Syariat Mengqashar Shalat ketika Safar

0
183

Kajian Tafsir Surah An-Nisaa’ ayat 101. Syariat mengqashar shalat ketika safar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. An-Nisaa’ : 101)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idzā dlarabtum (dan apabila kalian bepergian), yakni mengadakan perjalanan.

Fil ardli (di muka bumi), yakni di jalan Allah.

Fa laisa ‘alaikum junāhun (maka tidak apa-apa kalian), yakni tidaklah berdosa.

Aη taqshurū minash shalāti (mengqasar shalat), yakni mengqasar jumlah rakaat yang biasa dilakukan ketika tidak bepergian.

Wa in khiftum (jika kalian takut), yakni jika kalian tahu.

Ay yaftinakum (diserang), yakni akan membunuh kalian.

Alladzīna kafarū (orang-orang kafir) pada saat shalat.

Innal kāfirīna lakum ‘aduwwam mubīnā (sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian), yakni yang permusuhannya nyata. Ayat ini berkaitan dengan shalat Khauf.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-5

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa[9] kamu mengqashar[10] shalat, jika kamu takut diserang orang kafir[11]. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

[9] Kata-kata tidak berdosa untuk menyingkirkan rasa was-was atau keberatan mengqashar shalat karena tidak biasa dilakukan.

[10] Qashar artinya meringkas bisa meringkas ‘adad (jumlah), yakni dengan mengerjakan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, dan bisa maksudnya qashrush sifat, yaitu meringankan rukun-rukun shalat yang 2 rakaat itu, ketika dalam perjalanan dan saat kondisi khauf (khawatir). Mengerjakan dua rakaat shalat yang empat rakaat tersebut dilakukan karena dalam perjalanan, dan meringankan sifat dilakukan karena kondisi khauf (mengkhawatirkan serangan musuh). Namun jika dalam perjalanan yang tidak mengkhawatirkan, maka hanya berlaku qashar jumlah, yakni mengerjakan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, sedangkan jika tidak dalam perjalanan (hadhar), tetapi kondisi mengkhawatirkan, maka berlaku qashrush sifat, yakni memberikan keringanan rukun-rukun shalat seperti pada shalat khauf yang disebutkan pada ayat selanjutnya.

Menurut Imam Syafi’i, mengqashar adalah rukhshah (kelonggaran) sehingga tidak wajib. Namun demikian, hal itu tidaklah menafikan keutamaan qashar. Bahkan mengqashar lebih utama berdasarkan beberapa alasan:

Pertama, Nabi ﷺ senantiasa mengqashar shalatnya ketika safar.

Kedua, mengqashar merupakan bentuk kelonggaran dan rahmat (kasih sayang) Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala suka apabila rukhshah-Nya dikerjakan sebagaimana Dia tidak suka maksiat dikerjakan.

[11] Zhahir ayat ini adalah bahwa qashar shalat yang berjumlah empat menjadi dua tidak dilakukan kecuali ada dua sebab, yaitu safar dan kondisi mengkhawatirkan, oleh karena itu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai bertanya kepada Rasulullah ﷺ, Wahai Rasulullah, mengapa kita mengqashar shalat, padahal kita dalam keadaan aman? Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

 صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Ia adalah sedekah, di mana Allah memberikannya kepada kamu, maka terimalah sedekah itu.

Dengan demikian, meskipun kita tidak dalam kondisi mengkhawatirkan, mengqashar shalat dalam safar tetap disyari’atkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan jika kamu mengadakan perjalanan) atau bepergian (di muka bumi, maka tak ada salahnya kamu) (apabila mengqasar shalat) dengan membuat yang empat rakaat menjadi dua (jika kamu khawatir akan diperangi) atau mendapat cidera dari (orang-orang kafir) menyatakan peristiwa yang terjadi di kala itu, maka mafhumnya tidak berlaku. Menurut keterangan dari sunah, yang dimaksud dengan suatu perjalanan panjang ialah empat pos atau dua marhalah. Dan dari firman-Nya, Maka tak ada salahnya kamu, ditarik kesimpulan bahwa mengqasar shalat itu merupakan keringanan dan bukan kewajiban. Dan ini merupakan pendapat Imam Syafii. (Sesungguhnya orang-orang kafir itu bagi kamu musuh yang nyata) maksudnya jelas dan terang permusuhannya terhadap kamu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَإِذا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ

Apabila kalian bepergian di muka bumi. (An-Nisaa’: 101)

Yaitu melakukan perjalanan ke berbagai negeri; semakna dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. (Al-Muzzammil: 20), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ

Maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian). (An-Nisaa’: 101)

