Apa Pun yang Diperoleh, Adalah dari Sisi Allah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 79

0
8

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 79. Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Q.S. An-Nisaa’ : 79)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Mā ashābaka (apa saja yang kamu peroleh), hai Muhammad!

Min hasanatin (kebaikan), yakni kurma-kurma berbuah lebat, harga-harga turun, dan tahun-tahun yang penuh kesuburan.

Fa minallāhi (maka adalah dari Allah), yakni merupakan kenikmatan yang dikaruniakan Allah Ta‘ala kepadamu. Pembicaraan pada ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi yang dimaksud adalah kaumnya.

Wa mā ashābaka miη sayyi-atin (dan apa saja keburukan yang menimpamu), yakni musim paceklik, kekeringan, dan kenaikan harga.

Fa min nafsik (maka adalah dari dirimu sendiri), yakni berkaitan dengan penyucian dirimu, dan dengan keburukan itu Allah Ta‘ala hendak Menyucikan dirimu. Pendapat yang lain mengatakan, wa mā ashābaka miη sayyi-atin (dan keburukan apa saja yang menimpamu) berupa terbunuh dan kekalahan seperti yang terjadi pada Perang Uhud; fa min nafsik (maka dari dirimu sendiri), yakni disebabkan kesalahan shahabat-shahabatmu yang meninggalkan tempat. Menurut pendapat yang lain, mā ashābaka min hasanatin (kebaikan apa saja yang kamu peroleh), yakni kebaikan apa pun yang kamu lakukan, maka adalah karena Taufik dan Pertolongan Allah Ta‘ala; wa mā ashābaka miη sayyi-atin (dan apa saja keburukan yang menimpamu), yakni keburukan apa pun yang kamu lakukan; fa . min nafsik (maka dari dirimu sendiri), yakni maka adalah karena pelanggaran dirimu, dan Allah tidak memberi pertolongan.

Wa arsalnāka lin nāsi (Kami mengutusmu kepada segenap manusia), yakni kepada segenap jin dan manusia.

Rasūlā (sebagai rasul) yang bertugas menyampaikan risalah.

Wa kafā billāhi syahīdā (dan cukuplah Allah sebagai Saksi) atas ucapan mereka yang mengatakan bahwa kebaikan datang dari Allah Ta‘ala, sedang keburukan adalah karena kesialan yang dibawa Muhammad ﷺ dan shahabat-shahabatnya. Menurut satu pendapat, wa kafā billāhi syahīdā (dan cukuplah Allah sebagai Saksi) atas perkataan mereka, Tunjukkanlah bukti kepada kami bahwa engkau adalah Rasulullah. Lalu ketika Allah Ta‘ala Menurunkan ayat, wa mā . arsalnā mir rasūlin illā li yuthā‘a bi

idznillāh (dan tiadalah Kami Mengutus seorang rasul melainkan supaya ditaati dengan Izin Allah) (Q.S. 4 an-Nisā’: 64), berkatalah ‘Abdullah bin Ubay, Muhammad menyuruh kita agar menaatinya dengan mengesampingkan Allah. Maka sehubungan dengan pernyataan tersebut, turunlah ayat selanjutnya ….

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Kebajikan apa pun yang kamu peroleh[18], adalah dari sisi Allah[19], dan keburukan apa pun yang menimpamu[20], itu dari (kesalahan) dirimu sendiri[21]. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi[22].

[18] Wahai manusia.

[19] Dia-lah yang memberi nikmat itu, memudahkannya dan memudahkan sebab-sebabnya.

[20] Misalnya musibah.

[21] Yakni karena dosa-dosa dan tindakanmu, namun Allah lebih banyak memaafkan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah membukakan pintu-pintu ihsan-Nya dan memerintahkan mereka untuk mengambil kebaikan dan karunia-Nya, serta memberitahukan bahwa maksiat dapat menghalangi karunia-Nya. Oleh karena itu, apabila seseorang melakukannya, maka janganlah dia mencela selain dirinya sendiri, karena dirinyalah yang menghalangi untuk mendapatkan karunia Allah dan kebaikan-Nya.

