Kedudukan Para Mujahid Fii Sabilillah

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 95

0
26

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 95. Derajat kaum mukmin dan kedudukan para mujahid fii sabilillah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (Q.S. An-Nisaa’ : 95)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Lā yastawil qā‘idūna minal mu’minīna (tidaklah sama orang-orang mukmin yang duduk), yakni orang-orang mukmin yang tidak turut berjihad.

Ghairu ulidl dlarari (yang tidak mempunyai uzur), yakni yang tidak memiliki kelemahan pada tubuh dan penglihatan mereka untuk berangkat jihad, seperti yang dialami oleh ‘Abdullah bin Ummi Maktum dan ‘Abdullah bin Jahsy al-Asadi.

Wal mujāhidūna fī sabīlillāhi bi amwālihim (dengan orang-orang yang berjihad di Jalan Allah dengan harta mereka), yakni dengan menginfakkan harta mereka.

Wa aηfusihim, fadl-dlalallāhul mujāhidīna bi amwālihim wa aηfusihim ‘alal qā‘idīna (dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk) dan tidak mempunyai uzur.

Darajah (satu derajat), yakni satu keutamaan.

Wa kullan (kepada masing-masing), yakni kepada masing-masing dari kedua golongan itu, baik orang-orang yang berjihad maupun yang tidak.

Wa ‘adallāhul husnā (Allah telah menjanjikan pahala yang baik), yakni surga karena adanya keimanan.

Wa fadl-dlalallāhul mujāhidīna (dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad) dengan jihadnya.

‘Alal qā‘idīna (atas orang yang duduk) tanpa adanya uzur.

Ajran ‘azhīmā (dengan pahala yang besar), yakni pahala yang melimpah ruah di dalam surga.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

95.[26] [27] Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya[28]. Allah melebihkan derajat[29] orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang)[30]. Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[31] dengan pahala yang besar,

[26] Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib, ia berkata: Ketika turun ayat, Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dst. Rasulullah ﷺ memanggil Zaid, lalu ia datang dengan membawa tulang, kemudian Beliau menuliskan di atasnya, dan Ibnu Ummi Maktum mengeluhkan buta yang menimpanya, maka turunlah ayat, Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dst.

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad As Saa’idiy ia berkata: Saya pernah melihat Marwan bin Hakam duduk di masjid, lalu saya datang dan duduk di sampingnya, kemudian ia memberitahukan kami bahwa Zaid bin Tsabit memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ mendiktekan kepadanya, Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dst. ia melanjutkan kata-katanya, Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum, ia yang mendiktekan ayat tersebut kepada saya. Ia (Ibnu Ummi Maktum) berkata, Wahai Rasulullah, jika sekiranya saya sanggup berjihad tentu saya akan berjihad -ia adalah seorang yang buta- , maka Allah Tabaaraka wa Ta’aala menurunkan ayat kepada Rasul-Nya, sedangkan ketika itu pahanya di atas pahaku sehingga aku merasakan keberatan sampai saya khawatir paha saya akan patah hingga kemudian lepasKetika itu, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, ghairu ulidh dharar (lih. ayat di atas).

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata tentang ayat, Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan)…dst. bahwa ia turun berkenaan dengan perang Badar dan orang-orang yang keluar ke Badar. Ketika terjadi perang Badar, Abdullah bin Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum berkata, Sesungguhnya kami dua orang yang buta wahai Rasulullah, adakah rukhshah bagi kami? Maka turunlah ayat, Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang)…dst. Mereka yang duduk tanpa ada uzur dikalahkan oleh oleh orang-orang yang berjihad, Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (Hadits ini hasan gharib dari jalan ini dari hadits Ibnu Abbas sedangkan Muqsim (salah satu perawi) ada yang mengatakan sebagai Maula Abdullah bin Abbas dan Muqsim dipanggil Abul Qasim, dan Abdullah bin Jahsy bukanlah seorang yang buta. Al Haafizh menguatkan dalam Al Fat-h bahwa yang benar adalah Abu Ahmad bin Jahsy sebagaimana dalam riwayat Thabari dari Al Hajjaj (9/92). Thabrani juga meriwayatkan, Al Haitsami juz 9 hal. 9 berkata, Para perawinya adalah tsiqah dari hadits Zaid bin Arqam yang sama seperti hadits itu.)