Yakni meringankan; adakalanya dari segi rakaatnya, misalnya shalat yang empat rakaat dijadikan dua rakaat, seperti yang disimpulkan oleh jumhur ulama dari ayat ini. Mereka menjadikannya sebagai dalil shalat qasar dalam perjalanan, sekalipun mereka masih berselisih pendapat mengenainya. Karena di antara mereka ada yang mengatakan bahwa perjalanan yang dilakukan harus mengandung ketaatan, seperti berjihad, atau haji atau umrah, atau mencari ilmu atau ziarah, atau lain-lainnya yang semisal. Seperti yang diriwayatkan oleh Ata dan Yahya, dari Malik, dari Ibnu Umar, karena berdasarkan kepada makna lahiriah firman-Nya yang mengatakan:

إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

Jika kalian takut diserang orang-orang kafir. (An-Nisaa’: 101)

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak disyaratkan bagi bepergian harus dalam rangka taqarrub, melainkan boleh pula dalam rangka bepergian yang mubah (tidak diharamkan), karena berdasarkan kepada firman-Nya yang mengatakan:

فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجانِفٍ لِإِثْمٍ

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa. (Al-Maidah: 3), hingga akhir ayat.

Seperti halnya diperbolehkan baginya memakan bangkai bila dalam keadaan darurat, tetapi dengan syarat hendaknya dia tidak bertujuan maksiat dengan perjalanannya itu. Demikianlah menurut pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad serta selain keduanya dari kalangan para imam.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Ibrahim yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang pedagang, aku biasa pulang pergi ke Bahrain. Lalu Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya shalat dua rakaat (yakni shalat qasar). Hadits ini berpredikat mursal.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa perjalanan ini bersifat mutlak. Dengan kata lain, baik yang mubah ataupun yang terlarang, sekalipun dia bepergian untuk tujuan membegal jalan dan menakut-nakuti orang yang lewat (meneror). Hukum qasar diperbolehkan baginya karena safar (perjalanan) diartikan mutlak. Hal ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, As-Sauri, dan Dawud, karena berdasarkan kepada keumuman makna ayat. Tetapi jumhur ulama berpendapat berbeda dengan mereka.

Adapun firman-Nya:

إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

Jika kalian takut diserang orang-orang kafir. (An-Nisaa’: 101)

Barangkali hal ini diinterpretasikan menurut kebanyakan yang terjadi di lingkungan saat ayat ini diturunkan. Karena sesungguhnya pada permulaan Islam sesudah hijrah, kebanyakan perjalanan yang mereka lakukan dipenuhi oleh bahaya yang menakutkan. Bahkan mereka tidak beranjak meninggalkan tempat tinggalnya melainkan untuk menuju ke peperangan tahunan, atau sariyyah (pasukan) khusus, sedangkan keadaan lainnya merupakan perang terhadap Islam dan para pengikutnya. Pengertian mantuq apabila diungkapkan dalam bentuk prioritasatau berdasarkan suatu kejadian, maka ia tidak mempunyai subyek pengertian. Sama halnya dengan pengertian yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَلا تُكْرِهُوا فَتَياتِكُمْ عَلَى الْبِغاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّناً

Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian untuk melakukan pelacuran, sedangkan mereka sendiri mengingini kesucian. (An-Nur: 33)

Juga seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

 وَرَبائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسائِكُمُ

Dan anak-anak istri kalian yang ada dalam pemeliharaan kalian dari istri kalian. (An-Nisaa’: 23), hingga akhir ayat.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْج، عَنِ ابْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بابَيْه، عَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ: سَأَلْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قُلْتُ: لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقَدْ أمَّن اللَّهُ النَّاسَ؟ فَقَالَ لِي عُمَرُ: عجبتُ مِمَّا عجبتَ مِنْهُ، فسألتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: صَدَقَةٌ تَصْدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Abu Ammar, dari Abdullah ibnu Rabiyah, dari Ya’la ibnu Umayyah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Umar ibnul Khattab mengenai makna firman-Nya: tidaklah mengapa kalian meng-qasar shalat (kalian), jika kalian takut diserang orang-orang kafir. (An-Nisaa’: 101) Sedangkan orang-orang di masa sekarang dalam keadaan aman (ke mana pun mereka mengadakan perjalanan)? Maka Umar radiallahu ‘anhu berkata kepadaku bahwa ia pun pernah merasa heran seperti apa yang aku rasakan, lalu ia bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut. Maka beliau menjawab: Sedekah yang diberikan oleh Allah kepada kalian. Karena itu, terimalah sedekah-Nya.

Selanjutnya : Hadit-hadits Tentang Shalat dalam Perjalanan

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dan para pemilik kitab sunan melalui hadits Ibnu Juraij, dari Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Abu Ammar dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih.

Ali ibnul Madini mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih melalui Umar, dan tiada yang hafal kecuali dari jalur ini; semua perawinya dikenal.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaHadit-hadits Tentang Shalat dalam Perjalanan
Berita berikutnyaLKPD Menyimpulkan Isi Pantun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here