaa’ : 82)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa lā yatadabbarūnal qur-ān (maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qu’ran ), yakni apakah mereka tidak merenungkan kandungan Al-Qu’ran yang ayat-ayatnya memiliki keselarasan dan saling membenarkan. Dan di dalam Al-Qu’ran juga terdapat apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepada mereka.

Wa lau kāna min ‘iηdi ghairillāhi (kalaulah Al-Qu’ran bukan dari hadirat Allah), yakni sekiranya Al-Qu’ranberasal dari seseorang dan bukan dari Allah Ta‘ala.

La wajadū fīhikhtilāfang katsīrā (niscaya mereka mendapati banyak pertentangan di dalamnya), yakni niscaya mereka akan menemukan banyak kontradiksi, sehingga ayat-ayatnya tidak memiliki keselarasan. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  mengungkapkan pengkhianatan yang dilakukan kaum munafikin:

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka tidakkah mereka menghayati(merenungi) Al-Qu’ran?[9] Sekiranya Al-Qu’ran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

[9] Sesungguhnya mentadabburi kitab Allah merupakan kunci bagi semua ilmu, dengannya diperoleh semua kebaikan dan daripadanya digali berbagai macam ilmu, dan dengannya bertambah keimanan di hati. Semakin bertambahnya tadabbur seseorang terhadap Al-Qu’ran, maka semakin bertambah pula ilmu, amal dan bashirah (ketajaman pandangan)nya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita mentadabburi firman-Nya dan memberitahukan bahwa untuk itulah Al-Qu’ran  diturunkan, Allah berfirman, Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Terj. Shaad: 29).

Di antara faedah mentadabburi kitab Allah adalah seseorang dapat mencapai derajat yakin, mengetahui bahwa kitab tersebut adalah firman Allah, karena ayat yang satu dengan yang lain bersesuaian dan saling membenarkan. Kita dapat melihat tentang hukum, kisah dan berita yang diulang di beberapa tempat dalam Al-Qu’ran , semuanya sesuai dan saling membenarkan; tidak saling membatalkan. Dengan ini dapat diketahui kesempurnaan Al-Qu’ran  dan bahwa ia berasal dari Allah Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah mereka tidak memperhatikan) merenungkan (Al-Qu’ran ) dan makna-makna indah yang terdapat di dalamnya. (Sekiranya Al-Qu’ran itu bukan dari sisi Allah, tentulah akan mereka jumpai di dalamnya pertentangan yang banyak) baik dalam makna maupun dalam susunannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memerintahkan kepada mereka untuk memperhatikan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an, juga melarang mereka berpaling darinya dan dari memahami makna-maknanya yang muhkam serta lafaz-lafaznya yang mempunyai paramasastra yang tinggi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan kepada mereka bahwa tidak ada pertentangan, tidak ada kelabilan, dan tidak ada perbedaan di dalam Al-Qur’an karena Al-Qur’an diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Al-Qur’an adalah perkara yang hak dari Tuhan Yang Mahabenar. Karena itulah dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلى قُلُوبٍ أَقْفالُها

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 24)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ

Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah. (An-Nisaa’: 82)

Seandainya Al-Qur’an itu dibuat-buat sendiri, seperti yang dikatakan oleh sebagian kaum musyrik dan kaum munafik yang bodoh dalam hati mereka.

لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’: 82)

Yaitu niscaya dijumpai banyak pertentangan dan kelabilan. Dengan kata lain, sedangkan Al-Qur’an itu ternyata bebas dari pertentangan; hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu dari sisi Allah. Seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dalam ayat yang lain, menyitir perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu melalui firman-Nya:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. (Ali Imran: 7)

Baik yang muhkam maupun yang mutasyabih, semuanya benar. Karena itulah mereka mengembalikan (merujukkan) yang mutasyabih kepada yang muhkam, dan akhirnya mereka mendapat petunjuk. Sedangkan orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengembalikan yang muhkam kepada yang mutasyabih; akhirnya mereka tersesat. Karena itulah dalam ayat ini Allah memuji sikap orang-orang yang mendalam ilmunya dan mencela orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: لَقَدْ جَلَسْتُ أَنَا وَأَخِي مَجْلِسًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمر النَّعم، أَقْبَلْتُ أَنَا وَأَخِي وَإِذَا مَشْيَخَةٌ مِنْ صَحَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِهِ، فَكَرِهْنَا أَنْ نُفَرِّقَ بَيْنَهُمْ، فَجَلَسْنَا حَجْرَة، إِذْ ذَكَرُوا آيَةً مِنَ الْقُرْآنِ، فَتَمَارَوْا فِيهَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمْ، فَخَرَجَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُغْضَبًا حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ، يَرْمِيهِمْ بِالتُّرَابِ، وَيَقُولُ: مَهْلًا يَا قَوْمُ، بِهَذَا أُهْلِكَتِ الْأُمَمُ مَنْ قَبْلِكُمْ بِاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، وَضَرْبِهِمُ الْكُتُبَ بَعْضَهَا ببعض، إن القرآن لم ينزل يكذب بَعْضُهُ بَعْضًا، بَلْ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا، فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوا بِهِ، وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ فردوه إِلَى عالمِه