[27] Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk keluar berjihad dan tarhib (pencitraan buruk) terhadap sikap malas atau enggan berjihad tanpa udzur. Berbeda dengan orang-orang yang sedang menderita, seperti sakit, buta, pincang dan orang yang tidak memperoleh perlengkapan perang, maka mereka tidak dikatakan sebagai orang yang duduk diam tidak berjihad. Namun, jika di antara orang-orang yang menderita itu ridha dengan duduknya tidak berjihad, tidak ada niat untuk keluar berjihad fii sabilillah jika tidak ada udzur, atau bahkan tidak ada rasa ingin berjihad, maka ia tergolong orang yang duduk tidak berjihad. Tetapi, orang yang berniat keras untuk keluar berjihad fii sabilillah jika udzurnya hilang dan ia berharap sekali untuk berjihad, maka ia menduduki posisi orang yang berjihad karena niatnya yang sesungguhnya.

[28] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kedudukan para mujahid secara berpindah-pindah, dari yang rendah kepada yang tinggi, lebih tinggi dst. Di awal, Allah menafikan adanya kesamaan antara orang-orang yang berjihad dengan yang tidak berjihad, selanjutnya Allah menegaskan kedudukan mujahid di atas orang yang duduk tidak berjihad dan selanjutnya Allah menjanjikan akan memberikan ampunan, rahmat dan beberapa derajat. Penyebutan secara berpindah-pindah dari bawah ke atas dst. merupakan pengutamaan dan pujian, sedangkan penyebutan dari bawah dst. ke bawah merupakan perendahan dan pencelaan. Yang demikian adalah lafaz yang paling indah dan lebih masuk ke hati. Demikian juga ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala melebihkan sesuatu di atas sesuatu, namun masing-masingnya mendapatkan karunianya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan ihtiraz (penjagaan) agar tidak ada sangkaan keliru, seperti sangkaan tercelanya orang yang kalah keutamaannya tersebut, oleh karenanya Allah berfirman, Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga).

[29] Dalam ayat ini disebutkan tingginya kedudukan mujahidin secara ijmal (garis besar), dan pada ayat selanjutnya disebutkan secara tafsil (rinci), seperti dijanjikan akan mendapatkan ampunan, rahmat yang tidak lain merupakan keberhasilan mendapat semua kebaikan dan terhindar dari semua keburukan. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ menerangkan lebih rinci derajat mujahidin, yakni bahwa di surga ada 100 derajat, di mana antara derajat yang satu dengan yang lain seperti jarak antara langit dengan bumi, Allah menyiapkan derajat itu untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.

[30] Maksudnya yang tidak berperang karena uzur.

[31] Maksudnya yang tidak berperang tanpa alasan. Sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama seperti sebelumnya, yaitu yang tidak berperang karena uzur, wallahu a’lam.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan ayat berikut: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk. (An-Nisaa’: 95) Maka Rasulullah ﷺ memanggil Zaid untuk menulisnya, lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum yang mengadukan tentang uzurnya. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisaa’: 95)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisaa’: 95) Lalu Nabi ﷺ bersabda, Panggilkanlah si Fulan! Maka datanglah orang yang dimaksud dengan membawa tinta, lembaran (lauh), dan pena; lalu Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk menulis ayat berikut: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Saat itu di belakang Nabi ﷺ terdapat Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum berkata, Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang tuna netra. Lalu turunlah ayat berikut sebagai gantinya, yaitu firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. (An-Nisaa’: 95)

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Sad. dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab, Telah menceritakan kepadaku Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi, bahwa ia melihat Marwan ibnul Hakam di dalam masjid. Lalu ia datang kepadanya dan duduk di sebelahnya. Kemudian ia menceritakan kepada kami bahwa Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman-Nya: ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Lalu datanglah kepada beliau ﷺ Ibnu Ummi Maktum, yang saat itu beliau sedang mengimlakannya kepadaku. Maka dengan serta merta Ibnu Ummi Maktum berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku mampu berjihad di jalan Allah, niscaya aku akan berjihad.’ Ibnu Ummi Maktum adalah orang yang tuna netra. Maka turunlah kepada Rasulullah ﷺ wahyu lainnya, yang saat itu paha beliau ﷺ berada di atas pahaku, maka terasa amat berat bagiku hingga aku merasa khawatir bila pahaku menjadi patah karenanya (beratnya wahyu yang sedang turun kepada Nabi ﷺ). Setelah beliau ﷺ selesai dari menerima wahyu, maka beliau ﷺ membacakan ayat yang diturunkan, yaitu firman-Nya: ‘yang tidak mempunyai uzur (halangan)’ (An-Nisaa’: 95).

