Penekanan untuk Menaati Rasulullah ﷺ

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 80

0
7

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 80. Menerangkan penekanan untuk menaati Rasulullah ﷺ. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barang siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan Barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Q.S. An-Nisaa’ : 80)

.

Tafsir Ibnu Abbas

May yuthi‘ir rasūla (barangsiapa yang menaati rasul), yakni menaati apa-apa yang diperintahkannya.

Fa qad athā‘allāha (berarti ia telah menaati Allah), sebab rasul hanyalah memerintahkan apa yang diperintahkan Allah Ta‘ala.

Wa maη tawallā (dan barangsiapa yang berpaling) dari ketaatan kepada rasul.

Fa mā arsalnāka ‘alaihim hafīzhā (maka tiadalah Kami mengutusmu kepada mereka sebagai pemelihara), yakni sebagai penjamin.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Barang siapa yang menaati[1] Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah[2]. Dan Barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara bagi mereka[3].

[1] Ketaatan tersebut harus dilakukan oleh zhahir maupun batin, di hadapan manusia maupun ketika sembunyi. Adapun orang yang menampakkan ketaatan di hadapan manusia, namun ketika sendiri atau bersama kawan-kawan yang sepertinya, ia tidak taat dan mengerjakan hal yang sebaliknya, maka sesungguhnya ketaatan yang ditampakkan itu tidaklah bermanfaat dan tidaklah berfaedah, mereka ini sama seperti orang-orang yang disebutkan dalam ayat 81 selanjutnya.

[2] Hal itu, karena Beliau tidaklah memerintah dan melarang kecuali dengan perintah Allah dan wahyu-Nya. Dalam ayat ini terdapat dalil kema’shuman Beliau (terjaganya dari kesalahan), karena Allah memerintahkan kita menaati Beliau secara mutlak. Jika Beliau tidak ma’shum dalam semua yang disampaikan dari Allah, tentu kita tidak diperintahkan menaatinya secara mutlak.

[3] Kamu (Muhammad ﷺ) tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Kamu hanyalah pemberi peringatan dan kepada Allah-lah urusan mereka. Oleh karena itu, janganlah kamu dibuat risau, baik mereka mendapatkan petunjuk atau pun tidak.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya ia telah menaati Allah, dan siapa yang berpaling) artinya tak mau menaatinya, maka bukan menjadi urusanmu (maka Kami tidaklah mengutusmu sebagai pemelihara) atau penjaga amal-amal perbuatan mereka, tetapi hanyalah sebagai pemberi peringatan sedangkan urusan mereka terserah kepada Kami dan Kami beri ganjaran dan balasannya. Ini sebelum datangnya perintah berperang.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan perihal hamba dan Rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad ﷺ), bahwa barang siapa yang menaatinya, berarti ia taat kepada Allah. Barang siapa yang durhaka kepadanya, berarti ia durhaka kepada Allah. Hal tersebut tidak lain karena apa yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) bukan menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَان، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah; dan barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah. Barang siapa yang menaati amir(ku), berarti ia taat kepadaku; dan barang siapa yang durhaka kepada amir(ku), berarti ia durhaka kepadaku.

Hadis ini disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَمَنْ تَوَلَّى فَما أَرْسَلْناكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً

Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (An-Nisaa’: 80)

Tugasmu bukan untuk itu, melainkan hanyalah menyampaikan. Untuk itu barang siapa yang mengikutimu, maka berbahagia dan selamatlah ia, sedangkan bagimu ada pahala yang semisal dengan pahala yang diperolehnya. Barang siapa yang berpaling darimu, maka rugi dan kecewalah dia, sedangkan kamu tidak dikenai beban sedikit pun dari urusannya. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut oleh sebuah hadis yang mengatakan:

Ayat berikutnya : Bertawakallah kepada Allah

مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ إِلَّا نَفْسَهُ

Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, berarti ia telah mendapat petunjuk; dan barang siapa yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia tidak membahayakan selain hanya terhadap dirinya sendiri.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaBertawakallah kepada Allah
Berita berikutnyaApa Pun yang Diperoleh, Adalah dari Sisi Allah