Bermu’amalah dengan Orang-orang Munafik

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 88

0
311

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 88. Larangan bersikap lunak dalam bermu’amalah dengan orang-orang munafik. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa disesatkan oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (Q.S. An-Nisaa’ : 88)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa mā lakum (maka mengapa kalian), yakni wahai segenap kaum mukminin.

Fil munāfiqīna (dalam [menghadapi] orang-orang munafik), yakni orang-orang munafik yang murtad dari Islam.

Fi-ataini ([terpecah] menjadi dua golongan), yakni menjadi dua kelompok. Satu kelompok menghalalkan harta dan darah mereka, sedangkan kelompok lain mengharamkannya.

Wallāhu arkasahum (padahal Allah telah membalikkan mereka pada kekafiran), yakni mengembalikan mereka pada kemusyrikan.

Bi mā kasabū (karena ulah mereka sendiri), yakni karena kemunafikan dan kebusukan niat mereka.

A turīdūna aη tahdū (apakah kalian hendak memberi petunjuk), yakni hendak membimbing pada Agama Allah.

Man adlallallāh (kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah) dari agama-Nya.

Wa may yudl-lilillāhu (dan barangsiapa yang disesatkan Allah) dari agama-Nya.

Fa laη tajida lahū sabīlā (maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan jalan untuknya), yakni agama dan keterangan tak akan bisa diterima olehnya.

.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

88.[3] Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan[4] dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?[5] Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah[6]? Barang siapa disesatkan oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

[3] Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab turun ayat di atasada yang mengatakan bawa sebabnya adalah ketika kaum Rasulullah ﷺ dan para sahabat berangkat ke gunung Uhud untuk berperang, maka kaum munafik memisahkan diri dari mereka, maka setelah mereka pulang dari Uhud, para sahabat berbeda pendapat dalam menyikapi kaum munafik itu. Sebagian mereka mengatakan, Kita bunuh saja mereka, sedangkan yang lain berkata, Tidak. Maka turunlah ayat di atasRasulullah ﷺ pun bersabda:

 إِنَّهَا تَنْفِى الرِّجَالَ كَمَا تَنْفِى النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Sesungguhnya Madinah akan menyingkirkan orang-orang (munafik) sebagaimana api membersihkan kotoran besi. (HR. Bukhari)

Ada pula yang mengatakan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beberapa orang Arab yang datang kepada Rasulullah ﷺ di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa demam Madinah, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa demam Madinah. Para sahabat berkata, Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Ketika itu para sahabat terbagi menjadi dua golongan dalam menyikapi hal ini. Sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedangkan yang sebagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak mau berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrik yang lain, wallahu a’lam.

[4] Maksudnya golongan orang-orang mukmin yang membela orang-orang munafik dan golongan orang-orang mukmin yang memusuhi mereka. Terjadi kesamaran sikap di antara para sahabat tentang menyikapi orang-orang munafik, sebagian mereka merasa keberatan memerangi orang-orang munafik dan memutuskan persahabatan dengan mereka karena keimanan yang mereka tampakkan, sedangkan sahabat yang lain mengetahui keadaan mereka melihat qarinah (tanda) pada perbuatan mereka yang menunjukkan kemunafikan, sehingga sahabat yang lain tersebut menghukumi mereka kafir, maka pada ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan bahwa tidak sepatutnya bagi mereka merasa bingung menyikapi orang-orang munafik dan tidak perlu ragu, bahkan keadaan mereka sudah jelasmereka adalah kaum munafik yang berkali-kali melakukan kekafiran, lebih dari itu, mereka juga menginginkan agar kaum muslimin menjadi kafir sehingga sama seperti mereka.

[5] Berupa melakukan kekekafiran dan kemaksiatan.

[6] Disesatkan Allah berarti, bahwa orang tersebut sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mengapa kamu menjadi dua golongan menghadapi golongan munafik padahal Allah telah membalikkan mereka menjadi kafir) (disebabkan usaha mereka) berupa perbuatan maksiat dan kekafiran. (Apakah kamu hendak menunjuki orang yang disesatkan oleh Allah) artinya kamu anggap mereka itu termasuk orang-orang yang beroleh petunjuk? Pertanyaan pada kedua tempat berarti sanggahan. (Siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali takkan mendapatkan jalan) untuk menunjukinya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman mengingkari perbuatan orang-orang mukmin dalam perselisihan mereka terhadap orang-orang munafik yang terbagi menjadi dua pendapat. Mengenai latar belakang turunnya ayat ini masih diperselisihkan.