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tanpa Imam Muslim.

Telah diriwayatkan melalui jalur lain oleh Imam Ahmad, dari Zaid; untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Dawud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Abuz Zanad, dari Kharijah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa sahabat Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan hadits berikut, Ketika aku sedang duduk di sebelah Nabi ﷺ, tiba-tiba turunlah wahyu kepadanya dan sakinah (ketenangan) menguasai dirinya. Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya, Ketika Nabi ﷺ dikuasai oleh ketenangan, beliau mengangkat pahanya dan meletakkannya di atas pahaku. Zaid ibnu Sabit menceritakan, Demi Allah, aku belum pernah merasakan sesuatu yang lebih berat daripada paha Rasulullah ﷺ Setelah wahyu selesai darinya, beliau bersabda, ‘Hai Zaid, tulislah!’ Maka aku mengambil lembaran dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman berikut, yaitu: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. sampai dengan firman-Nya: pahala yang besar. (An-Nisaa’: 95)

Lalu aku menulis ayat tersebut pada selembar tulang paha. Ketika Ibnu Ummi Maktum mendengarnya, maka ia bangkit, sedangkan dia adalah seorang yang tuna netra; ia bangkit karena mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan orang yang tidak mampu berjihad dan orang yang tuna netra serta yang mengalami hal-hal yang serupa?’. Zaid melanjutkan kisahnya, Demi Allah, sebelum ucapan Ibnu Ummi Maktum selesai atau begitu Ibnu Ummi Maktum selesai dari ucapannya, maka Nabi ﷺ dikuasai oleh sakinah lagi, dan pahanya berada di atas pahaku. Maka aku merasakan pahanya berat sekali karena wahyu, seperti yang telah kurasakan semula. Kemudian wahyu selesai darinya, lalu beliau bersabda, ‘Bacalah!’ Maka aku membacakan kepadanya firman berikut: ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.’ Maka Nabi ﷺ bersabda membacakan pengecualiannya, yaitu firman-Nya: ‘yang tidak mempunyai uzur’ (An-Nisaa’: 95). Zaid ibnu Sabit mengatakan, Lalu aku menyusulkannya (menyisipkannya). Demi Allah, seakan-akan aku melihat sisipannya itu berada pada bagian yang retak dari lembaran tulang paha itu.

Imam Abu Dawud meriwayatkannya dari Sa’id ibnu Mansur, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari ayahnya dengan lafaz yang semisal.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Qubaisah ibnu Zua-ib, dari Zaid ibnu Sabit yang menceritakan bahwa dia adalah juru tulis wahyu Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ pada suatu hari memerintahkan kepadanya untuk mencatat firman berikut, yaitu: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum, dan berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad di jalan Allah, tetapi aku mempunyai cacat seumur hidup seperti yang engkau lihat sendiri, indra penglihatanku telah tiada. Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya, Maka terasa berat lagi paha Rasulullah ﷺ di atas pahaku, hingga aku merasa khawatir bila tulang pahaku patah karenanya. Setelah wahyu selesai darinya, maka beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat ayat berikut, yaitu firman-Nya: ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah’ (An-Nisaa’: 95).

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abdul Karim (yaitu Ibnu Malik Al-Jariri), bahwa Miqsam maula Abdullah ibnul Haris pernah menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisaa’: 95) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui jalur Hajjaj dari Ibnu Juraij, dari Abdullah Karim, dari Miqsam, dari ibnu Abbas yang telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. (An-Nisaa’: 95) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar.