[22] Persaksian ini merupakan persaksian yang paling besar sebagaimana firman Allah Ta’ala, Katakanlah: Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah: Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu.  (Terj. Al An’aam: 19). Jika Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai saksi terhadap kerasulan Muhammad, di mana Dia Mahasempurna ilmu, kekuasaan dan Maha Besar hikmah-Nya, ditambah dengan penguatan Allah kepadanya dengan mukjizat dan pertolongan Allah kepadanya, maka dapat diketahui dengan pasti bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apa pun yang kamu peroleh) hai manusia (berupa kebaikan, maka dari Allah) artinya diberi-Nya kamu karena karunia dan kemurahan-Nya (dan apa pun yang menimpamu berupa keburukan) atau bencana (maka dari dirimu sendiri) artinya karena kamu melakukan hal-hal yang mengundang datangnya bencana itu. (Dan Kami utus kamu) hai Muhammad (kepada manusia sebagai rasul) menjadi hal yang diperkuat. (Dan cukuplah Allah sebagai saksi) atas kerasulanmu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman kepada Rasul-Nya, tetapi makna yang dimaksud ialah mencakup semua orang, sehingga firman berikut dapat dianggap sebagai jawaban, yaitu:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. (An-Nisaa’: 79)

Yakni dari kemurahan Allah, kasih sayang serta rahmat-Nya.

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (An-Nisaa’: 79)

Yaitu akibat perbuataninu sendiri. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu). (Asy-Syura: 30)

As-Saddi, Al-Hasan Al-Basri, Ibnu Juraij, dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka dari dirimu sendiri. (An-Nisaa’: 79) Yaitu disebabkan dosamu sendiri.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dari dirimu sendiri. (An-Nisaa’: 79) sebagai hukuman buatmu, hai anak Adam, karena dosamu sendiri.

Qatadah mengatakan, telah diriwayatkan kepada kami bahwa Nabi ﷺ telah bersabda:

لَا يُصِيبُ رَجُلًا خَدْشُ عُودٍ وَلَا عَثْرَةُ قَدَمٍ، وَلَا اخْتِلَاجُ عِرْقٍ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَمَا يَعْفُو اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidak sekali-kali seseorang terkena lecet (karena tertusuk) kayu, tidak pula kakinya tersandung, tidak pula uratnya terkilir, melainkan karena dosa(nya), tetapi yang dimaafkan oleh Allah jauh lebih banyak.

Hadis mursal yang diriwayatkan oleh Qatadah ini telah diriwayatkan secara muttasil di dalam kitab sahih, yang bunyinya mengatakan:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ، وَلَا نَصَبٌ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada suatu kesusahan pun yang menimpa orang mukmin, tiada suatu kesedihan pun, dan tiada suatu kelelahan pun, hingga duri yang menusuk (kaki)nya, melainkan Allah menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya karena musibah itu.

Abu Saleh mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan)mu sendiri. (An-Nisaa’: 79) Yakni karena dosamu sendiri, dan Akulah (kata Allah) yang menakdirkannya atas dirimu. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Salil ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad ibnu Syaiban, telah menceritakan kepadaku Uqbah ibnu Wasil (keponakan Mutarrif), dari Mutarrif ibnu Abdullah sendiri yang mengatakan, Apakah yang kalian kehendaki dari masalah takdir ini, tidakkah mencukupi kalian ayat yang ada di dalam surah An-Nisaa’, yaitu firman-Nya: dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini adalah dari sisi Allah. Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan, Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad). (An-Nisaa’: 78) Yaitu karena dirimu. Demi Allah, mereka tidak diserahkan kepada takdir sepenuhnya karena mereka telah diperintah, dan ternyata yang terjadi adalah seperti yang mereka alami.

Hal ini merupakan pendapat yang kuat lagi kokoh untuk membantah aliran Qadariyah dan Jabariyah sekaligus. Mengenai rinciannya, disebutkan di dalam kitab yang lain.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَأَرْسَلْناكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا

Kami mengutusmu menjadi rasul kepada segenap manusia. (An-Nisaa’: 79)

untuk menyampaikan kepada mereka syariat-syariat (perintah-perintah) Allah, hal-hal yang disukai dan diridai-Nya, serta semua hal yang dibenci dan ditolak-Nya.

وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisaa’: 79)

Ayat berikutnya : Penekanan untuk Menaati Rasulullah ﷺ

Yakni saksi yang menyatakan bahwa Dialah yang mengutusmu. Dia menjadi saksi pula antara kamu dan mereka, Dia Maha Mengetahui semua yang engkau sampaikan kepada mereka, juga jawaban serta sanggahan mereka terhadap perkara hak yang kamu sampaikan kepada mereka karena kekufuran dan keingkaran mereka.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaPenekanan untuk Menaati Rasulullah ﷺ
Berita berikutnyaSemuanya Datang dari Sisi Allah