Di Mana Pun Kamu Berada, Kematian Akan Mendapatkanmu

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 78

0
7

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 78. Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, Ini datangnya dari kamu (Muhammad). Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (Q.S. An-Nisaa’ : 78)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Aina mā takūnū (di mana pun kalian berada), wahai segenap kaum muk-minin yang ikhlas ataupun kaum munafik, baik di daratan maupun di lautan, di perjalanan ataupun di tempat sendiri.

Yud-rikkumul mautu (maut akan menemukan kalian), lalu kalian pun akan mati.

Wa lau kuηtum fī burūjim musyayyadah (meskipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh) atau berada di dalam istana-istana yang dijaga ketat. Selanjutnya Allah Ta‘ala Mengungkapkan perkataan kaum Yahudi dan orang-orang munafik yang menyatakan, Semenjak kedatangan Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya, kami senantiasa mengalami kekurangan buah-buahan dan hasil pertanian.  …

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

78.[11] Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh[12]. …

[11] Di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan bawa sikap hati-hati tidaklah dapat melawan qadar, dan orang yang duduk tidak berperang, tidaklah dapat menolak taqdir.

[12] Semua ini merupakan dorongan untuk berjihad fii sabilillah. Sesekali berupa targhib (dorongan) dengan menyebutkan keutamaan dan pahalanya, sesekali berupa tarhib (ancaman) yang berupa hukuman bagi yang meninggalkannya dan sesekali berupa pemberitahuan bahwa duduk di tempat (tidak berjihad) tidaklah berguna baginya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Di mana pun kamu berada, pastilah akan dicapai oleh maut sekalipun kamu di benteng yang tinggi lagi kokoh) karena itu janganlah takut berperang lantaran cemas akan mati. …

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

أَيْنَما تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (An-Nisaa’: 78)

Maksudnya, kalian pasti akan mati, dan tiada seorang pun dari kalian yang selamat dari maut. Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

كُلُّ مَنْ عَلَيْها فانٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (Ar-Rahman: 26)

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali Imran: 185)

وَما جَعَلْنا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu.(Al-Anbiya: 34)

Makna yang dimaksud ialah setiap orang pasti akan mati, tiada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dia dari kematian, baik dia ikut dalam berjihad ataupun tidak ikut berjihad. Karena sesungguhnya umur manusia itu ada batasnya dan mempunyai ajal yang telah ditentukan serta kedudukan yang telah ditetapkan baginya. Seperti yang dikatakan oleh Khalid ibnul Walid ketika menjelang kematiannya di atas tempat tidurnya:

لَقَدْ شَهِدْتُ كَذَا وَكَذَا مَوْقِفًا، وَمَا مِنْ عُضْوٍ مِنْ أَعْضَائِي إِلَّا وَفِيهِ جُرْحٌ مِنْ طَعْنَةٍ أَوْ رَمْيَةٍ، وَهَا أَنَا أَمُوتُ عَلَى فِرَاشِي، فَلَا نَامَتْ أَعْيُنُ الْجُبَنَاءِ

Sesungguhnya aku telah mengikuti perang anu dan perang anu, dan tiada suatu anggota tubuhku melainkan padanya terdapat luka karena tusukan atau lemparan panah. Tetapi sekarang aku mati di atas tempat tidurku, semoga mata orang-orang yang pengecut tidak dapat tidur.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (An-Nisaa’: 78)

Yakni benteng yang kuat, kokoh, lagi tinggi.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan buruj ialah bintang-bintang yang ada di langit. Pendapat ini dikatakan oleh As-Saddi, tetapi lemah. Pendapat yang sahih ialah yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengannya adalah benteng yang kuat. Dengan kata lain, tiada gunanya sikap waspada dan berlindung di tempat yang kokoh dari ancaman maut. Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair (Jahiliah), yaitu Zuhair ibnu Abu Salma:

وَمَن خَاف أسبابَ المَنيّة يَلْقَهَا … وَلَوْ رَامَ أسبابَ السَّمَاءِ بسُلَّم

Barang siapa yang takut terhadap penyebab kematian, niscaya dia akan didapatkannya sekalipun dia naik ke langit yang tinggi dengan memakai tangga.