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan bahwa ia dan saudaranya duduk di sebuah majelis yang lebih ia sukai daripada memiliki ternak unta yang unggul. Ketika dia dan saudaranya telah berada di dalam majelis itu, tiba-tiba beberapa sesepuh dari kalangan sahabat Nabi ﷺ berada di sebuah pintu dari pintu-pintu yang biasa dilalui oleh Nabi ﷺ Maka kami tidak suka bila memisahkan di antara mereka, hingga kami terpaksa duduk di pinggir. Saat itu mereka sedang membicarakan suatu ayat dari Al-Qur’an, lalu mereka berdebat mengenainya hingga suara mereka saling menegang. Maka Rasulullah ﷺ keluar dalam keadaan marah hingga roman wajahnya kelihatan merah, lalu beliau menaburkan debu kepada mereka yang berdebat itu dan bersabda: Tenanglah hai kaum, karena hal inilah umat-umat terdahulu sebelum kalian binasa, yaitu karena pertentangan mereka dengan nabi-nabi mereka dan mengadu-adukan sebagian dari isi Al-Ki-tab dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mendustakan sebagian darinya terhadap sebagian yang lain. Tetapi ia diturunkan untuk membenarkan sebagian daripadanya terhadap sebagian yang lain. Karena itu, apa yang kalian ketahui dari Al-Qur’an, amatkanlah ia; dan apa yang kalian tidak mengerti darinya, maka kembalikanlah kepada yang mengetahuinya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad melalui Abu Mu’awiyah, dari Dawud ibnu Abu Hindun, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan:

خَرَجَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، وَالنَّاسُ يَتَكَلَّمُونَ فِي الْقَدَرِ، فَكَأَنَّمَا يُفْقَأ فِي وَجْهِهِ حَبُّ الرُّمان مِنَ الْغَضَبِ، فَقَالَ لَهُمْ: مَا لَكُمْ تَضْرِبُونَ كِتَابَ اللَّهِ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ؟ بِهَذَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ. قَالَ: فَمَا غَبَطْتُ نَفْسِي بِمَجْلِسٍ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ولم أَشْهَدْهُ مَا غَبَطْتُ نَفْسِي بِذَلِكَ الْمَجْلِسِ، أَنِّي لَمْ أَشْهَدْهُ

Bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ keluar, yaitu ketika para sahabat sedang memperbincangkan masalah takdir. Saat itu wajah beliau seakan-akan seperti biji delima yang merah karena marah. Lalu beliau ﷺ bersabda kepada mereka: Mengapa kalian mengadukan Kitabullah sebagian darinya dengan sebagian yang lain? Hal inilah yang menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa. Perawi mengatakan bahwa sejak saat itu tiada suatu majelis pun yang di dalamnya ada Rasulullah ﷺ yang lebih ia sukai daripada majelis tersebut. Sekiranya dia tidak menyaksikannya, amat kecewalah dia.

Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Dawud ibnu Abu Hindun dengan sanad yang sama dan dengan lafaz yang semisal.

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي عمْران الجَوْني قَالَ: كَتَبَ إِلَيَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَبَاح، يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: هَجَّرتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَإِنَّا لَجُلُوسٌ إِذِ اخْتَلَفَ اثْنَانِ فِي آيَةٍ، فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فَقَالَ: إِنَّمَا هَلَكَتِ الْأُمَمُ قَبْلَكُمْ بِاخْتِلَافِهِمْ فِي الْكِتَابِ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Abu Imran Al-Juni yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Rabbah pernah menulis surah kepadanya, menceritakan sebuah hadis yang ia terima dari Abdullah ibnu Amr. Disebutkan bahwa pada suatu siang hari Abdullah ibnu Amr ia berangkat menemui Rasulullah ﷺ Saat itu ketika dia dan yang lainnya sedang duduk, tiba-tiba ada dua orang berselisih pendapat tentang makna sebuah ayat, hingga suara mereka berdua menjadi mengeras dan bersitegang. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya penyebab yang membinasakan orang-orang sebelum kalian hanyalah karena pertentangan mereka mengenai Al-Kitab.

Ayat berikutnya : Sekiranya Bukan Karena Karunia dan Rahmat Allah

Imam Muslim dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Zaid dengan lafaz yang sama.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaSekiranya Bukan Karena Karunia dan Rahmat Allah
Berita berikutnyaBertawakallah kepada Allah