Ketika diturunkan ayat mengenai Perang Badar, maka Abdullah ibnu Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum berkata, Sesungguhnya kami adalah dua orang yang tuna netra, wahai Rasulullah. Apakah ada keringanan bagi kami? Maka turunlah firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisaa’: 95) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya atas orang-orang yang duduk tidak ikut berperang satu derajat. Mereka yang duduk tidak ikut perang itu adalah selain yang mempunyai uzur (halangan). Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. (An-Nisaa’: 95) Yakni orang-orang yang duduk tidak ikut berperang dari kalangan orang-orang mukmin selain mereka yang mempunyai uzur (halangan).

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Turmuzi, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini hasan garib bila ditinjau dari segi jalur sanadnya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisaa’: 95)

bermakna mutlak.

Dan ketika diturunkan wahyu yang singkat, yaitu firman Nya:

غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ

Yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisaa’: 95)

Maka hal ini mengandung keringanan dan jalan keluar bagi orang-orang yang mempunyai uzur yang membolehkannya untuk tidak ikut berjihad, seperti tuna netra, pincang, dan sakit; hingga kedudukan mereka tetap sama dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Setelah itu Allah memberitakan perihal keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang berjihad, bahwa keutamaan mereka berada di atas orang-orang yang duduk tidak ikut berperang satu derajat. Menurut Ibnu Abbas selain dari mereka yang mempunyai uzur.

Memang demikianlah seharusnya, seperti yang dinyatakan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui jalur Zuhair ibnu Mu’awiyah, dari Humaid ibnu Anasbahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

 إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُم مِنْ مَسِير، وَلَا قَطَعْتُمْ مِنْ وَادٍ إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ فِيهِ  قَالُوا: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ:  نَعَمْ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

Sesungguhnya di Madinah terdapat orang-orang yang tidak sekali-kali kalian berjalan, dan tidak pula menempuh suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian padanya. Ketika mereka bertanya, Apakah mereka tetap tinggal di Madinah, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Ya, mereka terhalang oleh uzur (hingga tidak ikut bersama kamu).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ahmad melalui Muhammad ibnu Addi, dari Humaid, dari Anasdengan lafaz yang sama. Imam Bukhari men-ta’liq-nya secara majzum.

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  لَقَدْ تَرَكْتُمْ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مُسِيرًا، وَلَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ، وَلَا قَطَعْتُمْ مِنْ وادٍ إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ فِيهِ . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَكُونُونَ مَعَنَا وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ:  حَبْسَهُمُ الْعُذْرُ

Imam Abu Dawud meriwayatkannya dari Hammad ibnu Salamah, dari Humaid dari Musa ibnu Anas ibnu Malik, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya kalian meninggalkan di Madinah orang-orang yang tidak sekali-kali kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak sekali-kali kalian membelanjakan sesuatu, tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah melainkan mereka selalu bersama kalian di dalamnya. Mereka (para sahabat) bertanya, Bagaimanakah mereka dapat bersama kami padanya, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Ya, mereka tertahan oleh uzur.

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Dawud.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Semakna dengan pengertian ini, ada seorang penyair yang mengatakan:

يَا رَاحِلِينَ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ لَقَدْ … سِرْتُمْ جُسُومًا وَسِرْنَا نَحْنُ أَرْوَاحَا

إنَّا أَقَمْنَا عَلَى عُذْرٍ وَعَنْ قَدَرٍ … وَمَنْ أَقَامَ عَلَى عُذْرٍ فَقَدْ رَاحَا

Hai orang-orang yang berangkat ke Baitullah Al-‘Atiq (Ka’bah), sesungguhnya kalian berangkat dengan jasad kalian, sedangkan karni hanya berangkat dengan arwah kami. Sesungguhnya kami tinggal di tempat karena uzur dan takdir; dan barang siapa yang tinggal karena uzur, berarti sama saja dengan orang yang berangkat (haji).

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik. (An-Nisaa’: 95)

Yang dimaksud dengan pahala yang baik ialah surga dan pahala yang berlimpah. Di dalam ayat ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa jihad itu bukanlah fardu ain, melainkan fardu kifayah.

Ayat berikutnya : Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ عَلَى الْقاعِدِينَ أَجْراً عَظِيم

Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (An-Nisaa’: 95)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Berita berikutnyaPerintah Agar Teliti Mengambil Suatu Tindakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here