فقال الإمام أحمد: حَدَّثَنَا بَهْز، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى أُحُد، فَرَجَعَ نَاسٌ خَرَجُوا مَعَهُ، فَكَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ فِرْقَتَيْنِ: فِرْقَةٌ تَقُولُ: نَقْتُلُهُمْ. وَفِرْقَةٌ تَقُولُ: لَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ: فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا طَيْبة، وَإِنَّهَا تَنْفِي الخَبَث كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang mengatakan bahwa Addi ibnu Sabit pernah mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Yazid dari Zaid ibnu Sabit, bahwa Rasulullah berangkat menuju medan Perang Uhud, lalu di tengah jalan sebagian orang yang tadinya berangkat bersama beliau kembali lagi ke Madinah. Sahabat-sahabat Rasulullah dalam menanggapi mereka yang kembali itu ada dua pendapat: Suatu golongan berpendapat bahwa mereka harus dibunuh; sedangkan golongan yang lain mengatakan tidak boleh dibunuh, dengan alasan bahwa mereka masih orang-orang mukmin. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menurunkan firman-Nya: Maka mengapa kalian menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik. (An-Nisaa’: 88) Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Madinah itu adalah Tayyibah, dan sesungguhnya Madinah dapat membersihkan kotoran, sebagaimana pandai besi dapat membersihkan kotoran (karat) besi.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Syu’bah.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar menyebutkan dalam peristiwa Perang Uhud, bahwa Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul kembali (ke Madinah) bersama sepertiga pasukan, yakni kembali dengan tiga ratus personel, sedangkan Nabi ﷺ ditinggalkan bersama tujuh ratus personel.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang tinggal di Mekah. Mereka telah masuk Islam, tetapi mereka membantu kaum musyrik. Lalu kelompok ini keluar dari Mekah dalam rangka suatu keperluan yang menyangkut kepentingan mereka (berniaga). Mereka mengatakan, Jika kita bersua dengan sahabat-sahabat Muhammad, kita pasti tidak akan diapa-apakan oleh mereka. Lain halnya dengan kaum mukmin yang bersama Rasul ﷺ ketika disampaikan kepada mereka berita keluarnya kelompok tersebut dari Mekah, maka segolongan dari kaum mukmin mengatakan, Ayo kita kejar pengecut-pengecut itu dan kita bunuh mereka, karena sesungguhnya mereka telah membantu musuh untuk melawan kita. Sedangkan golongan yang lainnya mengatakan, Mahasuci Allah atau kalimat semacam itu, apakah kalian akan membunuh suatu kaum yang pembicaraannya sama dengan apa yang kalian bicarakan (yakni seagama) hanya karena mereka tidak ikut hijrah dan tidak mau meninggalkan rumah mereka, lalu kita dapat menghalalkan darah dan harta benda mereka? Demikianlah tanggapan mereka terbagi menjadi dua golongan, sedangkan Rasul ﷺ saat itu berada di antara mereka, dan beliau ﷺ tidak melarang salah satu golongan dari keduanya melakukan sesuatu. Lalu turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Maka mengapa kalian menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik (An-Nisaa’: 88)

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim.

Hal yang mirip dengan hadis ini diriwayatkan melalui Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, Ikrimah, Mujahid, dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya.

Zaid ibnu Aslam meriwayatkan dari salah seorang anak Sa’d ibnu Mu’az, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan pergunjingan kabilah Aus dan kabilah Khazraj sehubungan dengan sikap Abdullah ibnu Ubay, ketika Rasulullah ﷺ berada di atas mimbar memaafkan sikapnya dalam kasus berita bohong. Akan tetapi, hadis ini garib. Menurut pendapat yang lainnya lagi, asbabun nuzul ayat ini bukan demikian.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِما كَسَبُوا

Padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? (An-Nisaa’: 88)

Yakni Allah mengembalikan mereka dan menjatuhkan mereka ke dalam kekeliruan.

Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya; Arkasahum. Makna yang dimaksud ialah Allah telah menjatuhkan mereka. Sedangkan menurut Qatadah, maksudnya ialah Allah telah membinasakan mereka. Dan menurut As-Saddi ialah Allah telah menyesatkan mereka.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

بِمَا كَسَبُوا

Disebabkan usaha mereka sendiri. (An-Nisaa’: 88)

Yaitu disebabkan kedurhakaan mereka dan menentang Rasul serta mengikuti kebatilan.

Ayat berikutnya : Larangan Bersikap Lunak dalam Bermu’amalah

أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا

Apakah kalian bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kalian tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (An-Nisaa’: 88)

Maksudnya, tiada jalan baginya untuk mendapat hidayah dan ia tidak dapat melepaskan dirinya dari kesesatan menuju kepada jalan hidayah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaLarangan Bersikap Lunak dalam Bermu’amalah
Berita berikutnyaPengumpulan Manusia pada Hari Kiamat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here