Kemudian menurut pendapat yang lain, al-musyayyadah sama artinya dengan al-masyidah. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

Dan istana yang tinggi. (Al-Hajj: 45)

Menurut pendapat yang lainnya lagi, di antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu: Kalau dibaca al-musyayyadah dengan memakai tasydid artinya yang ditinggikan, sedangkan kalau dibaca takhfif (tanpa tasydid) artinya yang dibangun dengan memakai batu kapur.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan bab ini mengetengahkan sebuah kisah panjang dari Mujahid: bahwa zaman dahulu terdapat seorang wanita yang sedang melahirkan, lalu si wanita itu memerintahkan kepada pelayannya untuk mencari api. Ketika si pelayan keluar, tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di depan pintu (entah dari mana datangnya). Lalu lelaki itu bertanya, Apakah wanita itu telah melahirkan bayinya? Si pelayan menjawab, Ya, seorang bayi perempuan.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Selanjutnya lelaki itu berkata, Ingatlah, sesungguhnya bayi perempuan itu kalau sudah dewasa nanti akan berbuat zina dengan seratus orang laki-laki, kemudian ia dikawini oleh pelayan si wanita itu, dan kelak matinya disebabkan oleh laba-laba. Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa pelayan itu kemudian kembali ke dalam rumah dan dengan serta-merta ia merobek perut si bayi dengan pisau hingga menganga lebar, lalu ia pergi melarikan diri karena ia merasa yakin bahwa bayi itu telah mati.

Melihat hal itu ibu si bayi segera mengobati luka tersebut dengan menjahitnya. Lama-kelamaan luka si bayi sembuh dan ia tumbuh hingga remaja. Setelah dewasa, ia menjadi wanita yang tercantik di kotanya. Sedangkan si pelayan yang kabur tadi pergi menjelajahi semua daerah, dan akhirnya ia menjadi penyelam, lalu berhasil memperoleh harta yang berlimpah (dari dalam laut).

Dengan bekal harta itu ia menjadi orang yang paling kaya, lalu ia kembali ke negerinya semula dan bermaksud untuk kawin. Untuk itu ia berkata kepada seorang nenek, Aku ingin kawin dengan wanita yang paling cantik di kota ini. Si nenek berkata, Di kota ini tidak ada wanita yang lebih cantik dari si Fulanah. Ia berkata, Kalau demikian pergilah kamu untuk melamarnya buatku.

Si nenek akhirnya berangkat ke rumah wanita yang dimaksud, dan ternyata si wanita itu menyetujui lamarannya. Ketika akan menggaulinya, ia sangat terpesona dengan kecantikan istrinya itu. Maka si istri itu bertanya kepadanya mengenai asal-usulnya. Lalu ia menceritakan kepada istrinya semua yang pernah ia alami hingga menyangkut masalah bayi perempuan tadi. Maka si istri menjawab, Akulah bayi perempuan itu, lalu si istri memperlihatkan bekas robekan yang ada pada perutnya, hingga ia percaya dengan bukti tersebut.

Ia berkata, Jika dulu engkau benar-benar bayi tersebut, sesungguhnya ada seorang lelaki (barangkali malaikat) yang memberitahukan kepadaku tentang dua perkara yang merupakan suatu keharusan akan menimpamu. Salah satunya ialah bahwa engkau telah berbuat zina dengan seratus orang laki-laki.

Si istri menjawab, Memang aku telah berbuat itu, tetapi aku lupa dengan berapa banyak lelaki aku melakukannya. Si suami menjawab, Jumlah mereka adalah seratus orang laki-laki. Si suami melanjutkan kisahnya, Hal yang kedua ialah engkau akan mati karena seekor laba-laba. Karena si suami sangat mencintai istrinya, maka ia membangunkan untuk si istri sebuah gedung yang kokoh lagi tinggi untuk melindunginya dari penyebab tersebut.

Tetapi pada suatu hari ketika mereka sedang asyik masyuk, tiba-tiba ada seekor laba-laba di atap rumah. Lalu ia memperlihatkan laba-laba itu kepada istrinya. Maka si istri berkata, Inikah yang engkau takutkan akan menyerang diriku? Demi Allah, bahkan akulah yang akan membunuhnya.

Selanjutnya : Kisah Tentang Raja Al-Hadar

Para pembantu menurunkan laba-laba itu dari atap ke bawah, kemudian si istri dengan sengaja mendekatinya dan menginjaknya dengan jempol kakinya hingga laba-laba itu mati seketika itu juga. Akan tetapi, takdir Allah berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Ternyata ada sebagian dari racun laba-laba itu yang masuk ke dalam kuku jari kakinya dan terus menembus ke dagingnya, hingga kaki si wanita itu menjadi hitam dan membusuk; hal tersebutlah yang mengantarkannya kepada kematian.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKisah Tentang Raja Al-Hadar
Berita berikutnyaDaftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-4